Area dewasa❗
Demi menyelamatkan ayah angkatnya yang sakit keras, Zivanna Mahavira terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Zivarra, yang kabur sebelum pernikahannya dengan anak sulung keluarga Sadewantara, Keenan Sadewantara.
Tanpa sepengetahuan Zivanna, Keenan ternyata sudah mengetahui sejak awal bahwa wanita yang menikah dengannya bukanlah Zivarra.
Mereka akan menjalani pernikahan selama enam bulan, sesuai kontrak yang diberikan Keenan di awal pernikahan. Selama itu, Zivanna harus mempertahankan kebohongannya demi keluarga dan ayah angkatnya.
Semakin lama hidup bersama, keduanya justru saling jatuh hati.
Sampai pada bulan kelima, semuanya berubah ketika Zivanna menolak hubungan suami istri dan akhirnya meminta maaf atas kebohongannya.
“Kamu pikir aku baru tahu siapa kamu? Aku sudah tahu sejak awal, Zivanna,” ucap Keenan dengan senyum miring.
Mata Zivanna langsung membesar. “A-apa?”
Keenan mengangkat dagu Zivanna. “Kalau kamu ingin aku maafkan, lakukanlah dengan tubuhmu.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa aku boleh egois sedikit saja?
Malam itu, Zivanna dan Keenan sedang berada di ruang tengah ditemani siaran sinetron yang mengalir pelan dari televisi.
Zivanna duduk bersandar di sofa, tangannya memeluk bantal kecil di pangkuannya. Sementara itu Keenan duduk di sebelahnya dengan pandangan yang justru lebih sering tertuju pada Zivanna daripada layar televisi.
“Zivanna,” panggil Keenan, memecahkan keheningan di antara mereka.
Zivanna menoleh. “Ya?”
“Kamu nggak mau jujur soal apa yang bikin kamu nangis di rumah sakit tadi?” tanya Keenan walaupun ia sudah mengetahuinya, tapi ia ingin mendengarkan langsung dari bibir Zivanna.
Zivanna langsung diam. Tangannya yang semula memegang bantal kecil perlahan mengerat. Ia terlihat ragu, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu di kepalanya sendiri.
Keenan menghela napas kecil. “Nggak apa-apa kalau kamu belum siap cerita.”
Kata kata itu justru membuat Zivanna semakin bimbang.
Setelah beberapa detik hening, Zivanna menghembuskan napas panjang. “Aku tadi ketemu Om Bobby di rumah sakit, dia adik dari Ayahku,” ucapnya jujur pada akhirnya.
Keenan hanya diam memperhatikan agar Zivanna mengeluarkan unek-uneknya.
“Dia minta uang lima miliar. Kalau nggak dikasih, dia bakal bongkar semua rahasiaku ke Ayah. Dia akan bilang kalau aku menjual diri untuk menggantikan Zivarra dan menikah denganmu demi biaya pengobatan Ayah. Aku takut... kalau Ayah sampai tahu, kondisinya akan drop lagi,” lanjutnya dengan suara bergetar, matanya mulai berkaca-kaca.
Keenan tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras sesaat sebelum ia menggeser posisi duduknya dan menarik Zivanna ke dalam pelukannya.
“Jadi dia mengancam kamu seperti itu?” tanya Keenan pelan di Dekat kepala Zivanna.
Zivanna mengangguk kecil di dalam pelukan.
Beberapa detik kemudian Keenan menarik sedikit tubuh Zivanna agar bisa menatap wajahnya. “Apa perlu aku kasih ke dia uang lima miliar itu?”
Zivanna langsung menggeleng cepat. “Jangan. Itu terlalu banyak. Aku nggak mau merepotkan kamu,” jawabnya buru buru.
“Itu sama sekali tidak merepotkan. Lima miliar itu kecil buat aku,” ucap Keenan seraya mengusap pipi Zivanna dengan ibu jarinya, menghapus air mata yang mulai jatuh.
Zivanna tetap menggeleng. “Bukan itu masalahnya. Kalau sekali dikasih, Om Bobby pasti bakal minta lagi. Aku tahu dia tipe orang seperti apa,” balasnya dengan suara serak.
Keenan menghela napas pelan, lalu melepaskan pelukannya sedikit. “Kalau begitu jangan pikirkan itu lagi. Biar aku yang urus semuanya,” ucapnya.
Zivanna hanya bisa mengangguk. Kali ini ia memang membutuhkan bantuan Keenan. Jika ia tidak menuruti kemauan Bobby yang dikenal temperamental, pamannya itu bisa saja melakukan kekerasan padanya.
...****************...
Keenan baru saja menyelesaikan rapat dengan salah satu kliennya setelah seluruh pembahasan kerja sama hampir memasuki tahap akhir.
“Baik, sepertinya semua sudah jelas,” ucap Raymond yang duduk di seberang meja, menutup mapnya perlahan sambil mengangguk puas.
Keenan mengangguk singkat. “Kalau begitu kita bisa lanjut ke tahap berikutnya,” jawabnya.
“Tentu saja, Pak Keenan. Senang bisa bekerja sama dengan Anda.”
Setelah para staf keluar, suasana ruang meeting menjadi lebih santai, menyisakan Keenan, Raymond, dan para asisten mereka di dalam ruangan.
“Ngomong-ngomong... Anda benar-benar sudah menikah?” tanya Raymond berbasa-basi.
Keenan yang sedang merapikan berkas di hadapannya berhenti sejenak, lalu mengangguk. “Benar, Pak Raymond. Saya mohon maaf jika beberapa klien tidak sempat diundang. Pernikahan dan resepsinya memang sengaja dibuat tertutup. Hanya keluarga dan orang-orang terdekat yang hadir.”
Raymond mengangkat kedua tangannya sedikit. “Tidak masalah. Saya mengerti. Justru menurut saya istri Anda sangat beruntung memiliki suami hebat seperti Anda,” pujinya.
Keenan terdiam sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. “Bukan dia yang beruntung. Tapi saya yang beruntung punya istri seperti dia,” sahutnya.
Raymond langsung tertawa pelan, dan sedikit terkejut. “Wah, ini baru pertama kali saya melihat seorang Keenan Sadewantara berbicara seperti itu.”
“Istri saya yang membuat saya jadi seperti ini,” jawab Keenan jujur.
Raymond menggeleng pelan sambil tersenyum. “Kalau begitu, saya benar-benar penasaran ingin bertemu dengan istri Anda suatu hari nanti.”
Keenan mengangguk singkat. “Mungkin di lain waktu,” balasnya.
Keenan saat ini sedang duduk santai di kursi kebesarannya di ruang kerja, tangannya memegang iPad, sementara matanya memperhatikan aktivitas istrinya di rumah melalui CCTV. Ia menahan tawa ketika melihat Zivanna membersihkan lantai sambil menari kecil.
Setelah dipikir-pikir, apakah Keenan terlalu egois jika membiarkan istrinya melakukan pekerjaan rumah tanpa asisten rumah tangga? Ia tidak ingin Zivanna kelelahan.
Sebenarnya Keenan sudah beberapa kali menawarkan jasa kebersihan untuk membantu, tetapi Zivanna selalu menolaknya.
Di tengah keseriusannya mengamati, Keenan tidak menyadari Arkana sudah masuk ke dalam ruangan.
“Pak Keenan,” panggil Arkana.
“Ya?” Keenan tersentak dan langsung menoleh.
“Kapan kamu masuk?” tanyanya heran.
“Sejak tadi, Pak. Saya sudah mengetuk pintu, tapi tidak ada respons dari Anda,” jelas Arkana.
Keenan berdeham pelan, berusaha menutupi rasa canggung karena terlalu fokus pada layar iPadnya hingga tidak mendengar ketukan pintu.
“Ada apa?” tanyanya.
“Ini tas pesanan Anda sudah selesai,” ujar Arkana sambil meletakkan sebuah kotak berukuran sedang di hadapan Keenan.
“Semua sesuai permintaan saya?” tanya Keenan.
“Sudah, Pak,” jawab Arkana.
Tas itu dipesan khusus oleh Keenan untuk Zivanna. Bukan tas biasa, di dalamnya terdapat GPS dan perekam suara agar ia bisa mengetahui keberadaan serta mengawasi aktivitas istrinya.
Mungkin terdengar posesif. Tapi bagi Keenan, itu hanya cara untuk memastikan Zivanna tetap aman meski sedikit berlebihan.
Keenan melirik jam tangannya. Sudah pukul lima sore, waktunya untuk pulang. Ia merapikan berkas-berkas di atas meja, lalu keluar dari ruangannya sambil menenteng tas kerja dan sebuah paper bag.
Di depan, Arkana masih terlihat sibuk menatap layar komputer.
“Pulanglah. Ini sudah jam pulang kerja,” ujar Keenan.
Arkana langsung menoleh dan mengangguk cepat. “Baik, Pak. Saya tinggal menyelesaikan sedikit pekerjaan. Ini akan jadi bahan rapat besok,” jelasnya.
Keenan mengangguk singkat. Ia kemudian memilih pulang lebih dulu.
...****************...
Sementara itu, Zivanna berada di halaman belakang rumah, tengah menyiram tanaman, terutama bunga mawar yang ia minta ke Keenan dua hari lalu dan langsung dikabulkan oleh pria itu.
Melihat bunga mawar yang sudah mulai mekar sempurna, Zivanna mengambil gunting untuk memotong beberapa tangkai.
Saat sedang asyik memotong, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya membuat Zivanna terkejut hingga bunga dan gunting di tangannya terjatuh.
“Sedang apa?” tanya Keenan dari belakangnya.
Zivanna menoleh tajam. “Astaga, kaget tahu!” kesalnya.
Keenan tidak menjawab, hanya membalikkan tubuh Zivanna dengan ekspresi wajah tanpa dosa. “Ada sesuatu buat kamu.”
“Apa?” tanya Zivanna penasaran.
Keenan menyodorkan paper bag berisi sebuah tas dari brand terkenal.
Zivanna mengernyit. “Buat aku? Tapi aku kan nggak ulang tahun, Mas.”
“Iya, buat kamu. Hadiah tidak harus menunggu ulang tahun. Dan pastikan kamu memakainya setiap kali keluar rumah.”
Zivanna mengangguk. “Iya, terima kasih. Kalau gitu Mas mandi dulu sana. Aku juga nanti mau mandi.”
Keenan mengangguk singkat. Mereka kemudian masuk ke dalam rumah dan menuju kamar masing-masing.
Di bawah shower, Zivanna berdiri diam membiarkan air mengalir ke tubuhnya. Pikirannya tidak tenang.
Selama ini, ia merasa seperti beban bagi orang-orang di sekitarnya.
Tapi Keenan berbeda. Pria itu memperlakukannya dengan baik, bahkan mengakui keberadaannya tanpa ragu. Dan justru itu yang membuat perasaannya semakin sulit dikendalikan.
“Apa yang harus aku lakukan?” lirih Zivanna.
Keenan adalah seseorang yang tidak akan pernah ia temui jika bukan karena dirinya menjadi pengantin pengganti.
Mereka berasal dari dunia yang berbeda. Setelah kontrak pernikahan itu berakhir, mungkin tidak akan ada alasan lagi bagi Keenan untuk tetap berada di sisinya.
“Kalau ini benar-benar hari-hari terakhir aku bersamanya... apa aku boleh egois sedikit saja?” gumam Zivanna pelan.
CEKLEK!
Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka, membuat Zivanna tersentak dan langsung menoleh ke belakang.
“Apa yang kamu lakukan di sini, Mas?!” serunya kaget.
btw Keenan udah bucin akut ama lu. Noh lu di kamar mandi aja di samperin. Pasti mau jap jip jup di bwh shower😭😭🤣