Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Di Bawah Lampu Kristal
Gedung Serbaguna Adiwangsa malam itu berubah menjadi benteng kemewahan. Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit aula memantulkan cahaya ke segala arah, menyinari gaun-gaun sutra dan setelan tuksedo mahal yang dikenakan oleh para tamu. Ini adalah Gala Amal Tahunan, tempat di mana hukum seringkali bisa dinegosiasikan di antara denting gelas sampanye.
Naura berdiri di samping Ibu Citra, mengenakan gaun malam berwarna biru tua yang elegan namun tetap memberikan ruang bagi peralatan teknis yang tersembunyi di balik korsetnya. Ia merasa seperti sedang mengenakan topeng. Di depannya, ratusan orang kaya dan berkuasa sedang tertawa, sama sekali tidak menyadari bahwa di tengah-tengah mereka, ada dua penyusup yang datang untuk meruntuhkan kekaisaran mereka.
Di sudut lain ruangan, Kaelith tampak sangat berbeda. Ia mengenakan setelan tuksedo hitam yang pas di tubuhnya, dengan earpiece kecil yang tersembunyi di balik rambutnya. Sebagai 'asisten' Ibu Citra, ia bergerak dengan tenang, matanya yang tajam mengamati setiap titik keamanan kamera CCTV, penjaga yang berseragam formal namun memiliki tonjolan senjata di balik jas, dan jalur keluar darurat.
"Ingat," suara Ibu Citra terdengar samar melalui earpiece Naura, "kalian punya waktu tepat lima menit saat Hartono Adiwangsa memulai presentasi proyeknya. Pada saat itu, semua perhatian akan tertuju ke layar utama. Itu adalah saat di mana sistem keamanannya berada dalam status bypass untuk kebutuhan sinkronisasi data."
Naura mengangguk kecil, berpura-pura sedang membetulkan letak antingnya. Ia menatap Kaelith yang sedang berdiri di dekat meja prasmanan. Kaelith memberikan kode dengan sentuhan di jam tangannya.
Hartono Adiwangsa naik ke atas panggung. Pria itu tampak seperti seorang kakek yang ramah, dengan senyum yang menyejukkan. Namun, bagi Naura dan Kaelith, pria itu adalah monster yang sesungguhnya.
"Terima kasih atas kehadiran Anda semua," suara Hartono menggema, tenang dan berwibawa. "Malam ini, saya ingin membagikan visi masa depan untuk pendidikan yang lebih baik melalui pembangunan kawasan terpadu Nusantara 2026."
"Ini dia," pikir Naura.
Layar raksasa di belakang Hartono mulai menyala, menampilkan simulasi 3D pembangunan gedung. Hartono melangkah turun dari panggung, mendekati terminal utama di dekat barisan kursi VVIP untuk mengoperasikan presentasinya sendiri. Penjaga-penjaga keamanan pun sedikit merenggangkan formasi karena merasa Hartono sudah berada di area yang dianggap 'aman'.
"Sekarang," bisik Kaelith lewat komunikasi radio.
Naura mulai bergerak. Ia menyelinap di antara kerumunan tamu, berpura-pura menjatuhkan tas kecilnya untuk menutupi pergerakan Kaelith yang mendekati meja terminal. Kaelith, dengan gerakan yang sangat halus, melangkah mendekat. Ia harus memasang device pemancar sinyal itu ke port USB di belakang layar kontrol.
Namun, tepat saat jari Kaelith menyentuh meja, seorang penjaga keamanan dengan tubuh tegap tiba-tiba menoleh. "Anda, siapa Anda?" tanya pria itu dengan nada curiga.
Kaelith tidak panik. Ia segera mengeluarkan nampan berisi dua gelas minuman dari pelayan yang lewat di sampingnya. "Saya datang sebagai asisten Ibu Citra. Saya diminta untuk mengantarkan minuman untuk Bapak Hartono sebelum beliau melanjutkan presentasi," jawab Kaelith dengan tenang, menunjukkan gestur melayani yang sangat meyakinkan.
Penjaga itu masih menatapnya dengan curiga, namun kerumunan tamu yang berdesakan membuatnya ragu untuk bertindak lebih jauh. "Cepat, dan jangan berlama-lama."
Kaelith segera bergerak. Dalam hitungan detik, tangannya menyelinap ke balik terminal, menempelkan device itu dengan magnet yang kuat.
"Terpasang," bisik Kaelith.
Naura segera memberikan kode kepada Ibu Citra. Di meja kendali di luar aula, Ibu Citra mulai menjalankan skrip peretasan.
Layar raksasa di depan aula tiba-tiba berkedip. Hartono yang masih berada di atas panggung menoleh, tampak bingung. "Ada sedikit gangguan teknis, mohon tunggu sebentar."
"Tunggu, sistemnya tidak mau sinkron," bisik Kaelith. "Ada enkripsi lapis kedua yang tidak ada di simulasi kita!"
"Apa?" suara Ibu Citra panik. "Naura, kamu harus masuk ke terminal lokal! Kamu harus memasukkan kode override secara manual!"
Naura menoleh ke arah panggung. Hartono sedang sibuk memanggil teknisinya. Jika Naura mendekat sekarang, ia pasti akan langsung dikenali sebagai orang asing. Namun, ia tidak punya pilihan. Jika ia gagal, seluruh bukti akan lenyap saat Hartono mematikan sistemnya.
Dengan napas yang tercekat, Naura berjalan ke depan, berpura-pura menjadi salah satu teknisi yang dipanggil. "Saya bisa membantu, Pak!" serunya, suaranya terdengar profesional.
Hartono menatap Naura sejenak, matanya yang tajam seolah menembus topeng yang ia kenakan. "Siapa kamu? Saya tidak pernah melihatmu di tim teknisi."
"Saya asisten Ibu Citra dari media, Pak. Kami punya teknisi IT yang sering menangani sistem seperti ini," jawab Naura dengan jantung yang berdegup kencang di tenggorokan.
Hartono menatap terminal, lalu menatap Naura. "Cepat. Saya tidak punya banyak waktu."
Naura duduk di depan terminal. Jarinya menari dengan kecepatan yang ia pelajari selama berhari-hari di gudang. Ia bisa merasakan tatapan Hartono yang terus mengawasi setiap gerakannya. Kaelith berdiri di belakang, bersiap jika sesuatu yang buruk terjadi.
Enter.
Data mulai mengalir. Nama-nama pejabat, rincian rekening korupsi, bahkan rekaman suara dari rapat rahasia yayasan semuanya muncul di layar tersembunyi yang hanya bisa diakses oleh perangkat mereka.
"Sudah selesai," bisik Naura, ia segera mencabut device tersebut.
Namun, saat ia hendak berdiri, Hartono meraih lengannya dengan sangat kuat. "Tunggu. Kamu tadi bilang dari media, bukan?"
Naura mematung. Kaelith sudah bersiap untuk menarik Naura dan melarikan diri.
"Iya, Pak," jawab Naura berusaha tetap stabil.
Hartono mendekatkan wajahnya ke telinga Naura. "Saya mengenal semua jurnalis yang meliput acara ini. Dan kamu... wajahmu tidak asing. Kamu adalah gadis yang dicari-cari oleh orang-orang Pramudita, bukan?"
Senyum tipis dan mengerikan tersungging di bibir Hartono. Ia tidak berteriak. Ia justru memanggil dua penjaga pribadinya. "Bawa dia ke ruang belakang. Dan yang pria itu juga. Jangan sampai ada tamu yang tahu."
"Kael, lari!" teriak Naura.
Kaelith tidak membuang waktu. Ia menendang meja terminal, membuat layar besar itu roboh ke depan, menciptakan kekacauan di aula. Para tamu berteriak histeris, berlarian menghindari meja yang tumbang.
Dalam keributan itu, Kaelith menarik tangan Naura. Mereka berlari menembus kerumunan, namun penjaga keamanan sudah menutup semua akses keluar.
"Kita terjebak!" seru Naura.
"Ke arah balkon!" Kaelith menunjuk ke arah pintu balkon lantai dua.
Mereka berlari menaiki tangga, dikejar oleh empat orang penjaga yang bergerak sangat cepat. Naura bisa mendengar suara sepatu boots yang membentur marmer tangga dengan keras.
Di balkon, mereka melihat jalan raya yang macet di bawah. Tidak ada jalan keluar lain selain melompat ke arah tenda pameran yang ada di bawah balkon.
"Lo harus lompat, Nau!"
"Lo gimana?"
"Gue bakal nyusul!"
Naura menatap Kaelith dengan penuh ketakutan. "Gue nggak akan pergi kalau lo nggak ikut!"
"Naura, dengerin gue! Kalau kita tertangkap di sini, data itu nggak akan pernah sampai ke publik! Lompat sekarang!"
Kaelith mendorong Naura ke pagar balkon. Sebelum Naura sempat memprotes, para penjaga sudah sampai di depan mereka, mengeluarkan pistol. Kaelith berdiri di depan Naura, menjadi tameng.
"Lompat, Naura! Sekarang!"
Dengan air mata yang mengalir di pipinya, Naura melompat. Tubuhnya melayang di udara, sebelum akhirnya mendarat di atas tenda kanvas yang elastis, lalu terjatuh ke atas tumpukan karpet pameran.
Ia terduduk, melihat ke atas. Ia melihat Kaelith dipukul jatuh oleh para penjaga, lalu diseret masuk kembali ke dalam gedung.
"Kaelith!" teriak Naura.
Namun, suara sirine yang mendekat membuat para penjaga itu panik dan membawa Kaelith pergi melalui pintu samping sebelum polisi sempat masuk.
Naura terduduk sendirian di tengah kekacauan, tangannya memegang device yang berisi data itu erat-erat. Ia telah berhasil mendapatkan datanya, namun ia telah kehilangan Kaelith. Ia menatap gedung itu dengan penuh amarah dan kesedihan. Malam ini, ia tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan Kaelith kembali, dan kali ini, ia akan menjatuhkan Hartono Adiwangsa sendirian jika memang itu harus dilakukan.