NovelToon NovelToon
Dendam Berdarah

Dendam Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.

Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari tahu!

Setelah langkah kaki Pak RT Mulyo benar-benar menghilang dari pekarangan, ketegangan yang sempat menyelimuti rombongan perlahan mencair. Rasa lelah dan lapar setelah menempuh perjalanan jauh berjam-jam kini mulai mengambil alih tubuh mereka.

"Aduh, perutku sudah demo dari tadi ini." Keluh Doni sambil memegangi perutnya, memicu tawa kecil dari Angga dan Darwis.

"Tenang, logistik aman! Yuk, kita seduh Mie saja yang praktis." Sahut Tris tanggap. Ia langsung membongkar salah satu kardus besar di pojok ruangan dan mengeluarkan tumpukan cup mi instan yang sengaja mereka bawa dari kota sebagai cadangan makanan.

Sanu dan Jeremy bergegas ke bagian dapur belakang untuk memasak air menggunakan teko yang mereka bawa.

Tak butuh waktu lama, aroma gurih dari kuah Mie cup yang mengepul hangat langsung memenuhi ruangan tengah rumah itu.

Ke-13 anak muda tersebut duduk lesehan melingkar di atas lantai ubin marmer yang beralaskan tikar, menikmati makan siang yang sederhana namun terasa sangat nikmat.

Sambil meniup kuah mi yang panas, Bagas membuka papan jalannya dan memulai diskusi.

"Oke semuanya, sambil makan kita cicil bahas agenda kita. Besok pagi-pagi sekali, kita sudah harus mulai syuting scene pertama."

Bimo, sang asisten sutradara, langsung menimpali sembari mengunyah.

"Betul. Konsepnya kan memanfaatkan kabut fajar desa ini yang tebal. Jadi jam 5 subuh, tim kamera yang dipimpin Yuda dan tim artistik Sanu sudah harus standby di area luar dekat gerbang desa. Jangan ada yang telat bangun, ya."

"Aman, Bim. Lensa dan baterai kamera sudah siap semua. Tinggal pasang settingan eksposur yang pas untuk suasana gloomy fajar besok," jawab Yuda optimis.

Sri, yang duduk di sebelah Mey, tampak menyimak dengan serius sembari memegang draf naskahnya.

"Untuk anak cast," kata Sri, mengalihkan pandangan kepada Dita, Mey, Angga, Darwis, dan Doni.

"Besok adegannya cukup emosional karena karakter kalian ceritanya baru pertama kali tersesat di desa ini. Tolong jaga energi dan ekspresinya agar ketakutannya terasa riil ke penonton. Susan juga akan langsung memantau kontinuitas gambarnya dari lokasi."

"Siap, Sutradara! Kami bakal totalitas besok." Jawab Mey mewakili teman-temannya dengan semangat membara.

Suasana di dalam rumah tua itu menghangat oleh ambisi dan tawa mereka yang saling bersahutan, membahas tiap detail adegan hingga Mie cup di wadah masing-masing kandas tak bersisa.

****

Malam pun tiba, membawa udara dingin yang kian menusuk dari arah hutan jati di belakang rumah joglo. Di tengah kesunyian malam Selogiri, suasana di dalam rumah kembali hangat ketika pintu depan diketuk pelan.

Rupanya, ibunya Mey datang berkunjung membawa rantang-rantang besar berisi makan malam yang hangat untuk mereka semua, ditemani oleh bapaknya Mey yang berjalan di belakangnya.

"Kebetulan sekali, perut sudah mulai keroncongan lagi ini!" seru Bimo girang, menyambut kedatangan orang tua Mey.

Melihat makanan yang begitu banyak, anak-anak perempuan, Sri, Dita, Susan, termasuk Mey sendiri, langsung bergegas maju untuk membantu. Mereka menyusun piring-piring dan menggelar tikar di lantai ruang tengah.

Saat sedang menata lauk-pauk di atas tikar, ibunya Mey sengaja mengambil posisi duduk di dekat Sri. Matanya yang sedari siang memendam rasa penasaran yang teramat besar, kini menatap lekat-lekat wajah Sri yang berada di dekatnya.

Sambil mengulurkan mangkuk sayur, ibunya Mey pun akhirnya membuka suara.

"Nak Sri... kalau boleh tahu, Sri ini asli orang kota ya?" tanya ibunya Mey dengan nada suara yang sengaja dibuat santai, walau ada sedikit getaran penasaran di dalamnya.

Sri yang sedang menata sendok mendongak, lalu tersenyum ramah.

"Iya, Bude. Saya asli lahir dan besar di kota."

Ibunya Mey manggut-manggut perlahan. Ia bertukar lirik sekilas dengan suaminya yang duduk agak jauh di dekat Bagas.

Wanita paruh baya itu kemudian menggeser duduknya sedikit lebih dekat lagi ke arah Sri, lalu kembali bertanya dengan suara yang agak merendah.

"Lalu... orang tuamu, apa masih hidup semuanya?"

Pertanyaan itu sempat membuat gerakan tangan Sri terhenti sejenak. Pertanyaan itu terasa agak pribadi untuk ukuran orang yang baru dikenal, namun Sri tetap berusaha berpikiran positif bahwa ini hanyalah bentuk keramahan orang desa.

"Alhamdulillah, masih ada, Bude," jawab Sri dengan sopan.

"Tapi Sri cuma tinggal berdua saja di rumah bersama Ibu. Kalau Bapak... sudah meninggal sejak Sri masih bayi."

"Ibunya... namanya siapa, Nduk?" tanya ibunya Mey lagi, kali ini suaranya terdengar sedikit mendesak, menanti jawaban yang mungkin akan membuka tabir misteri yang selama ini terkubur di Desa Selogiri.

"Nama ibu saya Widya, Bude," jawab Sri sambil meletakkan piring terakhir di atas tikar, lalu tersenyum manis tanpa curiga sedikit pun.

Mendengar nama Widya meluncur dari bibir Sri, ibunya Mey seketika mengembuskan napas panjang yang sempat tertahan di dadanya.

Ketegangan yang sejak siang hari menggelayuti pundaknya mendadak runtuh, digantikan oleh rasa lega yang teramat sangat, dan raut wajahnya kembali rileks.

Oh, ternyata namanya Widya... Berarti tidak ada kaitannya dengan keluarga itu, batin ibunya Mey dalam hati, merasa sangat lega karena dugaannya salah.

Ibunya Mey langsung tersenyum lebar, kali ini senyumannya terasa jauh lebih lepas dan tulus. Ia menepuk pelan bahu Sri dengan penuh kasih sayang.

Mey yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik ibunya dari sudut ruangan akhirnya tidak bisa menahan diri. Sambil membawa tumpukan gelas, Mey langsung duduk di sebelah ibunya dan menyenggol lengannya pelan.

"Ibu ini kenapa, toh? Kok dari tadi kelihatannya penasaran sekali sama Sri? Kasihan Sri dicecer pertanyaan terus, yang lain sampai tidak ditanya," goda Mey sambil tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.

Mendengar teguran putrinya, ibunya Mey sempat salah tingkah. Namun, dengan cepat ia menguasai diri dan menatap Mey serta Sri bergantian sambil tersenyum maklum.

"Ah, kamu ini, Mey. Ibu cuma bertanya sedikit saja," ujar ibunya Mey membela diri.

Dia kemudian menatap Sri kembali.

"Begini lho, Ibu bertanya begitu karena wajah Sri itu mirip sekali dengan kenalan Ibu dulu waktu masih muda. Kebetulan, nama kenalan Ibu itu juga ada unsur Sri-nya. Makanya tadi Ibu sempat kaget dan penasaran sekali, siapa tahu kamu ini anak dari kenalan Ibu itu."

"Ibu dan kenalan Ibu itu sudah dua puluh tahun tidak pernah bertemu, tidak ada kabar sama sekali, begitu melihat Sri datang siang tadi, Ibu langsung kepikiran dia."

Sri yang mendengar penjelasan itu mengangguk-angguk paham. Rasa heran yang sempat melintas di hatinya kini berganti menjadi rasa maklum.

"Oh, begitu ya, Bude. Dunia memang sempit ya, kadang wajah orang bisa mirip sekali. Tapi ibu saya asli dari kota kok, Bude, tidak pernah tinggal di desa." Jawab Sri ramah untuk menenangkan hati wanita paruh baya itu.

"Iya, Nduk, Ibu percaya. Namanya juga orang tua, kadang suka teringat masa lalu," sahut ibunya Mey sembari menepuk pelan tangan Sri, bersyukur di dalam hati karena misteri itu kini sudah terjawab dan ketakutannya tidak terbukti.

Setelah memastikan semua rantang kosong dikemas kembali dan rombongan mahasiswa itu kenyang, ibunya Mey dan bapaknya pun berpamitan. Mereka melangkah keluar dari pekarangan rumah yang kini mulai diselimuti kabut malam yang tebal dan dingin.

Dalam perjalanan pulang menyusuri jalanan setapak desa yang gelap gulita, hanya berbantukan sorot lampu senter, bapaknya Mey yang sejak tadi memendam rasa penasaran akhirnya membuka suara.

"Bagaimana, Bu? Tadi kau sudah sempat bertanya-tanya tentang asal-usul dan keluarga si Sri itu?" tanya bapaknya Mey dengan suara berbisik, seolah takut angin malam akan membawa pertanyaannya kembali ke rumah joglo.

Istrinya mengangguk pelan, mempererat pegangannya pada lengan sang suami.

"Sudah, Pak. Ibu sudah bertanya langsung ke anaknya tadi pas bantu-bantu menyiapkan makanan."

"Lalu? Apa katanya?" tanya bapaknya Mey lagi, langkah kakinya agak melambat menanti jawaban.

"Sepertinya tidak ada kaitannya sama sekali, Pak. Anaknya bilang dia asli lahir dan besar di kota, tidak pernah ke desa. Dan nama ibunya juga Widya, bukan Lela." Jawab ibunya Mey dengan nada suara yang terdengar sangat lega.

Ia menoleh sekilas ke arah jalan setapak di belakang mereka yang mulai kabur tertutup kabut.

"Mungkin ini memang hanya kebetulan saja, Pak. Namanya di dunia, wajar kalau ada nama yang mirip dan wajah yang sedikit menyerupai. Kita saja yang terlalu paranoit."

Bapaknya Mey terdiam sejenak, merenungkan jawaban istrinya. Ia mengembuskan napas panjang, membiarkan uap dingin keluar dari mulutnya.

"Ya... syukurlah kalau begitu. Berarti kita tidak perlu khawatir lagi." Keduanya pun melanjutkan langkah kaki mereka menembus kegelapan malam.

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa nama Widya adalah nama yang di pakai Lela untuk menyamarkan dirinya dari belenggu trauma, dan darah yang mengalir di tubuh Sri tidak akan pernah bisa membohongi tanah terkutuk yang kini sedang menyambut kepulangannya.

1
Yulia Lia
siapakah yg selamat di malam pembantaian malam itu ya ,,aduh next thoor
Yulia Lia
berarti selama ini keluarga Sri di fitnah menganut ilmu hitam padahal mereka di rampok dan di bantai
Nurr Tika
siapa tetua desa itu apakah ikut adil dlm pembunuhan
Maure Nia
bagus KK ceritanya....lanjut....
Maure Nia
pembalasan menuju yg kedua...JD penasaran Thor siapa LG dalangnya MLM itu🤔
Nurr Tika
satu persatu orang yg membunuh akan di teror
Nurr Tika
sri masih binggung
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
sri di panggil ibunya
Maure Nia
balas dendamnya memang nunggu Sri Dateng...lanjut thor
Maure Nia
kan ketemu ibumu Sri🥺🥹hah jadi ikut mewek
Siti Yatmi
aduh..sri kalo kamu tau tentang riwayat kelahiran mu...auto sedih and pilu...ga kebayang penderitaan ibu mu...
Siti Yatmi
baru ngeh kalo udh 20 tahun setan baru nongol🤣
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Yulia Lia
yang manggil Sri itu ibu kandungmu sri
Yulia Lia
hutan tempat Sri di lahirkan dengan cara yg sangat tragis
Nurr Tika
ada yg menyesatkan jalan mereka
Nurr Tika
rasman ktemu ga yah
Maure Nia
Sri kamu bisa ketemu ibu kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!