Prita Laura Kiehl, 27 tahun, Dia ini termasuk jajaran penyanyi papan atas tanah air. Sesekali jadi aktor. Tapi hanya untuk film dan film pendek. Selebihnya ogah!
Malas ribet.
Malas berurusan sama drama pertelevisian tanah air yang menye-menye. Selama ini, Prita tidak pernah memikirkan akan ke mana dan pada siapa hatinya berlabuh.
Tapi selama ini juga dia selalu meyakinkan diri bahwa ketika suatu hari nanti bertemu dengan pasangan hidupnya, dia ingin di kejar, di cintai ugal-ugalan, dan di perjuangkan.
Tapi sekarang, sepertinya itu tidak berlaku. Yang penting Mas Dokter mau jadi pacarnya. Titik!
Ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang dokter spesialis bedah sekaligus pewaris sebuah Rumah Sakit Swasta, Kian Samudra, 29 tahun.
Kisahnya bermula saat Prita mendapatkan peran sebagai seorang dokter bedah. Traumanya pada rumah sakit dan dokter membuatnya kesulitan untuk mengekspresikan diri.
Lalu bagaimana bisa kisah asmaranya akan berlanjut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Chairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OVER THINKING
Tuuut...
Tuuuut...
Tuuuuuut!
Hah!
Bruk!
Prita ambruk di atas kasurnya. Lemas lantaran sudah sepuluh kali dia coba menghubungi si Pak Dokter kesayangan, tapi tidak juga diangkat.
Sudah dua jam berlalu sejak pesan terakhirnya yang hanya Kian baca. Harusnya makan malam sudah selesai kan? Masa iya makan malam sampai dua jam? Apa jangan-jangan Kian benar dijodohkan?
Prita mengusak kepalanya frustrasi. Kesal dengan segala pikiran buruk yang muncul di kepalanya. Padahal hari ini jadwalnya hanya sedikit.
"AAARRGHH!!!"
Drap. Drap. Drap. Cklek.
"Kenapa? Kamu kenapa Prita?" Kepala Kristina muncul dari balik pintu dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Lah? Ngapain di sini, Tin?"
Prita malah balik bertanya heran. Seingatnya sejak sore, dia sendiri di apartment. Kristina izin pulang setelah mengantarnya.
"Kian minta gue jagain lo dulu selama dia makan malam keluarga berkedok perjodohan," jawab Kristina panjang lebar.
Sengaja dia tuh!
Sengaja mau melihat muka frustrasinya Prita. Biar tahu rasa! Dikerjain sekalian.
"Beneran dijodohin ya?"
Prita menatap Kristina dengan mata melengkung sedih.
"Kok cepet banget dia move on dari gue? Perasaan kemarin masih ngajak nikah!" sungutnya.
Kristina melangkah masuk, lalu duduk di sofa yang menghadap ke jendela kamar.
"Gue ingetin ya, dia udah ngajak lo kawin hampir empat bulan dan selalu lo tolak."
Bibir Prita maju. Monyong-monyong sambil ngedumel. "Baru juga empat bulan."
"Heh Bocah Kampret! Lo centil kegatelan sama dia tu cuma dua minggu ya!"
Kristina emosi juga. Siapa dulu yang ngebet banget minta dikawinin. Giliran beneran mau dikawinin malah jual mahal.
Bibir Prita makin cemberut mendengar omelan Kristina. Dia tahu kok. Sadar diri juga. Sakingbsadar dirinya, dia jadi enggan menerima uluran tangan Kian. Karena apa? Karena Prita itu punya gengsi setinggi langit.
Dia tidak akan mau menerima jika itu berlandaskan kasihan. Dan Prita ini tipe-tipe yang sukanya mengejar. Kalau sudah dikejar balik, biasanya dia ilfeel.
Tapi terkhusus Kian Prita bisa tidak ilfeel.
Khusus Kian. Hanya kian. DemiKian. Tolong diingat!
"Gue tuh bukan jual mahal." Prita bangun, lalu bersandar pada headboard kasurnya.
"Cuma gue masih takut. Dan lo enggak akan ngerti, Tin."
Bahunya turun, saking sedih dan letihnya. Seperti banyak sekali beban di sana.
"Ngerti kok." Kristina kini berpindah, duduk di samping Prita.
"Gue ngerti. Dia juga ngerti. Yang nggak ngerti cuma Bapak lo aja. Sama sekarang lo nya yang kita enggak bisa ngerti."
Kristina melirik Prita yang murung, lalu membuang muka ke langit-langit kamar.
"Ketakutan lo itu, kami mengerti, Prita. Kian bahkan mencoba untuk merangkul elo. Dia nggak pernah pacaran, okey? Dulu, pernah ada cewek yang deket banget sama dia. Meski nggak tahu statusnya apa, tapi Kian jagain dia, persis kayak sekarang dia jagain lo. Eit! Bukan berarti lo jadi pengganti siapa-siapa!"
Kristina lebih dulu melanjutkan sebelum Prita sempat menyela.
"Terus sekarang ceweknya kemana? Gimana kalau tu cewek tiba-tiba muncul terus mereka balikan lagi?" Prita masih dengan segala over thinking nya.
"Enggak bakal," Kristina sedikit tergelak. "Orangnya udah pergi," lanjutnya.
"Udah nggak usah bahas orang lain!"
Kristina mengibaskan tangan, dan kembali menghadap Prita.
"Sekarang itu elo. Lo yang sekarang maunya gimana? Kian kasihan loh, Ta."
Bibir Prita kian melengkung.
"Kenapa sih, nyalahin gue?"
Jurus andalan Prita kalau dimarahin Kristina. Merengut. Cemberut. Memasang wajah memelas, lengkap dengan mata berkaca-kaca dan bibir berkedut. Sedih banget pokoknya.
"Enggak ada yang nyalahin."
Kristina menghela napas lelah. "Gue cuma ngasih tahu. Gue cuma ingetin. Jangan sampai Kian capek, terus dia pergi."
"Kristina lo nyebelin banget!"
Prita menendang-nendang udara. Kesal bukan main.
"Pergi lo sana! Bilangin ke Kian gue sakit. Mau mati! Awas aja kalau dia enggak datang! Gue enggak mau ketemu lagi! BILANGIN!"
Prita ngomel sambil mendorong Kristina supaya keluar kamar. Lalu,
BRAK! Pintu ditutup dengan bantingan kasar. Dia butuh menenangkan kepalanya yang penuh dengan pikiran negatif. Dan Kristina barusan cuma menambah kenegatifan di dalam kepalanya.
Tukang kompor memang!
***
Jam sudah menunjuk di angka dua belas lebih. Sudah tiga puluh menit Kian duduk di pinggir ranjang Prita. Memandanginya yang sudah tertidur lelap.
Bukannya tidak mau datang lebih cepat. Kian ada panggilan operasi darurat dan mendadak. Jadi dia lama, bukan karena keasyikan membahas perjodohan di makan malam keluarga.
Dan Kian kembali mengingat wajah shock kakek semalam, saat akhirnya Kian memutuskan untuk memberitahu bahwa dia sudah punya calon, sebelum kakek membawakan calon untuknya.
"Saya sudah punya calon." Kian menatap kakek, mami, dan papi, bergantian.
Sebenarnya ini hanya makan malam biasa.
Tidak ada perjodohan. Tapi tentu ada pembahasan ke arah itu.
"Oh ya? Siapa?" Kakek bertanya antusias.
"Kenapa enggak kamu bawa, Kian? Kakek mau ketemu calon cucu menantu."
Kakek ini termasuk di golongan orang kaya yang baik hati, dermawan, tidak sombong, dan rajin menabung. Serta sangat amat menyayangi cucu-cucunya, terlebih Kian. Yang sudah di gadang-gadang akan menjadi pewaris selanjutnya jika dirinya, dan papi Kian, meninggal dunia.
"Mami tahu."
Kian menjawab seadanya. Melimpahkan penjelasan pada mami yang cuma bisa senyum-senyum sambil merutuki anaknya sendiri dalam hati.
"Tapi calon istri saya bukan dari kalangan kita. Dan... Dia tidak bisa meneruskan keturunan keluarga kita."
Trang! Sendok yang dipegang kakek terjatuh. Wajah tua itu melongo tampak bingung.
"Bagaimana maksudnya, Kian?" Kedua tangannya tertangkup di atas meja. Matanya tajam menelisik si cucu kesayangan.
"Kek, maaf. Calon istri saya seorang artis terkenal yang punya masalah dengan rahimnya."
Uhuk!
Hah!
Kian menghela napas panjang. Dia masih ingat kakek yang batuk-batuk saking kagetnya. Untung jantung kakek aman. Kalau papi dan mami, terlihat biasa saja. Mungkin benar kata mami. Papi tidak keberatan selama Kian mau menikah.
Nghhh.
Suara desah Prita dalam tidurnya, menyentak Kian kembali dari ingatannya perihal kakek. Dipandanginya Prita yang memang suka menggeliat dalam tidurnya, hingga selimut itu tersingkap.
Tangan Kian yang tadinya sudah terulur untuk mengusap-usap kepala Prita agar gadis itu kembali tenang, mengambang di udara.
Matanya terpana, fokus pada pemandangan di depannya. Paha putih itu terekspos. Perut ramping itu terlihat. Dada putih dan lumayan sekal meski tidak terlalu besar itu hampir tersingkap.
Sialan!
Ini pertama kalinya Kian mendapati Prita tidur dengan baju seminim ini.
Hanya celana pendek—yang kebangetan pendeknya—dan kaos oversize yang longgar, milik Kian.
Harusnya Kian baik-baik saja kan?
Seingatnya, dia sudah melihat banyak anggota tubuh pasiennya di meja operasi. Bahkan yang telanjang sekalipun.
Tapi tunggu! Kenapa saat ini rasanya panas sekali?
Huh!!!
...****************...
(di korsel, udah berapa banyak yg bundir karena 3 hal itu🥺)
kasihan prita entar merasa di PHPin teyus 😭
semoga setelah dpt psikiater pribadi ini prita bisa sembuh dn semakin membaik...