NovelToon NovelToon
Dangerous Obsession : Undercover Love

Dangerous Obsession : Undercover Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:110.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hais Tauahh

Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.

Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.

Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 | Ancaman dari Masa Lalu

Dante masuk ke dalam mobil dengan gerakan tenang, mengabaikan umpatan Elara yang masih bergema di ambang pintu. Di samping kemudi, Vito mengemudi dengan wajah tegang, sementara di kursi belakang, Melisa wanita yang selama ini dikenal sebagai tunangan politik Dante duduk dengan menyilangkan kaki, sorot matanya tajam dan penuh kebencian.

​"Kau membuang waktu dengan mainan murahan itu, Dante," suara Melisa memecah kesunyian kabin yang dingin.

" Seharusnya dia sudah mati malam ini."

​Dante tidak menoleh. Ia menatap pantulan lampu jalan yang meluncur di kaca jendela dengan tatapan kosong.

"Jaga bicaramu, Melisa. Dia bukan mainan."

​Melisa tertawa sinis, suara tawa yang terdengar tajam dan menyakitkan. "Bukan mainan? Lalu apa? Pelabuhan pelarianmu? Atau kau mulai merasa kasihan setelah melihatnya menggendong bayi?"

​Dante tiba-tiba mencengkeram rahang Melisa dengan satu tangan, memaksa wanita itu menatap matanya yang gelap dan penuh ancaman. "Aku tidak pernah merasa kasihan. Dan jangan pernah berpikir untuk menyentuhnya. Jika satu helai rambutnya saja jatuh karena ulahmu, aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan kota ini hidup-hidup."

​"Kau mengancamku demi seorang agen rendahan?" Melisa melepaskan cengkeraman Dante dengan kasar, wajahnya memerah karena amarah dan penghinaan. "Jangan lupa siapa yang memegang kendali atas aliansi sindikat di Paris. Jika mereka tahu kau terobsesi pada musuh, bukan hanya nyawa wanita itu yang terancam, tapi seluruh kerajaanmu."

​Dante menarik napas panjang, lalu membuang muka kembali ke jendela. "Kau tidak paham. Elara bukan sekadar ancaman. Dia adalah satu-satunya hal yang bisa membunuhku, dan itulah alasan kenapa aku membiarkannya tetap bernapas."

​Vito yang sejak tadi hanya diam di kursi pengemudi, sesekali melirik dari spion tengah dengan wajah khawatir. Ia tahu betapa berbahayanya permainan ini.

​"Dante," suara Melisa melunak, namun penuh dengan racun yang terselubung.

"Aku tunanganmu. Kita sudah terikat sumpah darah. Jangan sampai kegilaanmu pada gadis itu membuatku harus turun tangan melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal selamanya."

​"Lakukan saja jika kau berani," jawab Dante datar tanpa sedikitpun emosi.

" Tapi ingat satu hal, Melisa. Aku tidak pernah keberatan menyingkirkan siapapun bahkan mereka yang memegang sumpah darah denganku, jika mereka mencoba menghalangi apa yang sudah menjadi milikku."

​Mobil itu melaju dalam keheningan yang menyesakkan. Dante memejamkan mata, membiarkan pikirannya kembali pada Elara. Ia tahu Melisa tidak akan diam saja. Ia tahu agensi Elara juga sedang menekannya. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Dante merasa bahwa kehancuran adalah harga yang pantas dibayar untuk menjaga Elara tetap berada dalam jangkauannya.

●●●●

Di dalam kamarnya yang luas, Elara membanting tutup koper terakhirnya. Keputusannya sudah bulat. Ia harus pergi dari Vance Mansion sebelum Dante Moretti menggunakan rumah ini sebagai alat sandera untuk melumpuhkannya.

​Pintu kamarnya terbuka lebar tanpa ketukan. Julian, kakaknya, berdiri di sana dengan tatapan yang sulit dibaca.

​"Kau benar-benar akan pergi?" suara Julian berat, memecah kesunyian.

​" Ini bukan permintaan, Julian. Ini keharusan," jawab Elara dingin, menyeret kopernya ke tengah ruangan.

​" Dante Moretti tidak akan berhenti di gerbang rumah ini, Elara. Jika kau pergi sekarang, kau justru menempatkan dirimu di tempat terbuka," Julian mencoba menahan tangan Elara. "Tetaplah di sini. Kita punya sistem keamanan militer. Kita bisa melindungimu."

​Elara menatap kakaknya dengan tatapan tajam yang menyimpan sejuta luka. "Kalian tidak bisa melindungiku dari sesuatu yang sudah merasuki jiwaku. Kehadiranku di sini hanya akan membawa kematian ke pintu rumah ini. Kau punya Serena dan Lyra untuk dilindungi. Aku tidak akan membiarkan mereka menjadi tumbal atas pilihanku."

​Julian terdiam. Ia tahu argumennya tidak akan mempan. Ia menatap adiknya dengan tatapan penuh penyesalan, lalu mengembuskan napas panjang.

 "Kau memang keras kepala, sama seperti Ibu."

​"Aku tidak keras kepala, aku bertahan hidup," sahut Elara datar.

​Tiba-tiba, suara tawa dan keceriaan dari lantai bawah terdengar. Serena muncul di ambang pintu, tampak kebingungan melihat koper besar Elara. Di gendongannya, Lyra sedang tertawa kecil.

​"Elara? Apa yang kau lakukan dengan koper-koper itu?" tanya Serena, wajahnya seketika berubah pucat. "Apa ini karena perkataanku tadi? Aku tidak bermaksud mengusirmu!"

​Elara tidak menjawab. Ia mendekat, menyentuh lembut pipi Lyra yang gemas. Bayi itu meraih kalung identitas yang disembunyikan Elara di balik kemejanya.

​"Jaga dia, Serena," bisik Elara, suaranya sedikit melunak, namun matanya tetap sedingin es. "Dunia di luar sana lebih kejam dari yang kau bayangkan. Jangan pernah biarkan dia tahu siapa tantenya sebenarnya."

​"Tapi kau belum sarapan—"

​"Aku sudah tidak punya waktu untuk sandiwara keluarga, Serena." Elara mengambil langkah tegas menuju tangga, meninggalkan mereka dalam keterkejutan.

​Saat ia sampai di pintu depan, Elara berhenti. Ia merasa sebuah tangan mungil menarik ujung pakaiannya. Lyra, yang kini sudah diturunkan oleh Serena, menatapnya dengan mata polos yang menghantui.

​"Tante pergi?" tanya anak kecil itu dengan nada yang belum sempurna.

​Hati Elara serasa diremas. Ia berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Lyra, dan memberikan kecupan terakhir di dahi bayi itu.

"Tante harus pergi agar Lyra tetap aman."

​Tepat saat itu, Julian muncul dengan raut wajah yang kacau, diikuti Serena yang terlihat akan menangis. Elara berdiri, wajahnya kembali kaku. Ia tidak memberikan perpisahan yang manis, karena perpisahan yang manis hanyalah ilusi bagi orang sepertinya.

​Begitu pintu depan terbuka dan Elara melangkah keluar menuju mobilnya yang sudah menunggu, ia tidak menoleh lagi. Ia tahu, di balik jendela lantai dua, ada mata yang mengawasi. Dante Moretti pasti sudah tahu bahwa permainannya kini telah berpindah ke babak yang lebih kejam.

​Elara memacu mobilnya menjauh dari mansion, membiarkan kenangan tentang rumah itu memudar di balik spion, menyisakan dirinya sendiri di tengah kegelapan kota yang sudah siap menelannya.

●●●●

1
Anonim
😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍
ada saja
ciee cemburu😍😍😍
ada saja
😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
hmmm 😍😍😍
Anonim
next😍😍😍😍
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
pokoknya😍😍😍
Anonim
lanjut deh
Anonim
lanjut😍😍😍pokoknya
Anonim
lanjut😍😍😍
Anonim
makin gemes😍😍😍
Tiara
next😍😍😍
Tiara
lanjut😍😍😍
Tiara
lanjut😍😍😍p0ki🤭
Tiara
lanjut😍😍😍
Anonim
lanjut
Anonim
lanjut😍😍😍pokoknya
Anonim
lanjut😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!