Saling mencintai, namun restu tak menyertai. Tetap memaksakan untuk menjalankan pernikahan tanpa restu. Namun ternyata restu masih di atas segalanya dalam sebuah pernikahan.
Entah apa yang akan terjadi lada pernikahan Axel dan Reni, ketika mereka harus menjalani pernikahan tanpa restu. Apa mungkin restu itu akan di dapatkan suatu saat nanti. Atau bahkan perpisahan yang akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memberitahu Avinna
Setelah hari kemarin, mungkin hari ini masih terasa baik-baik saja. Axel membawa Reni kembali ke Apartemennya. Mereka kembali tinggal bersama setelah satu bulan lamanya mereka terpisah. Hari ini masih baik-baik saja karena keduanya yang sudah bisa bersama kembali. Meski tahu jika ketenangan ini tidak akan berlangsung lama. Karena semua masalah belum benar-benar di selesaikan.
"Sarapan dulu" ucap Reni saat melihat suaminya yang keluar dari kamar.
Sebenarnya Reni sedikit gelisah sekarang, malam tadi mereka kembali melakukannya setelah satu bulan terpisah. Mengungkapkan segala rindu dengan sentuhan tubuh. Namun, yang membuat Reni gelisah karena dia tidak lagi meminum pil kontrasepsi itu. Apalagi dia yang baru saja selesai datang bulan tiga hari lalu. Reni cukup takut jika sekarang dia sedang berada dalam hormon yang subur, maka dia bisa saja hamil. Sementara situasi masih seperti ini.
"Sayang, hey... Sayang, kenapa?"
Reni mengerjap pelan saat tangan suaminya sudah melambai-lambai di depan wajahnya. Dia tersadar dari lamunan. Reni hanya tersenyum, lalu dia mengambilkan makanan untuk suaminya.
Axel yang melihat istrinya terus melamun dan jelas Reni sedang banyak pikiran sekarang. Dia memegang tangan Reni setelah istrinya itu menaruh piring berisi sarapan di depannya. Mengecup punggung tangan wanita yang begitu kuat menghadapi semua cobaan ini bersamanya. Meski dia sempat ingin menyerah, tapi akhirnya Reni tetap kembali padanya.
"Jangan terlalu dipikirkan tentang semua ini. Sekarang aku akan menemui Avinna, dan aku akan menjelaskan jika aku sudah menikah denganmu"
Reni langsung terdiam, cukup terkejut dengan apa yang diucapkan oleh suaminya barusan. "Apa tidak papa? Aku takut semua ini malah akan semakin kacau. Lagian aku juga tidak ingin membuat hati gadis lain terluka"
"Lalu kamu akan biarkan hatimu sendiri yang terluka? Ayolah Sayang, kamu hanya perlu tetap bersamaku dan aku akan mencoba menyelesaikan semuanya satu persatu"
Reni hanya mengangguk saja, meski dia tidak yakin jika semuanya memang akan benar-benar selesai. Karena nyatanya tidak akan mudah setiap hal kedepannya. Tapi dia sudah memutuskan untuk menemani suaminya di masa-masa ini.
"Sekarang sarapan dulu, aku juga harus bekerja. Tidak enak karena kemarin saja aku tidak masuk kerja tanpa izin dulu sama Kak Tika" ucap Reni.
Mendengar itu membuat Axel menghela nafas pelan. Setidaknya sekarang istrinya sudah mulai terbuka padanya. Meski mungkin harus terbongkar dulu olehnya, baru Reni bisa lebih terbuka padanya.
"Untuk saat ini aku tidak akan minta kamu untuk berhenti bekerja. Karena aku tahu jika kamu akan semakin kepikiran jika kamu hanya berdiam diri di rumah. Tapi hanya satu yang aku minta dari kamu, jangan pernah menyembunyikan apapun lagi dariku"
Reni mengangguk dengan patuh, mungkin memang tidak seharusnya dia membohongi suaminya tentang ini.
*
Avinna masuk ke dalam sebuah ruangan di Perusahaan milik teman dari calon suaminya itu. Dia sudah bertanya lebih dulu pada pekerja disini dan menanyakan tentang suaminya dan ruang kerjanya. Senang sekali ketika Axel mengirimkan pesan padanya dan meminta dia untuk datang menemuinya di Kantor.
Saat masuk ke dalam ruangan ini, Avinna langsung melihat calon suaminya yang sedang fokus dengan layar laptop di depannya. Pemandangan ini sungguh membuatnya semakin mencintai pria itu. Avinna jadi teringat tentang perjanjiannya dengan sang Ayah saat dia masih sekolah menengah atas.
Saat itu Avinna mengetahui keadaan Perusahaan orang tua Axel sedang tidak baik-baik saja dari cerita Ayahnya. Lalu dia memohon padanya untuk membantu keluarga Axel.
"Kamu menyukainya?" tanya Ayah, sudah bisa menebak perasaan anaknya ini. Meski dia mencoba untuk menyembunyikan.
"Iya Yah, aku menyukainya. Aku ingin menikah dengannya nanti. Aku tidak mau menikah dengan siapapun lagi jika bukan Axel" ucap Avinna saat itu.
"Bagaimana jika kita buat kesepakatan sekarang. Ayah akan membantu keluarga Axel, dan akan meminta dia untuk menjadi suamimu di masa depan. Tapi, kau harus pergi ke Luar Negara untuk kuliah kedokteranmu. Jika kamu bisa menuruti keinginan Ayah itu, maka Ayah juga bisa mendapatkan pria yang kamu cintai untuk menjadi suamimu"
Dan Avinna langsung setuju dengan kesepakatan yang dibuat Ayahnya. Dan akhirnya dia memilih pergi ke Luar Negara untuk melanjutkan kuliah. Dia juga sering menghubungi Axel selama dia disana. Hanya saja respon pria itu sangatlah cuek dan apa adanya. Tapi Avinna tetap tak berhenti untuk terus menghubunginya, hanya sekedar menanyakan kabar saja. Karena dia selalu yakin jika ketika dia kembali, maka dia akan menjadi istri dari pria yang dia cintai selama ini.
Namun, satu tahun terakhir, memang Axel sudah tidak pernah membalas pesannya lagi. Tepatnya setelah dia menikah dengan Reni dan dia hanya tidak ingin menimbulkan kecurigaan dan pertengkaran dengan istrinya saat itu.
Avinna mengerjap pelan, dia tersenyum cerah dan melanjutkan langkahnya menghampiri Axel di meja kerjanya. Tanpa berbasa-basi, dia langsung memeluk pria itu dari samping. Hal itu tentu saja mengejutkan Axel yang sedang bekerja.
Dia langsung menghempaskan tangan Avinna yang melingkar di dadanya. "Apaan si Vi, ini di Kantor. Tolong jaga sikap!"
Avinna cemberut sekilas, lalu dia menghembuskan nafas pelan. Langsung beralih duduk di kursi depan meja kerja Axel. Duduk saling berhadapan sekarang.
"Emangnya kenapa sih? Kan aku calon istri kamu, jadi wajar saja kalau aku ingin meluk kamu. Lagian kemarin kamu kemana aja? Kok pergi gitu aja, terus gak hubungi aku juga" ucap Avinna mengeluh manja dengan bibirnya yang mencebik.
Axel mematikan layar laptop setelah pekerjaannya selesai. Nyatanya saat kembali setelah satu bulan pergi, dia tetap memilih bekerja di Perusahaan sahabatnya ini. Belum ingin kembali lagi ke Perusahaan Ayahnya.
Axel menatap Avinna dengan lekat, dia harus melakukan ini meski dia tahu akhirnya pasti akan cukup kacau. Tapi hanya ini yang bisa dia lakukan untuk mencoba membatalkan pernikahan ini. Karena Axel tidak akan pernah mau melepaskan istrinya.
"Avinna, aku perlu bicara sebentar denganmu. Ini serius!"
Avinna yang tadinya ingin sedikit merajuk manja pada calon suaminya. Langsung kembali serius ketika melihat wajah Axel yang begitu serius.
"Apa? Kamu mau bicara apa? Tentang pernikahan kita 'kah? Kamu tenang saja, semuanya sudah di urus sama orang tua kita. Lagian satu bulan penuh sudah cukup untuk melakukan segala persiapan pernikahan"
Axel menggeleng pelan, membuat Avinna langsung terdiam. Dia menyadari mimik wajah calon suaminya yang begitu dingin dan serius saat ini.
"Bukan itu, aku hanya ingin kamu menerima kenyataan jika sebenarnya aku sudah menikah. Aku sudah mempunyai istri yang aku cintai sekarang, dan kamu tidak bisa menikah denganku"
Suasana tiba-tiba terasa tegang, Avinna terdiam membeku dengan wajah yang begitu terkejut.
Bersambung
Ngak ada extrapart gitu kak 😁😁😁
lanjut kak semangat 💪💪💪