NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Jennaira Hanania Mecca tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.






Update setiap hari ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 — Suami Kak Jenna

Keesokan paginya, rumah baru mereka sudah bergerak lebih awal dari biasanya.

Sejak pukul tujuh, Jenna sudah turun ke ruang makan dengan pakaian rapi. Ia mengenakan gamis berwarna sage lembut, khimar panjang senada, dan cadar yang menutupi wajahnya. Di tangannya ada daftar perlengkapan untuk acara bakti sosial hari itu.

Shaka menyusul tidak lama kemudian.

Ia mengenakan kemeja kasual berwarna putih dengan celana gelap. Penampilannya tetap rapi seperti biasa, tetapi tidak seformal saat bekerja. Rambutnya tertata sederhana, wajahnya masih tenang dan dingin, namun matanya beberapa kali memperhatikan Jenna yang tampak sibuk memeriksa daftar di ponselnya.

“Tote bag lima puluh. Cat kain. Kuas. Spidol. Kertas kartu harapan. Pita. Bunga kering. Gunting anak-anak. Lem. Plastik pembungkus buket mini,” gumam Jenna pelan.

Shaka duduk di seberangnya.

“Semua ada di kafe?”

Jenna mengangkat wajah.

“Iya. Kemarin sudah Jenna siapkan di ruang belakang. Nanti tinggal kita ambil sebelum ke panti.”

“Kita berangkat sekarang?”

Jenna menatap jam.

“Iya, Mas. Biar tidak terlambat.”

Setelah sarapan singkat, mereka segera berangkat menuju Jenna’s Bloom Café.

Perjalanan pagi itu tidak terlalu ramai. Di dalam mobil, Jenna sesekali mengecek pesan dari Sagara dan para relawan yayasan. Shaka menyetir dalam diam, tetapi ia bisa melihat nama Sagara muncul beberapa kali di layar ponsel Jenna.

Dadanya sedikit tidak nyaman.

Namun ia menahan diri.

Hari ini ia ikut bukan untuk membuat Jenna merasa diawasi. Ia ikut karena ingin mengenal dunia Jenna. Ia ingin melihat kegiatan yang membuat mata perempuan itu hidup setiap kali membicarakannya.

Dan mungkin, sedikit banyak, ia juga ingin memastikan sendiri seperti apa posisi Sagara di dunia itu.

Sesampainya di kafe, Naya dan Kevin yang sedang bersiap membuka toko langsung terkejut melihat Shaka datang bersama Jenna.

“Kak Jenna! Mas Shaka!” seru Naya dengan mata berbinar. “Wah, pagi-pagi sudah couple activity?”

Jenna menatap Naya dengan mata memperingatkan.

“Naya.”

Naya langsung pura-pura sibuk. “Iya, Kak. Aku ambil bahan yang kemarin.”

Kevin yang sedang merapikan meja ikut menyapa, “Pagi, Pak Shaka.”

Shaka mengangguk singkat.

“Pagi.”

Beberapa kotak besar sudah disiapkan di ruang belakang. Ada kotak berisi tote bag polos, kotak berisi alat lukis, kotak bahan merangkai bunga, dan beberapa paket makanan ringan untuk anak-anak.

Jenna hendak mengangkat salah satu kotak, tetapi Shaka langsung menahan tangannya.

“Biar saya.”

Jenna menoleh.

“Tidak apa-apa, Mas. Jenna bisa bantu.”

“Kamu bawa yang ringan.”

Nada Shaka tetap datar, tetapi tegas.

Jenna akhirnya mengambil tas kecil berisi daftar peserta dan beberapa alat tulis, sementara Shaka mengangkat dua kotak besar sekaligus. Kevin segera membantu membawa kotak lainnya ke mobil.

Naya memperhatikan dari samping dengan senyum yang sulit disembunyikan.

“Kak Jenna,” bisiknya pelan saat Shaka berjalan keluar membawa kotak, “Pak Shaka kalau bawa barang kelihatan makin suami banget.”

“Naya,” tegur Jenna, tetapi telinganya terasa panas.

Naya tertawa kecil. “Iya, iya. Semangat acaranya, Kak.”

Setelah semua bahan masuk ke mobil, Shaka dan Jenna kembali berangkat menuju panti asuhan.

Panti Asuhan Al-Ma’wa berada di kawasan yang cukup tenang. Bangunannya sederhana, tetapi bersih dan terawat. Halamannya cukup luas, dengan beberapa pohon rindang di sisi kanan dan kiri. Saat mobil Shaka masuk ke halaman, beberapa anak yang sedang bermain langsung menoleh.

“Kak Jenna datang!”

Teriakan seorang anak membuat yang lain langsung berlari ke arah mobil.

Jenna baru saja turun ketika beberapa anak sudah mengerubunginya dengan wajah bahagia.

“Kak Jenna!”

“Kak, lama nggak datang!”

“Kak Jenna bawa bunga lagi nggak?”

“Kak, hari ini kita bikin apa?”

Jenna tertawa lembut dari balik cadarnya. Matanya melengkung penuh kasih saat ia menunduk menyambut mereka.

“Assalamu’alaikum, anak-anak.”

“Wa’alaikumussalam, Kak!” jawab mereka ramai-ramai.

Seorang anak perempuan kecil bernama Mila langsung memeluk lengan Jenna.

“Kak Jenna, aku kangen.”

Jenna mengusap kepala anak itu pelan.

“Kak Jenna juga kangen Mila.”

Shaka berdiri beberapa langkah di belakang Jenna, membawa dua kotak besar di tangannya. Ia hanya diam memperhatikan.

Ada sesuatu yang berbeda dari Jenna hari itu.

Di rumah, Jenna sering tampak hati-hati. Di hadapannya, Jenna masih sering menjaga jarak. Namun di tengah anak-anak ini, Jenna terlihat begitu alami. Hangat. Lembut. Seolah semua orang di tempat itu memang sudah lama menjadi bagian dari hatinya.

Anak-anak itu memanggilnya “Kak Jenna” dengan penuh sayang.

Dan Jenna menjawab mereka dengan kelembutan yang membuat Shaka terdiam.

Tidak jauh dari aula panti, Sagara sedang berbicara dengan beberapa relawan. Ketika ia mendengar suara anak-anak memanggil Jenna, ia menoleh.

Wajahnya sempat cerah.

Namun senyum itu perlahan tertahan saat ia melihat Shaka turun dari mobil dan berdiri di belakang Jenna dengan membawa bahan-bahan acara.

Sagara terdiam.

Untuk beberapa detik, dadanya terasa sesak.

Ia tahu Jenna sudah menikah. Ia sudah mengucapkan selamat. Ia sudah mencoba menerima kenyataan bahwa perempuan yang diam-diam ia sukai sejak lama kini menjadi istri orang lain.

Namun melihat Shaka hadir bersama Jenna di tempat yang selama ini menjadi ruang kebersamaannya dengan Jenna terasa berbeda.

Seolah batas itu benar-benar nyata.

Jenna bukan hanya sudah menikah.

Suaminya kini mulai masuk ke dunia yang dulu Sagara pikir hanya ia dan Jenna pahami bersama.

Sagara segera menata ekspresinya. Ia berjalan mendekat dengan senyum sopan.

“Assalamu’alaikum, Jenna.”

Jenna menoleh.

“Wa’alaikumussalam, Kak Sagara.”

Tatapan Shaka bergerak sedikit saat mendengar panggilan itu.

Kak Sagara.

Tetap terdengar terlalu akrab di telinganya.

Sagara kemudian menatap Shaka.

“Selamat pagi, Tuan Shaka.”

Shaka menatapnya dengan wajah tenang.

“Selamat pagi, Tuan Sagara.”

Jenna merasakan udara di antara dua laki-laki itu mendadak berubah kaku.

Tuan Shaka.

Tuan Sagara.

Sapaan itu terdengar sopan, tetapi justru terlalu formal sampai membuat ketegangannya semakin jelas.

Sagara tersenyum kecil.

“Saya tidak menyangka Tuan Shaka ikut hari ini.”

Shaka menjawab datar, “Saya ingin menemani istri saya.”

Kata istri saya terdengar tenang, tetapi cukup tegas.

Sagara terdiam sepersekian detik.

Lalu ia mengangguk.

“Tentu. Kami senang jika Tuan Shaka ikut membantu.”

Shaka hanya mengangguk singkat.

Jenna segera memecah suasana.

“Kak Sagara, bahan sesi kreatif sudah Jenna bawa. Ada tote bag, alat lukis, dan bunga untuk buket mini.”

“Baik. Kita bisa letakkan di aula. Anak-anak sudah menunggu sejak pagi.”

Shaka membawa kotak-kotak itu ke aula mengikuti langkah Jenna dari belakang. Beberapa anak berjalan di samping Jenna, menggandeng tangannya, bertanya banyak hal tanpa jeda.

“Yang ini siapa, Kak?” tanya seorang anak laki-laki sambil menunjuk Shaka.

Jenna menoleh ke Shaka sebentar, lalu tersenyum dari matanya.

“Nanti Kak Jenna kenalkan, ya. Sekarang kita siapkan acaranya dulu.”

Shaka mendengar itu.

Entah kenapa, kalimat sederhana tersebut membuat dadanya terasa hangat.

Jenna tidak menghindar.

Jenna tidak menyembunyikan dirinya.

Hanya menunggu waktu yang tepat.

Acara dimulai dengan sambutan singkat dari pengurus panti dan pihak yayasan. Anak-anak duduk rapi di aula, meski beberapa tampak terlalu antusias sampai sulit diam. Sagara memimpin acara dengan tenang, dibantu para relawan lain. Jenna duduk di sisi depan, memegang daftar kegiatan.

Shaka berdiri di belakang, memperhatikan.

Awalnya, ia tidak tahu harus berbuat apa. Dunia ini sangat berbeda dari ruang rapat, dokumen perusahaan, dan negosiasi bisnis. Di sini tidak ada jas formal, tidak ada grafik keuangan, tidak ada keputusan bernilai miliaran.

Yang ada hanya anak-anak dengan mata cerah, meja panjang penuh alat kreativitas, relawan yang sibuk menata bahan, dan Jenna yang tampak begitu hidup di tengah semuanya.

Ketika sesi kreatif dimulai, aula langsung menjadi ramai.

“Anak-anak, hari ini kita akan menghias tote bag dulu,” ujar Jenna dengan suara lembut tetapi jelas. “Setelah itu, kita akan belajar merangkai buket bunga kecil. Nanti hasilnya boleh kalian bawa pulang.”

Anak-anak bersorak senang.

Shaka membantu membuka kotak bahan. Jenna membagikan tote bag polos kepada anak-anak, sementara relawan lain membagikan cat kain, kuas, dan spidol. Shaka yang biasanya memberi instruksi kepada pegawai kini berdiri kaku dengan sekotak kuas di tangan.

Seorang anak kecil menatapnya.

“Kak, aku boleh ambil warna biru?”

Shaka sempat diam.

Jenna yang melihat itu menahan senyum.

“Mas, kasihkan yang biru muda di sebelah kiri.”

Shaka mengambil cat warna biru muda dan menyerahkannya kepada anak itu.

“Ini.”

Anak itu tersenyum lebar.

“Makasih, Kak.”

Shaka terdiam sedikit.

Dipanggil Kak oleh anak kecil itu terasa asing, tetapi tidak buruk.

Jenna menatapnya dari seberang meja. Mata mereka bertemu sesaat. Ada senyum kecil di mata Jenna, seolah ia merasa lucu melihat Shaka berusaha menyesuaikan diri.

Shaka mengalihkan pandangan, tetapi dadanya terasa lebih ringan.

Anak-anak mulai menghias tote bag mereka. Ada yang menggambar rumah, bunga, matahari, kucing, mobil, bahkan ada yang menggambar stik figur dengan tulisan “Kak Jenna”. Jenna berkeliling membantu mereka, menunduk di samping kursi anak-anak, memberi pujian, dan membetulkan cara memegang kuas.

“Kak Jenna, punyaku bagus nggak?” tanya Mila sambil menunjukkan tote bag bergambar bunga besar warna merah muda.

“Bagus sekali. Bunganya ceria seperti Mila.”

Mila tersenyum bangga.

Di sudut lain, Shaka membantu seorang anak laki-laki membuka tutup cat yang terlalu keras. Anak itu bernama Rafi kecil. Ia menatap Shaka dengan polos.

“Kakak tinggi banget.”

Shaka menatapnya.

“Menurutmu begitu?”

“Iya. Kayak menara.”

Jenna yang mendengar dari dekat hampir tertawa.

Shaka meliriknya.

Jenna segera pura-pura sibuk membantu anak lain.

Setelah sesi menghias tote bag selesai, kegiatan dilanjutkan dengan merangkai buket bunga. Jenna tampak semakin bersemangat. Ia menjelaskan dengan sabar cara memilih bunga, menyusun warna, membungkus tangkai, dan mengikat pita.

“Bunga itu kalau disusun tidak harus semuanya sama,” ucap Jenna kepada anak-anak. “Kadang yang berbeda warna justru membuat buketnya lebih indah. Yang penting kita susun dengan hati-hati.”

Shaka mendengarkan dari samping.

Entah mengapa, kalimat itu terasa seperti berbicara bukan hanya tentang bunga.

Ia dan Jenna juga berbeda.

Terlalu berbeda.

Namun mungkin, jika disusun dengan hati-hati, perbedaan itu tidak harus selalu menjadi jarak.

Anak-anak sangat antusias. Beberapa kesulitan mengikat pita, beberapa terlalu banyak memasukkan bunga sampai buketnya berat sebelah. Jenna tertawa lembut, membantu satu per satu.

Shaka juga ikut membantu meski gerakannya masih kaku.

Salah satu anak perempuan bernama Hana menatap Shaka cukup lama, lalu berbisik kepada Jenna, tetapi suaranya tetap terdengar.

“Kak Jenna, pria yang di sebelah Kakak itu siapa?”

Beberapa anak lain langsung ikut menoleh.

“Iya, Kak. Itu siapa?”

“Kakak baru?”

“Kok dari tadi ikut Kak Jenna terus?”

Jenna terdiam sesaat.

Shaka juga berhenti mengikat pita.

Sagara yang berada tidak jauh ikut menoleh.

Jenna menatap anak-anak itu, lalu menjawab dengan tenang dan jujur.

“Itu suami Kak Jenna.”

Aula kecil itu langsung riuh.

“Hah? Suami?”

“Kak Jenna sudah nikah?”

“Kapan?”

“Kok aku nggak diajak?”

Pertanyaan anak-anak datang bertubi-tubi. Jenna tertawa kecil, sementara Shaka berdiri kaku di sampingnya. Ia tidak biasa menjadi pusat perhatian seperti ini dalam suasana yang terlalu polos.

Jenna menjawab dengan sabar, “Iya, Kak Jenna sudah menikah. Belum lama. Maaf ya, acaranya untuk keluarga dulu.”

Seorang anak laki-laki yang sejak tadi sibuk dengan buketnya tiba-tiba berkata polos, “Aku kira calon suami Kak Jenna itu Kak Sagara.”

Seketika suasana berubah.

Sagara yang sedang memegang pita langsung salah tingkah. Tangannya berhenti di udara. Beberapa relawan saling melirik, menahan ekspresi. Anak-anak lain justru menatap polos, tidak merasa telah mengatakan sesuatu yang cukup berbahaya.

Jenna terdiam.

Shaka diam lebih lama.

Di dalam dadanya, sesuatu bergemuruh keras.

Cemburu yang sejak tadi ia tahan tiba-tiba naik begitu cepat.

Aku kira calon suami Kak Jenna itu Kak Sagara.

Kalimat itu berputar di kepala Shaka.

Berarti kedekatan Jenna dan Sagara memang terlihat oleh anak-anak. Berarti mereka sudah sering bersama di tempat ini. Berarti bukan hanya Shaka yang menangkap tatapan Sagara kepada Jenna.

Anak kecil pun melihatnya.

Rahang Shaka mengeras.

Namun ia menahan diri.

Ia tidak boleh meledak di sini.

Tidak di depan anak-anak.

Tidak di depan Jenna.

Tidak di tempat yang begitu berarti bagi istrinya.

Sagara segera tersenyum canggung.

“Eh, bukan begitu. Anak-anak ini memang suka bercanda.”

Namun suaranya tidak sepenuhnya tenang.

Jenna menatap anak-anak itu dengan lembut. Ia tidak marah. Ia tahu mereka tidak bermaksud apa-apa. Mereka hanya mengatakan hal yang mereka pikirkan dengan polos.

Jenna berjongkok di depan anak-anak agar sejajar dengan mereka.

“Dengar ya, Sayang.” Suaranya lembut, tetapi jelas. “Kak Sagara itu teman baik Kak Jenna. Kak Sagara banyak membantu kegiatan di yayasan dan panti ini. Tapi suami Kak Jenna adalah Kak Shaka.”

Anak perempuan bernama Hana menatap Shaka.

“Kak Shaka?”

Jenna mengangguk.

“Iya. Namanya Kak Shaka. Sekarang Kak Jenna sudah menikah dengan Kak Shaka.”

Anak lain bertanya polos, “Berarti Kak Shaka sayang Kak Jenna?”

Jenna terdiam.

Pertanyaan itu terlalu sederhana, tetapi menusuk ke bagian paling rapuh dari hatinya.

Shaka menatap Jenna.

Sagara juga menatap Jenna.

Untuk beberapa detik, Jenna tidak tahu harus menjawab apa.

Lalu ia tersenyum lembut dari matanya.

“Dalam pernikahan, sayang itu harus dipelajari dan dijaga,” jawab Jenna pelan. “Kak Jenna dan Kak Shaka juga sedang belajar saling menjaga.”

Jawaban itu membuat Shaka diam.

Ia tidak menyangka Jenna akan menjawab seperti itu.

Tidak berbohong dengan mengatakan semuanya sempurna.

Tidak mempermalukannya.

Tidak juga menyangkal dirinya sebagai suami.

Jenna memilih jawaban yang lembut, jujur, dan tetap menjaga harga diri rumah tangga mereka.

Seorang anak kecil mengangguk serius, seolah memahami.

“Kalau begitu Kak Shaka harus bantu Kak Jenna bikin buket.”

Jenna tertawa kecil.

Shaka menatap anak itu, lalu menatap Jenna.

“Baik,” ucap Shaka datar.

Anak-anak langsung tertawa senang.

Jenna berdiri kembali, lalu menyerahkan beberapa tangkai bunga kecil kepada Shaka.

“Mas, bantu pegang ini.”

Shaka menerima bunga itu.

Jari mereka sempat bersentuhan.

Singkat.

Namun cukup membuat keduanya sadar.

Sagara melihatnya.

Hatinya terasa semakin sesak, tetapi ia memaksa dirinya tersenyum dan kembali membantu anak-anak. Ia tahu, tidak ada tempat untuk perasaannya lagi. Jenna sudah memilih jalan hidupnya. Dan hari ini, suaminya berdiri di sampingnya, mencoba masuk ke dunia yang selama ini menjadi tempat Jenna berbagi kebaikan.

Shaka sendiri masih menahan sisa cemburu.

Namun di balik cemburu itu, ada kesadaran lain yang lebih kuat.

Jenna tidak pernah memberinya alasan untuk ragu.

Jenna mengenalkan dirinya sebagai suami.

Jenna menjelaskan posisinya dengan jelas.

Jenna menjaga batas antara dirinya dan Sagara tanpa harus diminta.

Dan justru itu membuat Shaka merasa semakin bersalah karena hampir membiarkan rasa cemburu menguasainya.

Acara terus berjalan.

Anak-anak kembali sibuk merangkai buket. Aula dipenuhi tawa, warna, dan wangi bunga. Jenna berkeliling dengan penuh kesabaran, Shaka membantu dengan kaku tetapi sungguh-sungguh, sementara Sagara berusaha tetap profesional meski hatinya sedang tidak baik-baik saja.

Di tengah semua itu, seorang anak kecil menyerahkan buket mini kepada Jenna.

“Kak Jenna, ini buat Kakak.”

Jenna menerima buket itu dengan mata berbinar.

“Untuk Kak Jenna?”

“Iya. Tapi Kak Shaka juga boleh lihat.”

Jenna tertawa pelan.

“Terima kasih, Sayang.”

Shaka menatap buket kecil itu, lalu menatap Jenna.

Mata Jenna melengkung bahagia.

Dan sekali lagi, Shaka merasa dadanya melunak.

Di tempat sederhana itu, di antara anak-anak panti dan bunga-bunga kecil yang dirangkai dengan tangan mungil, Shaka melihat sisi Jenna yang semakin membuatnya sulit berpaling.

Jenna bukan hanya cantik.

Ia hangat.

Ia dicintai banyak orang.

Ia membawa rasa aman bagi anak-anak yang mungkin tidak selalu punya tempat untuk bermanja.

Dan Shaka mulai memahami sesuatu.

Jika ia ingin menjadi suami Jenna dengan benar, ia tidak cukup hanya memberi rumah, sopir, dan perlindungan.

Ia harus belajar berdiri di samping Jenna.

Bukan di depan untuk mengatur.

Bukan di belakang untuk mengawasi.

Tetapi di sampingnya.

Sebagai seseorang yang layak Jenna sebut suami.

1
partini
dihhh bikin esmosi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!