Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 27
Damian melangkah keluar dari kamar dengan bahu yang merosot. Di ruang tamu, dia melihat Ayah Alysia masih terjaga, duduk di kursi kayu dengan segelas teh yang sudah dingin. Arkhasa tertidur di pangkuan Uti di sofa seberang, napasnya teratur dan tenang. Sebuah pemandangan yang menyakitkan dengan badai yang berkecamuk di batin Damian.
Keluarga Alysia bahkan sudah menerima Arkhasa seperti cucunya sendiri. Mencintai dan menyayanginya dengan sepenuh hati. Bahkan Omanya sendiri tak pernah seperti itu kepada Arkhasa.
Damian tidak mendekat. Dia hanya menunduk dalam-dalam di hadapan mertuanya, sebuah gestur menyerah tanpa syarat. Dia berpamitan kepada kedua mertua dan mengecup kening Anaknya. Namun Damian tak langsung pulang, dia duduk di kursi bambu yang ada di teras rumah.
Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka sedikit. Ayah Alysia keluar, berdiri di dekat kusen pintu kemudian duduk di sebelah Damian.
"Dia tidak akan memaafkanmu semudah itu, Damian," suara sang mertua memecah kesunyian malam.
"Luka yang kamu torehkan bukan sekadar duri, tapi sayatan yang dalam. Alysia sudah terlalu lelah untuk berpura-pura."
Damian tidak mendongak.
"Saya tahu, Ayah. Saya tidak berharap dimaafkan dalam semalam. Saya hanya... saya hanya tidak bisa membayangkan bangun di pagi hari tanpa mereka."
Ayah Alysia menghela napas panjang, suara hembusannya terdengar berat, seberat beban yang kini bertumpu di pundak Damian. Pria itu tidak menoleh, pandangannya lurus ke arah kegelapan malam di depan teras.
"Kamu mencintainya, Damian? Atau kamu hanya takut kehilangan orang yang selama ini menjadi tempatmu bersandar tanpa kamu sadari?" tanya Ayah Alysia.
Pertanyaan itu tidak terdengar seperti tuduhan, melainkan sebuah refleksi yang tajam.
Damian terdiam. Angin malam berhembus, menerpa wajahnya yang kaku. Selama bertahun-tahun, dia menganggap kehadiran Alysia adalah sebuah sesuatu yang akan selalu ada, tak peduli seberapa dingin dia bersikap.
Baru saat Alysia benar-benar hendak pergi, dia menyadari bahwa Alysia adalah detak jantung dalam rumah tangganya, bukan sekadar pelengkap atau pengasuh Arkhasa. Dia, sudah terbiasa dengan kehadiran Alysia. Bukan dia tak ingin menyentuh istrinya selama ini. Tapi dia terlalu pengecut dan terlalu ketakutan saat tak sanggup lagi meli dungi Alysia dari ibunya.
Damian yakin bukan hanya Alysia yang akan hancur nantinya. Melainkan dirinya dan juga Arkhasa. Ibunya adalah orang yang sulit untuk di bantah keinginannya. Dia bisa melakukan segala cara seperti yang pernah di lakukannya di masa lalu. Dan Damian takut dan terlalu pengecut untuk memulai segalanya.
"Awalnya, saya pikir itu hanya kewajiban," jawab Damian jujur, suaranya parau.
"Tapi saat dia tidak ada di rumah pagi tadi, saat saya pulang dan melihat kamarnya kosong, dunia saya terasa berhenti. Bukan karena saya kehilangan pengurus rumah, Ayah. Tapi karena saya menyadari bahwa saya telah menyia-nyiakan satu-satunya orang yang tulus mencintai saya tanpa syarat. Apalagi saat melihat Alysia menangis semalam karena satu kenyataan yang... Belum siap dan belum saatnya saya katakan kepada dia secara terus terang,"
"Saya menunggu waktu yang tepat menjelaskan semuanya kepada Alysia. Walau mungkin akan terlambat..." Damian menghela napas panjang, menyadari kesalahan besarnya.
Ayah Alysia terdiam cukup lama sebelum akhirnya menepuk bahu Damian pelan. Sebuah gerakan yang membuat pertahanan diri Damian runtuh seketika. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya lolos begitu saja.
"Jika kamu sungguh-sungguh, maka buktikan dengan tindakan, bukan kata-kata," ucap Ayah Alysia dengan nada tegas namun penuh kasih.
"Alysia anak yang kuat, dia sudah menahan semua ini sendirian selama enam tahun. Jangan berharap dia akan berlari ke pelukanmu hanya karena kamu menangis di depannya hari ini. Kamu harus membangun kembali kepercayaannya dari reruntuhan yang kamu buat sendiri. Itu akan sangat sulit, Damian. Mungkin lebih sulit daripada memenangkan perang bisnis apa pun yang pernah kamu tangani."
Damian mengangguk lemah, menyeka wajahnya dengan kasar.
"Saya siap, Ayah. Saya akan menyelesaikan masalah dulu di kantor dan juga ibu. Setelah itu, Saya ingin memulai dari tempat di mana saya tidak dikenal sebagai 'Damian yang ambisius', melainkan sebagai suami Alysia."
Ayah Alysia menatap menantunya dengan tatapan menyelidik, mencari kebohongan di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah ketulusan yang terlambat.
"Ingat satu hal, Damian," ujar Ayah Alysia sebelum berdiri dari kursinya.
"Alysia punya hak untuk tidak memaafkanmu. Dan jika nanti dia memilih untuk pergi, kamu harus punya kedewasaan untuk melepaskannya demi kebahagiaannya. Jangan menjadi egois untuk kedua kalinya dengan menahan dia di sisimu saat hatinya sudah tidak lagi di sana."
Damian tertegun. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan apa pun. Ia sadar, kesempatannya bukanlah sebuah hak, melainkan sebuah anugerah yang sangat rapuh.
"Saya mengerti, Ayah," jawab Damian lirih.
Pintu rumah kembali tertutup, meninggalkan Damian sendirian di teras. Dia menatap ke arah jendela kamar yang gordennya di tutup. Di sana, di balik kaca itu, ada wanita yang selama enam tahun ini dia abaikan, dan anak yang sia jadikan alasan untuk bersembunyi.
Damian berdiri, merapikan kemejanya yang kusut. Dengan langkah pasti dia masuk ke dalam mobil dan bukan untuk pulang ke rumah. Melainkan pergi ke kantor lagi untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Dia harus menyelesaikan semuanya satu-satu. Agar setelahnya dia fokus dengan hidupnya. Dia tak ingin jika suatu hari ibunya akan malah menjadi duri kembali salah kehidupannya.
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,
terlalu takut kehilangan harta Dunia ,,
skraaang yg perlu km lakuin hanya memperbaiki semua ny Damian sblm bnr2 terlambaat