Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tameng Saleh dan Saksi Masa Lalu
Kebodohan yang dipicu oleh rasa cemburu buta nyatanya membuat akal sehat Ibu Ratna hilang tak bersisa. Di dalam kamar tidur rumah tangganya yang retak, dengan niat ingin menakut-nakuti Dimas agar tidak berani berkutik, Ratna dengan angkuh membocorkan semuanya lewat pesan singkat. Dia pamer bahwa dirinya telah mengadu kepada Ayah Wijaya, dan Pramudya baru saja mendatangi ruko Kirana untuk memberi pelajaran.
Membaca pesan keji itu, jantung Dimas laksana berhenti berdetak seketika. Hawa ketakutan dan kekhawatiran yang teramat sangat besar atas keselamatan Kirana menguasai jiwanya. Tanpa memedulikan urusan kantor dewan direksi lagi, Dimas langsung nekat memutar arah mobilnya, menginjak pedal gas sedalam-dalamnya membelah jalanan antarkota demi menuju ruko kontrakan Kirana. Dia harus melihat keadaan wanita itu dan meminta maaf atas perlakuan tidak layak yang didapatkan Kirana dari istri dan kakaknya.
Hingga akhirnya, mobil sedan Dimas berhenti dengan rem mendecit di depan ruko konveksi. Dengan napas yang memburu dan langkah kaki yang tergesa-gesa, Dimas langsung melangkah lebar melewati pagar ruko.
Namun, tepat di ambang pintu depan ruko, langkah kaki Dimas mendadak terhenti total. Tubuhnya mendadak kaku laksana patung batu.
Di dalam ruko yang teduh itu, Kirana sedang berdiri anggun mengenakan gamis berwarna abu-abu lembut dipadu kerudung panjang yang menutup dada dengan sempurna. Wajah Kirana yang bersih tanpa sapuan kosmetik, justru memancarkan rona keindahan spiritual yang teramat sangat jernih, tenang, dan luar biasa anggun. Dimas tertegun sejenak, matanya menatap tanpa berkedip.
“ Ya Tuhan... Kirana semakin cantik, semakin berwibawa sejak memeluk keyakinan baru,” bisik batin Dimas dirayapi oleh rasa penyesalan yang teramat sangat dahsyat menghujam lubuk hatinya.
“Bodohnya aku... Kenapa dulu aku tidak nekat memperjuangkan cintanya? Kenapa aku memilih tunduk pada ancaman orang tua dan berakhir membiarkan mutiara seindah ini lepas dari genggamanku untuk selamanya? Rumah tanggaku benar-benar neraka, sementara di sini... Kirana laksana bidadari yang tak akan pernah bisa kugapai lagi...”
Bertepatan dengan itu, Kirana ternyata tidak sendiri. Dia sedang melayani seorang pelanggan pria yang sedang melihat-lihat beberapa contoh busana ibadah premium bermotif seruni.
Pria itu bertubuh tegap, berwajah tampan dengan rahang tegas, memiliki sorot mata yang teramat teduh, serta mengenakan kemeja rapi yang memancarkan aura seorang pria taat spiritual yang terpelajar.
Pria yang ternyata adalah seorang dokter muda bernama dr. Adrian itu, berniat memesan seratus helai busana ibadah untuk disedekahkan ke ruang ibadah rumah sakit tempatnya bertugas.
Melihat kedekatan visual di antara Kirana dan pria tampan itu, api cemburu di dalam dada Dimas langsung meledak membakar akal sehatnya. Dimas tidak rela melihat ada pria lain di dekat wanita yang masih ia rindukan setengah mati.
"Kirana!" seru Dimas dengan suara parau yang lantang, langsung melangkah maju dengan brutal.
Tanpa memedulikan sopan santun, Dimas langsung mengulurkan tangannya dan menarik paksa pergelangan tangan Kirana yang sedang memegang contoh kain.
"Kirana, ikut aku sekarang! Kita harus bicara berdua saja! Aku mau minta maaf atas kelakuan Ratna dan Mas Pram kemarin!"
Kirana terkejut, ringisan tipis keluar dari bibirnya karena cengkeraman tangan Dimas yang teramat kasar. "Mas Dimas, lepaskan! Apa-apaan ini?! Tolong lepaskan tangan ku!"
Melihat tindakan kasar tersebut, dr. Adrian tidak tinggal diam. Dengan pergerakan yang teramat cepat, sigap, namun penuh ketenangan yang berkelas, sang dokter muda langsung melangkah maju. Tanpa menyentuh tubuh Kirana sedikit pun demi menjaga batasan kehormatan, dr. Adrian langsung menggeser posisi berdirinya, menjadikan tubuh tegapnya sebagai tameng kokoh untuk melindungi Kirana dari jangkauan brutal Dimas.
Cengkeraman tangan Dimas terpaksa terlepas karena terhalang oleh dada bidang dr. Adrian.
"Maaf, Tuan," ucap dr. Adrian dengan suara bariton yang teramat tenang, tegas, dan penuh wibawa seorang pria berpendidikan. "Tolong jaga kesopanan Anda. Pihak wanita sudah merasa tidak nyaman dengan tindakan fisik Anda yang kasar ini. Tolong lepaskan dan mundur."
Dimas langsung menatap dr. Adrian dengan pandangan mata yang menyala merah oleh amarah cemburu yang luar biasa. "Heh! Kamu siapa, hah?! Jangan ikut campur urusan kami! Saya ada urusan pribadi yang sangat penting dengan Kirana! Minggir kamu!"
"Saya adalah pelanggan di ruko ini, dan sebagai sesama manusia, saya berkewajiban memastikan tidak ada tindakan kekerasan terhadap seorang wanita di depan mata saya," balas dr. Adrian tenang tanpa rasa takut sedikit pun, tetap kokoh berdiri sebagai tameng pelindung di depan Kirana.
Dimas mengabaikan sang dokter, dia melongokkan kepalanya ke balik bahu Adrian, menatap Kirana dengan pandangan memohon yang teramat putus asa. "Kirana, tolong... ikut aku sebentar saja ke tempat lain! Kita butuh ruang pribadi untuk bicara berdua saja! Aku ingin menjelaskan semuanya tentang Ratna dan keluargaku!"
Kirana yang saat itu berada di balik perlindungan tubuh dr. Adrian, menarik napas dalam-dalam. Kebetulan sekali, siang itu Aisyah memang sedang keluar ruko untuk membeli makan siang mereka, membuat Kirana sendirian di ruko. Sayangnya, Kirana enggan dan menolak keras untuk dibawa pergi berdua saja dengan suami orang.
Tanpa menyentuh dr. Adrian, Kirana melangkah sedikit ke samping, berbicara dengan nada suara yang teramat sangat dingin, tegas, dan berwibawa tinggi kepada Dimas. "Tidak perlu pergi ke mana pun, Mas Dimas. Selesaikan saja masalahmu di sini. Katakan apa yang ingin kamu katakan sekarang juga di ambang pintu ruko ini."
Dimas menatap ragu ke arah dr. Adrian yang seperti tetap setia berdiri kokoh di sana, tidak menunjukkan tanda-tanda ingin bergeser atau memberikan ruang pribadi bagi mereka berdua. Dimas mendengus kesal. "Kirana, tolong suruh pria ini pergi dulu! Dia tidak mengerti untuk memberikan kita privasi? Ini urusan masa lalu kita!"
Kirana yang menyadari arah pandangan mata Dimas yang dipenuhi keraguan dan kecemburuan itu, langsung menyela dengan kalimat skakmat yang teramat sangat berkelas.
"Katakan saja di sini, Mas Dimas! Jangan banyak alasan!" tegas Kirana, sepasang manik matanya menatap tajam tanpa riak rindu. "Aku justru membutuhkan seorang saksi di antara kita! Biarkan lelaki yang berdiri di hadapan kamu menjadi saksi atas setiap ucapan yang keluar dari mulutmu, agar istrimu yang tidak waras itu tidak bisa lagi datang ke sini dan memfitnah ku sebagai seseorang yang memeluk keyakinan baru yang tidak tahu diri dan pelakor perusak rumah tangga kalian!"
DEG!
Mendengar kalimat lantang Kirana, dr. Adrian langsung tertegun di tempatnya. Sepasang manik mata sang dokter muda seketika berkilat oleh rasa terkejut yang mendalam. Dari kalimat Kirana itulah, dr. Adrian langsung mengetahui fakta: bahwa wanita anggun berkerudung di hadapannya ini adalah seorang yang memeluk keyakinan baru, seorang wanita tangguh yang telah dikhianati, dan kini sedang diserang fitnah keji oleh masa lalunya namun tetap berdiri tegak dengan harga diri yang teramat sangat mahal! Detik itu juga, di dalam lubuk hati dr. Adrian, muncul sebuah letupan rasa kagum, hormat, dan ketertarikan spiritual yang teramat sangat mendalam terhadap keteguhan jiwa Kirana!
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
udah merebut malahan dia merasa korban😄
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
rasakan akibatnya sendiri
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
ayo tetap semangat
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia