NovelToon NovelToon
MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: yurisii

Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32

Suasana di dalam kelas terasa sangat berbeda dari hari‑hari sebelumnya. Tidak lagi terdengar suara halaman buku yang dibolak‑balik dengan tergesa, bisikan‑bisikan pertanyaan, atau ketegangan yang tergantung di udara. Hari ini, jam terakhir ujian kenaikan kelas akhirnya berakhir. Begitu bunyi bel tanda berakhirnya sesi terakhir berbunyi panjang dan nyaring, seluruh siswa di ruangan itu langsung meledak dengan suara sorakan, tawa, dan ucapan syukur yang bercampur jadi satu.

Alena menghela napas panjang yang terasa sangat lega, lalu menutup lembar jawaban terakhirnya dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan. Selama seminggu terakhir, pikirannya terbagi antara menghafal materi pelajaran, mengikuti jadwal harian yang padat, dan sesekali terganggu oleh keisengan Elio yang tak pernah habis. Namun kini, semuanya sudah berlalu. Beban berat yang terasa menekan bahunya perlahan terangkat, digantikan oleh rasa tenang dan kebebasan yang menyenangkan.

“Alena, akhirnya selesai juga! Rasanya ingin terjun bebas saja rasanya,” seru Dinda—teman sekelasnya yang memang lebih sering bersikap baik belakangan ini—sambil merapikan alat tulisnya dengan gerakan yang lebih santai.

Alena mengangguk setuju sambil tersenyum. “Benar sekali. Semoga hasilnya memuaskan dan kita semua bisa naik ke kelas yang lebih tinggi tanpa hambatan.”

Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka lebar dan sosok yang selalu ditunggu Alena sudah berdiri di ambang pintu dengan senyum khasnya. Elio bersandar santai di kusen pintu, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana seragam, dan matanya langsung mencari sosok gadisnya di antara keramaian siswa yang mulai berhamburan keluar. Begitu pandangan mereka bertemu, senyumnya makin melebar, menandakan bahwa ia sudah menunggu sejak tadi.

“Sudah selesai, calon siswa kelas atas?” sapa Elio begitu Alena mendekat, lalu segera mengambil tas yang terasa agak berat dari bahunya dan memindahkannya ke tangannya sendiri.

“Sudah, akhirnya selesai juga. Rasanya otak ini butuh istirahat panjang,” jawab Alena sambil mengusap pelan pelipisnya, membuat Elio tertawa kecil melihat ekspresi lelah namun lega itu.

“Baguslah kalau begitu. Istirahat panjang memang sudah menunggumu. Bahkan lebih dari sekadar istirahat di rumah saja,” ujar Elio dengan nada penuh rahasia, membuat Alena mengerutkan dahi sedikit penasaran.

“Maksudmu apa? Apa ada kejutan lagi hari ini?” tanya Alena sambil berjalan berdampingan menuju tempat parkir.

“Nanti saja kamu tahu sesampainya di rumah. Kakek‑kakek sudah menunggu dengan kabar yang akan membuatmu makin senang,” jawab Elio santai, menolak menjelaskan lebih lanjut dan justru membuat rasa penasaran Alena makin memuncak.

Perjalanan pulang terasa lebih cepat dari biasanya, mungkin karena suasana hati yang sedang senang dan ringan. Sesampainya di rumah, mereka langsung disambut oleh Kakek Wijaya dan Kakek Baskara yang sudah duduk santai di ruang tengah sambil meminum teh hangat. Wajah kedua kakek itu terlihat cerah dan bersemangat, seolah memang sedang menunggu kedatangan mereka berdua.

“Kalian sudah pulang. Bagaimana ujiannya? Lancar semua?” tanya Kakek Wijaya sambil tersenyum ramah.

“Lancar, Kek. Semua sudah selesai,” jawab Alena dengan sopan sambil duduk di kursi di samping Elio.

“Bagus, bagus sekali. Kalau begitu, kabar yang akan kami sampaikan ini pasti akan terdengar lebih menyenangkan di telinga kalian,” sambung Kakek Baskara sambil menyesap tehnya perlahan. “Setelah membicarakannya berulang kali dan mempertimbangkan jadwal yang pas, kami sepakat bahwa setelah sekolah memasuki masa libur panjang, kita semua akan pergi berlibur bersama.”

Mendengar kata‑kata itu, mata Alena langsung berbinar. “Liburan? Ke mana, Kek?”

“Ke Jepang,” jawab Kakek Wijaya dengan tegas namun tetap tersenyum. “Negeri Sakura. Kami sudah memesan tiket pesawat, mengatur tempat menginap, dan merencanakan jadwal kunjungan selama dua minggu ke depan. Ini kesempatan bagus untuk kalian berdua bersantai, sekaligus mengenal tempat baru sebelum persiapan acara pertunangan dan pernikahan kalian berjalan lebih serius nanti.”

Hati Alena seolah melompat kegirangan. Jepang adalah salah satu negara yang selalu ingin ia kunjungi sejak lama, namun ia tak pernah menyangka kesempatan itu akan datang secepat ini, apalagi ditemani oleh keluarga dan Elio sekaligus. Ia menoleh ke arah Elio dan melihat pria itu hanya tersenyum lebar seolah sudah mengetahui kabar ini sejak awal.

“Kamu sudah tahu dari tadi, kan? Makanya bicara dengan nada penuh rahasia,” bisik Alena dengan nada setengah kesal namun senyumnya tak bisa disembunyikan.

Elio mendekatkan wajahnya sedikit dan berbisik balas, “Tentu saja aku tahu. Aku sudah menahan diri untuk tidak memberitahumu sejak tiga hari yang lalu, rasanya hampir meledak sendiri ingin menceritakannya.”

Kedua kakek hanya tertawa melihat interaksi mereka yang selalu akrab dan penuh canda. “Jadi bagaimana? Setuju dengan rencana ini?” tanya Kakek Baskara memastikan.

“Setuju sekali, Kek! Terima kasih banyak,” jawab Alena antusias, tangannya tanpa sadar mencengkeram lengan Elio dengan erat karena rasa senang yang meluap.

“Kalau begitu, persiapkan diri baik‑baik. Sekolah akan libur tiga hari lagi, dan keesokan harinya kita sudah harus berangkat menuju bandara,” tambah Kakek Wijaya.

Mulai hari itu, suasana di rumah dan di sekolah berubah total. Jika teman‑teman sekelas sibuk merencanakan liburan ke pantai atau tempat wisata lokal di sekitar kota, Alena justru sibuk membuat daftar barang yang harus dibawa dan membaca sedikit informasi tentang tempat‑tempat yang akan dikunjungi di Jepang. Sementara itu, Elio tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengganggu atau menggoda Alena setiap kali gadis itu sedang serius membaca panduan perjalanan.

“Kenapa kamu harus menghafal semua ini? Nanti kan aku yang akan menjadi pemandu pribadimu di sana. Cukup berpegangan tangan saja dan ikuti langkahku, kamu tidak akan tersesat,” kata Elio suatu sore sambil duduk di samping Alena yang sedang membuka buku panduan wisata.

Alena mendengus sambil melirik sekilas. “Tetap saja harus tahu sedikit, supaya tidak terlihat seperti orang yang benar‑benar buta arah. Lagipula, siapa tahu kamu malah yang tersesat karena terlalu sibuk melihat hal lain.”

Elio tertawa renyah lalu merangkul bahu Alena dengan lembut. “Kalau pun tersesat, aku tetap senang asalkan tersesat bersamamu. Justru itu bisa jadi petualangan seru kita berdua.”

Hari‑hari menuju keberangkatan terasa berlalu sangat cepat. Tak terasa, tiga hari pun berakhir dan hari terakhir sekolah pun tiba. Suasana di gerbang sekolah lebih ramai dari biasanya, banyak siswa yang berpamitan satu sama lain dan berjanji akan bertemu kembali setelah liburan selesai. Saat Elio dan Alena keluar dari gerbang sekolah, mereka sempat bertemu dengan Jena yang baru saja turun dari kendaraannya.

Melihat kebahagiaan yang terpancar jelas dari wajah Alena dan bagaimana Elio terus menggenggam tangan gadis itu erat, rasa penasaran Jena makin besar. Ia memberanikan diri mendekat dengan senyum yang dibuat sebaik mungkin.

“Kalian terlihat sangat bahagia. Ada kabar gembira apa ya?” tanya Jena dengan nada berusaha ramah.

Alena hanya tersenyum sopan, sedangkan Elio yang menjawab dengan nada santai namun tegas. “Kami akan berlibur bersama keluarga ke Jepang mulai besok. Jadi, liburan kali ini akan terasa sangat panjang dan menyenangkan.”

Wajah Jena seketika berubah pucat. Ia berusaha tersenyum namun terlihat kaku. “Jepang? Wah, tempat yang sangat indah. Semoga perjalanannya menyenangkan…” ucapnya sebelum akhirnya memutar badan dan pergi dengan langkah yang terasa lebih berat.

Melihat itu, Alena hanya menggeleng pelan. “Dia pasti iri sekali melihat kita yang akan pergi ke sana.”

“Biarkan saja. Dia bisa pergi ke mana pun dia mau, tapi dia tidak akan pernah bisa pergi bersamaku ke tempat yang sama seperti yang kita lalui,” jawab Elio santai, lalu segera mengajak Alena masuk ke dalam mobil.

Malam sebelum keberangkatan, suasana di rumah terasa sangat sibuk namun menyenangkan. Kedua kakek sudah memeriksa kembali dokumen perjalanan, tiket pesawat, dan penginapan. Sementara itu, di kamar Alena, Elio justru duduk santai di atas tempat tidur sambil mengawasi gadis itu yang sibuk melipat pakaian dan memasukkannya ke dalam koper besar.

“Kenapa kamu membawa begitu banyak baju? Kita hanya pergi dua minggu saja, bukan dua tahun,” goda Elio melihat tumpukan pakaian yang hampir memenuhi koper.

“Supaya tidak kekurangan, siapa tahu cuaca berubah‑ubah atau ada acara yang membutuhkan pakaian yang berbeda,” jawab Alena sambil terus bekerja, namun Elio tiba‑tiba berdiri dan mendekat, lalu langsung mengambil pakaian dari tangan Alena dan meletakkannya kembali ke tumpukan.

“Sudah cukup, jangan terlalu banyak. Nanti koper terasa berat dan kamu tidak bisa membawanya sendiri. Lagipula, jika kamu butuh sesuatu, kita bisa membelinya di sana. Jepang punya banyak toko pakaian yang bagus dan cantik,” ujar Elio sambil memegang kedua bahu Alena dan memutar tubuhnya agar berhadapan dengannya.

“Kamu ini selalu saja punya alasan untuk menghentikanku,” gumam Alena sambil menatap wajah Elio yang kini terlihat sangat dekat.

“Karena aku ingin kamu tidak kelelahan sebelum perjalanan bahkan dimulai. Istirahatlah yang cukup malam ini, besok kita harus bangun pagi‑pagi sekali,” bisik Elio, lalu mencium kening Alena dengan lembut.

Malam itu terasa lebih singkat dari biasanya. Begitu jam menunjukkan pukul empat pagi, seluruh anggota keluarga sudah bangun dan bersiap‑siap. Langit masih gelap dan udara terasa sangat dingin, namun suasana hati mereka terasa hangat dan penuh semangat. Mobil yang disewa sudah menunggu di halaman rumah, siap membawa mereka menuju bandara yang berjarak sekitar satu jam perjalanan dari kota.

Di dalam mobil, Alena duduk di samping Elio, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu sambil memejamkan mata menikmati perjalanan pagi yang sepi dan tenang. Di sampingnya, Elio sesekali mengusap punggung tangan Alena untuk menghangatkannya, sesekali berbisik hal‑hal lucu tentang apa yang akan mereka lakukan nanti di Jepang.

“Kita akan pergi melihat bunga sakura, mengunjungi kuil‑kuil tua, mencicipi makanan khasnya, dan tentu saja… ada waktu khusus untuk berjalan‑jalan berdua saja tanpa ditemani kakek‑kakek,” bisik Elio dengan nada nakal yang membuat Alena tersenyum malu.

“Jangan berandai‑andai terlalu jauh, nanti kakek‑kakek mendengar,” jawab Alena pelan namun senyumnya tak bisa disembunyikan.

Sesampainya di bandara, mereka segera menyelesaikan semua prosedur keberangkatan. Setelah menunggu beberapa saat di ruang tunggu, suara panggilan akhirnya terdengar, menandakan bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi sudah siap untuk dinaiki. Saat melangkah masuk ke dalam pesawat dan duduk di kursi yang berdekatan, Alena merasakan jantungnya berdebar kencang karena rasa gembira dan sedikit gugup.

Elio menyadari kegelisahan itu, lalu segera menggenggam tangannya erat‑erat. “Tenang saja, semuanya akan baik‑baik saja. Nikmati saja perjalanannya. Mulai detik ini, dua minggu ke depan adalah milik kita—penuh dengan tawa, petualangan, dan waktu yang kita habiskan bersama.”

Pesawat pun mulai melaju, perlahan terangkat ke udara meninggalkan tanah air dan membawa mereka menuju negeri yang penuh keindahan dan harapan baru. Di dalam pesawat yang mulai melayang tinggi di atas awan, Alena menatap ke luar jendela melihat langit yang mulai berubah warna menjadi keemasan saat matahari terbit. Di sampingnya, Elio masih menggenggam tangannya, siap menemaninya menjelajahi tempat baru dan menciptakan kenangan indah yang tak akan pernah terlupakan seumur hidup mereka.

1
Tri Wahyuni
Semngat terus ya.
Tri Wahyuni
DONE ya kak🤭👍
Yuri: thanks kak 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!