"Aku tau kau membenciku Quen... tapi apa kau tahu jika perkataanmu menyakitiku?" tanya Anna dengan tangisan nya
" Rasa sakit yang kau rasakan sekarang hari ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang aku rasakan sejak dulu... sebelum kau merasa dirimu tersakiti fikiran dulu apa yang sudah kau lakukan padahal kau sama sama wanita... apa kau tidak punya hati atau kau memang tidak tau malu? " tanya Quen tajam
dan membuat Sean menatap Quen dengan tak kalah tajam nya Sean dan Quen menikah karna perjodohan yang di lakukan ayah Sean,Sean menerima perjodohan itu karna saat itu kekasih Sean berselingkuh di belakang Sean yang membuat Sean menerima perjodohan itu tapi tak lama Sean malah menjalin hubungan kembali dengan kekasihnya setelah menikah dengan Quen malah perselingkuhan itu di lakukan secara terak terangan di hadapan Quen dan di dukung oleh teman teman Sean dan kekasihnya. Quen yang mengetahui perselingkuhan yang dilakukan Sean hanya bisa diam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quenn9597, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
“Apa kesaksian dari Pria itu tidak cukup?" tanya Alvian
"Tidak.. dia hanya tau sedikit" kata Nino
"Dia lumayan tahu.. hanya saja dia tidak mau membagi tahu" kata Sean tiba-tiba membuat mereka melihat Sean heran.
"Maksudmu?"
“Aku tahu.. dia tahu lebih banyak dari ini hanya saja ada sesuatu yang membuatnya tidak mau mengatakannya pada kita"
“Apa?"
"Entahlah"
"Kenapa tidak kita paksa saja?" tanya Aria.
"Tidak bisa.. dia ada dalam perawatan"
tadi saja dia meminta ditemani dokter saat diperiksa" Kata Kai.
"Bagaimana sekarang?" tanya Susan.
"Jalan satu-satunya hanya mengawasi daerah tersebut.." kata Sean.
“Apa dia memberi tahu kenapa didalam perutnya ada berlian?" tanya Rio penasaran Kai menggeleng dan membuat mereka menarik nafas kesal.
"Kenapa anda tidak memberi tahu semuanya pada mereka?" tanya Quen ia tengah memeriksa tekanan darah Rangga dengan Bella.
"Buat apa... tidak ada gunanya"
"Kenapa?"
"Ada tujuan kenapa aku melakukan hal ini.. suatu saat nanti kalian semua akan tahu" kata Rangga dan membuat Quen menatap Bella heran.
"Baiklah... ini adalah masalah anda dan saya tidak berhak ikut campur. saya harap semuanya mendapatkan akhir yang bahagia" kata Quen.
“Semoga saja." kata Rangga.
"Anda bisa istirahat Tuan.. kami permisi"
Bella dan Quen keluar dari ruangan tersebut.
“Memang apa tujuannya?" tanya Bella.
“Entahlah.. aku tidak tahu... tapi aku rasa pria itu punya maksud tersembunyi" kata Quen.
"Maksud apa?"
“Entahlah aku merasa seperti itu"
"Kau seperti detektif saja.. sekarang"
Membuat Quen tertawa Quen masuk kedalam ruangannya dan ia duduk dikursi ruangannya Pintu ruangan diketuk oleh Vio.
“Ayo kita makan siang"
“Malas kesana"
“Ayolah. kemarin kau sudah tidak datang..tadi juga.. masa sekarang kau juga tidak datang?"
"mm baiklah"
“Ayo"
Quen dan Vio keruang makan dan disana sudah ada Althena dan yang lainnya.
"Oh Iya. Quen kata Liam. dia tidak menemukan obat yang kau maksud" kata Satria.
"Dia tidak punya?"
"Katanya dia belum pernah melihat obatnya"
“bagaimana ya.. mmmm apa tempat Liam dari sini kesana jauh?" tanya Quen.
“Aku tidak tahu"
Quen bingung harus bertanya kemana.
"Dimana tempat Liam?" tanya Quen
“Argo"
"Ka" panggil Quen dan membuat semuanya melihat kearah Quen.
"Kenapa Quen ?" tanya Rio.
"Apa daerah Argo Jauh dari sini?" tanya Quen.
"Lumayan sekitar 30 menit" kata Arya.
"Untuk apa kau kesana?" tanya Sean.
"Aku dan Ka Aksa harus pergi siang ini ke tempat Apoteker Liam. untuk racikan obat Tuan Rangga" kata Quen.
"Harus sekarang? Kenapa kau memberi tahu mendadak?" tanya Sean melihat jam tangannya yang menunjukan pukul setengah 2.
"Obatnya baru saja dikabarkan tidak ada.
ada racikan baru dan obatnya juga baru ditemukan tadi pagi" kata Quen.
"Ka Alvian, Ka Albian kalian antarkan mereka ke Agro!"
"Baik Kapten"
“Ayo Quen"
“Ayo Ka"
"Iya" kata Aksa.
"Kalian awasi Tuan Rangga ya." kata Quen.
"Iya Quen. Tenang saja dia aman" kata Satria.
“memang obatnya bisa diracik dengan cepat?" tanya Bella.
“Bisa.. kita punya Ka Aksa yang handal" kata Que memegang bahu Aksa.
"Kau bisa saja" kata Aksa dan membuat Quen tertawa sontak membuat Sean melihat kearah Quen.. ini baru pertama ia dengar Quen tertawa.
"Baiklah Ayo" kata Quen.
Quen bersama dengan Aksa, Alvian dan Albian dalam perjalanan menuju ke Agro tempat Apoteker Liam berada dan dalam perjalanan hanya ada gurun yang gersang dan juga tebing yang tinggi.
"Benar-benar dipelosok ya" kata Aksa.
"Iya.. “
"Walaupun di pelosok tapi fasilitas lengkap bukan?" tanya Alvian tersenyum.
"Iya.. kalian hebat"
"Apa Althena pernah diragukan?"
"Sejauh yang aku dengar tidak"
"Kau tahu"
Mereka tiba disebuah Rumah.
"Ini rumahnya?" tanya Aksa.
"Iya.. ayo" kata Albian.
Quen dan Aksa bersama dengan mereka keluar dari mobil dan menuju kesebuah rumah.
"Wahh rumahnya klasik dan sederhana." kata Quen kagum.
"Rumah Impianmu ya" kata Aksa Dan Quen mengangguk.
“Ada yang datang" kata Seorang pria yang keluar dari rumah dan membuat Quen kaget.
"Gevano" kata Quen kaget.
"Quen bee? Kau disini" kata Gevano.
"Kau juga disini" kata Quen.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Alvian.
"Iya Ka.. dulu aku dan Gevano pernah menjadi tim medis di Gaza selama 2 minggu" kata Quen.
"Ohh iya aku lupa"
"Sebaiknya kita berbicara didalam.. mari silahkan masuk" kata Gevano.
Mereka semua masuk dan mulai membicarakan maksud kedatangan mereka kesini dan setelah itu, Quen membantu Aksa dan Gevano pahami sedangkan Alvian dan Albian melihat bagaimaa mereka membuat obat Setelah obatnya selesai, mereka kembali ke markas dan sampai disana, mereka melihat Sean yang terlihat baru saja dari ruang persenjataan.
"Salam kapten" kata mereka kecuali Quen.
"Apa tugasnya sudah kalian lakukan!"
"Sudah Kapten"
"Kalian boleh kembali ke tempat kalian" kata Sean.
“Siap Kapten"
Alvian dan Albian pergi hingga tinggal Aksa dan Quen.
“Aku perlu bicara denganmu'" kata Sean ketika Quen hendak pergi.
“Aku sedang sibuk"
"Baiklah.. nanti malam temui aku.. ada hal pribadi yang ingin aku katakan" kata Sean dan membuat Quen kaget namun ia sembunyikan hal itu Quen pergi tanpa mengatakan apapun pada Sean sedangkan Aksa membungkuk hormat pada Sean.
"Quen kenapa dengannya?" tanya Aksa heran.
“Aku rasa dia sudha gila" kata Quen lalu ia masuk kedalam ruangan Rangga.
Quen memberikan obat Rangga melalui infus dibantu oleh Aksa dan setelah itu Quen keluar dari ruangan tersebut Quen memikirkan perkataan Sean tadi dan hal itu membuatnya heran.
Quen menimang apa ia akan menemui Sean atau tidak mengingat kejadian beberapa hari ini terutama kejadian saat ia membongkar hubungan gelap Sean membuat Quen sebenarnya benar-benar menghindari Sean Lama Quen berfikir hingga ia memutuskan untuk tidak menemui Sean.
Quen masuk kedalam kamarnya untuk mandi dan mengganti pakaiannya Quen mengganti pakaiannya dan ia menuju ke jendela kamarnya, Quen mengambil sebuah buku tentang organ dalam dan ia membacanya sambil duduk bersender di kursi didekat jendela kamarnya.
"Kenapa kau masih disini" kata Sean tiba- tiba yang masuk kedalam kamar Quen dan membuat Quen kaget.
“Kau" kata Quen kaget.
“Apa yang kau lakukan disini? Bagaimana bisa kau masuk kesini?" tanya Quen marah.
"Kenapa aku tidak bisa masuk kekamar istriku sendiri" kata Sean santai dan menghampiri Quen.
“Apa maumu?" tanya Quen dingin.
“Bukankah sudah aku katakan tadi jika aku ingin bicara denganmu" kata Sean lalu ia duduk dikursi disebelah Quen.
Quen melihat kearah Sean dan ia duduk ditempat duduknya tadi
“Apa yang ingin kau bicarakan"
Sean diam dan ia melihat kearah depan
"Tentang apa yang terjadi kemarin lusa" kata Sean melihat kearah Quen dan membuat Quen muak lalu Quen kembali fokus pada buku yang ia pegang Sean melihat Quen yang cuek dan tidak ingin membahasnya.
“Pertengkaran yang terjadi antara kau dengan Annisa didepan semua Tim Althena dan Tim medis.. juga perkataanmu yang mengatakan Anna sebagai wanita simpananku" kata Sean dan membuat Nayeon menutup bukunya.
“Kenapa? bukankah aku mengatakan fakta?
Dia memang wanita simpananmu" kata Quen dan membuat Sean menatap tajam Quen.
"Jika kau hanya ingin membicarakan tentang hal itu.. aku tidak akan menanggapinya. sebaiknya kau pergi dari kamarku" kata Quen.
Sean bangun dan mendekati Quen dan membuat Quen takut lantaran Sean membungkuk kearahnya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Quen membuat Quen menundukan wajahnya dan kedua tangan Sean memegang kursi Quen.
"Jika kau mengetahui aku punya wanita simpanan. kenapa kau diam? Sejauh mana kau tahu tentang itu?" tanya Sean tajam pada Quen.
Quen memberanikan diri untuk menatap mata tajam Sean yang sangat dekat dengannya.
"Kau tidak perlu tahu. lanjutkan saja hubungan kalian. jangan sampai ketika kalian berhubungan itu dilihat oleh orang lain" kata Quen tajam membuat Sean semakin menatapnya tajam.
Quen mendorong tubuh Sean lalu ia pergi dari kamarnya.
“Arghhh Shitt" umpat Sean kesal Sean begitu penasaran bagaimana perasaan Quen saat tahu hubungan gelap antara ia dengan Anna.. dan juga tadi apa maksud Quen.. apa Quen pernah melihat ia dengan Anna ketika mereka berhubungan.
Hati Sean semakin dibuat berkecamuk dan tidak tenang hanya karena Quen.. ia tidak mengerti dengan perasaanya bukankah seharusnya ia tidak peduli dengan Quen.
namun kenapa setelah Quen mengatakan Anna sebagai wanita simpanannya justru membuat Sean khawatir apakah Quen sedih atau tidak.