NovelToon NovelToon
Skandal Di Balik Layar

Skandal Di Balik Layar

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: Rizaidhan Luthfian

Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang dari Masa Lalu

Hujan deras yang mengguyur ibu kota sejak petang menyisakan genangan air di sepanjang kaca jendela restoran privat lantai atas kawasan Menteng. Di sudut ruangan bertemaram cahaya lampu gantung tembaga, Adam memutar-mutar gelas wiskinya. Cahaya amber minuman beralkohol itu memantul di mata tajamnya—mata seorang pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan, namun selalu tersiksa oleh satu-satunya hal yang pernah luput dari genggamannya.

Di atas meja, layar ponselnya menyala, menampilkan artikel hiburan yang hangat dibicarakan: keberhasilan pengambilan gambar pertama film Cinta Dua Batas, lengkap dengan foto Elsa yang tampak lelah namun memukau, serta Ajo yang berdiri kaku di latar belakang.

Adam terkekeh pelan. Sebuah tawa tanpa rasa humor, dingin dan sarat dengan kepahitan yang telah mengendap selama lebih dari satu dekade.

Bagi publik, Adam adalah pengusaha muda sukses, tunangan sekaligus sosok berpengaruh di balik karier Elsa. Namun bagi Ajo, Adam adalah hantu masa lalu yang pernah menghancurkan separuh jiwanya.

Memori itu tak pernah benar-benar mati. Sepuluh tahun lalu, di koridor kampus berarsitektur tua yang dingin, Ajo dan Adam adalah dua nama yang selalu berbenturan. Ajo dengan ketenangan kaku dan keidealisan yang keras, sementara Adam dengan karisma penuh pesona yang sanggup memikat siapa saja. Persaingan mereka bukan sekadar tentang siapa yang meraih nilai tertinggi atau siapa yang memenangkan kompetisi, melainkan tentang seorang wanita bernama Maya.

Ajo mencintai Maya dengan kedalaman yang pendiam—cinta yang diwujudkan lewat tindakan tersembunyi, perhatian tanpa suara, dan kesetiaan yang kaku. Namun Adam tidak bisa membiarkan Ajo memiliki sesuatu yang berharga. Bagi Adam, merebut Maya dari Ajo bukan hanya soal perasaan, melainkan tentang penaklukan. Tentang membuktikan bahwa ketenangan Ajo bisa diretas dan dihancurkan hingga tak tersisa.

Adam menggunakan segalanya: manipulasi yang halus, karisma yang memabukkan, hingga akhirnya berhasil menarik Maya ke dalam pelukannya. Dan ketika Ajo akhirnya mundur dengan luka mendalam yang mengubahnya menjadi pria bertangan dingin tanpa emosi, Adam justru merasa bosan. Maya hanyalah piala bergilir yang kehilangan kilaunya setelah berhasil dimenangkan.

Kini, sejarah seolah mengulang dirinya sendiri dengan pola yang mengerikan.

Pintu privat restoran berderit terbuka. Elsa melangkah masuk dengan gaun hitam polos, wajahnya tampak pucat dan kedua matanya masih menyisakan jejak keletihan dari lokasi syuting di Bogor. Ada ruang jarak yang tak kasat mata saat wanita itu mengambil tempat duduk di seberang Adam.

"Kamu terlambat, Elsa," ujar Adam pelan, suaranya halus namun menyimpan tekanan yang menuntut.

"Syuting hari ini sangat menguras emosi, Adam. Jalur dari Bogor juga padat," jawab Elsa, suaranya datar, tanpa riak kehangatan yang biasa ia tunjukkan di depan media.

Adam menatap Elsa dalam-dalam. Sebagai pria yang secara finansial dan manajemen memegang kendali atas sebagian besar kontrak Elsa, ia mengenali perubahan sekecil apa pun pada wanita itu. Dan malam ini, Elsa tidak tampak seperti 'Sang Dewi' yang bisa ia kendalikan. Ada sesuatu yang berbeda pada sorot matanya—sesuatu yang lepas dari cengkeramannya.

Adam menyandarkan punggungnya, menopang dagu dengan jemarinya yang terjalin. "Aku membaca laporan dari lapangan. Ajo membuatmu menangis di depan semua kru?"

Tangan Elsa yang sedang meraih cangkir teh mendadak terhenti di udara. "Itu bagian dari tuntutan peran. Ajo hanya ingin hasil yang jujur."

Nama itu. Cara Elsa menyebut nama "Ajo" tanpa selipan kata formalitas "Pak" atau "Produser" menyengat saraf Adam seperti cipratan api. Rahang Adam mengetat, pembuluh darah di pelipisnya menegang samar.

"Jujur?" Adam terkekeh, nada bicaranya berubah penuh cemooh. "Ajo tidak tahu apa pun tentang kejujuran, Elsa. Pria itu hanyalah sosok mahluk terluka yang gagal menjaga hidupnya sendiri. Perceraiannya yang hancur itu buktinya. Dan sekarang, dia berpura-pura menjadi penilai moral di atas penderitaanmu?"

Elsa menatap Adam dengan mata membelalak tipis. Ada rasa muak yang mendadak menyeruak di dadanya saat mendengar Adam merendahkan Ajo. "Ini bukan tentang masa lalu kalian, Adam. Ini tentang karya."

"Ini selalu tentang aku dan Ajo, Elsa!" potong Adam, suaranya memotong keheningan ruangan bagai belati. Untuk sekejap, topeng pria berkelas yang ia pakai luruh, menampilkan riak amarah dan kecemburuan lama yang membara.

Adam memajukan tubuhnya, menatap Elsa dengan pandangan yang mengunci. "Dulu, dia pikir dia bisa menyembunyikan Maya dariku. Tapi aku mengambilnya dengan mudah. Dan sekarang, kalau dia berpikir bisa menyentuhmu—bahkan hanya lewat emosi di balik kamera—dia sangat salah."

Elsa merasakan dingin merayap di tengkuknya. Untuk pertama kalinya, ia melihat dengan sangat jelas bahwa hubungan mereka selama ini bukanlah tentang cinta, melainkan tentang status dan kepemilikan. Bagi Adam, Elsa adalah mahkota kebanggaan yang tak boleh disentuh oleh siapa pun—terutama oleh Ajo.

"Aku bukan milik siapa-siapa, Adam," bisik Elsa dengan suara yang bergetar namun tegas, menyuarakan perlawanan pertamanya setelah sekian tahun menjadi boneka. "Dan Ajo tidak sedang merebut apa pun darimu. Dia hanya satu-satunya orang yang melihatku sebagai manusia, bukan sebagai piala."

Kata-kata Elsa menghantam Adam tepat di ulu hati. Rasa dingin mengaliri darahnya, berganti menjadi kepulan amarah yang beracun. Pria di depannya ini—wanita yang selama bertahun-tahun tunduk pada setiap aturan arah kariernya—baru saja membela musuh terbesarnya.

Adam tersenyum tipis, sebuah senyuman kelam yang tidak sampai ke matanya. Ia meraih jemari Elsa, meremasnya dengan tekanan yang cukup kuat untuk memberi ancaman implisit.

"Kita lihat seberapa jauh Ajo bisa bertahan saat aku menghancurkan proyek ini dari akarnya, Elsa," bisik Adam dingin. "Ajo pernah kehilangan segalanya karena aku dulu. Dan aku tidak akan segan-segan membuatnya merasakan hal yang sama untuk kedua kalinya."

Elsa menarik tangannya dengan napas tersengal, namun Adam hanya menatapnya penuh kemenangan. Di balik kegelapan malam Jakarta, benang persaingan lama antara dua pria itu kini kembali terikat kencang—dan Elsa tahu, ia berada tepat di tengah-tengah badai yang siap meledak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!