Menikah dengan teman sendiri? Tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Dulu kami saling bermusuhan. Em, no! Bukan bermusuhan. Lebih tepatnya berteman, bersahabat, tapi jarang sekali kita bisa akur.
Dan sekarang kami harus terlibat dalam suatu pernikahan.
Tidakk!!
Rumah tangga yang bagaimana yang akan kami jalani nanti?
Apa rasa sayang sebagai teman bisa berganti menjadi rasa sayang sebagai suami?
Tolong! Tolong katakan padaku kalau ini hanya mimpi!
Katakan padaku ini tidak nyata!
- Carissa Amalina -
Harus tinggal satu atap dengan perempuan yang bawel dan cerewet tak pernah terbayangkan olehku.
Kami berteman sejak kecil. Walaupun tidak bermusuhan tapi juga jarang akur.
Kami lebih banyak berdebat, tak ada yang mau mengalah. Apa jadinya kalau dikumpulkan didalam satu rumah?
- Raka Putra Wibawa -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhessy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TTM 20
Lagi-lagi Rissa hanya bisa menghela napas jengah. Sejak Raka tahu bahwa dirinya sedang mengandung, laki-laki itu bersikap over protective.
Bahkan hanya sekedar pergi ke kamar mandi saja Raka harus mengantar Rissa sampai di depan pintu. Beruntung Raka tahu diri untuk tidak ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Tadi kamu bilang anak kita mau makan ayam goreng masakan aku, ya?"
"Kapan aku bilang?" Rissa masih tak mau jujur. Padahal Raka sudah mendengarnya dengan jelas.
"Tadi."
"Sekarang udah enggak," jawab Rissa sekenanya.
"Kok gitu?" Raka memprotes.
"Ya emang udah enggak pengen lagi."
Rissa terpaksa berbohong. Sejujurnya dia sangat menginginkan makanan itu. Entah memang dirinya tengah mengidam atau hanya butuh perhatian dari Raka saja. Meskipun sebenarnya Raka dengan suka rela memberinya perhatian tanpa Rissa memintanya.
Sebelum Rissa memuntahkan isi perutnya dan membuat Raka mendengar suaranya, Rissa sudah sempat menggoreng ayam karena mendadak dia menginginkan ayam goreng dengan lalapan.
Sebenarnya Rissa menginginkan Raka yang memasak untuknya. Tapi Rissa tak mau meminta Raka melakukan hal itu karena dia masih ingin merahasiakan perihal kehamilannya.
Namun apa daya kalau anaknya yang masih berada di dalam perutnya tidak bisa diajak kompromi. Anak yang masih berbentuk janin itu seolah punya rencana agar kehadirannya diketahui oleh ayahnya.
Raka menghela napas pelan. Dia sadar betul bahwa jalannya untuk mendapatkan kembali kepercayaan dari Rissa tak akan mudah.
Saat duduk berdekatan saja Rissa terlihat selalu mencoba menjaga jarak dengan Raka. Saat berbicara dengan Raka pun Rissa enggan menatap Raka. Bahkan suaranya terdengar begitu judes dan tidak bersahabat.
Rissa terkesiap ketika dia merasakan sebuah usapan lembut diatas perutnya. "Berapa usianya?" Tanya Raka dengan lembut. Rissa tak menolak saat satu tangan Raka memeluk pundaknya.
"Jalan sembilan minggu."
Raka menghitung, kira-kira berapa bulan usia kandungan Rissa. Jalan tiga bulan.
"Kenapa kamu enggak ngomong sama aku, Ris? Kenapa kamu nggak memberitahu aku? Atau mungkin kamu akan tetap merahasiakan ini semua seandainya tadi aku nggak dengar kamu muntah-muntah di kamar mandi?" Cerca Raka dengan berbagai pertanyaan.
Rissa terdiam tak ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan Raka.
"Jawab aku, Ris!" Raka memaksa Risa untuk berbicara.
"Aku hanya ingin..." Rissa terdiam sebelum melanjutkan ucapannya. Suara adzan yang membuatnya berhenti berkata. "Udah adzan subuh. Kamu ke masjid dulu."
Lagi-lagi Raka hanya menghela napas panjang. Dia masih ingin mendengar penjelasan Rissa. Namun kewajibannya sebagai seorang muslim jauh lebih penting.
💕💕💕
Ibu rumah tangga dengan satu anak itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya.
Masih pukul lima lebih seperempat, Rissa sudah datang ke rumah Tika, salah satu sahabatnya ketika SMA.
Bagaimana Tika tidak merasa heran melihat kehadiran Rissa? Datang di pagi buta yang masih bermuka bantal, rambut acak-acakan, dan juga dengan piyama bergambar kartun mickey mouse.
"Sarapan dulu, Ris. Bubur ayam depan komplek, nih." Tika menyerahkan semangkuk bubur ayam kepada Rissa yang kini penampilannya sudah rapi bersiap untuk bekerja.
"Enak tuh!" Rissa berbinar menatapnya dan segera melahap bubur ayam tersebut.
Tika mengamati Rissa yang sedang menikmati sarapannya. Sejak kehadirannya dirumah Tika, memang Rissa selalu menampakkan wajah cerianya. Tapi Tika yakin kalau Rissa saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Entah apa yang terjadi pada Rissa sehingga membuat Rissa datang ke rumahnya di waktu yang tidak wajar dengan membawa baju gantinya untuk bekerja dan juga semua keperluannya untuk bekerja.
"Are you oke, Ris?" Tika memberanikan diri untuk bertanya.
Sejenak Rissa menghentikan tangannya yang menyendok bubur. "Aku oke, Tika. Tapi nanti malam aku menginap disini, ya?"
Tika menautkan kedua alisnya. Sebenarnya bagi Tika tidak masalah kalau Rissa menginap di rumahnya. Selama ini Tika selalu merasa kesepian karena suaminya yang pekerjaannya pelayaran di luar negeri dan hanya pulang delapan bulan sekali.
Tapi Rissa bukan lagi seorang lajang yang bisa pergi dan menginap dimana pun yang dia mau. Rissa bersuami.
"Kenapa? Em... Maksud aku, kenapa tumben sekali? Ada masalah?"
Sebelum menjawab pertanyaan Tika, Rissa melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. "Aku harus berangkat, Tika sayang. Makasih, ya, untuk sarapannya."
Rissa segera mengambil tas kerjanya dan juga kunci mobil yang ada diatas meja. Mengecup singkat pipi sahabatnya seraya berkata, "terimakasih sarapannya Mama Raffa yang cantik, baik hati dan tidak sombong."
Setelah itu, Rissa benar-benar pergi meninggalkan sejuta pertanyaan di dalam benak Tika.
💕💕💕
Berkali-kali Raka mengutuk dirinya sendiri yang begitu lengah dengan Rissa. Bisa-bisanya Rissa pergi meninggalkan rumah saat dirinya tengah beribadah di masjid.
Raka sama sekali tak mengira kalau Rissa akan senekat itu. Raka pikir setelah pulang dari masjid, dia bisa kembali berbicara dengan Rissa. Raka pikir dia bisa kembali membelai perut Rissa yang kini menjadi tempat berlindung darah dagingnya.
Namun dugaan Raka salah. Rissa nekat pergi darinya dan dia tak tahu kemana Rissa pergi sepagi itu.
Rumah sakit? Apa iya Rissa akan datang ke rumah sakit di pagi buta? Bahkan Raka yakin kalau Rissa belum sempat membersihkan dirinya.
Tempat Gendis? Tidak mungkin lagi karena setahu Raka Gendis sedang cuti untuk melakukan honeymoon ke Lombok dengan suaminya.
Ke tempat Mamanya? Raka sendiri tak yakin. Dia juga tidak berani menanyakan hal itu karena takut mereka mengira bahwa Raka dan Rissa sedang tidak baik-baik saja walaupun sebenarnya memang seperti itu keadaannya.
"Kamu kemana, Rissa??!!!" Gumamnya frustasi.
Pukul tujuh pagi, Raka sudah berada di depan ruang kerja Rissa yang pintunya masih tertutup rapat. Raka yakin kalau Rissa belum datang karena biasanya Rissa berangkat dari rumah pukul tujuh pagi.
Raka mondar-mandir di depan ruangan Rissa. Tak peduli dengan tatapan-tatapan aneh dari orang yang berlalu lalang didepannya.
"Rissa!!" Teriak Raka memanggil nama Rissa saat Raka melihat Rissa yang akan melarikan diri karena melihatnya.
Sekuat apapun Rissa mencoba berlari, kenyataannya dia tetap kalah dari Raka. Apalagi gerak Rissa yang harus Rissa batasi karena dia sedang mengandung.
Rissa mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman Raka. "Lepas, Raka!"
"Enggak akan!" Kemudian Raka menarik tangan Rissa agar Rissa mengikuti langkahnya.
"Kita mau kemana? Aku harus kerja!"
Raka tak menjawab apapun sampai akhirnya keduanya masuk ke dalam mobil Raka.
"Raka! Aku harus kerja. Jangan kayak anak kecil gini, dong!"
"Yang kayak anak kecil itu aku atau kamu? Kamu merahasiakan kehamilan kamu dari aku, ayahnya. Apa maksud kamu!?" Raka mulai kehabisan kesabaran meskipun dia masih bisa mengontrol dirinya untuk tidak membentak Rissa.
"Ya sudah, sekarang kamu juga udah tahu. Mau apa lagi? Iya, aku hamil. Puas kamu!?" Napas Rissa memburu seiring dengan emosinya yang mulai tersulut.
"Kenapa nggak bilang dari awal? Kamu masih menganggap aku suami kamu enggak? Aku ayahnya loh, Ris. Tega kamu!"
"Ya udah. Sekarang kamu juga udah tahu, apa lagi masalahnya?"
Raka terdiam.
"Ck." Rissa berdecak kesal melihat Raka yang hanya diam. "Aku mau kerja!"
"Aku belum selesai bicara," tegas Raka sembari menahan Rissa agar tak keluar dari dalam mobil.
"Apa lagi?" Rissa menghela napas jengah.
"Aku masih ingin tahu apa alasan kamu menyembunyikan ini semua dari aku." Raka menatap lekat kedua mata Rissa.
Sesaat Rissa memejamkan matanya untuk menahan gemuruh di dalam dadanya. Jantungnya berdebar saat Raka menatapnya begitu lekat.
Tatapan itu dulu sangat dia sukai. Bahkan dia selalu tersipu saat Raka melakukan hal itu.
Namun saat ini tatapan itu terasa menyakitkan mengingat apa yang telah Raka lakukan kepada dirinya.
"Karena aku mau kita bercerai."
Pelan, namun sanggup membuat Raka merasa seperti tersambar petir disiang bolong.
"Enggak akan." Raka menggeleng kuat. "Kamu janji kalau kamu akan memberiku waktu untuk membuktikan semuanya. Waktu aku masih ada untuk itu, dan aku masih terus berusaha untuk membuktikan sama kamu."
Rissa segera menarik kedua tangannya yang berada di genggaman Raka. Kemudian Rissa mengambil ponselnya dan membuka aplikasi pesan singkat.
Disana, terdapat pesan dari Windi.
Sebuah gambar tespeck dengan tulisan di bawahnya,
"Suami kamu harus bertanggungjawab dengan apa yang telah dia lakukan."
Mata Raka terbelalak membaca pesan tersebut. "Enggak, Rissa. Ini nggak benar. Dia pasti bohong," ucapnya mencoba membuat Rissa percaya.
"Karena itu, aku tetap mau kita bercerai. Jangan jadi pengecut. Tanggungjawab dengan apa yang sudah kamu lakukan."
Setelah itu, Rissa keluar dari dalam mobil Raka untuk kembali bekerja. Raka tak mengejarnya karena dia masih terlalu syok dengan apa yang baru saja terjadi.
Pagi tadi, bukan tanpa alasan Rissa pergi dari rumah. Sesaat setelah Raka berangkat ke masjid, ponselnya berdenting menandakan ada pesan masuk.
Pesan dari Windi yang membuatnya benar-benar yakin bahwa pernikahannya dengan Raka harus di akhiri.
Rissa tak ingin diduakan. Rissa lebih memilih untuk mengalah dan melepaskan Raka agar Raka bertanggungjawab atas kehamilan Windi.
Dengan dirinya sendiri, Rissa tak peduli. Dia bisa mengurus anaknya sendiri.
Katakanlah Rissa egois. Membiarkan anaknya akan tumbuh tanpa seorang ayah. Tapi dia hanyalah perempuan biasa yang tidak bisa membagi cintanya dengan orang lain.
Akan terlalu menyakitkan ketika didalam sebuah rumah tangga, ada dua wanita yang harus mendapatkan cinta dan perhatian yang sama dari satu laki-laki yang berstatus suami.
💕💕💕💕
Hayyuukkk kita timpuk bareng2 authornya. Giliran nongol malah bawa huru-hara. 😂😂😂
usia 27 udah jadi spesialis kandungan .
wah Rissa termasuk jenius nii.