Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.
Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?
Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.
Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Sinkopasi di Jalur Bawah Tanah
Gemuruh rel baja yang bergetar di dalam terowongan bawah tanah Zurich terdengar bagai detak jantung monster purba yang terbangun dari tidur panjangnya. Kegelapan di dalam terowongan ini begitu pekat, hanya dipotong oleh pendar lampu darurat kuning yang berkedip-kedip kaku di langit-langit beton yang berlumut. Bau besi berkarat, oli mesin yang menyengat, dan hawa lembap dari sisa gerimis di luar bangunan Bank Internasional berbaur menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada.
Arunika palsu melangkah menembus remang koridor rel dengan napas yang memburu pendek. Gaun mantel sutra hitamnya yang premium kini telah robek di bagian keliman bawah, mengayun kaku mengikuti langkah kakinya yang dilapisi sepatu bot taktis berlumpur. Setiap ketukan langkahnya di atas batu kerikil rel memantulkan gema yang sunyi, seolah menegaskan kehampaan masif yang kini telah sepenuhnya mengambil alih jiwanya.
Di sampingnya, Arsen Valentino berjalan dengan keanggunan seorang predator tertinggi yang terluka. Jas mantel wol hitamnya yang elegan telah dia tanggalkan, menyisakan kemeja putih yang kini basah oleh keringat dan bercak darah segar dari luka di pelipisnya. Sepasang mata elangnya tidak berkedip, menembus kabut tipis di dalam terowongan, mengunci fokus pada satu titik cahaya lampu depan kereta ekspres yang kian membesar di kejauhan.
"Dia tidak sedang melarikan diri, Arsen," bisik Arunika palsu. Suaranya terdengar begitu datar, luwes, dan tanpa ada riak ketakutan sedikit pun. Transformasi karakter dari seorang gadis desa yang malang menjadi belati beracun faksi Valentino kini telah mencapai titik kematangan yang sempurna. "Arunika yang asli tahu kita akan mengejarnya ke sini. Dia sengaja memancing kita ke dalam ruang sempit ini untuk membalikkan panggung."
Arsen tidak menyahut dengan kata-kata, namun cengkeraman tangannya pada laras senapan serbu otomatis pendeknya mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Seringai kejam penuh intrik politik muncul di garis bibirnya yang kaku. Pria itu tahu persis bahwa di dunia bawah tanah, ruang sempit adalah tempat terbaik untuk mengeksekusi sebuah pembantaian yang efisien.
Di ujung rel, berjarak kurang dari lima puluh meter di depan mereka, berdiri sesosok wanita dengan pakaian taktis serba hitam yang sangat familier. Arunika yang asli. Dia berdiri dengan tenang di tengah jalur ganda rel kereta, tangan kirinya memegang koper perak milik Haryo Valentino, sementara tangan kanannya menggenggam sebuah perangkat pengontrol digital kecil yang ditempelkan di atas kotak sirkuit sinyal rel.
Lampu depan kereta ekspres Zurich yang melaju dengan kecepatan lebih dari seratus kilometer per jam mulai menyinari wajah mereka secara bergantian, memantulkan bayangan dua wanita dengan wajah yang **sama persis** di atas dinding beton terowongan.
### Pembalikan Cermin Identitas
"Kau sangat lambat, Duplikat!" teriak Arunika asli, suaranya merdu namun dipenuhi racun kedengkian yang menggema membelah gemuruh mesin kereta. "Kau membawa sang Raja Mafia baru ke sini hanya untuk menyaksikan bagaimana replika jalanan sepertimu dihancurkan oleh mesin besi ini!"
Arunika asli menekan satu tombol pada perangkat di tangannya. Detik itu juga, lampu indikator sinyal rel di atas kepala mereka berubah dari hijau menjadi merah menyala, disusul oleh suara derit sistem pengereman darurat kereta yang melengking tinggi, menciptakan percikan api jingga yang masif di bawah roda-roda besi kereta yang mencoba berhenti secara paksa.
Ckiieeeekkk!!!
Guncangan masif akibat pengereman darurat kereta ekspres itu membuat seluruh dinding terowongan bergetar hebat. Gerbong-gerbong besi raksasa di belakang lokomotif mulai bergerak tidak stabil, bergoyang zigzag menghantam dinding beton dan memicu runtuhnya sebagian langit-langit terowongan yang telah tua.
Letupan emosi pembaca dipastikan akan naik turun dengan ekstrem di bagian ini. Arunika palsu melihat jalurnya terkunci oleh bahaya ganda: hantaman kereta yang tergelincir dan runtuhan beton di atas kepala mereka. Namun, di dalam batinnya yang telah mati rasa, sebuah kegilaan baru mendadak meletup. Dia tidak lagi memedulikan apakah dirinya adalah salinan atau wadah murni; yang dia inginkan malam ini adalah melihat akhir dari seluruh silsilah darah yang telah mengutuk hidupnya.
"Arsen, ambil kopernya! Jangan pedulikan aku!" jerit Arunika palsu.
Dengan satu gerakan defensif yang luar biasa nekat, Arunika palsu justru menerjang maju ke arah kembarannya, mengabaikan kereta raksasa yang kian mendekat dengan jarak kurang dari dua puluh meter. Dia menggunakan berat tubuhnya untuk menghantam dada Arunika asli, menjatuhkan wanita itu ke atas tumpukan batu kerikil rel di tengah hujan percikan api pengereman.
Brak!
Kedua wanita berwajah sama itu kembali terlibat dalam pergulatan fisik yang brutal di bawah kolong lokomotif kereta yang kian mendekat. Arunika asli, dengan pelatihan militer bawah airnya, mencoba mengunci leher Arunika palsu menggunakan lengan kanannya, namun kegilaan dendam yang membakar tubuh replika memberikan kekuatan ekstra yang tidak masuk akal. Arunika palsu menghantamkan kepalanya ke arah hidung Arunika asli, memicu semburan darah segar yang mengotori wajah mereka berdua hingga kini mereka benar-benar tampak seperti sepasang monster kembar yang lahir dari neraka yang sama.
Arsen Valentino tidak membuang momentum emas tersebut. Dengan ketangkasan seorang predator tertinggi, pria itu melompat melewati tubuh kedua wanita yang sedang bergulat, tangan kanannya merenggut gagang koper perak dari sela-sela batu rel, sementara tangan kirinya melepaskan rentetan tembakan balasan ke arah kotak sirkuit darurat di dinding untuk memutus pasokan listrik rel pihak ketiga.
Duar! Bang!
Ledakan sirkuit listrik memicu matinya seluruh lampu darurat terowongan, melemparkan mereka kembali ke dalam kegelapan total yang gulita tepat di saat moncong lokomotif kereta ekspres menyapu posisi tempat mereka berdiri.
### Labirin yang Terbelah
Di dalam kegelapan yang pekat dan bergemuruh itu, Arsen menggunakan insting liarnya untuk menarik tubuh Arunika palsu keluar dari jalur rel, melemparkan tubuh ramping gadis itu ke dalam sebuah celah sempit saluran pembuangan air di dinding terowongan sesaat sebelum gerbong kereta pertama menghantam tempat mereka bergulat dengan suara tabrakan yang memekakkan telinga.
BLAM!!!
Kereta ekspres itu tergelincir sepenuhnya, menghantam dinding terowongan dengan kekuatan yang luar biasa masif, menciptakan bola api raksasa dari korsleting mesin yang menerangi kegelapan dengan warna jingga yang mengerikan. Runtuhan beton setinggi tiga meter menimbun jalur rel, menyegel total jalan kembali menuju Bank Internasional Zurich dan memisahkan mereka dari Marco serta sisa pasukan aliansi barat.
Suasana di dalam terowongan berangsur-angsur kembali sunyi, hanya diiringi oleh suara desis uap panas dari pipa air yang pecah dan kobaran api kecil yang menyala di atas reruntuhan gerbong kereta.
Arunika palsu terengah-engah di dalam saluran air yang kotor, jubah sutra hitamnya kini telah sepenuhnya basah oleh air lumpur dan darah. Dia meraba lehernya sendiri, memastikan bahwa pembuluh darahnya tidak terluka. Ketika dia mendongak, dia melihat Arsen berdiri di depannya dengan koper perak yang masih aman di tangan kirinya, wajah tampan pria itu kini dipenuhi jelaga hitam namun sepasang mata elangnya tetap memancarkan dominasi mutlak yang tak tergoyahkan.
"Kau masih hidup, Valeria," ucap Arsen, suaranya terdengar kaku, berat, dan tetap menggunakan nama palsu itu sebagai perisai dari kenyataan darah Valentino yang mengalir di tubuh mereka. Pria itu mengulurkan tangannya yang kokoh, menarik Arunika palsu bangkit dari dalam saluran air dengan cengkeraman yang kuat.
"Di mana... di mana dia?" tanya Arunika palsu, matanya memindai ke arah reruntuhan gerbong kereta yang terbakar di depan mereka.
Arunika yang asli tidak terlihat di mana pun. Di atas tumpukan batu kerikil yang berdarah, hanya tersisa perangkat pengontrol digital kecil milik wanita itu yang kini telah hancur terinjak oleh roda besi kereta. Dia telah lenyap ditelan kegelapan terowongan atau mungkin... melarikan diri menggunakan rute evakuasi sekunder yang hanya diketahui oleh agen ganda Pierre.
"Dia tidak akan pergi jauh dengan tubuh yang terluka," sahut Arsen dingin. Dia memeriksa indikator koper perak di tangannya, memastikan bahwa tiga tabung cairan kultur sel Eclipse Omega di dalamnya tidak pecah akibat benturan tabrakan tadi. "Satu-satunya rute pelarian dari terowongan timur ini adalah menuju ke arah stasiun logistik bandara Zurich pusat. Di sana, Haryo Valentino telah menyiapkan jet pribadi cadangan untuk mengevakuasi seluruh sisa laboratoriumnya ke pangkalan utara."
Transformasi psikologis Arunika palsu kini telah mencapai puncaknya. Rasa sakit di kepalanya akibat gelombang sonar sebelumnya telah sepenuhnya menguap, digantikan oleh sejenis kegilaan dingin yang membuatnya merasa enjoy di tengah medan perang bawah tanah ini. Jika dia diciptakan sebagai produk gagal untuk dihancurkan, maka dia akan memastikan dirinya menjadi racun terakhir yang akan membunuh seluruh anggota dinasti Valentino yang sah.
"Mari kita selesaikan ini, Arsen," bisik Arunika palsu, sebuah senyuman kejam muncul di bibirnya yang pucat. "Mari kita tunjukkan pada ayah kandung kita di pangkalan utara bahwa salinan jalanan ini datang bukan untuk menyerah, melainkan untuk membakar seluruh istana megahnya hingga menjadi abu."
Mereka berjalan menyusuri sisa terowongan yang gelap, melangkah di antara pipa-pipa besi raksasa yang bocor hingga akhirnya ujung jalur membawa mereka keluar di sebuah area gudang logistik bandara Zurich yang luas dan sepi. Hujan gerimis di luar telah berganti menjadi kabut tebal musim dingin yang membatasi jarak pandang hingga kurang dari sepuluh meter.
Di tengah landasan pacu yang tertutup kabut, sebuah pesawat kargo militer tanpa logo kenegaraan tampak sudah menyalakan mesinnya dengan suara deru rendah yang bergetar masif. Pintu palka belakang pesawat terbuka lebar, memancarkan pendar cahaya lampu kuning dari dalam kabin kargo.
Arsen dan Arunika palsu bergerak menyelinap di antara tumpukan kontainer logistik, menuju ke arah palka pesawat. Namun, tepat ketika langkah kaki mereka berada di ambang pintu besi palka, sesosok wanita dengan gaun malam sutra putih yang compang-camping dan wajah yang dipenuhi mutlak oleh jaringan biologis yang rusak akibat mutasi berdarah tiba-tiba melangkah keluar dari dalam kegelapan kabin kargo.
Valeria Baskoro.
Wanita itu entah bagaimana berhasil meloloskan diri dari sistem pembersihan kimia di lobi bank dan dibawa oleh sisa pengawal Rusia menuju ke bandara ini. Wajah cantiknya kini telah sepenuhnya hancur, berubah menjadi topeng daging yang mengerikan dan berdenyut-denyut konstan. Di tangan kanannya, dia memegang sebuah perangkat monitor medis baru yang kini menampilkan grafik detak jantung janin di rahimnya yang bergerak melemah di bawah angka kritis: **30 bpm… 20 bpm…**
"Arsen... Arunika..." suara Valeria terdengar begitu parau, rusak oleh mutasi pita suara yang mulai menjalar ke tenggorokannya. "Kalian... kalian tidak akan pernah bisa memenangkan permainan ini... Haryo... Haryo tidak berada di pangkalan utara... Pria yang kalian lihat di hologram tadi... adalah..."
Sebelum Valeria sempat menyelesaikan kalimat krusialnya, sebuah tembakan runduk (sniper) berkaliber besar dengan presisi militer mendadak meletus dari arah menara kontrol bandara yang tertutup kabut tebal.
Duar!!!
Peluru baja itu merobek dahi Valeria Baskoro dengan telat, meledakkan kepalanya dalam sekejap dan membuat tubuh wanita yang membawa janin klonasi itu ambruk ke atas lantai besi palka pesawat kargo dengan suara deburan yang berat. Monitor medis di tangannya terlepas, jatuh menggelinding ke arah kaki Arunika palsu sebelum layarnya padam sepenuhnya menampilkan garis lurus tanda kematian mutlak dari sang bayi.
Sistem alarm otomatis pesawat kargo mendadak berbunyi melengking tinggi, disusul oleh suara penutupan pintu palka besi secara paksa dari dalam oleh sistem kendali otomatis jarak jauh satelit.
Arsen Valentino dengan gerakan refleks yang luar biasa cepat mendorong tubuh Arunika palsu masuk ke dalam kabin kargo tepat sebelum pintu palka besi menutup rapat, mengunci mereka berdua di dalam ruangan kargo yang luas, steril, dan dipenuhi oleh ratusan tabung inkubator kosong milik faksi Eclipse.
Pesawat kargo militer itu mendadak melaju dengan kecepatan penuh di landasan pacu, lepas landas menembus badai kabut musim dingin menuju ke arah koordinat penerbangan otomatis yang telah dikunci oleh faksi ketiga yang tak dikenal.
Di dalam kabin kargo yang bergerak naik menembus awan kelam, lampu-lampu indikator inkubator di sekeliling mereka mendadak menyala secara serentak memancarkan pendar cahaya biru pucat. Dan dari pengeras suara internal kabin pesawat, sebuah suara wanita muda yang sangat anggun, dingin, dan memiliki frekuensi yang sama persis dengan suara Arunika palsu sendiri terdengar bergema membelah kesunyian penerbangan maut tersebut.
> **“Selamat datang di penerbangan menuju Altar Pemurnian yang sesungguhnya, Kakak tiri dan Salinanku yang malang... Pria yang kalian bunuh di Zurich bukanlah Haryo Valentino, melainkan produk klonasi sempurna pertama yang bertindak sebagai bayangan biologisnya selama dua belas tahun ini.”**
_____________________________
**Bersambung ke Bab 28...**
* Siapakah sebenarnya sosok wanita muda yang mengendalikan pesawat kargo militer tersebut dari jarak jauh dan mengaku memiliki silsilah darah murni dinasti Valentino?
* Jika Haryo Valentino yang tewas di Zurich hanyalah sebuah produk klonasi bayangan, di manakah letak persembunyian sang mentor agung yang asli yang sebenarnya mengendalikan seluruh konspirasi global ini?
* Dan bagaimanakah nasib Arsen bersama Arunika palsu saat menyadari bahwa mereka kini sedang terbang menuju ke sebuah fasilitas pemurnian genetik yang akan menghapus sisa eksistensi mereka dari dunia bawah tanah?
Tunggu kelanjutan kisahnya yang semakin memanas dan penuh letupan konflik luar biasa di bab berikutnya!