"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.
Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Solusi Instan & Jerat Penghibur Stres
Bab 21: Solusi Instan & Jerat Penghibur Stres
Hawa panas kota Jakarta terasa begitu mengikat, sekental atmosfer ketegangan yang menyelimuti ruang kerja Adrian malam itu. Di atas meja jati, grafik penjualan dari ketiga cabang "Rasa Hana" tercetak dengan garis merah yang menukik tajam. Omzet merosot drastis hingga menyentuh angka empat puluh persen hanya dalam waktu dua minggu sejak formula resep palsu itu diaplikasikan. Notifikasi ponsel Adrian bergetar tanpa henti, membawa pesan-pesan kepanikan dari para manajer cabang mengenai pembatalan katering korporat dan tumpukan ulasan bintang satu dari para pelanggan setia yang merasa dikhianati oleh rasa bumbu inti yang getir.
Klek.
Pintu ruang kerja terbuka. Ibu Broto masuk dengan langkah tergesa-gesa, membawa sepiring hidangan yang aromanya langsung menusuk indra penciuman Adrian. Ada aroma gurih kelapa, manisnya gula jawa yang terkaramelisasi dengan pas, dan sengatan cabai yang segar.
"Adrian, Le... coba kamu singkirkan dulu kertas-kertas pembawa sial itu," ujar Ibu Broto sembari meletakkan piring itu tepat di atas berkas laporan keuangan. "Coba kamu rasakan ini. Ini masakan rumahan buatan Santi sore ini. Ayam goreng bumbu ungkep jawa dan sambal bajak manis."
Adrian mendongak dengan mata merah akibat kurang tidur. Dengan gerakan malas, ia mengambil garpu, memotong sedikit daging ayam itu lalu mencocolnya ke sambal bajak buatan Santi. Begitu suapan itu masuk ke mulutnya, mata Adrian seketika membelalak. Rasa gurih yang tebal dan manis yang pas langsung memanjakan lidahnya—sangat berbeda dengan rasa getir yang belakangan ini merusak bisnis restorannya.
"Bagaimana? Enak, kan?" tagih Ibu Broto dengan mata berbinar serakah. "Ibu punya ide gila, Adrian. Daripada kamu pusing memikirkan resep Hana yang makin hari makin bikin restoran sepi, kenapa tidak kita masukkan saja menu masakan Santi ini ke restoran? Kita ganti menu lama milik Hana yang sudah membosankan itu dengan nama 'Menu Spesial Tradisional Racikan Baru'. Lidah orang kota pasti suka rasa manis gurih seperti ini!"
Adrian terdiam, jemarinya mengetuk meja. Sisi logisnya tahu masakan ini berbeda dengan standar industri restoran bertaraf premium, namun otaknya yang sudah buntu dan stres akibat tekanan finansial akhirnya memilih jalan pintas. "Ibu benar... masakan Santi malam ini terasa jauh lebih menyelamatkan daripada formula dapur kita yang sekarang. Baik, Bu. Besok aku akan minta manajer cabang untuk mempersiapkan peluncuran menu baru dari Santi."
Ibu Broto tersenyum jemawa, merasa telah berhasil menggusur sisa-sisa pengaruh Hana dari bisnis anaknya. Ia kemudian menepuk pundak Adrian sekilas lalu berjalan keluar, meninggalkan Adrian sendirian di dalam ruangan yang temaram.
Satu jam berlalu. Jam dinding telah menunjukkan pukul sebelas malam. Adrian menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, memejamkan mata sembari memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri. Beban di pundaknya terasa begitu berat hingga melumpuhkan akal sehatnya.
Tok. Tok.
Pintu diketuk dengan sangat perlahan. Santi melangkah masuk dengan sangat anggun, membawa secangkir kopi hitam hangat di atas nampan kecil. Malam ini, ia tidak lagi mengenakan pakaian pelayan desa yang longgar. Santi sengaja mengenakan kaus rajut tipis berleher rendah sewarna kulit yang mencetak jelas lekuk tubuh mudanya, dipadukan dengan celana kulot yang pas di pinggang.
"Mas Adrian..." bisik Santi dengan suara yang teramat lirih dan mendayu, menguapkan kesan formalitas di antara majikan dan pelayan. "Ini Santi buatkan kopi malam... Santi lihat lampu ruang kerja Mas masih menyala. Santi khawatir Mas Adrian terlalu lelah."
Adrian membuka matanya, menatap sosok Santi yang kini berjalan mendekat. Begitu Santi meletakkan cangkir kopi di atas meja, posisi tubuhnya yang membungkuk membuat aroma harum sabun sirih dan minyak wangi murahan namun menggoda langsung menyergap penciuman Adrian.
Santi tidak langsung mundur. Dengan binar mata yang penuh kepatuhan yang manipulatif, ia melangkah ke belakang kursi kerja Adrian. Jemarinya yang halus perlahan menyentuh pundak Adrian yang kaku, lalu mulai memberikan pijatan-pijatan lembut yang terasa begitu menenangkan.
"Pundak Mas Adrian kaku sekali... pasti pusing ya memikirkan urusan restoran?" bisik Santi tepat di dekat telinga Adrian, deru napasnya yang hangat terasa menggelitik leher sang pria. "Santi sedih melihat Mas Adrian seperti ini. Di saat Mas berjuang keras di luar, Mbak Hana di atas justru selalu memasang wajah dingin dan ketus, tidak pernah mau tahu kesulitan suaminya sendiri..."
Hasutan Santi yang membandingkan dirinya dengan Hana bagai elusan maut pada ego kelelakian Adrian yang sedang rapuh. Rasa frustrasinya sebagai pengusaha yang terpuruk mendadak beralih menjadi dahaga liar akan validasi dan kenyamanan fisik.
Adrian membalikkan tubuhnya dengan sentakan cepat, mencengkeram pergelangan tangan Santi hingga nampan kayu di tangan gadis itu terjatuh ke atas lantai marmer tanpa suara. Matanya menggelap oleh kabut gairah yang tak lagi tertahankan.
"Kamu... benar-benar tahu cara membuatku nyaman, Santi," desis Adrian dengan suara bariton yang berat dan parau.
Santi tidak memberontak. Ia justru menyunggingkan senyuman kemenangan yang teramat tipis, membiarkan tubuhnya ditarik oleh Adrian hingga terduduk di atas pangkuan pria itu. "Santi akan selalu ada untuk Mas Adrian... apa pun yang Mas inginkan dari Santi," janji Santi dengan tatapan mata yang mengunci kewarasan Adrian sepenuhnya.
Malam itu, di atas sofa kulit hitam di sudut ruang kerja yang terkunci rapat, Adrian melumat habis godaan Santi. Mereka melakukan hubungan intim pertama secara diam-diam di dalam rumah mewah itu, sebuah pengkhianatan fisik yang begitu panas sekaligus menjijikkan, dilakukan tepat di bawah langit-langit yang sama di mana Hana—istri sah yang sedang mengandung anaknya—sedang berbaring menahan kram perut seorang diri di kamar atas. Santi bergerak dengan keliaran seorang pelayan yang ambisius, mengikat tubuh dan pikiran Adrian agar pria itu semakin bertekuk lutut di bawah kendalinya.
Jelang pukul satu dini hari, suasana rumah kembali sunyi senyap. Hana berjalan menuruni anak tangga dengan perlahan, memegangi perutnya yang sesekali terasa melilit akibat tekanan psikologis beberapa hari terakhir. Ia berniat mengambil segelas air hangat di dapur bawah karena tenggorokannya terasa teramat kering.
Namun, langkah kaki Hana terhenti tepat di lorong dekat ruang kerja Adrian. Sepasang mata indahnya menangkap siluet pintu ruang kerja yang terbuka beberapa sentimeter. Melalui celah sempit itu, Hana melihat dengan sangat jelas bagaimana Santi sedang merapikan kembali kaus rajutnya yang berantakan dengan senyuman puas yang mengembang lebar di bibirnya, sementara Adrian duduk di tepi sofa sembari mengancingkan kembali kemejanya dengan napas yang masih memburu.
Hana berdiri mematung di dalam kegelapan lorong. Tidak ada air mata yang jatuh, tidak ada teriakan histeris dari mulut seorang wanita yang dikhianati. Dada Hana berdesir dingin, kekecewaan dan rasa perih di hatinya malam itu mendadak membeku, menjelma menjadi belati es yang teramat tajam di dalam benaknya.
Hana menyunggingkan seulas senyuman yang teramat tipis dan mengerikan di balik kegelapan. Skenario kehancuran yang ia rancang kini telah berjalan jauh lebih cepat dari dugaannya, ditarik oleh nafsu liar suaminya dan keserakan pelayan desanya sendiri.
“Nikmatilah sisa-sisa keringat pengkhianatanmu malam ini, Adrian... Santi...” batin Hana dengan ketenangan yang teramat pekat, sembari membalikkan tubuhnya kembali naik ke lantai atas tanpa suara. “Sebab pelukan hangat yang kamu rasakan di sofa itu, akan menjadi awal dari jerat tali mati yang akan mencekik leher kalian hingga tak bisa bernapas lagi.”