Alur maju-mundur.
****
Kini senyum menawan itu hilang, menyisakan penyesalan merayap datang.
Hal terindah di sia-siakan demi nafsu pekerjaan.
Terpuruk dalam kesedihan, seakan mimpi menjadi kenyataan.
Istri cantik ku berlumuran darah kaku seperti kayu.
****
Menikahi seorang wanita yang masih asing, membuat Ridwan acuh dalam rumah tangganya. Ridwan yang merupakan seorang peneliti, tetap sibuk dengan penelitian meski sudah menikah. Hingga suatu saat, Ridwan baru menyadari jika dirinya mulai nyaman dan tertarik Ketika istrinya sudah tiada.
Apa yang akan di lakukan seorang genius gila penelitian untuk menebus kesalahannya?
Hal gila akan di lakukan demi melihat senyum istrinya yang sangat jarang nampak di lihat.
Akan tetapi, hal gila tersebut membuatnya merasakan sakit yang berulang dan lebih sakit dari sebelumnya.
yuk ikuti ceritanya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pejuang imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berhasil
"Aku hanya memberikan yang terbaik yang bisa aku lakukan untuk Ridwan. Aku juga tidak mengetahuinya sebelumnya. Tetapi.." Farid menjawab ucapan Surya, lalu Farid mengingat kembali apa yang di katakan Ridwan sehari sebelumnya.
"Kita tidak memiliki prototipe. Hanya satu mesin ini yang kita buat. Hal itu bukan karena kita tidak mampu dan aku memang melarangmu untuk melakukannya." Farid mengikuti apa yang di ucapkan Ridwan padanya.
"Kegagalanmu sewaktu akan membangun mesin waktu di Amerika, telah aku selesaikan dengan baik. Tetapi bukan sempurna.Di sini terdapat catatan lengkapku mengenai mesin ini. Kau boleh membangunnya lagi nanti. Sedangkan di catatanmu ada sesuatu yang kurang dan memang sengaja aku sembunyikan darimu." Farid terus berucap seperti yang Ridwan ucapkan.
"Kau dan timmu gagal karena memaksa untuk bisa pergi ke masa depan. Tetapi hal itu tidak akan pernah terjadi karena akan menimbulkan ledakan di area ruang dan waktu. Hal itulah yang tidak aku gunakan. Mesin ini, hanya dapat pergi ke masa lalu, tanpa bisa kembali ke masa depan." Farid berbucara menirukan Ridwan dengan menggeleng-gelengkan kepala.
"Itu semualah yang di katakan Ridwan. Aku sudah melarangnya. Aku sudah berusaha menghentikannya. Tetapi ucapan Ridwan kembali menghentikan tindakanku dan memaksaku untuk membiarkannya melakukan itu semua." Farid berbicara sambil mengingat kembali ucapan Ridwan sehari sebelumnya.
Farid bercerita saat Farid berusaha menghentikan Ridwan dengan mengatakan jika ini semua merupakan kegagalan. Tetapi Ridwan menjawab jika mungkin ini suatu kegagalan bagi dunia sains. Namun tetap keberhasilan bagi Ridwan karena dapat kembali melihat senyum istrinya yang merupakan tujuan utama dari proyek ini.
"Ucapan itulah yang membuatku menghentikan egoku untuk menghalangi Ridwan." Farid berbicara kepada Surya. Lalu Farid kembali mengingat ucapan Ridwan.
"Aku hanya mengatakan ini semua padamu. Aku berharap, kau yang akan mengatakannya kepada Surya ketika aku sudah menembus ruang dan waktu. Katakan juga padanya, aku menyayanginya dan keluarganya." Farid menirukan ucapan Ridwan untuk bercerita kepada Surya.
Mendengar rentetan cerita dari Farid, Surya hanya tertunduk lesu merasakan penyesalan karena tidak dapat mendukung adiknya sampai saat-saat terakhir.
** Saat menjalankan mesin waktu **
Jjeeeeezzzzzzzzzz…… … … … … … … Suara menakutkan terdengar saat mesin mulai berputar pada kecepatan maksimalnya. Kursi yang di tumpangi Ridwan bergetar hebat. Terlihat wajah panik dan takut di wajah Ridwan saat itu.
Apa yang di lihat Ridwan seakan seperti sebuah gambar yang berjalan sangat cepat. Apa yang di lihat Ridwan semakin lama semakin cepat. Suara dengung yang bukan berasal dari suara mesin terdengar jelas di telinga Ridwan.
Semakin lama, suara tersebut terdengar seperti suara jeritan yang menakutkan. Suara jeritan menakutkan tersebut, bersamaan dengan pandangan di sekitar semakin terasa cepat dan mulai seperti akan memutih.
Kini semua yang di lihat Ridwan dari kaca, hanya seperti kabut putih tapi itu bukanlah sebuah kabut. Sesekali Ridwan hanya melihat sekelebat garis hitam bergerak sangat cepat. Semakin lama, sekelebet garis hitam sudah tidak ada lagi. Getaran juga mulai stabil.
Kini frekuensi suara yang ditimbulkan karena sebuah kecepatan sudah berada di atas ambang batas telinga manusia, membuat Ridwan sudah tidak mendengarkan apapun lagi.
Ridwan menoleh ke sana kemari dengan sebuah ketakutan. Tidak ada yang dapat Ridwan lihat. Hanya warna putih di luar kaca yang dapat Ridwan lihat.
Ridwan melihat jam digital yang berada di sebuah tabung di depannya, sedang berputar tanpa menunjukkan sebuah angka. Sesekali, Ridwan mendengar sebuah suara yang sangat menakutkan. Seperti suara dari seekor paus, tetapi bukan suara dari seekor paus.
Suara yang tiba-tiba terdengar lalu kembali menghilang. Tetapi suara tersebut tidak benar-benar menghilang. Hanya saja, frekuensi yang terjadi lebih besar dari frekuensi maksimal yang dapat di dengar manusia.
"Kapan ini akan berakhir..?" Ridwan yang mulai bosan, bergumam dengan melihat semua kenormalan pada mesin waktu yang Ridwan gunakan.
"Aahh.." Tiba-tiba cahaya matahari menyilaukan mata Ridwan. Dengan perlahan Ridwan membuka matanya yang terkejut dengan silau matahari yang secara tiba-tiba menggantikan warna putih sebelumnya.
Setelah Ridwan menormalkan matanya, Ridwan melihat tempat sekitar. Terlihat tumbuhan liar berada di sekitar mesin waktu yang kini sudah berhenti berputar secara tiba-tiba.
"Apakah aku sudah sampai..?"
Jleeesss… Terdengar suara kunci pintu hidrolik terbuka secara otomatis. Hal yang menandakan jika Ridwan telah sampai pada tujuannya.
Lalu Ridwan melihat tanggal dan jam yang berada di sebuah layar. Tertera tanggal yang berada di sana adalah tanggal di mana hari saat Reisya mengalami kecelakaan.
Melihat tanggal dan waktu tersebut, dengan segera Ridwan keluar dari mesin waktunya. Setelah berada di luar mesin waktu, Ridwan menekan sebuah tombol pada remote yang Ridwan pegang. Setelah tombol pada remot di tekan, mesin waktu yang Ridwan miliki berkamuflase dengan lingkungan sekitar.
"Ini adalah tanah kosong tempat gedung penelitian sebelum aku beli." Ridwan membatin dengan terus membuat jalan setapak supaya dirinya dapat keluar dari tempat itu dengan cepat.
Setelah dapat keluar dari tempat tersebut, Ridwan berlari menuju halte tempat Reisya menjadi korban kecelakaan. Waktu menunjukkan jika Ridwan masih memiliki waktu 1 jam lagi.
"Aku harus menaiki sebuah kendaraan." Ridwan bergumam saat melihat seorang ojek online sedang beristirahat.
Dengan segera Ridwan meminta di antar ke halte tempat terjadinya kecelakaan. Dalam perjalanan, terlihat jika Ridwan sangat gelisah karena khawatir jika Ridwan akan datang terlambat.
Ridwan meminta ojek online untuk bergerak lebih cepat. Sebab, dalam kesempatan ke dua ini. Ridwan tidak ingin kembali gagal. Ridwan ingin menyelamatkan Reisya dari maut karena menjadi korban kecelakaan.
Kini Ridwan sudah sampai di halte tempat terjadinya kecelakaan 30 menit sebelum kejadian. Ridwan menoleh ke sana kemari, melihat arah datangnya Reisya yang tidak di ketahui oleh Ridwan.
Ridwan ingin segera membawa Reisya sebelum terjadi insiden kecelakaan di halte bus.
5 menit sebelum insiden kecelakaan, Reisya juga masih belum sampai di halte. Hal itu semakin membuat Ridwan gelisah. Sebab jika semakin dekat waktunya, itu artinya Ridwan tidak memiliki waktu yang lama untuk mengajak Reisya meninggalkan lokasi insiden kecelakaan.
Saat waktu menunjukkan kurang 3 menit dari insiden kecelakaan, Ridwan melihat Reisya sedang berjalan kaki dari arah timur menuju Halte bus. Melihat Reisya, dengan segera Ridwan berlari menuju Reisya dan segera menggandengnya dan menariknya menjauh dari lokasi kecelakaan.
****
"Mas Ridwan.." Reisya bergumam saat melihat Ridwan sedang berlari menuju ke arahnya.
"Aa… Aaahh… Kita mau kemana mas?" Reisya berbicara saat tangan Reisya di tarik oleh Ridwan dan di jak berlari menjauhi halte bus.
"Aaauu.. Mas sakit.. Kita mau kemana..?" Mendengar keluhan dari Reisya, Ridwan segera melepaskan genggamannya saat di rasa berada di tempat aman.
"Hai sayang.." Ridwan segera menyapa Reisya dengan panggilan yang belum pernah Reisya dengar dari mulut Ridwan sebelumnya.
Mendengar panggilan itu, Reisya tersenyum tersipu malu. Senyuman Reisya tersebut, seakan mengobati semua kerinduan Ridwan selama ini.
setiap org mengharapkan dpt istri salehah yg selalu berbakti pd suami, krn tanggungan sebagai suami itu sangat lh berat..
penelitian apa yg membuat Ridwan tega meninggalkan istri yg baru 1 hari dinikahinya..