NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Pewaris Kaya

Istri Kontrak Sang Pewaris Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Maysha

Karena terjebak utang keluarga yang menumpuk, Anya terpaksa menerima tawaran menjadi istri kontrak Arga, seorang pewaris perusahaan terkaya yang dikenal dingin dan tak pernah percaya pada cinta. Perjanjian mereka hanya berlaku satu tahun: tidak ada ikatan batin, tidak ada rasa sayang, dan akan berakhir begitu waktunya habis. Namun seiring berjalannya hari, kehadiran Anya perlahan mencairkan hati yang sudah lama membeku. Akankah hubungan yang diawali dengan perjanjian ini berakhir dengan perpisahan, atau justru tumbuh menjadi cinta yang tak terpisahkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Maysha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Jejak Kaki yang Ditinggalkan

Langkah Raka memegang kendali Wijaya Group bukanlah sekadar pergantian pimpinan, melainkan awal dari babak baru yang ingin ia bangun dengan landasan lebih kokoh. Di usia dua puluh lima tahun, ia tidak membawa perubahan yang mendadak dan drastis, melainkan menyempurnakan apa yang sudah ada, serta menambahkan hal-hal yang menurutnya bisa membuat perusahaan semakin bermanfaat bagi banyak pihak.

Pagi itu, Raka duduk di ruang kerjanya yang luas namun tertata rapi. Di atas meja, tidak hanya tumpukan laporan keuangan, tetapi juga catatan-catatan lama milik Kakek dan Ayahnya yang pernah ia baca berulang kali. Jari-jarinya menyentuh sampul buku catatan itu, seolah merasakan pengalaman dan pemikiran yang tertulis di dalamnya.

Sebelum rapat dimulai, ia memanggil sekretarisnya. “Sampaikan kepada semua kepala bagian, hari ini kita tidak hanya membahas target keuntungan, tapi juga bagaimana kita bisa meningkatkan kesejahteraan karyawan dan mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan operasional kita.”

Saat rapat berlangsung, salah satu kepala bagian keuangan menyampaikan pendapatnya. “Tuan Raka, jika kita menaikkan tunjangan dan menambah biaya perawatan lingkungan, keuntungan bersih kita akan menurun sekitar delapan persen tahun ini.”

Raka mendengarkan dengan tenang, lalu menjawab dengan nada yang tenang namun tegas. “Saya sadar angka itu akan berkurang untuk sementara. Tapi coba kita lihat jangka panjangnya: karyawan yang merasa dihargai akan bekerja lebih giat dan setia. Lingkungan yang terjaga akan membuat kita tetap bisa beroperasi dengan aman selama puluhan tahun ke depan. Keuntungan yang turun sedikit hari ini adalah investasi agar kita tidak terpuruk di masa mendatang.”

Ia tidak berbicara dengan nada memerintah, melainkan menjelaskan dengan logika yang bisa dimengerti semua orang. Wajahnya tenang, hanya ada sedikit kerutan di dahinya tanda ia memikirkan setiap keputusan dengan matang. Tangannya yang tergenggam di atas meja terlihat kokoh, tanpa terlihat gugup sama sekali.

Keputusan itu pun disetujui. Beberapa bulan kemudian, hasilnya mulai terasa: tingkat kesalahan produksi menurun, kehadiran karyawan lebih teratur, dan nama Wijaya Group mulai dikenal sebagai perusahaan yang peduli lingkungan.

Di sisi lain, Raka juga terus mengembangkan program sosial yang telah dirintisnya bersama Anya. Kali ini, ia ingin membangun sekolah kejuruan gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, agar mereka memiliki keterampilan yang bisa diandalkan untuk masa depan.

Suatu sore, ia mengunjungi lokasi tanah yang akan dijadikan bangunan sekolah itu. Bersamanya ada Arga dan Anya. Angin sore berhembus membawa debu halus, namun Raka tidak merasa terganggu. Ia berjalan mengelilingi lahan itu, matanya memandang jauh seolah membayangkan bagaimana bangunan itu nantinya berdiri kokoh, penuh dengan tawa dan semangat belajar anak-anak.

“Kamu yakin ingin mengembangkan dana sebesar ini untuk proyek ini?” tanya Arga dengan nada penuh perhatian.

Raka berhenti sejenak, lalu menoleh ke ayahnya. “Saya yakin, Ayah. Jika kita hanya mengumpulkan kekayaan dan tidak menyebarkannya untuk kebaikan, kekayaan itu hanya akan menjadi beban bagi kita. Membuka kesempatan bagi mereka yang kurang beruntung adalah cara terbaik untuk menjaga keberkahan usaha kita.”

Anya tersenyum mendengar jawaban itu. Matanya sedikit berkaca, bukan karena sedih, melainkan rasa bangga yang meluap. Ia melangkah mendekat, meletakkan tangan di lengan putranya. “Ibu mendukungmu sepenuhnya. Ingat, setiap kebaikan yang kita tanam akan tumbuh menjadi pohon yang rindang dan meneduhkan banyak orang.”

Namun, tidak semua orang melihat perubahan ini dengan pandangan yang sama. Ada beberapa pemegang saham lama yang merasa tidak puas karena keuntungan menurun, dan mulai menyebarkan pendapat bahwa Raka terlalu lunak dan tidak pandai mengelola uang. Bahkan ada yang mengusulkan agar ia mengubah kebijakan itu kembali seperti semula.

Raka menghadapi situasi ini dengan kepala dingin. Ia memanggil mereka untuk bertemu, lalu menyampaikan laporan secara rinci, lengkap dengan data dan perhitungan jangka panjang.

“Kita tidak membangun perusahaan ini hanya untuk memenuhi keinginan sesaat. Jika kita hanya memikirkan keuntungan hari ini, kita akan melupakan apa yang membuat kita bisa bertahan sampai sekarang. Kepercayaan karyawan, dukungan masyarakat, dan keberkahan dalam usaha itu jauh lebih berharga daripada angka di atas kertas,” jelasnya dengan suara yang mantap.

Wajahnya tidak terlihat marah atau tertekan. Ia hanya berdiri tegak, matanya menatap lurus ke depan, seolah membawa keyakinan yang tak tergoyahkan. Tangannya menggenggam laporan itu dengan erat, namun tidak sampai meremasnya terlalu keras.

Setelah mendengar penjelasan yang jelas dan rasional itu, perlahan keraguan di hati mereka mulai hilang. Mereka menyadari bahwa pemimpin muda ini memang memiliki visi yang jauh ke depan, bukan sekadar mengikuti arus semata.

Di tengah kesibukan itu, Raka juga tetap meluangkan waktu untuk menemani Kakeknya yang sudah semakin tua. Setiap sore, ia selalu menyempatkan diri duduk bersama Tuan Wijaya di teras rumah, menceritakan perkembangan usaha dan kegiatan sosial yang ia lakukan.

Suatu sore, saat matahari mulai terbenam mewarnai langit dengan jingga lembut, Tuan Wijaya memegang tangan cucunya. Kulitnya yang keriput terasa hangat dan lembut saat menyentuh telapak tangan Raka.

“Nak, Kakek sudah melihat banyak hal selama hidup ini. Banyak orang kaya yang akhirnya hancur karena sombong dan lupa diri. Tapi kamu… kamu melangkah dengan hati yang jernih. Ingatlah, kekuasaan dan kekayaan itu hanyalah titipan. Yang akan tetap ada selamanya adalah jejak kebaikan yang kita tinggalkan untuk orang lain.”

Raka menundukkan kepala, lalu menatap mata kakeknya dengan penuh rasa hormat. “Saya mengerti, Kakek. Saya tidak akan pernah melupakan ajaran yang telah diberikan. Saya ingin apa yang dibangun ini tidak hanya diwariskan sebagai harta, tapi juga sebagai teladan yang bisa diikuti oleh generasi setelah saya.”

Malam itu, saat seluruh rumah sudah sunyi dan lampu-lampu mulai padam, Arga dan Anya berjalan melewati ruang kerja kecil di sudut rumah. Dari balik kaca jendela, mereka melihat cahaya lampu meja yang masih menyala. Raka duduk di sana, membuka buku catatan dan peta lokasi pembangunan sekolah kejuruan itu. Jarinya menulis dengan rapi, menyusun rencana demi rencana, memikirkan setiap kebutuhan secara rinci.

Ia tidak terlihat lelah, justru terlihat tenang dan fokus. Sesekali ia mengusap pelipisnya, lalu kembali menulis. Sesekali ia berhenti sejenak, menatap ke luar jendela, seolah membayangkan masa depan yang ingin ia wujudkan.

“Lihatlah dia,” bisik Arga pelan. “Ia tidak hanya mendengar nasihat, tapi benar-benar mengubahnya menjadi tindakan. Itu yang membuatnya berbeda.”

Anya mengangguk, matanya masih menatap sosok putranya dengan rasa syukur yang mendalam. “Ya, dia sudah memahami bahwa memegang amanah berarti membawa manfaat, bukan sekadar menikmati hasilnya.”

Raka melanjutkan perjalanannya dengan tenang namun pasti. Setiap keputusan yang diambil, setiap langkah yang diambil, selalu didasari oleh prinsip yang sama: kejujuran, keadilan, dan kepedulian. Ia membuktikan bahwa menjadi pewaris bukan berarti hidup dalam kemewahan semata, melainkan memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjaga dan melanjutkan kebaikan yang telah dibangun oleh orang-orang terdahulu.

Jejak kakinya mulai terlihat jelas — bukan hanya dalam bentuk bangunan atau angka keuntungan, tapi dalam senyum karyawan yang sejahtera, harapan anak-anak yang mendapatkan kesempatan belajar, dan kepercayaan masyarakat yang semakin kuat.

Dan di bawah langit malam yang tenang, Raka terus melangkah, membawa warisan yang tak ternilai harganya, siap menulis lembaran baru yang lebih indah dan penuh makna bagi keluarga Wijaya dan banyak orang di sekitarnya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!