"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"
[DARK ROMANCE]
[OBSESI]
[CEO]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDB 7
Layla duduk termenung sendiri di depan koper setelah keluar dari asrama.
Di tengah kebingungan itu, Layla teringat pada Riri, sahabat sekaligus bosnya di toko bunga.
Akhirnya dia menelfon Riri si pemilik toko bunga untuk meminta bantuan.
Layla mengambil ponselnya yang ada di tas.
"Hallo bos, selamat siang. Boleh enggak aku minta bantuan kamu, Ri?"
Riri mengeryitkan dahi.
Riri khawatir.
"Ada apa sama kamu? Kamu enggak papa, kan?" tanya Riri.
Dengan suara yang mampir tidak terdengar Layla berkata...
"Aku dipecat, Ri. Aku dituduh melakukan kesalahan yang sebenarnya bukan aku pelakunya. Aku benar-benar bingung harus bagaimana. Perusahaan juga enggak kasih waktu buat cari tempat tinggal dulu. Tolong... izinin aku tinggal sementara di toko. Di gudang juga enggak apa-apa," Layla memelas.
Riri merasa ragu dan cemas.
"Aduh, gimana ya. Kalo ketauan yang punya gedung bisa-bisa harga sewa naik" ucap Riri.
Layla memohon...
"Ayolah Ri, Please. Sementara aja" kata Layla.
Riri menghela nafas panjang.
"Ok deh, aku kasih kamu waktu seminggu buat tinggal di toko. Cepet-cepet cari tempat sewaan ya. Dan jangan sampai ketauan sama yang punya gedung. Ok" kata Riri.
"Ok, makasih. Sekarang jg aku ke situ" ucap Layla.
Layla merasa senang ia seperti menemukan harapan kembali.
Selama tiga hari berikutnya, hidup Layla hanya berisi pekerjaan. Pagi hingga sore ia merangkai bunga di toko milik Riri. Saat jam istirahat, ia mengambil pekerjaan tambahan seperti membersihkan kandang hewan peliharaan atau mengajak anjing pelanggan berjalan-jalan. Malam harinya, ia berkeliling mencari kamar sewa murah. Namun hingga hari keempat, tak satu pun tempat yang sesuai dengan kemampuannya.
Suatu hari saat waktu istirahat, Riri menghamdiri Layla yang sedang duduk santai sambil memakan roti lapis isi selai dan sebotol air.
"Aku udah perhatiin empat hari ini kamu selalu makan itu. Apa seenak itu sampe kamu enggak bosen?" ucap Riri.
Dengan santainya Layla menjawab,
"Ya, enggak juga sih. Kan aku harus hemat Ri"
Riri menghela nafas mendengar jawaban dari Layla
"Kamu hemat apa pelit sama diri kamu sendiri sih? Hidup itu harus di nikmatin,'' ucap Riri.
Dengan tenang Layla membalas perkataan Riri.
"Iya ini aku udah nikmatin kok. Aku udah nikmatin segala cobaan yang Tuhan kasih ke aku. Itu artinya Dia cinta aku."
Riri tersenyum.
Ia penasaran bagaimana Layla bisa bertahan dengan cobaan yang menerpanya secara bertubi-tubi.
Riri menatap lembut Layla.
"Kamu hebat, Layla. Apa yang membuatmu bisa bertahan hingga detik ini? tanya Riri.
Layla mulai menceritakan alasannya..
"Yang pertama keluarga, yang kedua aku percaya banget bahwa ada kesulitan pasti juga ada kemudahan. Aku percaya Tuhan itu Maha Adil. Aku percaya di balik semua badai yang aku hadapin sekarang ini pasti ada hikmah atau sesuatu yang indah setelah nya."
Layla menjawab dengan santai namun meyakinkan sambil menghabiskan makan siangnya itu.
Mendengar jawaban dari Layla, Riri jadi ingat masa lalunya saat sang ibu masih hidup.
"Aku jadi inget, mendiang ibu aku. Beliau juga single parent. Beliau orang yang kuat banget dan beliau segalanya buat aku. Aku bikin toko bunga ini juga karena beliau. Karena ibu aku dari dulu punya cita-cita jadi florist dan punya toko sendiri. Ayah dan ibuku cerai gara-gara ayah selingkuh sama sahabat ibu. Ayahku bersikeras buat nikahi selingkuhannya itu dengan alasan ibu udah enggak cantik lagi seperti dulu. Setelah mereka udah nikah, ayah mengetahui bahwa ibu lagi ngandung aku di umur 2 bulan. Ayah nyuruh ibu buat gugurin kandungan nya, kata ayah aku anak pembawa sial. Tapi ibu nolak, dia janji enggak akan nuntut nafkah buat anak dengan syarat jangan ganggu kehidupan ibu sama aku lagi. Susah seneng kami jalani bareng-bareng," kata Riri.
Kurir datang membawa sebuah amplop cokelat berlogo firma hukum. Jantung Layla berdegup lebih cepat. Tangannya gemetar saat membuka amplop itu. Semakin jauh matanya membaca, wajahnya semakin pucat.
Isi surat itu membuat napas Layla tercekat. Mantan perusahaannya menuntut ganti rugi sebesar satu juta dolar yang harus dilunasi dalam waktu dua tahun. Jika gagal, ia terancam diproses secara hukum.
Kabar itu membuat Layla sangat sedih. Ia mempertanyakan kenapa semua ini terjadi pada dirinya.
Saat semuanya pergi dari aktivitas mereka, Layla menangis sendiri di tempat istirahat nya sambil memegang foto kecil di tangan.
Foto itu satu-satunya kenangan yang ia bawa dari rumah untuk mengenang mendiang suami.
Foto itu ia simpan rapih di dalam dompet yang selalu ia bawa kemanapun Layla pergi. Sebelumnya ia mempunyai cincin pernikahan mereka namun hilang entah kemana.
Di kamar yang sempit dan minim cahaya. Layla meringkuk di kasur. Menangis sesegukan.
"Suami ku, saat waktu pertama kita menikah, kita juga mengalami cobaan ekonomi yang luar biasa. Kamu selalu menyemangati ku, mengajaku terus tumbuh walaupun di tengah krisis. Kita berjuang bersama mulai dari minus hingga sampai akhirnya usaha kita maju lalu di karuniai dua anak yang cantik dan tampan. Saat itu aku begitu egois, aku menginginkan sesuatu yang sebenarnya bisa aku tunda.
Sampai sekarang aku masih sering bertanya-tanya... seandainya malam itu aku tidak mengajakmu keluar, apakah kamu masih ada di sampingku? Aku minta maaf. Sekarang aku tau yang kamu rasakan saat dulu kamu berjuang mati-matian untuk membahagiakan aku dan anak-anak. Aku merasakan itu sekarang sayang, tapi aku merasa kesulitan untuk melaluinya karena tidak ada lagi kamu di samping ku. Aku kangen kamu sayang, aku kangen."
Layla memeluk foto itu semakin erat.
"Aku kangen di peluk kamu saat hati ini lelah. Aku kangen di masakin telur dadar sederhana waktu aku lagi enggak nafsu makan. Aku kangen kamu saat kita berdoa bersama. Aku kangen kamu, semua tentang kam," ucap Layla pilu
Layla berduka mengenang mendiang suami tercinta. Tangis Layla pecah seakan membelah sepinya malam.
Jauh dari tempat itu.
Zhao Lee sedang duduk di meja kerja pribadinya, ia menatap ke arah luar jendela.
Terlihat bulan bersinar terang di malam itu.
Ilusi Layla selalu muncul di benaknya.
Zhao Lee melirik alat pelindung diri berwarna pink yang dulu di berikan Layla untuknya di atas meja.
Ia meraih dan mencengkram benda itu dengan erat.
"Sebentar lagi kita akan bertemu, Layla," gumam Zhao Lee.
Zhao Lee tersenyum tipis.
"Hortensiaku..."
...****************...
Ini novel pertama ku semoga kalian enjoy bacanya ya temen-temen.
Terimakasih yang udah dukung aku
semoga hidup kalian lancar jaya..❤️
Jangan lupa like, komen, share, gift juga boleh, kasih bintang juga boleh...☺️