Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Suara deru mesin Rolls-Royce milik Dixon perlahan menjauh, menandakan sang kepala keluarga telah sepenuhnya meninggalkan area mansion. Begitu gerbang besi depan berdenting menutup, atmosfer di dalam ruang makan yang semula hening membeku seketika berubah menjadi medan perang yang mencekam.
Amora bangkit dari kursi makarnya dengan sentakan kasar, hingga kursi berukir mewah itu terdorong ke belakang dan menimbulkan suara decitan nyaring di atas lantai marmer. Wajah cantiknya yang angkuh kini sepenuhnya terdistorsi oleh kedengkian yang telah membakar dadanya sejak semalam.
Cia, yang masih berdiri di samping meja dengan piring berisi nasi goreng yang ditolak, menatap Amora dengan pandangan yang mendadak kembali sayu dan rapuh. Ia sengaja tidak langsung membalas, menunggu momentum ledakan amarah dari putri tiri tiruannya.
"Sekarang Daddy sudah pergi, jalang!" sembur Amora, suaranya melengking tajam memecah kesunyian rumah.
Langkah kakinya yang mengenakan selop rumah mewah menghentak cepat, mengikis jarak di antara mereka. Sebelum Cia sempat bergerak mundur, Amora melayangkan tangan kanannya dengan kecepatan penuh di udara.
PLAK!
Suara tamparan yang teramat keras dan nyaring menggema di ruangan itu. Telapak tangan Amora mendarat telak di pipi mulus Cia, begitu kuat hingga membuat kepala Cia terhentak ke samping. Kekuatan tamparan itu tak main-main; tubuh ramping Cia limbung dan kehilangan keseimbangan, membuatnya jatuh tersungkur ke atas lantai marmer yang dingin. Piring porselen di tangannya terlepas, hancur berkeping-keping dengan sisa makanan yang berserakan di sekeliling tubuhnya.
Pipi kiri Cia seketika berubah merah padam, berdenyut nyeri. Namun, Amora yang sudah kesetanan belum puas. Melihat Cia yang terduduk lemah di lantai di antara pecahan beling, Amora justru maju, membungkuk kasar, dan langsung mencengkeram segenggam penuh rambut hitam panjang Cia yang terurai.
"Akhh!" Cia meringis pelan, kepalanya terpaksa mendongak ceking akibat jambakan brutal Amora.
"Lo pikir dengan pasang muka melas di depan Daddy tadi, lo bisa aman di rumah ini, hah?!" caci Amora, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Cia, napasnya memburu panas sarat akan racun. "Dengar ya, Valencia! Lo itu cuma sampah! Pelayan toko kue miskin yang beruntung bisa merangkak ke ranjang Daddy gue! Jangan pernah bermimpi lo bisa jadi nyonya di sini! Lo gak lebih dari sekadar pelacur murahan yang mengincar harta Alessandro!"
Jambakan tangan Amora semakin mengencang, menarik kulit kepala Cia hingga memutih. Amora mencaci maki tanpa kendali, meluapkan seluruh ketakutan kriminalnya yang menyamar sebagai keangkuhan sosial. "Mau lo apa, hah?! Mau balas dendam soal kecelakaan paman dan bibi lo yang payah itu? Silakan coba! Gak akan ada yang percaya sama pelayan melarat kayak lo! Daddy lebih memilih membuang lo ke tempat sampah daripada dengerin omongan sampah lo!"
Di bawah tekanan rasa sakit yang mendera kulit kepalanya, Cia tidak membalas dengan tatapan iblisnya. Mengingat para pelayan rumah yang mungkin sedang menguping dari balik koridor, Cia memilih mempertahankan topeng korbannya. Ia menatap mata Amora yang memerah, membiarkan air mata tulus akibat rasa sakit fisik mengalir membasahi pipinya yang memar.
"Amora... tolong lepaskan... ini sakit," cicit Cia dengan nada suara yang teramat lunak, lemah, dan bergetar hebat penuh kepasrahan. Kedua tangan kecilnya memegang pergelangan tangan Amora, mencoba memohon. "Aku... aku tidak pernah berniat merebut apa pun darimu. Demi Tuhan, aku hanya ingin menjadi ibu baru yang baik untukmu di rumah ini... Aku ingin mengurusmu dan Mas Dixon..."
"Ibu baru?! Ibu baru lo bilang?!" raung Amora, semakin meradang mendengar kata yang paling diharamkannya itu. Ia menyentak jambakannya ke bawah, membuat kepala Cia hampir membentur lantai, sebelum akhirnya melepaskannya dengan hentakan yang kasar hingga Cia terjerembab kembali.
Amora berdiri tegak, meludahi lantai di dekat kaki Cia dengan tatapan yang luar biasa jijik. "Mati aja lo! Sampai kapan pun, lo cuma jalang pembawa sial yang gak sudi gue akuin! Kalau dalam minggu ini lo gak angkat kaki dari rumah ini, gue sendiri yang bakal bikin hidup lo berakhir tragis kayak paman dan bibi lo yang mati mengenaskan itu!"
Setelah melontarkan makian terakhirnya yang teramat kejam, Amora berbalik dengan angkuh, menghentakkan kakinya menjauh dan menaiki tangga menuju kamarnya, meninggalkan kekacauan besar di ruang makan.
Suasana kembali sunyi senyap.
Cia masih terduduk di atas lantai marmer yang dingin, di antara pecahan porselen yang tajam. Rambut hitamnya berantakan, dan pipi kirinya mulai membengkak membentuk bekas kemerahan yang jelas. Ia perlahan mengangkat kepalanya, menatap ke arah tangga tempat Amora menghilang.
Detik itu juga, air mata di wajah cantiknya mendadak kering kerontang. Sorot mata yang tadinya layu dan penuh permohonan seketika sirna, digantikan oleh sepasang manik mata yang memancarkan kilat kegelapan yang teramat pekat, dingin, dan mengerikan.
Cia menyentuh pipinya yang memar dengan ujung jarinya, lalu melihat pantulan dirinya di pecahan piring kaca di dekatnya. Bukannya meringis kesakitan, sebuah seringai iblis yang sangat lebar dan menakutkan justru perlahan terukir di bibir ranumnya. Cia terkekeh rendah, suara tawanya terdengar begitu dingin meremangkan bulu kuduk.
“Tamparan yang bagus, Amora... jambakan yang sangat luar biasa,” batin Cia bersorak pekat dengan kepuasan yang teramat dahsyat. “Teruslah menjadi monster yang kejam di rumah ini. Biarkan seluruh pelayan melihatnya, dan biarkan luka di wajahku ini menjadi bukti yang abadi.
Dengan sisa amarah yang masih membakar dada dan napas yang memburu, Amora menyambar kunci mobil Porsche-nya. Ia mengemudikan mobil sport itu dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota tanpa memedulikan rambu-rambu, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah penthouse mewah milik sahabat karibnya, Vanya—seorang sosialita muda yang juga terkenal dengan kelicikannya di lingkaran pergaulan mereka.
Brak!
Amora membuka pintu penthouse Vanya dengan sentakan kasar, membuat Vanya yang sedang bersantai di sofa sembari menikmati kepulan asap vapor terlonjak kaget.
"Astaga, Amora! Lo kalau masuk bisa biasa aja nggak, sih? Hampir copot jantung gue!" omel Vanya sembari meletakkan alat vapor-nya ke atas meja kaca. Namun, begitu melihat penampilan Amora yang berantakan, dengan mata sembap memerah dan napas naik-turun menahan pasang surut emosi, raut wajah Vanya seketika berubah. "Eh... lo kenapa, Ra? Kok muka lo kusut banget kayak baju belum disetrika? Bukannya hari ini lo harusnya happy baru pulang dari luar negeri?"
Amora melemparkan tas Chanel mewahnya ke lantai dengan kasar, lalu menghempaskan tubuhnya di samping Vanya. Air mata frustrasinya kembali luruh.
"Gimana gue bisa happy, Vanya?! Rumah gue... istana Daddy gue... sekarang udah kemasukan parasit menjijikkan!" raung Amora dengan suara melengking, jemarinya mencengkeram bantal sofa dengan erat untuk menyalurkan dendamnya.
Vanya mengerutkan dahi dalam-dalam, semakin dibuat penasaran. "Parasit? Maksud lo apa sih? Jangan bikin gue bingung deh. Siapa yang berani masuk ke rumah keluarga Alessandro?"
"Valencia!" desis Amora dengan gigi yang menggeretak rapat, sepasang matanya memancarkan kilat kebencian yang teramat pekat. "Pelayan toko kue miskin yang dulu pernah gue depak itu... dia sekarang ada di rumah gue! Dan yang paling bikin gue gila... dia udah nikah sama Daddy gue, Van! Dia sekarang jadi ibu tiri gue!"
Uhuk! Uhuk!
Vanya seketika tersedak air liurnya sendiri. Sepasang matanya membelalak sempurna, menatap Amora seolah sahabatnya itu baru saja kehilangan akal sehatnya. "Apa?! Lo serius, Ra?! Pak Dixon... CEO Aethelgard Group yang terkenal dingin, kaku, dan gak tersentuh wanita mana pun itu... nikah sama cewek rendahan kayak Valencia?! Gak mungkin, Ra! Lo pasti lagi bercanda, 'kan?!"
"Gue gak bercanda, Vanya! Gue liat dengan mata kepala gue sendiri tadi pagi! Si jalang itu bahkan berani pakai piyama di kamar utama Daddy, dan Daddy sama sekali gak bantah waktu perempuan itu ngaku sebagai istrinya!" Amora berteriak histeris, menjambak rambutnya sendiri mengingat kejadian sarapan pagi tadi. "Tadi pagi gue udah nampar dan jambak dia habis-habisan di ruang makan. Tapi lo tahu apa yang bikin gue makin takut? Dia tahu soal masa lalu kita... Dia tahu soal kecelakaan paman dan bibinya! Dia ngancem bakal bongkar semuanya ke Daddy!"
Mendengar kata "kecelakaan", wajah Vanya sempat menegang sesaat. Sebagai orang yang ikut membantu menutupi jejak kriminal Amora di masa SMA, Vanya tahu seberapa besarnya bahaya yang sedang mengintai mereka jika Dixon Luca Alessandro sampai mengetahui kebenarannya.
Vanya terdiam cukup lama, mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja kaca sembari otaknya yang licik mulai berputar mencari jalan keluar. Setelah menimbang-nimbang risiko, sebuah senyuman penuh kelicikan perlahan terukir di bibir Vanya. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Amora, menepuk-nepuk bahu sahabatnya untuk menenangkannya.
"Dengar, Amora. Menangis dan ngamuk kayak gini gak bakal bikin si jalang itu keluar dari rumah lo," ucap Vanya dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi teramat dingin dan penuh siasat. "Dan tindakan lo yang main fisik tadi pagi itu bodoh banget. Kalau Pak Dixon tahu lo nampar dia, posisi lo justru bisa terancam karena bokap lo itu tipe pria yang megang komitmen."
Amora mendongak, menyeka air matanya dengan kasar. "Terus gue harus gimana, Van?! Gue gak bisa biarkan dia lama-lama di sana! Hidup gue di ujung tanduk kalau dia sampai buka mulut ke Daddy!"
Vanya terkekeh pelan, sebuah kekehan yang meremangkan bulu kuduk. "Kalau lo gak bisa mengusir dia dengan cara kasar... maka kita harus pakai cara yang halus tapi mematikan. Kita harus menjebak dia, Amora."
Amora mengernyitkan dahinya. "Menjebak? Maksud lo?"
"Bikin sebuah skenario di mana si Valencia itu kelihatan bersalah dan berkhianat di depan mata Pak Dixon sendiri," bisik Vanya tepat di telinga Amora, sepasang matanya berkilat penuh kelicikan. "Kita buat seolah-olah dia berselingkuh dengan pria lain, atau buat skenario seolah dia mencoba meracuni lo atau mencuri dokumen rahasia perusahaan Aethelgard. Pria sekaku dan sedingin Pak Dixon pasti punya ego yang luar biasa tinggi. Sekali dia melihat dengan matanya sendiri kalau istri barunya itu mengkhianatinya atau membahayakan putri kesayangannya, dia gak bakal ragu buat langsung mendepak perempuan itu ke penjara tanpa ampun."
Vanya menyeringai lebar, menatap Amora yang perlahan-lahan mulai menghentikan tangisnya. "Biarkan si jalang itu merasa di atas angin sekarang. Tugas lo sekarang adalah pulang, pasang muka manis, dan tunggu umpan yang bakal kita siapkan untuk menjebaknya sampai dia gak punya kesempatan lagi untuk membela diri."
Mendengar rencana busuk dari Vanya, ketakutan di wajah Amora perlahan sirna, digantikan oleh sebuah senyuman licik yang kembali merekah. Kedua tangannya mengepal erat, menyetujui permainan kotor yang akan segera mereka mulai untuk menyingkirkan Cia dari istana Alessandro.
toh Dixon ga menghargai kamu
mending kamu pergi
balas dendam bisa lewat apa aja
jarak jauh pun bisa
kamu punya bukti2 aborsi Amora
kamu bisa kirim bukti itu ke Dixon,
ngapain harus merendahkan diri sendiri
kalo Dixon cinta sama kamu pasti akan cari kamu