Yvaine, ratu es yang legendaris di pasukan khusus, mengalami pengkhianatan dalam misinya. Dua tembakan menghantam tubuhnya, dan dia jatuh tak bernyawa di tempat.
Namun, ketika Yvaine membuka matanya lagi, dunia telah berubah. Kini dia menjadi nyonya rumah dari keluarga besar yang menyepelekan dirinya, seorang istri yang marah tapi diabaikan suaminya, dan seorang ibu yang anaknya juga tak pernah memperhatikannya.
“Kalau aku tidak salah, kita sudah bercerai. Sekarang kamu malah masuk ke rumahku, mantanku tercinta,” suara dingin sang mantan terdengar.
Yvaine mengangkat dagu, duduk di ujung sofa dengan kaki terlipat, menebarkan aura sombong yang tak terbantahkan. “Kalau begitu… kita bisa menikah lagi,” ujarnya dengan tenang tapi penuh tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Hal yang paling mengejutkan bagi Tobias bukanlah kata-kata Yvaine, melainkan fakta bahwa jebakan ini begitu rapi.
Seorang wanita yang dulu ia pandang lemah, tidak berdaya dan mudah di kendalikan. Namun kini wanita itu berdiri di hadapannya, menghancurkan citranya hanya dengan beberapa kalimat.
“Bukannya dia tidak mau..” suara Yvaine kembali terdengar, menarik perhatian semua orang. Nada bicaranya terdengar ragu, seolah ia sedang mengungkap rahasia yang memalukan. “Atau.. tidak menyukaiku.”
Ia menunduk sedikit. Pura-pura malu.
“Setiap kali kami berada di tempat tidur.. semuanya dimulai dengan cukup baik.”
Kalimat itu membuat suasana langsung berubah canggung.
Beberapa orang bahkan menahan napas.
Namun Yvaine belum selesai. Ia mengangkat wajahnya perlahan, ekspresinya tampak penuh “kesedihan”.
“Tapi setelah itu..” ia berhenti sejenak, menggigit bibirnya, lalu menggeleng pelan. “Lupakan saja.”
Ia menarik napas dalam, seolah mengumpulkan keberanian. “Meskipun aku sudah menjadi seorang ibu,” lanjutnya lirih, “aku tetap seorang wanita.”
Tatapannya menyapu sekeliling, lalu kembali pada Tobias.
“Wanita mana di dunia ini yang bisa menerima memiliki suami yang tidak mampu.. ehem..?”
Kalimat itu jatuh seperti bom.
Semua orang terdiam. Bahkan suara napas pun terasa terlalu keras di tengah keheningan itu.
Yvaine menundukkan pandangannya lagi. “Namun aku berasal dari keluarga sederhana,” katanya pelan. “Dan dia adalah suamiku. Presiden Grup Raguel.”
Nada suaranya terdengar pasrah. “Jadi, meskipun aku terus merasa kecewa.. aku hanya bisa menahannya.”
Ia mengangkat wajahnya lagi. Dan kali ini senyumnya muncul dan Tobias tahu bahwa wanita itu memang sedang menyindirnya..
“Tapi hari ini.. aku akhirnya bebas dari itu semua.”
Ucapan itu terdengar seperti pernyataan kemenangan. Tanpa menunggu reaksi siapa pun, Yvaine tiba-tiba menarik lengan Louis.
Pria itu yang sejak tadi kaku seperti patung hampir kehilangan keseimbangan. Namun Yvaine hanya tersenyum cerah. Ia merangkulnya dengan santai.
“Dan sekarang,” katanya ringan, “aku akhirnya menemukan kebahagiaanku.”
Ia melirik Sofia.
“Saya harap.. Anda dan Presiden Tobias juga bisa bahagia.”
Kalimat itu terdengar seperti doa. Namun semua orang tahu juga tahu bahwa itu adalah sebuah sindiran.
Dan tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk merespons, Yvaine berbalik dan melangkah pergi.
Ia meninggalkan kafe itu, meninggalkan Tobias dan meninggalkan sekelompok orang yang masih terpaku di tempat mereka, seolah baru saja disambar petir.
Beberapa detik berlalu, tidak ada yang bergerak sebelum Yvaine benar-benar keluar dari sana lalu bisikan mulai terdengar pelan.
Presiden Grup Raguel. Pria yang berdiri di puncak dunia bisnis. Sosok muda, tampan, kaya, dan menjadi incaran banyak wanita..
Ternyata “Tidak mampu” melakukan tugasnya di tempat tidur.
Lebih mengejutkan lagi bahwa wanita itu mengaku telah menahan diri selama bertahun-tahun.
Bukan karena cinta. Melainkan karena takut pada kekuatan dan pengaruh keluarga Raguel.
Artinya Semua rumor yang selama ini mereka dengar bisa saja salah.
Bisa saja bukan Tobias yang membenci istrinyan melainkan istrinya yang selama ini berusaha melarikan diri darinya.
Informasi itu terlalu banyak dan mengejutkan. Beberapa orang bahkan terlihat seperti kehilangan arah.
Namun Seperti sifat manusia pada umumnya, begitu sebuah ide ditanamkan, maka imajinasi mereka mulai berkembang dengan sendirinya.
Dan Yvaine sangat memahami itu, dalam hitungan menit, berbagai kemungkinan mulai muncul di benak para pengunjung.
Banyak wanita yang menatap Tobias dengan rasa kasihan bahkan kekecewaan.
Di tengah semua itu, tawa nyaring tiba-tiba pecah.
“Ha ha ha!”
Sofia tidak bisa menahannya lagi. Ia memegangi perutnya, bahunya bergetar hebat.
“Ya Tuhan..,” katanya sambil terengah. “Apakah kamu yang sekarang dipermalukan?”
Ia mencoba menahan tawa, tapi gagal.
“Aku tidak pernah menyangka.. kita akan melihat hari seperti ini.."
Ia menutup mulutnya, namun tawa tetap keluar.
“Aduh.. aku benar-benar tidak kuat! perutku sakit..”
Ia bahkan harus memegangi perutnya, seolah khawatir tawa itu akan berdampak pada janin di dalamnya.
Namun begitu tawanya dimulai, itu malah menjadi sulit untuk dihentikan.
Sementara itu, wajah Tobias sudah sepenuhnya gelap. Ia duduk diam. Namun aura di sekitarnya berubah dingin.
cerita nya bagus
seruuuuu 👍😆