Tania dianggap sebagai pembawa sial karena semua pria yang berpacaran dengannya selalu berakhir dengan kematian tragis.
Hingga seorang detektif kepolisian bernama Zayn pun turun tangan karena ingin mengusut misteri kematian adiknya setelah berpacaran dengan Tania. Dia menyamar dan berpura-pura menyukai Tania untuk mendapatkan informasi darinya.
Namun, apakah yang akan terjadi ketika Zayn akhirnya benar-benar jatuh cinta pada Tania? Dan apa yang harus dilakukannya ketika berada di persimpangan dilema ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelidiki Kematian Andi
Sudah berapa hari ini Zayn dan Surya menyelidiki kematian Sima. Dan berdasarkan keterangan para saksi dan data medis Sima, ditemukan bahwa mereka yang berada di kamar Sima mendengar Sima sering menangis dan kadang berteriak.
Dari data medis Sima, diketahui bahwa gadis itu mempunyai riwayat penyakit kanker.
Dan mereka menyimpulkan bahwa, Sima sering menangis karena mengetahui bahwa ia terkena kanker. Dan pada saat berada di atap, ia memang akan melakukan bunuh diri. Namun, ia mengurungkan niatnya. Menurut Zayn, ada seseorang di belakangnya yang terus mencuci otaknya. Membuatnya merasa terguncang sebelum akhirnya mendorongnya ke bawah. Dan disimpulkan bahwa itu pembunuhan. Karena jika Sima memang bunuh diri secara alami, ia pasti akan menunjukkan ekspresi pasrah, bukan wajah seperti orang syok seperti di CCTV.
Zayn akan mencari bukti lebih. Namun, ia juga akan menyelidiki kasus kematian Andi. Pacar pertama Tania yang diketahui masuk ke dalam jurang.
Zayn sudah mendapatkan data medis Andi. Sekarang saatnya pergi ke TKP. Di sana, ia mulai melakukan penyelidikan dengan mobilnya dan mobil Surya.
"Sur, kamu datang dari arah sana seperti si pengendara lain, dan aku akan menjadi Andi," ujar Surya.
"Aku nabrak kamu nggak?"
"Ya jangan lah. Sempet-sempetnya kamu bercanda. Menurut keterangan para saksi, mereka melihat mobil Andi yang melaju dengan kecepatan tinggi. Di sini, ada mobil lain yang datang dan Andi yang terkejut langsung banting setir ke jurang itu." Menunjuk jurang yang tak jauh dari mereka.
"Itu terlihat seperti turunan bagiku," ucap Surya.
"Turunan? Itu dalem banget, mereka aja kesusahan mengevakuasi mobil dan jenazah Andi."
Kamu mau coba masuk? Biar aku bantuin."
"Hus, aku masih ingin hidup. Ya udah, buruan." Surya masuk ke dalam mobilnya.
Kemudian, Zayn melanjukan mobilnya. Mereka pun melakukan olah TKP berkali-kali sampai menemukan letak kesalahannya.
"Gimana, Zayn? Ini udah percobaan ke tiga belas kali."
"Aneh, Sur. Di posisiku, aku melihat Andi punya peluang belok di sebelah kiri. Karena jalanan masih lebar dan jika dia menabrak, itu, pohon-pohon kecil yang paling hanya merusak mobilnya aja."
"Bagaimana kalau mobil yang ada di depannya?"
"Aku sudah datangi pemiliknya. Dan katanya saat itu dia mengambil jalur yang salah sebab menghindari lubang. Itu, lubangnya sudah ditambal."
"Jadi, apa kesimpulan kamu?"
"Sepertinya Andi menyetir dalam keadaan panik. Dan ponselnya juga hancur lebur aki,,,,,," Zayn menghentikan ucapannya.
"Dasar bodoh! Kenapa aku lupa soal ponselnya." Surya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kenapa? Apa kamu mau memeriksa kartu simnya?"
"Benar, meminta bantuan Felix. Aku akan memintanya mendapatkan rekaman setiap telepon yang masuk ke ponselnya."
"Gila kamu, Zayn. Dia 'kan hacker."
"Nggak papa, dia punya hutang budi padaku. Dia nggak akan mengkhianati ku."
Mereka pun segera pergi menemui Felix yang berada di luar kota. Benar saja, Felix bersikap baik pada mereka.
"Ada yang bisa gue bantu?"
"Gue mau lo periksa setiap SMS serta panggilan yang masuk ke nomor ini." Zayn menyerahkan sebuah kartu ponsel milik Andi.
Surya terkejut karena Zayn memilikinya. "Bukannya pihak kepolisian nggak ngasih ini ke kita?"
"Ini memang bukan pemberian, aku hanya meminjam."
"Kamu mencuri kartunya waktu kita singgah ke kantor polisi, Zayn?"
"Enggak, aku cuma meminjam. Polisi payah itu nggak akan menyadari kalau kartu Andi ku bawa."
"Tapi bagaimana kalau ketahuan? Bisa dipecat kita, Zayn." Surya tampak sangat cemas.
"Nanti aku kembalikan. Tadi sudah aku tukar dengan kartu lain. Mereka nggak akan menyadarinya."
Surya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat ambisi Zayn.