Di dunia ini, tidak semua orang bekerja demi mengejar mimpi. Sebagian hanya berusaha bertahan hidup.
Ling Qi adalah salah satunya.
Sebagai penambang biasa di China, hidupnya dipenuhi debu tambang, utang yang terus menumpuk, dan hari esok yang tidak pernah menjanjikan harapan. Ketika sebuah kejadian menghancurkan sisa keberuntungannya, ia mengira hidupnya telah mencapai titik terendah.
Namun, jauh di bawah tanah, sebuah portal misterius membuka jalan menuju dunia yang belum pernah dijamah manusia.
Di balik kegelapan gua-gua kuno, tersembunyi mineral berharga, reruntuhan yang menyimpan rahasia, serta monster yang menjaga harta mereka dengan nyawa.
Di sana, Ling Qi memperoleh 《World Mining System》, sebuah sistem yang mengubah setiap ayunan pickaxe menjadi kesempatan untuk mengubah takdir.
Tetapi semakin dalam ia menambang, semakin ia menyadari bahwa dunia itu bukan sekadar tambang.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar menunggu di balik setiap portal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Debu hitam melayang di udara terowongan tambang batu bara Heishan, menempel di paru-paru siapa pun yang cukup malang untuk menghirupnya setiap hari selama bertahun-tahun. Ling Qi salah satunya.
Dia mengayunkan beliung ke dinding batu dengan gerakan yang sudah menjadi kebiasaan tubuhnya, meski dadanya terasa seperti dibakar dari dalam. Suara batuk kering keluar dari tenggorokannya, tertahan di balik masker kain yang sudah menghitam.
'Sudah tiga tahun aku batuk seperti ini. Dokter bilang paru-paru. Aku bilang, memangnya ada pilihan lain?'
Ling Qi berusia tiga puluh tahun, tetapi tubuhnya terlihat lebih tua sepuluh tahun dari usianya. Wajahnya kurus, matanya cekung, dan tangannya penuh kapalan dari beliung yang tidak pernah berhenti ia ayunkan sejak usia delapan belas tahun.
Ibunya terbaring sakit di rumah, di sebuah kamar sempit di pinggiran kota tambang. Untuk membiayai pengobatannya, Ling Qi sudah meminjam uang kepada seorang rentenir bernama Hou Dazhuang, hingga utangnya mencapai dua ratus ribu yuan. Bunga yang mencekik itu membuatnya harus turun ke tambang setiap hari tanpa jeda, bahkan ketika tubuhnya menolak.
Ayunan beliungnya berhenti mendadak. Sesuatu berkilau di antara reruntuhan batu yang baru saja ia pecahkan.
Ling Qi menyipitkan mata, menyingkirkan debu dengan sarung tangannya yang robek. Sebuah batu sebesar kelingking, berwarna bening dengan pantulan cahaya yang tidak biasa, tertanam di celah dinding.
Jantungnya berdegup lebih cepat. 'Ini... berlian?'
Dia sudah bekerja di tambang batu bara selama dua belas tahun. Dia tahu bentuk berlian mentah dari cerita para penambang senior yang pernah menemukannya di tambang lain, jauh sebelum dipindahkan ke Heishan. Batu ini memiliki semua ciri itu—kilau tajam, bentuk kristal yang khas, keras saat digores kuku.
Tangannya gemetar saat mencungkilnya keluar dari batu induk. 'Kalau ini benar berlian... utangku lunas. Ibu bisa dirawat di rumah sakit yang layak. Aku bisa berhenti turun ke lubang neraka ini.'
Dia menggenggam batu itu erat-erat, memasukkannya ke dalam saku dalam celananya yang sudah dijahit ulang berkali-kali. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sudut bibirnya nyaris terangkat. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
"Ling Qi, apa yang kau sembunyikan barusan?" Suara berat itu berasal dari Zhao Dahai, salah satu penambang paling ditakuti di shift malam, badannya besar dan tangannya sudah terbiasa memukul siapa pun yang dianggap lemah. Di belakangnya berdiri dua rekan lainnya, Sun Wei dan Ma Liang, menyeringai seperti serigala yang mencium darah.
"Bukan apa-apa," Ling Qi menjawab datar, mencoba melangkah mundur.
"Bukan apa-apa katanya," Zhao Dahai tertawa pendek. "Aku melihat matamu berbinar tadi. Kau menemukan sesuatu, bukan?"
Ling Qi tidak sempat menjawab. Sun Wei sudah menerjangnya dari samping, membantingnya ke dinding batu. Rasa sakit menjalar dari punggungnya ke seluruh tubuh.
"Lepaskan!" Ling Qi berusaha melawan, tetapi tubuhnya yang lemah karena penyakit paru-paru tidak sanggup menahan pukulan bertubi-tubi yang menghantam wajah dan perutnya.
Ma Liang menahan kedua tangannya, sementara Zhao Dahai menggeledah sakunya dengan kasar.
Sebuah seringai lebar muncul di wajah Zhao Dahai, saat menemukan batu berkilau itu. "Wah, wah. Rupanya benar berlian. Terima kasih sudah menemukannya untuk kami, Ling Qi."
"Itu milikku!" Ling Qi berteriak, meronta sekuat tenaga meski darah sudah mengalir dari sudut bibirnya. "Aku yang menemukannya!"
"Kau?" Zhao Dahai menendang perutnya hingga Ling Qi tersungkur, dan darah keluar dari mulutnya jatuh ke tanah berdebu. "Siapa yang akan percaya kata-kata seorang penambang miskin sepertimu? Kalau kau macam-macam, kecelakaan kerja bisa terjadi kapan saja di tambang ini."
Ketiganya pergi sambil tertawa, meninggalkan Ling Qi yang tergeletak sendirian di lorong gelap tambang, tubuhnya penuh luka, dan harapannya yang baru saja tumbuh kembali dihancurkan dalam hitungan menit.
Ling Qi menatap langit-langit terowongan yang gelap, napasnya tersengal, darahnya bercampur debu batu bara di wajahnya.
'Berlian yang bisa menyelamatkan hidup ibuku... hilang begitu saja.' Dia tertawa pelan, suara yang lebih mirip isakan tertahan. 'Dunia ini memang tidak pernah berpihak pada orang sepertiku.'