Taniza dan Tania.
Saudara kembar yang terpisah sejak kecil.
Taniza dan Tania merupakan kembar identik, hanya saja sifat mereka bertolak belakang.
Taniza adalah sosok anak yang lemah lembut, baik hati, tidak pernah menyakiti siapapun, ia gadis yang sangat penurut.
sedangkan Tania , ia gadis yang lebih liar, tidak mau di atur, suka seenaknya,dan lebih suka hidup semaunya..
namun di balik sifat keduanya yang sangat bertolak belakang, mereka sama-sama saling menyayangi, namun takdir berkata lain, mereka mengalami kecelakaan dan membuat nya terpisah,namun sebelum kecelakaan itu terjadi, mereka iseng-iseng bertukar nama, tapi ternyata pertukaran identitas itu terbawa sampai dewasa.
Bismillahirrahmanirrahim....
Yuk ikuti kisahnya....
kawal mereka sampai tuntas...
jangan lupa beri dukungan ya ...
salam sehat semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Taniza terperanjat, menatap saudara kembarnya dengan mata membelalak takut.
"Dengarkan aku baik-baik, Taniza!" sahut Tania tegas, menunjuk ke arah dada Taniza dengan jari gemetar. "Kalau kamu terus diam dan menyembunyikan kejahatan mereka... demi Allah, aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai saudara kembarku lagi! Aku akan pergi dari sini dan tidak akan pernah sudi melihat wajahmu lagi!"
"Tania... jangan..." jerit Taniza histeris. Ancaman itu meremukkan hatinya. Taniza tidak sanggup jika harus kehilangan saudara kembarnya lagi setelah baru saja dipertemukan oleh takdir.
"Kalau begitu ceritakan semuanya!" tuntut Tania dengan napas memburu, matanya merah menahan amarah dan tangis. "Siapa mereka?!"
Dengan bahu yang terisak hebat dan dada yang kempas-kempis, Taniza akhirnya menyerah. Di balik kepasrahannya, ia menceritakan seluruh penderitaan dan neraka yang dialaminya selama tinggal di Mansion Hasanuddin.
Ia menceritakan bagaimana Tante Chana dan Filio memperlakukannya seperti pelayan, memakinya setiap hari, menuduhnya anak angkat pembawa sial, hingga siksaan fisik terselubung saat orang lain tidak ada. Taniza juga membeberkan momen mengerikan ketika Filio dengan dingin menempelkan setrika listrik panas ke punggungnya hanya karena rasa iri dan dengki yang membakar.
"Mereka... Tante Chana dan Filio... selalu bersandiwara manis di depan Kakek Hamzah dan Kak Ameer," bisik Taniza dengan suara yang pecah oleh penderitaan. "Aku tidak pernah melawan, Tania... Aku hanya ingin rumah itu damai... Tapi kemarin di halte, Ada yang menyuruh orang membiusku, membawaku ke gubuk... dan menyuruh para preman melemparku ke jurang..."
Setiap kata, setiap rincian siksaan yang keluar dari bibir Taniza bagaikan minyak tanah yang disiramkan ke dalam kobaran api di jiwa Tania.
Tania berdiri mematung. Wajahnya mendadak kaku, dingin bagaikan es batu. Jemari tangannya mengepal begitu kencang hingga kuku-kukunya menancap dalam ke telapak tangannya sendiri, mengeluarkan sedikit bercak darah.
Aura perisai dalam diri Tania telah sepenuhnya bertransformasi menjadi pedang keadilan yang haus akan pembalasan.
Tania mendekatkan wajahnya pada Taniza, mengusap air mata di pipi kembarannya dengan jemari tangan yang sangat dingin namun mantap.
"Cukup, Taniza... Cukup," bisik Tania dengan suara yang begitu tenang, namun memiliki tekanan kegelapan yang amat mencekam. "Tugasmu untuk menderita sudah selesai hari ini."
Tania mengambil kain cadar tebal berwarna hitam dari atas meja, lalu memasangkannya dengan telaten di wajah Taniza, menutupi seluruh lukanya dari tatapan dunia.
"Ayah Harto dan Ibu Sumiati sudah menunggu di desa. Kamu akan ikut Mas Dias dan Santi pulang ke rumah kita yang aman di kaki gunung," tutur Tania dengan nada komando yang tak bisa dibantah. "Di sana kamu akan dirawat sampai sembuh total."
"Lalu... kamu bagaimana, Tania...?" tanya Taniza cemas dari balik kain cadarnya.
Tania perlahan membalutkan kain cadar hitam ke wajahnya sendiri, merapikan lipatannya hingga hanya sepasang matanya yang menyala tajam yang terlihat.
Dari balik kain cadar hitam itu, suara Tania terdengar bagaikan bisikan dari neraka untuk para penyiksanya,
"Aku...? Aku akan pergi ke Jakarta... mengambil posisimu sebagai Tania asli di Mansion Hasanuddin. Dan aku akan memastikan... Tante Chana dan Filio merasakan siksaan yang seribu kali lebih menyakitkan daripada bekas setrika di punggungmu!"
"Jangan Tania...balas dendam itu tidak baik, lagian Mereka sudah baik sama aku" Taniza memegang tangan Tania.
"Oh iya benar saja...Balas dendam itu memang tidak baik, baiklah...kalau begitu Kamu Tenang saja, Aku tidak akan balas dendam, Aku hanya memberikan sedikit pelajaran, Kamu jangan khawatir ya" Tania berbohong agar Taniza lega,ia tahu bahwa adik kembarnya memang tidak bisa dendam dengan siapapun,namun Tania tidak bisa diam begitu saja. Ia tersenyum misterius di balik cadarnya.
____
Di dalam ruang perawatan Klinik Mulia Utama, hening yang pekat sempat tercipta usai pengakuan memilukan dari Taniza. Namun, di antara sisa isak tangis yang mulai mereda, Taniza teringat akan satu hal penting yang membuat dadanya terasa kian sesak.
"Tania..." bisik Taniza parau, menatap saudara kembarnya dari balik sepasang mata yang sayu. "Ada satu hal lagi... Kak Ameer... Kakek dan Kak Ameer ingin aku menikah dengannya usai Kak Ameer pulang dari Amerika."
Langkah Tania terhenti sejenak. Ia memutar badan, menatap lurus ke dalam manik mata kembarannya.
"Kakak angkatmu itu... apakah kamu mencintainya?" tanya Tania dengan nada suara datar, namun amat dalam.
Taniza perlahan menggelengkan kepalanya dengan tegas. Air mata kembali bergulir di pipinya. "Tidak, Tania ... Sama sekali tidak. Kak Ameer memang sangat baik dan selalu melindungiku, tapi... aku hanya menganggapnya sebagai kakak kandungku sendiri. Tidak lebih. Aku tidak pernah punya rasa cinta sebagai seorang pasangan untuknya... Bagitu pun dengan kak Ameer yang hanya menganggapku sebagai adik kandung, Kami hanya menikah untuk mendapatkan status,dan kak ameer akan menceraikan ku sampai Aku menemukan laki-laki yang aku cintai"
Mendengar kejujuran itu, sudut bibir Tania di balik kain cadarnya terangkat tipis. Sebuah senyuman dingin yang sarat akan kepastian terukir di sana.
"Baguslah kalau begitu," sahut Tania santai namun mantap. "Kalau kau tidak mencintainya, maka biar aku yang akan menikah dengannya."
Taniza terbelalak kaget, napasnya tercekat di tenggorokan. "Tania...?! Apa maksudmu?! Kamu tidak perlu mengorbankan masa depan dan hidupmu sampai sejauh itu demi aku!"
"Ini bukan pengorbanan, Taniza," pangkas Tania, melangkah mendekat dan merengkuh kedua bahu kembarannya. "Ini adalah cara terbaik untuk mengunci posisiku di pusat kekuasaan keluarga Hasanuddin. Jika aku menjadi istri Ameer, tidak akan ada satu orang pun, termasuk Chana dan Filio, yang bisa mengusik atau menyentuhku lagi. Aku yang akan memegang kendali di rumah itu."
Taniza menangis sesenggukan, dadanya teremas oleh rasa haru dan bersalah yang membuncah. Ia melihat bagaimana saudara kembarnya yang selama ini terpisah, kini rela mengambil risiko sebesar itu, termasuk menyerahkan seluruh jalan hidupnya, demi keadilan yang menimpanya.
____
Sesuai rencana yang telah disusun matang, Dias dan Nina bergerak cepat di bawah naungan remang sore. Dengan balutan gamis tebal dan niqab hitam yang menutup seluruh tubuh hingga wajahnya, Taniza dituntun keluar melalui pintu belakang klinik menuju campervan abu-abu.
Dias menatap Tania yang berdiri tegar di pintu belakang klinik. "Za... Mas akan bawa Taniza pulang ke rumah Ayah Harto dan Ibu Sumiati di desa dengan selamat. Mas jamin tidak akan ada satu pun mata-mata yang tahu keberadaannya."
"Terima kasih banyak, Mas Dias... Mas sudah seperti kakak kandung bagi ku, Aku percaya pada kalian semua " sahut Tania tulus.
"Jaga dirimu baik-baik di Jakarta nanti, Za," pesan Dias dengan raut wajah sangat serius. "Kalau ada apa-apa, langsung hubungi Mas."
"Ia mas....kalian hati-hati, Nanti kalau keadaan di sini sudah aman , Aku akan menemui kalian"Balas Tania terharu,... Ia memeluk kembarannya kembali lalu memberikan ponsel miliknya untuk di pegang Taniza, ia akan meminjam sementara ponsel salah satu perawat untuk menghubungi keluarganya di desa...
Mobil Van itu pun perlahan melaju meninggalkan pelataran klinik, membawa Taniza menuju perlindungan yang aman di perdesaan kaki gunung.
Setelah mobil Dias menghilang di belokan jalan, Tania melangkah kembali ke dalam ruang tindakan tempat Dokter Riri sudah menunggunya.
Dokter Riri, seorang wanita paruh baya yang juga memiliki seorang putri kandung seumuran Taniza, tidak sanggup menahan rasa geram dan murka profesionalnya sewaktu melihat luka bakar bekas setrika di tubuh Taniza . Hatinya sebagai seorang ibu tergerak sepenuhnya untuk membantu rencana Tania.
"Dokter..." ujar Tania tegas. "Orang-orang kaya di Jakarta itu tidak akan pernah berhenti menyisir jalur sungai ini sampai mereka menemukan jasad atau bukti keberadaan adik saya. Daripada mereka terus mencari dan berisiko menemukan Taniza... lebih baik mereka menemukan Tania asli di sini, sekarang juga."
Dokter Riri mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun. "Iya, Mbak. Saya paham. Saya tidak bisa membiarkan iblis yang menyiksa adikmu lolos begitu saja dari hukum dan keadilan."
Dengan keahlian medisnya, Dokter Riri mulai merias dan mempersiapkan Tania.
Tubuh Tania dipasangi perban di beberapa bagian tubuh, persis di titik-titik di mana Taniza memiliki luka lebam. Menggunakan cairan antiseptik khusus dan pewarna medis ramah kulit, Dokter Riri dengan telaten membentuk efek warna memar kebiruan yang sangat alami di punggung tangan, leher, dan bahu Tania. Meski Tania memakai pakaian rapat, tak lupa ia juga merias warna lebam di bagian wajahnya.
Nanti kalau ada salah satu utusan nya yang datang ia akan memasang selang infus serta alat bantu pernapasan dipasangkan ke tubuhnya.
sebentar lagii, Ameer dan Tania akan Sah menjadi pasangan suami isteri, mungkin ya..kmu akan menghadirkan sosok Venera dihari yg sakral ini, tapiiii semua itu tidak akan membuat Ameer dan Tania goyah akan keputusan mutlak dr sesepuh Hasanuddin 😁 gaskuyyyy kakk, up lagiii yaaa.. krn kemarin aku tunggu dan bolak balik kesini ga ada muncul² 😆