NovelToon NovelToon
Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:635.4k
Nilai: 4.7
Nama Author: m anha

Zahra memutuskan menikah dengan pria yang baru saja hadir dihidupnya. Cinta pada pandangan pertama itulah yang dialaminya hingga ia memutuskan hal yang penting tanpa tau lebih dalam pria yang akan di jadikan sebagai imamnya itu. Meninggalkan semua kebahagiaan kehidupan lamanya.

Kebahagian dirasakannya diawal pernikahan hingga semua hancur karena sebuah kecelakaan yang merenggut bayi yang ada di dalam kandungannya.

Zahra mengalami keguguran, ia kehilangan bayinya dan juga mendapat masalah pada rahimnya. Kemungkinan untuk menjadi seorang ibu sangatlah kecil.

Bukan hanya kehilangan bayinya, Zahra juga kehilangan kebahagiaan dalam rumah tangganya.

Akankah Zahra kembali bisa merasakan kebahagiaan dalam rumah tangganya?

Akankah Zahra berhasil dalam perjuangannya untuk menjadi seorang ibu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon m anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perubahan Zahra.

Begitu Zahra sampai di rumah, sopir langsung turun dan membukakan pintu untuknya. " Terima kasih ya, Pak." ucap Zahra turun.

"Sama-sama, Bu. Semoga kedepannya ibu lebih bahagia lagi." 

"Panggilan saja Zahra, Pak," ucap Zahra yang merasa tak enak.

"Baik, Nak. Selamat malam, kejarlah kebahagiaanmu." Sopir pun meninggalkan pekarangan rumah Arham. Zahra hanya melihat sopir mobil itu hingga mobil itu menghilang dan ia pun masuk ke dalam dan Semua itu dilihat oleh Wani dari balik tirai.

"Wah ... wah ... wah ternyata sekarang selain kau tak berguna menjadi seorang menantu Kau juga perempuan murahan sekarang. Apa karena Arham tak memberimu uang yang banyak lagi jadi kau mencari mangsa pria kaya di luar sana? Siapa yang mengantarmu tadi? Apa kamu selingkuh di belakang suamimu?" ucap Wani yang membuat Zahra kembali mengingat perselingkuhan suaminya. Zahra yang ingin naik ke kamarnya  menghentikan langkahnya.

"Dasar ya Kamu, bukannya berterima kasih pada Arham masih menganggapnya Seorang Istri kamu malah pergi dengan pria lain."

"Dengar ya, Bu.  Jaga ucapan Ibu, jangan sembarang menuduh orang tanpa bukti."

"Kamu diantar pulang menggunakan mobil mewah kamu bilang itu bukan bukti? Kamu pikir ibu akan percaya jika kau mengatakan jika kau hanya menumpang?"

"Terserah ibu percaya atau tidak." Zahra kembali ingin melangkah.

"Zahra, ibu peringatan padamu, jika kau masih mau numpang di rumah ini jangan berani kau mencoreng nama baik Arham dengan berselingkuh."

"Ibu aku tak berselingkuh dan tak pernah terbersit sedikitpun di hatiku untuk melakukan apa yang Ibu katakan. Jika Ibu ingin menuduh Siapa yang selingkuh itu adalah putra Ibu sendiri,  jangan mengarahkan tuduhan itu kepadaku."

Mendengar jawaban Zahra membuat  Wani merasa kesal. Namun, ia hanya diam selama ini ia tau kelakuan Arham diluar sana, ia tau hubungnya dengan Nasya.

"Mereka hanya teman," jawab Ibu.

"Jadi ibu sudah tau semuanya dan berpura-pura tak tau." Zahra hanya menggeleng melihat Mertuanya itu kemudian melanjutkan langkahnya.

Sesampainya di kamar Zahra terduduk di lantai, bersandar di pintu kamarnya. Walau ia berkata ingin kuat dan tegar, semua perkataan yang hanya keluar dari bibirnya. Namun, hatinya tetap saja terasa sakit. Penghianatan yang dilakukan oleh suaminya itu sangatlah membuat hatinya terasa pedih, hancur sudah semua harapannya selama ini untuk kembali memperbaiki rumah tangga mereka. Zahra melihat cek yang ada di tangannya kemudian ia melihat buku tabungan yang selama ini dikumpulkannya sedikit demi sedikit untuk melakukan program bayi tabung.

"Aku tak boleh seperti ini. Jika Mas Arham sendiri tak peduli dengan perjuanganku untuk apa aku memperjuangkannya."

Zahra menelpon karyawannya di kota x meminta ia untuk menjual butiknya.

Zahra kembali melihat cek dan jumlah tabungannya serta menambahkan kisaran harga jual butik yang ia punya, " Semoga saja ini cukup untuk memulai semuanya. Aku sudah lelah dengan semua ini. Aku akan meminta saran ibu Reni, aku yakin Ibu Rani adalah seorang wanita yang bisa mengerti perasaan wanita lain, ia pasti bisa membantuku," ucapnya masih mengingat kata-kata dari karyawan yang bekerja di sana jika Ibu Reni bahkan memberi bantuan modal dan juga mengarahkan beberapa pelanggan mereka ke beberapa pegawai yang sudah berani membuka butik sendiri.

"Aku juga sudah memiliki pelanggan." Zahra mengingat ucap Arga yang akan kembali memesan jas buatannya.

Sekarang tujuan Zahra adalah ingin hidup mandiri terlepas dari semua rasa sakit dan penghinaan yang selama ini dirasakannya, tak lagi ada keinginannya untuk program bayi tabung demi menjaga dan memperbaiki kehidupan rumah tangganya. Ia hanya ingin bahagia.

****

Zahra berbaring di tempat tidur, ia terus menunggu suaminya pulang. 

Saat jam menunjukkan pukul 02:30, Zahra bisa merasakan saat suaminya itu pulang. Ia pun bangun dan menatap suaminya yang terlihat tersenyum bahagia.  

"Mas baru pulang?" tanyanya.

"Iya, aku banyak kerjaan dan harus lembur," jawabnya sambil membuka pakaiannya.

"Mas mau mandi atau mau langsung istirahat?" tanyanya yang kini duduk dan menatap suaminya.

"Aku sudah mandi di kantor. Aku mau langsung istirahat saja."

"Mas mandi di kantor?" tanya Zahra menatap suaminya dengan tatapan mencurigakan.

"Iya, tadi aku sangat gerah makanya aku mandi Sebelum pulang. Ayo kita tidur, aku sangat lelah," ucapnya kemudian Ia pun berbaring dan menarik selimut meminta Zahra untuk tidur di sampingnya.

"Mas tidur saja. Aku ingin shalat tahajud," ucapnya kemudian berjalan menuju ke kamar mandi, begitu menutup pintunya Zahra membekap mulutnya. Pikiran negatif sudah memenuhi kepalanya, ia bisa melihat kebahagiaan dan kedekatan suaminya bersama dengan Nasya dan sekarang suaminya sudah mandi dan pulang jam 03.00 Subuh.

"Aku tak sebodoh itu, Mas," ucapnya mengeratkankan genggamannya menahan rasa sakit yang kembali menyerangnya. Zahra menghirup udara sedalam-dalamnya dan kemudian menghembuskannya dengan perlahan, ia terus mengulanginya sampai rasa sesak dan perih di dadanya berangsur menghilang.

"Baiklah jika itu yang kau inginkan," ucapnya kemudian ia menghapus air mata membasuh wajahnya dengan air wudhu dan melakukan shalat tahajud meminta petunjuk agar memberi kejelasan untuk rumah tangganya, haruskah ia berpisah atau terus melanjutkannya.

****

Pagi hari Zahra tak keluar kamar seperti biasa, tak juga menyimpankan pakaian kerja suaminya.

Zahra memanjangkan dirinya dengan berendam, sambil sesekali bersenandung, tak seperti biasanya yang selalu terburu-buru.

Arham yang juga ingin mandi masuk ke dalam dan Ia  langsung mandi di bawah shower, membiarkan Zahra bersantai dengan busa yang memenuhinya.

"Kamu nggak ke butik?" tanyanya.

"Tentu saja aku akan butik," ucapnya yang langsung turun dan ikut bergabung mandi di bawah pancuran shower di mana suami juga sedang berdiri di sana. Membasuh busa wangi yang memenuhi tubuh polosnya.

Sudah sangat jarang Arham  menyentuhnya. Ia baru menyadari mungkin semua itu bukan karena ia kelelahan, tapi karena suaminya sudah tak lagi membutuhkan kehangatannya dan sudah memiliki seseorang untuk menyalurkan hasratnya.

Arham pria yang normal, tubuhnya langsung bereaksi melihat apa yang Zahra lakukan. Saat ia ingin menyentuhnya, Zahra  menolak dan mengatakan jika ia sudah terlambat. Zahra keluar lebih dulu dari kamar mandi meninggalkan Arham yang terus menatapnya dengan tatapan kecewa dengan hasrat menggebu-gebu.

Begitu Arham keluar Zahra sudah tak ada di kamar. Ia juga tak melihat pakaiannya seperti biasanya yang sudah disiapkan di atas kasurnya.

"Kenapa Zahra tak menyiapkan pakai untukku," gerutunya menuju ke lemari mengambil sendiri pakaiannya.

Saar keluar kamar Arhan melihat Zahra yang sudah sarapan lebih dulu. Ia pun ikut bergabung bersama dengan Zahra, tak lama kemudian Wani juga ikut bergabung. Biasanya dialah yang terakhir datang ke meja makan.

"Maaf, Mas. Bisakah mas mengantarku hari ini? Aku mohon."

"Tapi," ucap Arham kembali ingin menolak, tapi Zahra langsung memotong pembicaraannya.

"Mas, untuk kali ini saja! Aku sedang males menaiki taksi. Aku mohon, boleh ya hari ini aja," ucapnya memohon.

"Baiklah aku akan mengantarmu," ucap Arham akhirnya.

Mereka pun sarapan, Zahra melirik suaminya yang  terlihat mengetik sesuatu di ponselnya. Zahra mengeratkan genggamannya pada kedua sendoknya.

'Apa mas Arham mengirim pesan itu pada Nasya? Apa selama ini mas Arham lebih memilih mengantar Nasya ke kantor daripada mengantarku ke butik walau aku sedang sangat terburu-buru?' batin Zahra.

Semua perubahan dan tingkat aneh suaminya tak disadari karena tertutup rasa percaya, tapi tidak untuk saat ini. Semuanya penghianatan itu terlihat jelas di matanya.

"Zahra, Ini bukan kamu lagi yang buat 'kan?" tanya Wani yang tahu membedakan masakan Bibi dengan masakan menantunya itu. Ia akui masakan Zahra jauh lebih enak daripada masakan yang sering asisten rumah tangganya masak untuk mereka.

"Iya, Bu. Mulai hari ini aku tak bisa memasak lagi, aku juga sibuk. Pelanggan di butik makin banyak. kami sampai kualahan dan jika mengerjakan pekerjaan rumah aku takut akan mengecewakan Ibu Reni, pemilik butik. Jika cara kerjaku lambat. Lagian kan ada bibi. Iya kan, Bi?" ucap Zahra melihat ke arah Bibi yang kebetulan memberikan tambahan makanan di meja makan.

"Tentu saja, Semua ini tugas bibi. Semua pekerjaan biar Bibi yang mengerjakannya." Bibi tersenyum melihat sikap Zahra pagi ini. 

🌹🌹🌹

 Rekomendasi Author.

Napen : Imma Dealova

Judul : Maduku, Racunku

Yuk mampir 🙏

1
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻
Salawati Sal
Buruk
my name
orang punya penyakit hati itu ngak akan pernah bahagia
my name
duar...tabrakan tk bisa dihindari dan akhirnya nasya kehilangan bayinya 😁
my name
tentu saja arga lebih segalanya darimu arham dan kau laki laki pengecut yg akan menyesal seumur hidup
my name
arga kan kaya raya ngak sangupkah dia sewa bodyguard buat zahra dan juga arham levelnya jauh dibawah arga kenapa jg ngak dibikin arham jatuh miskin kan gampang tuh
my name
begonya zahra kenapa ngak lari keluar malam masuk kamar
my name
tiponya banyak bgt thor jadi yg baca sering2 mikir sendiri dengan kata yg pas
my name
jangan jangan itu bukan bayi arham dan nango setelah zahra bahagia baru terbongkar kalau itu bukan anak arham
my name
good job zahra 👍
my name
semangat zahra 💪
my name
kamu orang baik dan akan dipertemukan dengàn yg baik
my name
benar apa kata p sopir, ciptakan kebahagian untuk diri sendiri zahra tetaplah semangat 💪👍
my name
hapus airmatamu zahra ngak pantas laki2 pengecut kau tangisi, airmatamu terlalu berharga buat arham
my name
Luar biasa
my name
sepandai pandainya tupai melompat pasti akan jatuh jg, sebentar lg kebohonganmu terbongkar arham
my name
semoga aja arga yg menjadi jodohnya zahra
my name
arham bodoh nesya gatel
my name
zahra yg kuat y 😥
seorang istri berjuang sendiri demi rumah tangganya utuh kembali
my name
zahra jangan jd bodoh y tinggalkan arham dia pengecut laki2 lemah tk bertanggung jawab
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!