NovelToon NovelToon
Only You

Only You

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Keluarga & Kasih Sayang / Berbaikan
Popularitas:32.2k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Yang tak suka, silahkan minggir!

Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.

"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.

"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.

"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."

Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?

Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?

Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#24

#24

“Bagus, semua model terbaru, sekarang terserah kamu mau pilih yang mana.” 

Bagas diam menunggu di tempatnya, ia tak memilih, tapi meminta SPG toko perhiasan membawa keluar semua koleksi cincin pernikahan yang terbaru. 

Akhirnya Dinda juga yang pusing, padahal ia tak mau membeli cincin, tapi demi menyenangkan eyang di sisa waktu sandiwara mereka. Hmm, demi sandiwara mereka, dan demi menuruti keinginan mantan suaminya yang kebelet rujuk. Ah, sial, Dinda sungguh benci sifat ngeyel dan pemaksanya Bagas. 

Paksaan eyang untuk membeli cincin pernikahan justru menjadi angin segar bagi Bagas, kesempatan emas dan jalan pintas terbuka terbuka lebar untuknya. 

“Yang mana saja, lah.” Dinda pun ikut bersikap acuh, karena bukan dia yang menginginkan semua ini. 

Bagas pun mengalah, ia menggeser kursinya agar bisa duduk lebih dekat dengan mantan istrinya. “Jangan gitu, Sayang,” bisik Bagas yang jelas didengar oleh SPG toko. “Ini akan kita pakai seumur hidup, loh.” 

Kata-kata Bagas itu membuat pria itu mendapatkan hadiah sikutan di perut. “Akh!” katanya dramatis. 

“Nggak usah berlebihan, ini cuma pura-pura.” 

“Iya, boleh, lah, sekarang pura-pura. Aku yakin sebentar lagi akan jadi sungguhan.” 

“Nggak usah ngarep berlebihan, ntar kalau gagal kecewa.” 

“Kalau begitu, aku akan berusaha agar usaha ini tak sampai berujung kegagalan.” 

Mereka terus berdebat, hingga membuat SPG toko menjadi saksi bisu perdebatan mereka yang amat sangat tidak penting. 

“Mbak saja yang pilih, calon istri saya masih malu-malu meong.” Akhirnya Bagas mengakhiri perdebatan dengan meminta SPG memilihkan model terbaik dan termahal pastinya. 

Akhirnya cincin itu pun berhasil mereka bawa pulang, Bagas senang, Dinda makin meriang, bukan meriang dalam arti kata yang sesungguhnya. Tapi meriang karena tak bisa menolak semua keinginan mantan suaminya. 

“Tanya Bi Sani, Eyang sudah tidur atau belum?” instruksi Bagas sebab ia tengah mengemudi. 

Dinda pun menurut saja, sebab hari semakin malam, dan Mama Juwita sudah berpesan padanya pagi tadi agar segera pulang ke rumah setelah eyang tidur pulas. 

“Bi Sani bilang, sudah tidur.” Dinda menyampaikan isi pesan yang dikirimkan Bi Sani. 

Bagas mengangguk diam-diam tersenyum ketika melihat cincin di jari manis Dinda, tadi Bagas memaksa memakaikannya di jari wanita itu, meski bukan mereka yang pilih, ternyata pilihan SPG terlihat manis sesudah tersemat di jari mereka berdua. 

“Kenapa senyum-senyum?” Tak disangka Dinda tiba-tiba menoleh dan melihat senyum menghiasi wajah tampan mantan suaminya. 

“Ya, lagi seneng, dong. Masa lagi nggak seneng kok senyum, bisa-bisa aku dikira gila.” 

“Sudah dari dulu gila, kenapa baru khawatir sekarang?” dengus Dinda. 

“Aku senang, Dind. Karena akhirnya bisa pakaikan cincin di jarimu,” ungkap Bagas

“Cuma sandiwara, nggak usah terlalu senang. Dan, satu lagi, mending kamu buru-buru beli cincin yang sama untuk wanita itu, sebelum dia salah paham.” 

Bagas tersenyum smirk, ia kembali mendapat celah, yah, Dinda sedang cemburu. “Kamu cemburu?” 

“Cih, siapa juga yang cemburu?” 

“Buktinya kamu mengungkit soal wanita itu, wanita yang mana lagi? Aku gak pernah pacaran dengan siapapun setelah kita berpisah, jangankan pacaran, melirik pun aku tak selera.” 

Biar seribu kali pun Bagas harus menjelaskan, akan ia lakukan tanpa bosan, asalkan Dinda mau kembali padanya. “Lalu bagaimana dengan wanita yang ada di apartemenmu malam itu?!” Ini adalah hal yang sejak lama ingin Dinda ketahui, tapi ia tak pernah punya keberanian untuk menanyakannya. 

“Oke, akan aku jelaskan supaya masalah besar diantara kita benar-benar clear,” kata Bagas serius, tak seperti biasanya yang santai dan humoris. “Malam itu aku mabuk, dan wanita itu mengantarku pulang ke apartemen, aku muntah dan mengotori pakaiannya, karena itulah dia memakai kemejaku untuk dipakai pulang. Sekarang clear?”

“Belum.”

“Okay, bagian mana lagi yang ingin kamu tanyakan, mari kita perjelas malam ini. Supaya aku pun berhenti didera rasa bersalah. 

“Lantas apa alasanmu membeli apartemen itu tanpa sepengetahuanku? Selain untuk diam-diam bertemu wanita itu?”

Rasanya memang semenyakitkan itu, hingga Dinda tak henti-henti mengungkit masalah apartemen yang dibeli Bagas diam-diam. Saat itu Dinda sedang lelah, setelah seharian berkeliling dari satu panti asuhan ke panti asuhan yang lain bersama Om Bastian. Ketika Dinda hampir memejamkan mata sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. 

📥 Suamimu ada di Green House Apartemen lantai 7 kamar no 710 

FYI : dia BERSAMA SEORANG WANITA. 

Dengan mengabaikan rasa kantuk dan lelah, Dinda meminta Om Bastian mengantarnya sampai ke tempat yang dimaksud, dan benar saja di sana ada seorang wanita dan juga— Bagas. 

Telat sedikit saja, mungkin Bagas sudah babak belur dihajar Om Bastian, namun, Dinda melarang, saat itulah kalimat perpisahan itu meluncur dari mulut Dinda untuk kali pertama. 

“Ya, ampun, nggak gitu, Sayang,” sanggah Bagas, intonasi suara sudah ia atur serendah mungkin. 

Bagas harus bisa mengendalikan emosi agar apapun yang terjadi mereka tak sampai bertengkar. 

“Kamu tahu, kan, saat itu adalah ujian paling berat di masa pernikahan kita. Kamu pulang ke rumah orang tuamu selama berminggu-minggu, kamu lupa bahwa aku yang juga membutuhkanmu di rumah. Aku pulang berharap menjumpaimu, dan kita bersama saling menguatkan, tapi itu tak pernah terjadi.” 

“Justru pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi saat kita berdua kebetulan bertemu di rumah. Aku juga lelah, aku juga sedih, aku juga frustasi, aku butuh tempat menyepi agar bisa menenangkan diri. Kenapa? Karena aku tak mau memarahimu, menyalahkanmu dan membentakmu.” 

Sejenak Bagas diam, menanti Dinda bicara, tapi yang dinanti tak kunjung bersuara. Sementara tanpa terasa perjalanan mereka telah mencapai garis finish, rumah Mama Juwita. 

“Ngomong-ngomong, dari mana kamu tahu aku ada di apartemen?”

“Seseorang memberitahuku melalui pesan singkat.”

Bagas mengerutkan kedua alisnya, “Seseorang?”

“Hmm, nomor asing yang tak kukenal.” 

Suasana kembali hening, sampai Mama Juwita mengetuk kaca jendela mobil. 

Tok! 

Tok! 

Bagas gugup, hanya karena berhadapan dengan Mama Juwita. Pria itu membuka pintu mobilnya, bermaksud menyapa, atau basa-basi pemanis bibir. “Ma—”

“Langsung pulang saja, sudah malam, tak enak dilihat para tetangga.” Mama Juwita berkata dengan nada tegas, meski tak ada bedanya dengan bersikap galak. Mama Juwita bahkan langsung menyela ucapan Bagas, tak memberi pria itu kesempatan untuk melanjutkan ucapannya. 

“Dinda, ayo masuk!” 

“Ma, ada yang ingin aku bicarakan dengan Mama.” 

“Mas, jangan gila, deh,” cegah Dinda, Bagas benar-benar tak bisa dilarang. 

Bagas mengumpulkan keberaniannya, ia memberanikan diri menggenggam tangan Dinda, menyelipkan jari-jemarinya disela jari-jemari Dinda. “Sejak kita berpisah, sejak saat itulah aku seperti orang gila kehilangan arah.” 

Mama Juwita memutar nafas jengah, putrinya masih saja berhasil dirayu oleh mantan suaminya. Sementara dirinya sudah mulai mual, sebenarnya bukan mual, tapi masih belum bisa ikhlas karena Bagas pernah menyakiti hati Dinda. 

“Mama lihat ini?” Bagas menunjukkan cincin yang baru saja mereka pakai, meski masih ada campur tangan Eyang Tuti. 

Mama Juwita terbelalak, “Dinda! Kamu?!” 

Dinda melepaskan genggaman tangan Bagas, “Nggak, Ma. Ini tak seperti yang Mama lihat, ini hanya—”

“Hanya pura-pura, tapi bila Mama merestui Bagas ingin mewujudkannya,” ucap Bagas sungguh-sungguh. 

“Masuklah, Dind!” kata Mama Juwita, pelan namun, tegas. 

Bagas hanya bisa pasrah menatap genggaman tangan Dinda menjauh darinya. “Selamat malam, Mas. Kabari aku, jam berapa besok Mas mau menjemput.” 

“Hmm, tidurlah. Biar kesehatanmu kembali pulih.” 

1
vania larasati
lanjut
Felycia Fernandez
mulai ke bongkar...
Shee_👚
😭😭😭😭😭
ko ya ikut bahagia
Shee_👚
ada gak baju yang punya abel ya
Shee_👚
apa disini alisya bakalan ngenalin baju²nya dia, siapa tau ada baju yang sama saat ketemu sama dokter candra
Shee_👚
nah mulai mode soang dah🤣
Shee_👚
biar dapet restu ya gas🤣
Shee_👚
silahkan membusuk di penjara😤
Shee_👚
jelas aku juga bakalan nganan kaya dara🤣
apa lagi yang jemput orang bisa di percaya jadi gasss
Bunda Aish
nah, semoga ini jadi jalan untuk memastikan Alisha adalah Abel
hasana
akhirnya
Esther
Masih ingat baju yg dipakai Abel saat terakhir kali ya Dinda.
vania larasati
lanjut
Sh
Moon jahat atau baik ? dulu Miranda ,bapak dan emaknya masuk penjara, tapi berhasil hidup menjadi wanita yang baik... Apakah anak Livia dibuat kejam sengsara hidupnya, atau masih membuktikan orangtua tidak baik, anak belum tentu tidak baik juga... kita tunggu kebaikan atau ketegaan Moon terhadap anak Livia
moon: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

aku separuh medusa 🐛 separuh dewi kwan im... 😇
total 1 replies
muthia
😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Linda Yohana
Bagus jalan cerita novelnya
Shee_👚
dah segitu jelasnya dan banyak sakti serta bukti malah masih ngeyel. bener2 si igun gak ada hatinya sama sekali😤😤
Shee_👚
mampus, biar pecah sekalian itu hati, percuma di kasih hati malah gak tau diri😤😤
Patrick Khan
iblis kau igun🤬🤬🔨
Patrick Khan
pertanyaan q kemana abel🤔🤔🤔😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!