Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konfrontasi Dua Pria
Sinar matahari pagi yang cerah menembus celah-celah jendela kamar nomor 302, membawa kehangatan yang kontras dengan gejolak emosi yang tersisa dari malam sebelumnya. Keyra terbangun dengan napas yang masih sedikit berat. Ketika ia membuka mata dan melihat ke samping ranjang, Devan Alister sudah tidak ada di sana. Pria itu tampaknya telah pergi sebelum fajar menyingsing, meninggalkan aroma parfum kayu cendana yang masih melekat tipis di bantal sofa ruang tamu kecilnya.
Keyra menyentuh bibirnya pelan, mengingat kembali ciuman menuntut penuh kepasrahan dari Devan semalam. Hatinya didera dilema yang luar biasa; ia tahu ia tidak bisa membenci Devan atas kesalahan mendiang Tuan Besar Alister, namun egonya masih menolak untuk kembali ke dalam sangkar emas penuh kebohongan tersebut.
Setelah membasuh wajah dan merapikan pakaian rajutnya, Keyra memutuskan untuk keluar kamar menuju ke koridor lantai tiga, berniat mengantarkan sekotak kue kering buatannya yang baru selesai dikemas sebagai ucapan terima kasih kepada Elian atas bantuannya kemarin sore.
Namun, begitu Keyra melangkah keluar dan menutup pintu kayu kamarnya, langkah kakinya seketika terhenti.
Di ujung koridor yang sempit dan remang-remang, tepat di depan tangga utama, dua orang pria bertubuh tegap sedang berdiri berhadapan dalam jarak yang sangat dekat. Suasana di lorong rusun yang biasanya bising oleh suara anak-anak mendadak berubah menjadi sunyi mencekam, dipenuhi oleh ketegangan yang kasat mata.
Pria pertama adalah Devan Alister. Ia berdiri dengan keanggunan mutlak khas seorang penguasa kasta tertinggi, mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang sangat rapi tanpa cela. Kedua tangannya disilangkan di depan dada bidangnya, dengan sepasang mata elang yang memancarkan tatapan dingin yang begitu mengintimidasi, seolah-olah ia sedang melihat seekor semut yang siap ia injak hingga hancur.
Sementara di hadapannya, berdiri Elian. Dokter muda itu mengenakan kemeja putih kasual dengan tas ransel medis yang tersampir di pundak kirinya. Meskipun Elian tidak memiliki aura kekejaman seperti Devan, pria muda itu sama sekali tidak menundukkan kepalanya. Ia membalas tatapan mata Devan dengan pandangan mata yang tenang, berani, dan penuh dengan harga diri seorang pria berpendidikan.
"Saya rasa tidak ada kepentingan bisnis atau medis apa pun yang membuat seorang CEO dari Alister Group harus berdiri di lorong rumah susun sekumuh ini pada jam tujuh pagi, Tuan Devan Alister," ucap Elian, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan nada sindiran yang tajam.
Devan menarik sudut bibirnya ke atas, membentuk sebuah senyuman kejam yang teramat dingin. "Kepentinganku di tempat ini berada di luar kapasitas otak kecilmu untuk memahaminya, Dokter Elian. Aku datang ke sini untuk memastikan bahwa tidak ada serangga pengganggu yang mencoba mendekati hal yang menjadi milik mutlakku."
Elian terkekeh pelan, sebuah tawa yang memicu kedutan amarah di rahang tegas Devan. "Milik mutlak? Jika yang Anda maksud adalah Nona Keyra, saya rasa Anda salah besar. Seseorang bukan merupakan barang atau aset perusahaan yang bisa Anda klaim kepemilikannya hanya karena Anda memiliki banyak uang. Jika dia benar-benar menganggap Anda sebagai tempatnya pulang, dia tidak akan berada di kamar nomor 302 ini dengan hati yang terluka."
Brak!
Tanpa aba-aba, Devan melangkah maju satu langkah kilat dan mencengkeram kerah kemeja putih Elian dengan satu tangan kekarnya, mendorong tubuh dokter muda itu hingga menghantam dinding beton koridor dengan keras. Mata elang Devan berkilat memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.
"Jaga bicaramu, keparat!" desis Devan, suara baritonnya yang berat terdengar bagai raungan singa yang terluka di dalam lorong yang sempit. "Satu kata lagi yang keluar dari mulut kotormu tentang Keyra, dan aku pastikan surat izin praktik medismu di negara ini akan dicabut secara permanen sebelum matahari terbenam hari ini! Jangan pernah menantang batas kesabaranku jika kamu masih ingin melihat hari esok!"
"Devan! Hentikan!"
Sebuah teriakan melengking dari ujung koridor membuat Devan seketika menghentikan gerakannya. Keyra berlari cepat mendekati kedua pria itu, wajah indahnya dipenuhi oleh rasa syok dan amarah yang meluap-luap. Ia langsung menepis tangan kekar Devan dari kerah kemeja Elian dengan kekuatan penuh.
"Apa yang kamu lakukan, Devan?! Kamu sudah berjanji tidak akan mengacaukan hidupku lagi!" bentak Keyra sembari berdiri di depan Elian, memosisikan tubuh rampingnya sebagai tameng pelindung bagi dokter muda itu. Tindakan protektif Keyra terhadap Elian seketika menghujam jantung Devan dengan rasa cemburu dan sakit hati yang teramat luar biasa.
Devan mundur setengah langkah, menatap tangan Keyra yang kini beralih memeriksa pundak Elian untuk memastikan pria itu tidak terluka. "Keyra... kamu membelanya di hadapanku?" tanya Devan, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah, serak, dan bergetar menahan luka emosional yang nyata. Pria yang biasanya menguasai kota itu kini tampak begitu rapuh hanya karena melihat wanitanya melindungi pria lain.
"Dia tidak salah apa-apa, Devan! Kamu yang datang ke sini membawa kebrutalan dan keangkuhanmu!" seru Keyra, sepasang mata jernihnya menatap Devan dengan penuh kilatan amarah. "Jika kamu terus-menerus bertindak kasar dan menggunakan kekuasaanmu untuk menindas orang-orang di sekitarku, maka aku bersumpah aku tidak akan pernah sudi melihat wajahmu lagi seumur hidupku! Pergi dari sini, Devan!"
Kata-kata pengusiran yang keluar dari mulut Keyra terasa bagai belati yang menusuk tepat di dada Devan. Pria itu berdiri kaku di tengah koridor, mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. Setelah keheningan menyakitkan yang panjang, Devan perlahan menurunkan pandangannya, lalu menatap Keyra untuk terakhir kalinya dengan binar mata yang dipenuhi penyesalan dan kepasrahan yang mendalam.
"Baik... aku akan pergi, Keyra," ucap Devan dengan nada suara yang teramat berat dan pelan. Pria itu berbalik tubuh, melangkah tegap menjauhi koridor tanpa menoleh ke belakang lagi. Namun di dalam lubuk hatinya yang paling gelap, Devan bersumpah bahwa pertempuran ini belum berakhir. Ia akan menyingkirkan Elian dengan cara yang jauh lebih halus, dan ia akan melakukan apa pun demi menyeret ratunya kembali ke dalam dekapannya, tidak peduli berapa lama waktu yang harus ia korbankan.