Lily terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak bahagia. Dante tidak pernah mencintainya. Dante menikahi Lily hanya untuk membayar hutang Budi orang tuanya kepada orang tua Lily.
Namun sebuah kecelakaan membuat keadaan berubah. Dante didiagnosa menderita cedera otak parah yang membuatnya kehilangan ingatan jangka pendek.
Dante hanya mengingat apa yang terjadi hari ini, lalu setelah dia tertidur dia akan melupakan semua. Begitu setiap harinya.
Inilah kesempatan bagi Lily untuk membuat suaminya bisa menerima dan mencintainya sepenuh hati.
Inilah kesempatan bagi Dante untuk memperbaiki kesalahan besar yang telah dia perbuat.
Namun, kehidupan tidak semudah itu untuk memberi mereka kebahagiaan.
berhasilkah mereka membangun Rumah tangga bahagia atau bahkan perceraian adalah jalan terbaik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tata Tetott, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Dante : Something Wrong in Me
Aku tidak tahu kenapa hari ini aku merasa aneh sekali. Merasa bukan diriku. Saat terbangun dari tidur, kurasakan tubuhku kaku tak bisa digerakan, sekamin kupaksa untuk bergerak semakin kuat rasa sakit yang ku rasakan. Aku mencoba mereka ulang dalam otakku apa yang terjadi sebelumnya hingg aku merasakan rasa sakit ini, namun tidak ku temukan apapun. Aku tidak ingat apapun. Sama sekali.
Tidak ada sedikit pun hal yang terlintas dalam pikiranku tentang apa yang terjadi, tentang apa yang kulakukan di hari kemarin.
Semakin ku paksa mengingatnya, semakin besar tekanan di kepalaku dan itu menyakitkan.
Ada sesuatu yang salah dalam diriku. Tapi apa?
Aku memaksakan diriku untuk bangun dan beranjak dari tempat tidur yang ku rasakan adalah kesakitan yang luar biasa, kakiku serasa tidak menginjak lantai dan pandanganku berputar hebat. Aku berusaha mencari pegangan namun sayang benda yang berhasil ku capai adalah lampu tidur di atas bakas yang sama sekali tidak kuat untuk di jadikan pegangan.
Aku terjatuh. Tersungkur di lantai di susul dengan jatuhnya lampu tidur di sebelahku. Lampu itu pecah, beruntungnya serpuhan pecahan itu tidak melukaiku.
Seseorang datang, membuka pintu dengan tiba-tiba. Aku tidak mengenal orang itu. Dia menghampiriku membungkuk di sebelahku, tangannya mencoba menyentuhku namun seketika ku tangkis. Aku tidak tahu dia siapa dan aku tidak tahu mengapa dia masuk kamarku begitu saja tanpa seijinku.
"Siapa kamu?" tanyku dengan nada membentak.
Dia diam saja, tidak memberikan jawaban apapun, membuatku semakin kesal.
"Apa maumu? Siap kamu?" aku bertanya sekali lagi dengan suara lebih keras.
"Aku hanya ingin menolongmu." Akhirnya dia menjawab.
Tapi aku tidak mengenalnya, aku tidak ingin dia menyentuhku atau berusaha menolongku atau apapun itu namanya.
Aku berteriak-teriak memanggil Pak Anang--tukang kebunku-- untuk datang membantuku. Pak Anang datang disusul Istrinya--asisten rumah tangga di rumahku.
Pak Anang membantu memindahkanku ke tempat tidur, sementara Bi Aluh--istri Pak Anang-- bergegas membersihkan serihan pecahan lampu tidur yang berserakan di lantai, sedangkan Gadis itu hanya berdiri di sisi lain kamar. Dia berdiri mematung seperti orang bodoh, memandangku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan.
Aku mengusirnya keluar dari kamarku saat dia mencoba mendekatiku lagi.
"Aku hanya ingin menjelaskan sesuatu. Sesuatu yang membuatmu merasakah hal yang berbeda saat Mas terbangun dari tidur Mas hari ini," ucap perempuan itu dengan suara lirih.
Tapi, aku tidak ingin melihatnya, aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun darinya, aku tidak ingin dia berada di sekitarku. Dan satu hal yang membuatku semakin tidak nyaman adalah, mengapa dia memanggilku dengan sebutan "Mas"?
Akhirnya ku putuskan untuk mengusirnya sekali lagi, kali ini dengan lebih kasar. Dia akhirnya pergi. Namun, saat wajahnya berpaling ke arahku ketika dia hendak menutup pintu kamar, kulihat semburat matanya berkaca-kaca.
***
Seharian aku memutuskan untuk berdiam diri di kamar. Ku telpon sekretarisku untuk mengabarkan bahwa hari ini aku tidak bisa datang ke kantor seperti biasanya.
"Tolong atur ulang schedule saya hari ini. Saya tidak bisa masuk kantor kebetulan sedang tidak enak badan," ucapku dari sambungan telpon pada sekretarisku, Mariana.
"Ee ... tapi, buk-bukannya Pak Dante ...," ucap Mariana terbata dan menggantung.
"Tapi apa, Mariana?"
"Eee ... anu pak ...." Mariana menggantung ucapannya lagi.
Terdengar suara lain di belakang Mariana, seperti mengatakan seauatu kepadanya namun aku tidak bisa mendengar jelas suara siapa itu dan apa yang dia katakan.
"Baik, Pak. Akan saya atur ulang jadwal Bapak, Bapak tenang saja, tidak perlu khawatir. Bapak Istirahat saja yang cukup. Semoga cepat sembuh," kata Mariana akhirnya.
"Baik, terima kasih."
***
Bi Aluh mengantar sarapan pagiku ke kamar, tapi ada yang aneh di nampan yang dibawa Bi Aluh di sana ada beberapa obat.
"Obat apa ini, Bi?" tanyaku pada Bi Aluh.
"Ini obat Pak Dante, tolong Bapak minum setelah selesai makan, ya. Jangan nggak di Minum, Nanti Neng Lily marah sama Bibi."
"Lily?" Lily siapa?
"Eh, tapi Neng Lily tidak pernah marah sih. Tapi tetep aja Bibi nggak enak sama dia kalo tidak berhasil membujuk mas Dante Untuk Minum obatnya." Bi Aluh tidak menjawab pertanyaanku.
"Lily siapa, Bi?" tanyaku semakin penasaran.
"Itu Pak, yang tadi?" jawab Bi Aluh membingungkan.
"Yang tadi siapa? Perempuan yang masuk kamarku tadi?"
"Iya, Pak. Itu Neng Lily namanya. Dia itu--"
"Perempuan itu masih di rumah ini?"
"Iya Pak, kan dia--"
"Tolong usir dia sekarang juga!"
"Hah?" Bi Aluh nampak terkejut.
"Tolong usir dia sekarang juga." Ku ulang kalimatku.
"B-baik Pak," ucap Bi Aluh kemudia dia berbalik untuk keluar dari kamarku, "Tapi tolong makanannya di habiskan dan obatnya di Minum ya, Pak," pinta beliau sebelum menutup pintu kamarku.
Aku hanya merespon dengan anggukan dan kebudian beliau menutup pintu kamarku.
Karena lapar, ku habiskan makanan yang di antarkan Bi Aluh tadi dengan cepat. Kemudian setelah selesai makan, aku merasa agak ragu untuk meminum obat yang di sediakan di nampan tadi. Obat itu banyak sekali, satu dua obat cukup familiar untukku namun sisanya sangat tidak familiar. Aku agak ragu untuk meminumnya.
Lama aku biarkan obat itu di nampan tanpa menyentuhnya sampi Bi Aluh Datang kembali ke kamar untuk membereskan piring bekas makananku. Dan beliau agak kecewa mengetahui bahwa aku tidak meminum obat itu.
"Itu obat apa sih sebenarnya, Bi?" tanyaku percuma walau ku tahu pasti Bi Aluh tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan untukku.
"Saya juga kurang mengerti, Pak. Tapi pak harus Minum obat-obat itu."
Nah, benar, kan, kataku.
"Saya tidak mau meminum obat yang saya tidak tahu asal-usulnya begini Bi," ucapku.
Ku kira Bi Aluh akan mencoba memaksaku lagi, tapi ternyata tidak beliau membawa nampan beserta piring kotor keluar dari kamarku namun meninggalkan obat-obatan itu di atas meja nakas. Ah ya, bersama segelas air putih tentu saja.
Ku pandangi obat-obatan itu sambil mengingat kembali apa yang terjadi denganku hingga aku harus meminum obat sebanyak itu. Tapi tidak ada. Tidak ada satupun yang ku ingat. Sungguh ini aneh dan salah sekali.
Seseorang membuka pintu perlahan dan seketika aku terkejut melihat siapa orang di balik pintu itu.
"Kau? Kenapa kau masih di sini, bukankah aku sudah meminta Bi Aluh untuk mengusirmu?"
~Bersambung~