Raymond yang dulunya penduduk bumi, mendapati dirinya bereinkarnasi menjadi Rock Lee di anime Naruto. Dalam kepanikannya menerima kenyataan, tiba-tiba dia membalikkan cheat yang dulu dia buat saat main game mobil sewaktu di bumi. Regenerasi tak terbatas dan kebal terhadap ilusi genjutsu. Uchiha Madara: Sialan apakah dia masih manusia. Penulis : hallo semua, saya ingin bersenang-senang membuat novel fanfic ini, selamat membaca..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billy Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Resonansi Suara dan Eksekusi Detik-Detik Krusial
Hutan Kematian mendadak terasa jauh lebih sempit. Kehadiran Tim Guy di area terbuka itu mengubah total dinamika yang semula timpang. Dosu Kinuta, pemimpin taktis dari trio Otogakure, menyipitkan matanya di balik lilitan perban yang membungkus hampir seluruh wajahnya. Hanya satu mata kirinya yang mengintip tajam, bergerak cepat menilai postur tubuh Rock Lee, Neji, dan Tenten.
"Tsk... mengganggu saja," gumam Dosu, suaranya terdengar serak seperti gesekan dua bilah kayu kering. Dia mengangkat lengan kanannya, memperlihatkan Melody Arm—perangkat pemancar suara dari logam berlubang yang terpasang kokoh di pergelangan tangannya. "Satu Hyuga lagi... dan dua serangga Konoha. Zaku, Kin, bersiaplah. Formasi bertahan."
Zaku Abumi, yang berdiri di sisi kiri Dosu, mendengus kencang. Dia menyeringai sombong, memamerkan lubang udara yang tertanam di kedua telapak tangannya. "Biarkan saja mereka datang, Dosu! Aku akan meniup mereka semua sekaligus dengan gelombang udara jutsuku! Mereka hanya datang untuk mengantarkan gulungan tambahan kepada kita!"
"Jangan bodoh, Zaku!" Kin Tsuchi memotong dengan nada ketat, jari-jarinya yang lentik sudah menjepit beberapa bilah senbon yang terikat pada lonceng kecil. Ekspresi wajahnya tampak tegang, matanya tidak lepas dari Neji yang memancarkan aura mengintimidasi. "Lihat mata orang berambut panjang itu. Itu Byakugan yang asli. Mereka bukan tipe genin yang bisa kita remehkan dengan bualanmu!"
Di belakang mereka, Kiba Inuzuka mencoba untuk berdiri tegak, namun rasa sakit di kaki kanannya membuat dia kembali terduduk di atas tanah berlumpur. Akamaru menyusupkan kepalanya ke dalam jaket Kiba, mengeluarkan rengekan kecil yang penuh ketakutan. "Sialan... Lee! Neji! Hati-hati dengan orang yang bernama Dosu itu! Dia tidak perlu memukulmu untuk memberikan kerusakan. Alat di tangannya... bisa memanipulasi suara dan menghancurkan keseimbangan telinga dalammu secara langsung!"
Neji melirik Kiba sekilas tanpa memalingkan wajahnya dari musuh. Byakugan miliknya tetap fokus, memetakan setiap simpul chakra di dalam tubuh ketiga ninja Otogakure tersebut. "Aku bisa melihatnya, Kiba. Aliran chakra mereka berpusat pada alat-alat mekanis di tubuh mereka. Itu bukan ninjutsu murni, melainkan modifikasi teknologi tubuh. Sangat tidak efisien."
"Hei, kalian dari Otogakure!" Tenten melangkah maju satu langkah, tangannya dengan cekatan membuka sebuah gulungan kecil berukuran telapak tangan. Bibirnya melengkung membentuk senyuman penuh percaya diri. "Kalian bilang klan Hyuga lemah? Kautahu, menghina rekan satu desa kami di depan kami adalah kesalahan terbesar yang pernah kalian buat di dalam ujian ini."
Lee tidak banyak bicara. Sebagai Reymond yang berada di dalam tubuh ini, dia sedang mengamati struktur mekanis dari Melody Arm milik Dosu melalui kalkulasi taktis internal sistemnya.
[Analisis Target: Dosu Kinuta.]
[Mekanisme Serangan: Gelombang ultrasonik terarah yang memanfaatkan konduksi tulang telinga dalam. Kecepatan rambat: 343 meter per detik di udara.]
[Rekomendasi taktis: Dekati target dengan kecepatan melampaui ambang batas pendengaran manusia sebelum gelombang resonansi mencapai titik fokus.]
Kecepatan suara, ya? batin Reymond, sebuah senyuman tipis yang sangat dingin muncul di sudut bibirnya. Bagi Rock Lee yang lama, ini mungkin pertarungan yang merepotkan. Tapi untukku... kecepatan suara adalah batas bawah dari apa yang bisa kuhasilkan tanpa beban kaki.
"Neji, Tenten, biarkan aku yang membuka jalurnya," ujar Lee, suaranya terdengar sangat tenang namun berwibawa. Dia melangkah maju dengan santai, mengabaikan peringatan Kiba dan tatapan cemas dari Hinata yang masih memegangi lengan kirinya.
"Lee! Jangan gegabah!" Hinata berbisik lemah, suaranya hampir tenggelam oleh deru angin hutan. "M-mereka... mereka sangat berbahaya..."
"Tidak apa-apa, Hinata-sama," Lee menoleh sedikit, memberikan anggukan kecil yang menenangkan. "Masa muda tidak akan pernah bertekuk lutut di depan gelombang suara rendahan."
"Mati saja kamu, si alis tebal!" Zaku berteriak, melangkah maju sambil mengarahkan kedua telapak tangannya lurus ke arah Lee. "Zankuuha! (Gelombang Udara Pemotong)"
BOOOMM!
Sebuah tekanan udara masif yang bercampur dengan gelombang ultrasonik berfrekuensi tinggi meledak dari telapak tangan Zaku. Serangan itu meratakan semak-semak di depan mereka, menerbangkan tanah dan batu-batu kecil seperti badai pasir mini yang melesat lurus ke arah tubuh Lee.
Namun, tepat sebelum gelombang udara itu menghantamnya, Lee sudah menghilang.
Syuuwt!
"Apa?!" Zaku melotot tak percaya, matanya bergerak panik ke kiri dan ke kanan. Gelombang udaranya hanya menghantam tempat kosong, meninggalkan parit dalam di atas tanah. "Kemana dia?!"
"Di atasmu, bodoh!" Kin Tsuchi berteriak panik, melemparkan senbon berloncengnya ke arah langit-langit daun.
Lee melayang di udara, tubuhnya berputar dengan sangat aerodinamis. Tanpa membuka satu pun Gerbang Batin, kecepatan murninya setelah terbebas dari beban logam sudah cukup untuk membuat mata ninja setingkat Zaku kehilangan jejaknya. Dengan satu sentakan kaki di udara, Lee menukik tajam ke arah Zaku.
Konoha Reppu! (Angin Puyuh Konoha)
Sebuah tendangan menyapu bawah yang sangat cepat dilayangkan Lee. Zaku tidak sempat menghindar; sandal ninja Lee menghantam pergelangan kaki Zaku dengan kekuatan kinetik yang cukup keras untuk membalikkan posisi tubuhnya di udara.
BRAAAK!
Zaku terlempar ke samping, berguling-guling di atas tanah berlumpur sebelum akhirnya menabrak batang pohon mati hingga batangnya retak. "Ugh... s-sialan! Kecepatan macam apa ini?!" muntah darah kecil keluar dari sudut mulut Zaku.
Dosu tidak tinggal diam melihat rekannya ditumbangkan dalam satu gerakan. Dia melesat maju, mengarahkan Melody Arm-nya tepat ke arah telinga kiri Lee saat Lee baru saja mendarat di tanah. "Sudah kubilang... kecepatan fisik tidak berguna di depan suaraku! Kyokyusui!"
Suara dengung yang sangat melengking dan menyakitkan mendadak terpancar dari alat logam milik Dosu. Gelombang itu tidak mengincar fisik, melainkan langsung menyerang syaraf keseimbangan di dalam otak Lee.
Tetapi, Dosu melakukan satu kesalahan besar. Dia tidak tahu bahwa sistem internal Reymond mampu memantau getaran syaraf secara real-time. Sebelum gelombang suara itu sempat menggetarkan cairan di dalam koklea telinganya, Lee sudah memiringkan kepalanya sejauh lima belas derajat—menghindari titik fokus utama dari getaran ultrasonik tersebut—dan di saat yang sama, tangan kiri Lee bergerak secepat kilat mencengkeram pergelangan tangan logam Dosu.
KRETEK!
"Aaaghh?!" Dosu memekik kesakitan saat merasakan tulang pergelangan tangannya berderit kencang di bawah cengkeraman tangan Lee yang menyerupai catut besi raksasa.
"Alat yang bagus," Lee berkata dengan nada yang sangat dingin, menatap mata kiri Dosu yang kini dipenuhi oleh horor yang mendalam. "Tapi jika penggunanya tidak memiliki kecepatan untuk mengarahkannya, ini hanyalah sepotong besi tua yang tidak berguna."
Dengan satu sentakan bahu, Lee mengangkat tubuh Dosu dan menghempaskannya ke atas tanah dengan sangat keras, menciptakan kawah kecil di bawah tubuh pemimpin tim Otogakure tersebut.