Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Pengorbanan Terakhir Sang Pegasus
"Paman, Bibi, kenapa kalian menangis? Bukankah adik bayi sangat lucu dan cantik? Kenapa suasananya jadi menyeramkan?"
Sebelum ada yang bisa menjawab pertanyaan polos Alan, sebuah benturan dahsyat di atas kubah pelindung membuat mereka semua terperanjat.
BRUKK!
Sesosok tubuh terhempas keras tepat di hadapan mereka, meretakkan lantai altar batu. Itu Leonard. Pemimpin klan yang agung itu berhasil meloloskan diri dari cengkeraman Typhon, namun kondisinya berada di ambang kematian.
Pakaian tempurnya hancur total, bersimbah darah segar yang terus mengalir dari luka menganga di sekujur dadanya. Yang paling memilukan bagi Alan adalah melihat kedua sayap gagah ayahnya yang biasanya bersinar, kini patah lunglai, terkulai tak berdaya di atas tanah seperti ranting kering. Leonard telah memaksakan seluruh sisa napas dan jatah hidupnya hanya untuk terbang menuju tempat ini.
"Ayah!"
Alan menghambur tanpa memedulikan larangan Edmond. Dia memeluk tubuh ayahnya yang terasa kian mendingin, membasahi zirah Leonard dengan air matanya yang tumpah ruah.
"Kenapa Ayah terluka begini? Ayah berjanji akan baik-baik saja! Ayah pembohong!"
Leonard terbatuk, darah segar menyembur dari mulutnya, menodai rumput di bawahnya. Namun, matanya yang mulai meredup tetap menatap tajam ke arah Edmond.
"Edmond... maafkan aku... aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi..."
"Jangan bicara dulu, Leonard! Aku akan menyalurkan sisa energiku untukmu!" Edmond berlutut di samping sahabatnya, mencoba mengumpulkan sihir di telapak tangannya.
"Tidak perlu, Edmond. Simpan energimu," Leonard menahan tangan Edmond dengan cengkeraman yang lemah namun tegas. "Typhon sudah mendeteksi keberadaan kita. Barier ini akan hancur dalam hitungan menit. Hanya ada satu jalan tersisa agar bangsa kita tidak sepenuhnya lenyap dari sejarah alam semesta."
Edmond menatap sahabatnya dengan tatapan ngeri karena dia tahu apa yang akan dikatakan Leonard. "Kau ingin... membuka Gerbang Dimensi terlarang?"
"Ya. Kita harus mengirim anak-anak kita ke dimensi lain. Tempat yang jauh dari jangkauan monster-monster ini," bisik Leonard, napasnya semakin tersengal-sengal.
"Tapi, Leonard! Membuka gerbang antar-dimensi secara paksa tanpa ritual lengkap akan menghisap seluruh sisa nyawa dan energi kehidupan kita! Kita akan mati seketika!" seru Edmond dengan nada panik yang tak bisa disembunyikan. "Lagipula... kau harus melihat ini. Anakku... dia berbeda. Dia cacat, Leonard! Dia lahir tanpa sayap, dan kristal kehidupannya berwarna putih, bukan merah!"
Leonard tersentak mendengar ucapan itu. Rasa heran sesaat mengalahkan rasa sakit yang menyiksa tubuhnya. Dia menoleh ke arah bayi yang berada di dekapan Lucia.
Selama beberapa detik, sang pemimpin klan terdiam seribu bahasa. Dia menggelengkan kepalanya seolah menolak mempercayai penglihatannya sendiri.
Sejarah klan Pegasus belum pernah mencatat adanya kelahiran tanpa sayap, apalagi dengan kristal berwarna putih.
Sebelum Leonard sempat menganalisis fenomena aneh itu, sebuah raungan supranatural yang teramat dahsyat mengguncang seluruh hutan.
GROARRGGHHH!!!
Raungan Typhon terdengar tepat di atas kepala mereka. Kubah barier pelindung yang dibuat Edmond mulai retak, memunculkan garis-garis pecah seperti kaca yang siap hancur kapan saja. Cahaya merah dari api luar mulai merembes masuk melalui retakan tersebut.
"Lupakan dulu masalah sayap dan warna kristal itu, Edmond!" tegas Leonard, suaranya tiba-tiba meninggi, menggelegar penuh otoritas seorang pemimpin meski tubuhnya sekarat. "Mungkin saja sayapnya belum tumbuh karena energinya tersimpan di dalam kristal putih itu! Kita tidak punya waktu lagi untuk berdebat! Pilihannya adalah anakmu mati dicabik monster di sini, atau hidup di dimensi lain! Kita harus mengerahkan sisa kekuatan sekarang juga demi masa depan mereka!"
Edmond menatap wajah bayinya yang polos, lalu menatap istrinya yang mengangguk lemah dengan sisa-sisa air mata. Keyakinan Edmond kembali. Dia menyingkirkan segala prasangka buruk dan ketakutannya.
"Kau benar, Sahabatku. Mari kita lakukan," jawab Edmond mantap.
Alan menatap ayahnya dengan mata yang kembali banjir air mata. Dia memegang tangan ayahnya yang kasar. "Ayah... apa yang akan Ayah lakukan? Apa itu dimensi lain? Aku tidak mau pergi ke tempat asing sendirian..."
"Kau tidak sendirian, Alan. Kau bersama adik kecilmu," Leonard membelai pipi Alan dengan sisa kehangatan tangannya, mencoba menyalurkan keberanian terakhir. "Ayah ingin kamu selamat, Nak. Ayah, Paman, dan Bibi akan mengirimmu ke tempat yang damai. Tempat yang dipenuhi langit biru tanpa kepulan asap, tempat tanpa monster di mana kamu bisa tumbuh dan hidup dengan bahagia. Menjadilah kuat di sana."
"Tapi aku tidak mau hidup bahagia jika tidak ada Ayah di sampingku! Aku ingin bertarung di sini bersama Ayah!" lolong Alan, memeluk leher ayahnya dengan erat, enggan dilepaskan.
"Cukup, Alan! Dengarkan Ayah!"
Leonard melepaskan pelukan itu dengan paksa namun penuh kasih sayang. Dia mencengkeram kedua bahu putranya, memaksa anak itu berdiri tegak.
"Kau adalah seorang laki-laki dari klan Pegasus. Mulai hari ini, masa kanak-kanakmu sudah berakhir. Kau harus menjadi pelindung. Berjanjilah pada Ayah untuk tetap bertahan hidup, dan tolong... jaga anak Paman Edmond. Jangan biarkan ada satu hal buruk pun menyentuhnya. Bisakah kau berjanji pada Ayah?"
Alan menatap mata ungu ayahnya yang mulai kehilangan cahaya kehidupan. Di tengah gemuruh kehancuran dunianya, bocah berusia tujuh tahun itu menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Dia membusungkan dada kecilnya, mengumpulkan seluruh sisa keberanian yang dia miliki.
"Iya, Ayah. Aku berjanji. Aku akan menjadi kuat dan aku akan melindungi adik bayi dengan seluruh nyawaku," jawab Alan dengan suara yang tidak lagi bergetar.
Mendengar itu, sebuah senyuman tipis namun tulus terukir di bibir Leonard yang berdarah. "Anak pintar."
Sesuai instruksi cepat Leonard, Edmond dengan tangan yang gemetar menekan lembut kristal putih itu ke bibir bayinya. Dengan insting magis, bayi perempuan itu menelan kristal tersebut hingga menyatu sempurna ke dalam dadanya, memancarkan pendaran cahaya putih redup sesaat di balik kulitnya.
Edmond kemudian meletakkan bayinya dengan hati-hati di atas altar batu. Alan segera melangkah mendekat, duduk di samping bayi itu, lalu mengangkat tubuh mungil tersebut ke dalam dekapannya secara protektif.
Leonard, Edmond, dan Lucia segera mengambil posisi, membentuk formasi segitiga yang mengelilingi altar batu. Mereka bertiga memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, dan mulai menguras seluruh esensi kehidupan yang tersisa di dalam jantung mereka.
Seketika itu juga, aura magis yang luar biasa masif meledak dari tubuh mereka. Enam elemen dasar yang menjadi pilar Planet Diamond keluar secara bersamaan: Api merah membara dari Leonard, Tanah dan Petir dari Edmond, serta Angin, Air, dan Es dari Lucia.
Enam pusaran warna elemen itu menyatu di udara, berputar dengan kecepatan tinggi yang memekakkan telinga, menciptakan tekanan udara yang sangat dahsyat hingga merobek ruang di belakang Alan. Sebuah lubang hitam pekat yang menganga dengan pinggiran cahaya keemasan terbuka, memancarkan daya hisap yang kuat.
Kubah pelindung di atas mereka hancur berkeping-keping pada detik yang sama. Wajah monster Typhon dengan mata merah menyala mengintip dari balik pohon yang tumbang, bersiap untuk menerkam.
"Alan, cepat! Dekap bayinya dan masuk sekarang juga sebelum gerbangnya menutup!" raung Leonard untuk terakhir kali, seluruh urat di wajahnya menegang karena menahan beban magis yang luar biasa. Tubuhnya mulai retak-retak memancarkan cahaya.
"Selamat tinggal, Ayah... Paman... Bibi..." ucap Alan lirih.
Dengan dekapan yang teramat erat pada bayi tanpa sayap di dadanya, Alan memejamkan mata dan mengambil satu langkah mundur. Tubuh kecilnya langsung tersedot ke dalam kegelapan lubang dimensi yang tak berdasar, menghilang dari dunia yang sedang sekarat itu.
Tepat setelah gerbang dimensi itu tertutup dan menyusut menjadi titik sekecil debu, keheningan total mendadak menyergap altar batu. Sisa-sisa elemen yang berputar langsung lenyap. Leonard, Edmond, dan Lucia terkapar di atas tanah.
Luka-luka di tubuh mereka memang sangat mengenaskan, namun raut wajah ketiganya tampak begitu damai, menyiratkan kelegaan yang luar biasa karena telah berhasil menyelamatkan masa depan mereka.
Perlahan-lahan, tubuh ketiga pejuang Pegasus itu berpendar terang. Sel demi sel tubuh mereka hancur, berubah menjadi jutaan serpihan cahaya keemasan yang indah. Serpihan-serpihan cahaya itu terbang tinggi ke angkasa, dibawa oleh angin malam, meninggalkan Planet Diamond yang sesaat kemudian meledak hebat, runtuh menjadi debu kosmis yang sunyi di tengah kegelapan semesta yang mahaluas.