NovelToon NovelToon
Satu Bulan Menunda Cerai

Satu Bulan Menunda Cerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.

Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 1: Terbangun di Meja Perceraian

Rasa pening yang luar biasa menghantam pelipis Gisella.

Matanya membuka menutup beberapa kali, mencoba menghalau buram yang menyiksa pandangan.

Aroma ruangan ini asing—bukan wangi kamarnya yang biasa, melainkan perpaduan antara aroma buku lama, kopi hitam yang pekat, dan sedikit wangi maskulin yang dingin.

"Jika kau memang sangat ingin bebas dari pernikahan ini, tanda tangani suratnya dan pergilah sekarang."

Sebuah suara bariton yang rendah, dingin, dan tanpa emosi memecah keheningan.

Gisella tersentak.

Kesadarannya ditarik paksa. Di hadapannya, berdiri seorang pria jangkung dengan postur tubuh yang luar biasa proporsional.

Tingginya pasti di atas 180 sentimeter, mengenakan kemeja putih yang disetrika sempurna dengan beberapa kancing atas yang terbuka, memperlihatkan garis leher yang tegas.

Wajahnya... luar biasa tampan. Rahangnya kokoh, hidungnya mancung bagai dipahat, dan sepasang matanya yang tajam tersembunyi di balik kacamata berbingkai perak tipis. Pria itu menatapnya dengan pandangan penuh rasa muak yang tertahan.

"Siapa pria ini? Mengapa dia terlihat seperti model papan atas, tapi auranya menyeramkan sekali?" batin Gisella panik.

Gisella menunduk.

Di atas meja kayu mahoni di depannya, tergeletak beberapa lembar kertas putih dengan tulisan tebal di bagian atas:

SURAT KESEPAKATAN BERSAMA UNTUK PERCERAIAN.

Otak Gisella mendadak kosong.

"Perceraian? Menikah saja belum pernah, bagaimana bisa aku mendadak bercerai?!"

Detik berikutnya, gelombang ingatan asing yang bukan miliknya menghantam kepalanya bagai air bah.

Rasa sakit itu membuat Gisella refleks memegangi kepalanya dan mendesah lirih.

Informasi demi informasi berputar di benaknya seperti rol film yang diputar dengan kecepatan tinggi.

Gisella, seorang wanita pekerja keras dari dunia modern yang baru saja meninggal karena kelelahan setelah lembur tiga hari berturut-turut, kini telah bertransmigrasi.

Dan sialnya, dia masuk ke dalam tubuh seorang karakter figuran berumur 24 tahun yang memiliki nama sama dengannya: Gisella.

Lebih buruknya lagi, ini adalah dunia dari sebuah novel roman picisan yang pernah dia baca sebelum mati.

Karakter Gisella di dunia ini adalah definisi nyata dari wanita bodoh yang dibutakan oleh cinta toksik.

Dia bisa menikah dengan pria di hadapannya—Adrian Arthur—hanya karena kakek Gisella pernah menyelamatkan nyawa Tuan Besar Arthur di masa lalu.

Sebagai bentuk balas budi, keluarga Arthur yang terpandang dan kaya raya menikahkan putra sulung mereka, Adrian, dengan Gisella.

Adrian Arthur di usianya yang baru 27 tahun adalah seorang profesor riset jenius di bidang sains dan teknologi.

Dia adalah pria idaman, sosok mandiri yang dihormati, dan memiliki masa depan yang luar biasa cerah.

Namun, Gisella asli justru menyia-nyiakannya. Merasa Adrian terlalu dingin dan kaku, Gisella asli memilih tidur di kamar terpisah selama enam bulan pernikahan mereka.

Dia justru mengejar-ngejar cinta pertamanya,

Julian, seorang pria parasit yang manipulatif.

Gisella asli terus-menerus membuat keributan, menangis, dan mengamuk menuntut perceraian agar bisa bersama Julian.

Dia bahkan meminta uang kompensasi sebesar satu juta dolar dari keluarga Arthur.

Di dalam plot asli novel, setelah mendapatkan uang itu dan bercerai, Julian dengan cepat menguras seluruh harta Gisella, berselingkuh dengan wanita lain, dan mencampakkannya.

Gisella asli yang malang akhirnya menderita depresi, jatuh miskin, dan tewas mengenaskan di pinggir jalan pada usia 27 tahun.

"Tunggu... mati tragis di jalanan?!"

Gisella bergidik ngeri. Kulit kuduknya meremang.

Tubuhnya gemetar menyadari takdir mengerikan yang sedang mengintainya.

Saat ini, garis waktu cerita berada tepat di titik awal kehancuran itu.

Di depannya adalah Adrian, sang pelindung yang akan melepaskannya menuju jurang maut.

"Kenapa diam saja?"

Adrian bersuara lagi, memecah lamunan Gisella. Dia melirik jam tangan Rolex di pergelangan tangan kirinya dengan tidak sabar.

"Bukankah ini yang kau teriakkan setiap hari sambil menangis? Kau bilang kau tidak tahan hidup denganku. Kau bilang kau ingin bebas bersama Julian-mu itu. Sekarang, setelah aku mengabulkannya, apa lagi yang kau tunggu? Tandatangani, dan bawa uang yang kau minta."

Adrian melemparkan sebuah pulpen mewah ke atas meja.

Pulpen itu menggelinding dan berhenti tepat di atas kertas putih tersebut.

Gisella menatap pulpen itu, lalu menatap wajah Adrian.

Di balik kacamata peraknya, mata Adrian memancarkan kekecewaan yang mendalam, dicampur dengan kepasrahan.

Pria ini telah habis kesabaran menghadapi tingkah gila Gisella asli.

"Tidak! Aku tidak boleh menandatanganinya sekarang!' teriak Gisella dalam hati.

Jika dia menandatanganinya hari ini, dia harus keluar dari kediaman keluarga Arthur.

Di luar sana, Julian si bajingan sudah bersiap untuk menjemputnya dan merampas uang kompensasi itu.

Tanpa koneksi, tanpa pekerjaan di dunia baru ini, dan dengan bayang-bayang plot novel yang kuat, Gisella tahu dia akan berakhir menjadi gelandangan dalam waktu singkat. Dia butuh waktu untuk menyusun strategi, memutus hubungan dengan Julian, dan mencari cara untuk bertahan hidup secara mandiri.

Gisella menarik napas dalam-dalam.

Sudut matanya mendadak memerah.

Bukan karena akting, melainkan karena dia benar-benar takut mati untuk kedua kalinya.

Dengan gerakan lambat, Gisella mendorong kembali pulpen itu menjauh dari surat cerai.

Dia mendongak, menatap Adrian dengan sepasang mata yang berkaca-kaca, memancarkan penyesalan yang amat sangat.

"Adrian..."

suaranya bergetar, terdengar serak dan rapuh.

Adrian sedikit mengernyit.

Biasanya, jika dia menyebut nama Julian, Gisella akan langsung meradang, membela pria itu mati-matian, atau berteriak histeris menuduh Adrian sebagai pria berhati batu.

Tapi hari ini, reaksi wanita di hadapannya sungguh berbeda.

Sorot mata Gisella tidak lagi dipenuhi kebencian atau kegilaan, melainkan ketakutan dan... ketulusan yang asing.

"Apalagi yang ingin kau katakan?"

tanya Adrian, nadanya sedikit melunak namun tetap menjaga jarak.

Gisella meremas ujung bajunya, mencoba menstabilkan emosinya.

"Aku... aku tahu aku sudah keterlaluan selama enam bulan ini. Aku tahu aku telah menyakiti Ayah, Ibu, Valerie, dan terutama... dirimu."

Adrian terdiam. Alisnya bertaut lebih dalam.

"Aku tidak akan membantah lagi. Aku tahu aku salah,"

lanjut Gisella, sebutir air mata fiktif yang berhasil dia paksa keluar akhirnya menetes membasahi pipinya.

"Surat ini... aku akan menandatanganinya. Aku setuju kita bercerai."

Mendengar kata 'setuju', ada kilat aneh yang melintas di mata Adrian.

Ada rasa lega, namun entah mengapa, ada sedikit kekosongan yang menyergap dadanya. Namun, kalimat Gisella berikutnya membuat sang profesor tertegun.

"Tapi... bisakah aku meminta satu permohonan terakhir?"

Gisella menatap Adrian dengan pandangan memohon yang amat sangat.

"Beri aku waktu satu bulan lagi. Biarkan aku tetap tinggal di rumah ini selama satu bulan, sampai proses administrasi di pengadilan benar-benar selesai. Setelah satu bulan... aku berjanji akan mengemas barang-amarku dan pergi dari kehidupanmu tanpa membawa satu sen pun uang kompensasi itu."

Seketika, keheningan mencekam menyelimuti ruangan kerja tersebut.

Adrian menatap Gisella dengan tatapan menyelidik, seolah sedang berusaha membaca apa yang sedang direncanakan oleh wanita di depannya.

"Satu bulan? Menolak uang kompensasi satu juta dolar? Apakah ini trik baru?" Selama ini, Gisella selalu menuntut uang dan kebebasan.

Mengapa tiba-tiba dia melepaskan uang sebesar itu hanya untuk tinggal satu bulan lagi?

"Gisella, trik apa lagi yang sedang kau mainkan?"

Adrian melangkah mendekat, bersedekap dada. Auranya yang intimidatif membuat Gisella menahan napas.

"Kau menangis berhari-hari menuntut kebebasan. Sekarang, setelah pintu gerbang itu kubuka, kau justru ingin mengulur waktu? Apa Julian yang menyuruhmu melakukan ini?"

Mendengar nama Julian, Gisella langsung menggelengkan kepala dengan cepat, ekspresinya berubah menjadi jijik yang spontan—sesuatu yang tidak luput dari pandangan tajam Adrian.

"Tidak! Ini tidak ada hubungannya dengan dia!" tegas Gisella.

"Aku hanya... aku hanya tersadar betapa bodohnya aku selama ini. Aku telah mengecewakan Tuan dan Nyonya Arthur yang begitu baik kepadaku. Aku hanya ingin menggunakan waktu satu bulan ini untuk menebus kesalahanku, berperilaku baik sebagai menantu, dan... mempersiapkan diriku sebelum benar-benar hidup mandiri. Aku bersumpah, aku tidak akan mengganggumu. Aku tidak akan masuk ke kamarmu tanpa izin, dan aku tidak akan membuat keributan lagi."

Gisella mengangkat tangan kanannya, membentuk gestur bersumpah.

Wajahnya yang pucat namun cantik terlihat sangat bersungguh-sungguh.

Adrian memperhatikannya lekat-lekat. Gisella di hadapannya terasa sangat berbeda.

Cara bicaranya yang tertata, sorot matanya yang jernih tanpa ada kemarahan histeris, dan ketakutan yang jujur di matanya... semua itu bukan seperti Gisella yang dia kenal selama enam bulan terakhir.

Apakah seseorang bisa berubah drastis hanya dalam semalam setelah kepalanya terbentur jendela saat mengamuk kemarin?

Adrian menghela napas panjang.

Dia melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.

Mengusir Gisella sekarang juga sebenarnya bisa memicu kemarahan orang tuanya yang sangat menyayangi wanita itu karena utang budi masa lalu.

Jika Gisella mengajukan penundaan satu bulan secara damai dan menolak uang kompensasi, setidaknya itu akan memberi waktu bagi Adrian untuk menjelaskan situasi ini secara perlahan kepada keluarganya.

"Satu bulan," ucap Adrian akhirnya, suaranya kembali dingin namun tegas.

Dia memakai kembali kacamatanya dan menatap Gisella lurus-lurus.

"Hanya satu bulan. Jika dalam satu bulan ini kau membuat satu saja keributan, atau jika aku melihatmu berhubungan lagi dengan pria itu di lingkungan rumah ini, aku akan langsung mengusirmu tanpa peduli apa pun. Mengerti?"

Gisella merasa seolah beban seberat satu ton baru saja diangkat dari pundaknya.

Matanya berbinar cerah, senyuman lebar yang tulus tanpa sadar terukir di wajahnya yang jelita.

"Mengerti! Terima kasih, Adrian! Kau benar-benar pria yang baik!"

seru Gisella dengan nada riang yang tak bisa disembunyikan.

Adrian sedikit terpaku melihat senyuman itu.

Selama enam bulan pernikahan mereka, dia hanya pernah melihat Gisella cemberut, menangis, atau menatapnya dengan penuh dendam.

Ini adalah pertama kalinya dia melihat wanita itu tersenyum begitu lepas dan tulus.

Dada Adrian berdesir aneh, namun dia segera menepis perasaan itu dengan berdeham pelan.

"Simpan surat itu. Satu bulan lagi, kita bawa ke pengadilan,"

kata Adrian ketus sambil membalikkan badannya, kembali ke meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan jurnal ilmiah.

"Sekarang, kembali ke kamarmu. Aku harus bekerja."

"Baik, Profesor! Selamat bekerja!"

Gisella dengan cekatan mengambil surat perceraian itu, melipatnya dengan rapi, dan memeluknya erat-erat bagai jimat keberuntungan.

.Dia berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja Adrian dengan hati yang jauh lebih ringan.

Begitu pintu kayu ek itu tertutup di belakangnya, Gisella bersandar pada dinding koridor rumah mewah keluarga Arthur.

Dia mengembuskan napas panjang yang tertahan sejak tadi.

"Fase pertama berhasil,"

bisik Gisella pada dirinya sendiri, seulas senyum penuh tekad muncul di bibirnya.

"Gisella yang asli mungkin memilih mati demi cinta bodoh. Tapi aku? Aku akan menggunakan satu bulan ini untuk membalikkan takdir. Aku tidak akan mati di jalanan!"

Di dalam ruang kerja yang sepi, Adrian Arthur menghentikan ketukan jarinya di atas papan tik komputer.

Pandangannya beralih ke arah pintu tempat Gisella baru saja keluar.

Dia menyentuh dagunya, tenggelam dalam pemikiran yang mendalam.

'Gisella... apa yang sebenarnya terjadi padamu?"

1
Mar lina
lanjut Thor ceritanya
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...
Mar lina
Aku mampir, Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!