Kisah cinta rumit si gadis culun yang berusaha mengambil hati seorang direktur tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TINGGAL BERSAMA
Keputusan Gilang yang meminta Pelangi untuk tinggal di rumahnya ternyata bukanlah omong kosong belaka. Pagi itu juga Gilang meminta Pelangi membereskan pakaiannya, lalu dengan enggan melempar ransel tua milik Pelangi yang telah terisi penuh ke dalam bagasi mobilnya.
Pelangi yang melihat sikap Gilang, mendadak menjadi takut pada pria itu. Walaupun Gilang tersenyum kepada Nurdin, dan mengatakan bahwa Pelangi akan baik-baik saja, tetap saja tubuh Pelangi gemetar ketakutan. Ia tahu, jika Gilang hanya berpura-pura baik di depan Nurdin dan yang lainnya.
Setelah berpamitan dengan Nurdin dan berpelukan dengan Popy sambil membisikan bahwa ia akan segera menghubungi Popy secepatnya, Pelangi memasuki mobil mewah Gilang dan menutup pintunya dengan pelan. Tidak lama kemudian Gilang dan Toni masuk ke dalam mobil. Gilang duduk di samping Pelangi, sementara Toni bersiap di belakang kemudi.
"Apapun yang diminta ayah padamu, jangan dengarkan. Langsung berkendara ke rumahku saja," ujar Gilang, seolah ia telah menebak bahwa Farhan pastilah meminta Toni untuk mengantar Pelangi dan dirinya ke kediaman sang ayah.
Toni mengangguk, kemudian perlahan menjalankan sedan mewah itu menjauhi rumah Pelangi.
Pelangi menatap ke belakang. Memandangi rumah sederhananya dari kaca belakang mobil, tahu bahwa ia pasti akan merindukan rumah itu, rumah masa kecilnya yang penuh dengan kenangan.
"Sampai kapan kamu akan membawaku?" tanya Pelangi tiba-tiba. Tidak tahan untuk tidak mengajukan pertanyaan itu.
Gilang tidak menjawab. Pria itu diam bagai patung, hanya matanya yang melirik Pelangi sekilas, dengan kilatan kesal yang tidak berusaha ia sembunyikan.
***
Pelangi tidak begitu terkejut, ketika Gilang segera keluar dari dalam mobil dan membanting pintunya dengan kasar saat mereka telah tiba di kediamannya.
Toni menoleh untuk menatap Pelangi. "Bertahanlah. Jangan mudah menyerah, ini baru permulaan." Setelah mengatakan hal itu, Toni segera keluar dari dalam mobil dan berlari kecil menuju bangunan mewah di depannya.
Pelangi mengelus dada, menguatkan hatinya, lalu membuka pintu mobil, mengambil ransel usangnya di dalam bagasi dan melangkah dengan enggan menuju bangunan utama.
"Argh, sial, sial, sial! Argh!" Teriakan Gilang memenuhi ruangan. Pria itu bahkan tidak segan untuk membanting barang-barang yang ada di sekitarnya, termasuk Vas antik buatan luar negeri yang dipajang di ruang tamu.
Pelangi terkejut melihat kemarahan Gilang, terlebih lagi vas yang Gilang lempar hampir mengenainya.
"Kamu!" Gilang menunjuk Pelangi dan menghampiri gadis itu. "Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" teriak Gilang, sembari mengguncang tubuh Pelangi dengan kuat.
Pelangi tidak mengatakan apa-apa, ia hanya menunduk manatap kakinya, berharap Toni menarik tubuh Gilang menjauh dari dirinya. Namun, harapannya sia-sia. Toni diam saja bagai patung, seolah tidak peduli akan ketakutan yang ia rasakan.
"Jawab aku, Sialan!" Gilang menyentak dagu Pelangi dengan kasar, membuat Pelangi semakin gemetar ketakutan.
Pelangi tetap diam, kali ini ia memandang lurus ke arah Toni berdiri, memberi tatapan memohon kepada pria itu agar dapat menolongnya dari kemarahan Gilang.
"Kenapa kamu diam saja, hah?!" Gilang mendorong tubuh Pelangi, saat Pelangi tidak jua menjawab pertanyaannya, membuat tubuh gadis itu terjatuh di atas pecahan vas yang tajam.
"Pelangi!" Andrew tiba, ia langsung menghampiri Pelangi yang tersungkur di lantai. "Astaga, kamu terluka."
Mendengar perkataan Andrew, Gilang segera memandang Pelangi, dan benar saja, dahi gadis itu terlihat mengeluarkan cairan kental kemerahan, begitu juga dengan telapak tangan dan lututnya.
"Bangunlah, ayo." Andrew membantu Pelangi untuk berdiri, lalu mengusap dahi Pelangi dengan lengan jasnya.
"Terima kasih," lirih Pelangi, dengan suara yang bergetar.
Gilang terganggu melihat keadaan Pelangi. Wajahnya pucat, kakinya gemetar, suaranya serak dan terdengar begitu sedih, tubuhnya terluka, dan air matanya terus mengalir tanpa henti. Ingin rasanya ia menghampiri Pelangi dan meminta maaf pada gadis itu. Akan tetapi, kekesalannya mengalahkan semua rasa iba itu.
"Aku akan membawanya ke kediaman Tuan Farhan, Pak Gilang," ucap Andrew, setelah beberapa saat.
Mendengar itu, Gilang bereaksi. Ia menghampiri Pelangi dan Andrew, lalu menarik lengan Pelangi, membuat gadis itu berdiri di sebelahnya. "Aku belum selesai dengannya. Tidak ada yang bisa membawanya pergi!" desis Gilang.
Andrew tidak mau kalah. Ia menarik lengan Pelangi dari cekalan Gilang, dan membuat gadis itu kembali berdiri di sebelahnya. "Dia bisa mati jika dibiarkan berada di sini. Lihat saja dia, belum lima menit tetapi tubuhnya sudah terluka."
Gilang mendengkus kesal. "Dia tanggungjawabku, apa pun yang terjadi padanya pasti akan kupertanggungjawabkan. Kamu sama sekali tidak memiliki hak untuk membawanya pergi dariku!"
Andrew menaikan sebelah alisnya, lalu ia tertawa mendengar perkataan Gilang. "Jika dia tanggungjawabmu, maka apa benar bahwa kamu telah menidurinya?
Gilang melayangkan tinju di wajah tampan Andrew. " Diamlah kamu, dan cepat pergi dari sini sebelum aku menghajarmu habis-habisan!"
Andrew menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Terlihat ia ingin mendebat Gilang, tetapi Pelangi dengan cepat menghentikan niat Andrew. Ia tidak ingin Andrew kembali mendapat tinju dari Gilang. "Pak Andrew kembalilah, aku akan tetap di sini sampai Pak Gilang memintaku untuk pergi," ujar Pelangi.
"Tapi di sini berbahaya untukmu, Pelangi, lebih aman jika kamu tinggal di rumah Pak Farhan untuk sementara."
Pelangi menatap lurus ke dalam mata Andrew, ia sedikit terkejut saat mendapati tatapan Andrew yang terlihat benar-benar tulus, menyesal dan khawatir pada keadaannya.
Pelangi memberi senyum paling tulus yang ia miliki, berusaha membuat Andrew paham bahwa ia tahu Andrew melakukan semua perintah Tuan Farhan karena terpaksa, sama seperti Pelangi, yang melakukan semuanya dengan terpaksa. "Aku tidak akan kenapa-kenapa, terima kasih karena telah memikirkan keadaannku."
Andrew menunduk, menatap Pelangi dengan saksama. "Mana ponselmu?" tanyanya.
"Untuk apa?"
"Mana?!" seru Andrew, sedikit memaksa.
Pelangi memberikan ponselnya pada Andrew. Andrew segera mengambil ponsel dari tangan Pelangi, lalu mengetik nomornya pada ponsel itu dan melakukan panggilan ke ponselnya sendiri. "Jangan ragu untuk menghubungi aku jika terjadi sesuatu," ujar Andrew, lalu mengembalikan ponsel Pelangi. "Dan segera cuci lukamu, beri obat merah, lalu minumlah pereda nyeri. Kamu bisa meminta obat itu pada Toni, jika Pak Gilang tidak memberikanmu obat apa pun."
Pelangi mengangguk.
"Baiklah, aku kembali dulu." Untuk sesaat Andrew terlihat canggung, tetapi kemudian ia menyentuh tangan Pelangi dan meremasnya dengan lembut sebelum berbalik dan benar-benar pergi dari rumah mewah itu.
"Apa hubunganmu dengannya? Kalian terlihat akrab. Apa kamu juga pernah tidur dengannya?" tanya Gilang, saat Andrew tidak lagi terlihat di ambang pintu.
Pelangi sakit hati mendengar ucapan Gilang. "Apa aku terlihat seperti perempuan yang akan tidur dengan siapa saja?"
Gilang tersenyum miring mendengar pertanyaan Pelangi. "Tidak, kamu terlihat lugu, tetapi siapa tahu saja kan. Buktinya kamu berhasil menyeretku ke tempat tidurmu. Entah apa yang kamu lakukan padaku semalam, hingga aku berakhir di atas ranjangmu."
Pelangi menatap Gilang dengan kesal, tidak ada lagi ketakutan di dalam dirinya setelah Gilang tanpa ragu membuatnya terluka."Kenapa Anda berpikir bahwa akulah yang memaksa Anda untuk melakukan hal itu denganku. Kenapa Anda tidak berpikir bahwa kita melakukannya karena keinginan Anda. Aku mana berani memaksa Anda, Pak, tapi Adalah yang memaksaku."
"Benarkah? Kalau memang begitu kejadiannya, kenapa aku tidak ingat apa pun, Pelangi?" tanya Gilang sambil melangkah maju memghampiri Pelangi.
Jarak mereka sudah semakin dekat, Pelangi memilih untuk diam di tempat, sementara Gilang terus mendekat ke arahnya. Setelah tiba di hadapan Pelangi, Gilang menunduk, membuat wajahnya sejajar dengan wajah Pelangi. "Aku sama sekali tidak mengingat momen indah itu, Pelangi. Jika memang kita tidur bersama semalam, coba buktikan sekali lagi, agar aku dapat mengingat bagaimana rasanya tubuhmu di bawah tubuhku!"
Pelangi mundur selangkah, matanya membelalak mendengar apa yang Gilang ucapkan.
"Kenapa? Kamu takut? Apa kamu tidak ingin mengulang momen indah semalam, hah?" Gilang menarik tubuh Pelangi ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat. "Pergi ke kamarku, Toni akan mengantarmu. Aku akan segera menyusul!" Gilang melepas tubuh Pelangi dengan tiba-tiba membuat gadis itu hampir saja terjatuh.
Toni menghampiri Pelangi, dan mengangguk pada gadis itu. "Ikuti aku."
Bersambung ....
.
.
.
.
Visual Gilang 👇
Reader yang sudah pernah baca tulisan aku sebelumnya pasti bertanya-tanya, "Kok visualnya dia lagi, dia lagi, sih?"
Yup, ini adalah Visual Sbastian, tokoh utama di novel CINTA SI TUAN BUCIN.
Ya, habisnya, aku nggak kepikiran Visual. lain, sih. hahaha.
Happy Reading, ya, Reader. Terima kasih akan kehadirannya yang selalu setia membaca tulisanku. Semoga suka 💕💕
Kalau kalian suka baca cerita Fantasi, boleh Add akun FB aku "Novia V Lestari" akan ada cerita bergenre Fantasi yang akan Up di sana.
😁😁
dan ending yang menyedihkan untuk Gisel and the Genk..
btw..
soal visualnya mereka ,aku liat² wajah mereka pada serupa yaa sama para pasangan nya..
jangan ² mereka beneran jodoh di dunia nyata 🖤🖤
rasa nya kok sedih yaa..
Selamat ber bahagia Gilang pelangi dan semua nya🤗🖤
gemes sama Toni ..
satu demi satu
kebahagiaan mu akan trcapai
terlebih Gilang harapan saya kpd outhor smoga Gilang sembuh seperti sedia kala
supaya pelangi semakin bahagia 🙏❤️