Amir adalah seorang pemuda yatim piatu yang selama bertahun-tahun hidup menderita sebagai menantu yang sama sekali tidak dianggap oleh keluarga istrinya, meskipun ia sudah bekerja keras banting tulang dari pagi hingga larut malam setiap harinya. Kesabarannya diuji hingga batas maksimal ketika ibu mertua dan adik iparnya dengan kejam menendangnya ke dalam danau saat ia sedang memancing, hanya demi memaksanya menceraikan istrinya yang hendak dijodohkan dengan pria kaya. Namun, di saat Amir tenggelam dan hampir kehilangan nyawanya, ia justru membangkitkan [Sistem Check-in Memancing] yang akan mengubah jalan hidupnya yang menyedihkan menjadi seorang legenda yang bergelimang harta dan kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, ia merasakan beban yang sangat berat terangkat sepenuhnya dari pundaknya.
Ia bangkit berdiri dan meraih gagang kopernya dengan penuh semangat yang membara.
"Pertama-tama, aku harus makan siang dan menyewa kamar kos yang murah untuk menyimpan barang-barangku ini."
"Setelah itu, aku akan kembali ke danau dan menguji seberapa hebat Kail Keberuntungan ini bekerja."
Satu jam kemudian, Amir sudah selesai memindahkan barangnya ke sebuah kos sederhana berdinding batako di pinggiran kota.
Ia juga telah mandi dan berganti pakaian kering berupa kaos oblong putih serta celana pendek selutut.
Kini ia kembali berdiri di tepi danau, namun di sisi yang agak jauh dari lokasi ia ditendang pagi tadi.
Beruntung, joran pancing miliknya yang jatuh masih tersangkut aman di semak-semak dekat bibir danau dan tidak ada yang memungutnya.
Angin sore mulai berhembus cukup sejuk membawa aroma air tawar yang khas dan bau tanah basah.
Amir mengambil Kail Keberuntungan Tingkat Rendah dari menu inventaris Sistemnya.
Wush.
Kail perak itu muncul secara misterius dan berkilat di telapak tangannya seolah keluar dari udara kosong.
"Sangat ringan dan ujungnya sangat tajam, kualitas materialnya jauh di atas kail baja di toko pancing biasa."
Amir segera mengikat kail itu ke ujung senar pancingnya dengan ikatan simpul ganda yang sangat kuat.
Sebagai umpan, ia menggunakan pelet murah sisa yang ia bawa di dalam kotak perkakasnya pagi tadi.
"Mari kita lihat keajaiban dan keberuntungan apa yang bisa kau berikan padaku sore ini."
Syuut!
Amir melempar kailnya jauh menukik ke tengah danau dengan ayunan tangan yang mulus.
Plup.
Pelampung pancing berwarna merah menyala mengapung dengan tenang di atas ketenangan air.
Amir kembali duduk bersila menanti dengan penuh kesabaran seperti pemancing profesional.
Waktu berlalu dengan sangat cepat dan matahari sudah mulai condong turun ke ufuk barat.
Sudah hampir tiga puluh menit lamanya pelampungnya tidak bergerak atau bergoyang sama sekali.
"Apakah aku salah memilih tempat lemparan."
"Danau ini memang sejak dulu terkenal sangat sulit untuk mendapatkan ikan berukuran besar."
Amir mulai bergumam dengan sedikit keraguan yang merayap di hatinya.
Namun baru saja ia berniat untuk menarik jorannya dan berpindah mencari tempat yang lebih dalam.
Pelampung merah di tengah danau tiba-tiba tersentak dengan sangat kasar ke bawah.
Blub blub blub!
Pelampung itu langsung tenggelam sepenuhnya ke dalam air tanpa jeda sedikit pun untuk mengambang lagi.
Zzzzzrrrrt!
Reel pancing Amir berputar liar tak terkendali mengeluarkan suara gesekan gir yang memekakkan telinga.
Senar pancing nilonnya menegang kaku hingga mengeluarkan suara siulan saat membelah hembusan angin.
"Akhirnya dapat!"
Amir berteriak kegirangan sambil mencengkeram jorannya kuat-kuat dengan kedua tangan.
Tenaga tarikan dari dalam air ini sangatlah brutal dan liar.
Ini jauh lebih kuat dan bertenaga daripada tarikan ikan yang ia dapatkan pagi tadi sebelum ditendang oleh Rendy.
Tubuh Amir sampai terseret beberapa sentimeter ke depan menyapu rumput menuju bibir danau.
"Kuat sekali, ini pasti bukan jenis ikan konsumsi biasa!"
"Aku tidak boleh gegabah, senar pancingku yang murah ini bisa putus kalau dipaksakan menahan beban."
Amir memutar otak menggunakan teknik tarik ulur yang sering ia pelajari dari menonton video memancing di internet.
Saat ikan itu menarik kuat berlawanan arah, ia mengulur sedikit senar agar ketegangannya tidak terputus.
Namun saat tarikan ikan itu mulai melemah, ia menggulung reel dengan kecepatan penuh tanpa ampun.
Pertarungan sengit antara otot manusia dan insting makhluk misterius di dalam air berlangsung selama sepuluh menit penuh.
Keringat dingin mulai bercucuran membasahi dahi dan leher Amir.
Tiba-tiba, permukaan air di tengah danau bergolak hebat dan sesuatu melompat keluar memecah ketenangan air.
Byar!
Air memercik deras ke segala arah memantulkan cahaya matahari sore yang mulai menguning keemasan.
Mata Amir terbelalak sangat lebar melihat sosok makhluk yang berontak di ujung kail peraknya.
Itu adalah seekor ikan Arwana Super Red yang ukurannya sebesar lengan pria dewasa!
Sisiknya yang lebar memancarkan warna merah menyala yang sangat indah, mahal, dan elegan.
"Arwana Super Red hidup liar di danau pemancingan umum ini?"
"Ini sangat mustahil, ikan hias semahal dan serapuh ini tidak mungkin bertahan hidup di perairan umum yang kotor seperti ini!"
Amir bergumam takjub bercampur tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.
Namun fakta yang berontak ada di depan matanya dan ikan itu kembali masuk ke dalam air melanjutkan perlawanannya.
"Aku tidak peduli dari mana asalmu atau siapa yang membuangmu, tapi kau akan menjadi batu loncatan pertamaku menuju kekayaan mutlak!"
Amir mengerahkan seluruh sisa tenaganya di kedua lengan dan menarik jorannya kuat-kuat ke atas.
Dengan satu hentakan bertenaga, ikan Arwana berharga fantastis itu terlempar ke udara dan mendarat mulus di atas rumput basah.
Gubrak glupak glupak.
Ikan eksotis itu menggelepar hebat memukulkan ekornya di atas tanah berlumpur.
Amir langsung melompat maju dan menekan tubuh ikan itu dengan sehelai kain basah agar sisiknya yang berharga tidak tergores batu.
Napas Amir terengah-engah kehabisan oksigen tapi senyum sangat lebar terlukis jelas di wajahnya.
Ding!
Suara sistem berbunyi merdu dan menenangkan di dalam telinganya.
[Selamat, Tuan berhasil memancing Ikan Arwana Super Red Mutan dari kedalaman]
[Nilai kelangkaan spesies: Sangat Tinggi]
[Apakah Tuan ingin menukarkan ikan ini ke Sistem secara langsung seharga 10.000 Poin, atau menyimpannya hidup-hidup di Kolam Ruang Sistem?]
Amir tertegun kaku mendengar tawaran harga dari Sistem.
"10.000 Poin itu sama saja dengan seratus juta Rupiah tunai."
"Ini benar-benar gila dan tidak masuk akal, hanya dalam waktu setengah jam duduk memancing aku mendapatkan uang sebanyak itu."
Amir menatap lekat-lekat mata ikan Arwana yang kini mulai tenang dan bernapas berat di dalam pelukan kainnya.
"Sistem, apa sebenarnya maksudnya dari fitur Kolam Ruang Sistem itu?"
Amir bertanya untuk memastikan ia tidak salah dalam mengambil keputusan finansial pertamanya.
[Kolam Ruang Sistem adalah dimensi penyimpanan air khusus untuk menampung tangkapan ikan hidup milik Tuan]
[Ikan yang disimpan di sana tidak akan mati kehabisan oksigen dan nilai jual mutasinya akan terus meningkat seiring berjalannya waktu]
Amir menganggukkan kepalanya perlahan tanda mengerti setelah mendengar penjelasan sistematis tersebut.
Jika ia menjualnya di pasar ikan dunia nyata, ia tidak punya koneksi ke jaringan kolektor ikan hias kelas atas.
Menjualnya ke toko ikan biasa pinggir jalan hanya akan membuat harganya ditekan habis-habisan oleh tengkulak.
Menukarkannya ke Sistem adalah pilihan paling aman, tapi ia tidak butuh uang seratus juta detik ini juga karena ia masih punya satu juta di rekeningnya.
"Simpan ikan Arwana ini di dalam Kolam Ruang Sistem."
"Aku akan membiarkannya berevolusi dan tumbuh menjadi lebih mahal lagi sebelum kujual."
Amir memberikan perintah dengan nada mantap di dalam hatinya.
Dalam sekejap mata, ikan Arwana besar di pelukannya menghilang tanpa meninggalkan jejak air sedikit pun.
Amir berdiri perlahan sambil membersihkan sisa kotoran lumpur di tangannya.
Ia menatap matahari yang mulai tenggelam di ujung danau dengan perasaan penuh harapan baru.
Dendam kesumat pada mantan istri dan keluarga mertuanya masih membara panas di dalam dadanya.
Tapi sekarang, ia sudah memegang senjata terkuat di dunia untuk menghancurkan kesombongan mereka hingga berkeping-keping.
"Tunggu saja pembalasanku yang sesungguhnya, Siska, Rendy, dan Bu Rina."
Amir tersenyum sangat dingin dan mulai membereskan peralatan memancingnya untuk pulang.