Embun tidak pernah menyangka, jika dia akan berhubungan dengan seorang Bos Mafia yang kejam.
Menjadi pemuas dan juga pelampiasan amarah, Embun berusaha bertahan demi keamanan keluarganya.
Joshua Bram, membalas dendam pada cinta pertamanya yang sudah membuatnya terluka. Namun dia malah terjebak pada cinta yang kembali membara.
Penasaran...
Yuk, lanjut baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusti Sekar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RASA DAMAI.
Pagi menyambut dengan cukup cepat, sinar mentari mulai mengusik waktu istirahatnya. Embun menggeliyat pelan hingga pada akhirnya membuka matanya.
Hal pertama yang dilihatnya adalah, kamar bernuansa biru muda. Warna kesukaannya sejak dulu, rasa lega sedikit menyelimuti hatinya, saat ia tau masih berada di rumah.
"Mama, dimana?" tanyanya saat tidak melihat sosok Ibunya di sebelah kasurnya.
Gadis itu beranjak dari kamarnya, menyusuri rumah sederhana namun selalu memiliki kenyamanan tersendiri. Ia berjalan menuju keluar rumah, di sana terlihat seorang pria paruh baya tengah terduduk di atas kursi roda.
Dengan rasa rindu yang sudah membelenggu hatinya selama beberapa bulan terakhir, Embun segera memeluk pria tersebut dari belakang.
"Embun, kamu udah bangun sayang?" Pak Burhan menyambut hangat putrinya.
"Papa lagi ngapain? kok sendirian diluar?" Embun bertanya sembari mengeratkan pelukannya.
Pak Burhan mengusap lembut tangan putrinya, ia tersenyum sembari menunjukkan sebuah tanaman yang tengah ia sirami.
"Bunga mawar nya, kamu suka?"
Mata Embun tertegun melihat banyak sekali tanaman mawar dengan warna yang beragam tumbuh dengan subur di depan halaman rumahnya.
"Papa yang merawat mereka semua?" Pria itu mengangguk pelan. "Papa rutin menyirami mereka setiap pagi, karena Papa gak mau kamu sedih kalau pulang lihat mereka mati"
Perasaan Embun semakin campur aduk, Ayahnya sangat menyayanginya. Ia teringat saat masih duduk di bangku sekolah, Embun memang sangat menyukai bunga mawar. Namun ia hanya memiliki mawar merah saat itu, mawar itu tumbuh subur dan cantik.
Suatu hari, Embun harus pergi ke acara sekolah dan menginap di bukit selama 3 hari. Saat itu juga, Ayah dan Ibunya sibuk bekerja. Ketika pulang, tidak ada yang merawat mawar kesayangannya. Melihat mawar nya mati, Embun menangis sedih.
Sejak saat itu, Pak Burhan selalu membeli beberapa mawar saat perjalanan pulang kerja. Dan ketika ia jatuh sakit, Pak Burhan sendiri yang sekarang merawat mawar-mawar itu dengan sangat rajin.
"Makasih banyak Papa, mawar nya cantik banget. Jauh lebih cantik dari mawar Embun yang pertama"
"Kamu suka sayang?" Embun mengangguk pelan. "Suka banget Pa"
Perbincangan mereka harus terhenti ketika Bu Tina memanggil keduanya untuk sarapan bersama. Embun pun mendorong kursi roda Ayahnya untuk masuk kedalam rumah kembali.
Setelah menuntun Pak Burhan ke meja makan, Embun pamit sebentar untuk membersihkan diri sebelum sarapan bersama. Karena faktanya ia belum mandi sejak kemarin.
Ayah Ibunya menunggu diruang makan, Bu Tina menatap Pak Burhan yang memasang wajah murungnya. Ternyata pria itu sudah mendengar semua cerita dadi istrinya, tentang apa yang dikatakan Pak Wakil Rektor ataupun yang dialami oleh putrinya.
"Kita gak boleh diam aja Ma, aku gak tega lihat kondisi Embun. Tangannya biru-biru, siapa yang tega mukulin gadis baik seperti dia?"
Pak Burhan tidak bisa membendung lagi emosinya, saat Embun memeluknya. Ia melihat sendiri ruam-ruam biru di kulit tangannya, saat itu Pak Burhan menahan diri untuk bertanya. Karena Istrinya sudah mewanti-wanti akan hal itu.
"Pa, jangan dulu. Kasihan mental Embun, dia baru aja melupakan semuanya. Nanti kalau dia mau cerita sendiri, baru kita tanya siapa pelakunya. Buat sekarang, anggap gak pernah ada apa-apa. Ya?" Bu Tina memohon pengertian dari suaminya.
Walau sedikit tidak ikhlas, Pak Burhan tetap mengikuti anjuran istrinya demi kebaikan putri tersayangnya.
...***...
Keluarga kecil itu tampak menikmati makanan yang dimasak oleh Bu Tina, mereka makan dengan sangat bahagia. Sesekali Embun tertawa karena candaan yang dibuat Ayahnya.
Diam-diam Bu Tina mengamati ekspresi wajah Embun yang sedikit berbeda, walaupun ia menanggapi candaan Ayahnya dengan tertawa. Tapi sebagai seorang Ibu, Bu Tina menyadari jika Embun tertawa dengan tidak lepas.
"Embun, Mama udah buatin sup ayam ini buat kamu. Kok gak kamu habisin? Mama tambahin ya"
Bu Tina mengisi ulang mangkuk Embun dengan Sup Ayam kesukaannya, gadis itu hanya tersenyum dan mengangguk. Walau raut wajahnya terlihat tidak terlalu menikmatinya, ia tetap memakan sup itu hingga habis.
"Mama, apa aku boleh jalan-jalan sebentar?" Embun bertanya tiba-tiba.
"Kamu mau kemana sayang? Kak— maksud Mama, kamu kan baru aja pulang. Gak pengen istirahat dulu di rumah?"
Embun tersenyum tipis. "Aku cuma jalan-jalan disekitar sini aja kok Ma, aku cuma pengen cari udara segar."
"Iya boleh, tapi kamu bawa Nobi buat nemenin kamu ya?" ujar Pak Burhan menyela.
Mendengar keputusan suaminya, Bu Tina merasa sedikit keberatan. Pak Burhan menyadari tatapan tak setuju istrinya tersebut.
"Nggak apa-apa Ma, Embun juga butuh refreshing dulu sebentar. Dia pasti banyak pikiran selama kuliah, yang penting jangan lama-lama. Ya kan sayang?" Embun mengangguk spontan.
Akhirnya setelah Pak Burhan memberi pengertian pada istrinya, Bu Tina setuju lalu mengambilkan cardigan rajut putrinya agar ia tidak kedinginan saat keluar.
Setelah menyelesaikan acara makannya, Embun dengan ditemani Nobi —anjing putih peliharaan Ayahnya— mulai melakukan jalan-jalan pagi.
"Mama, aku pergi dulu ya" pamitnya.
"Iya sayang, hati-hati. Harus pulang sebelum jam 9 ya."
"Iya Ma"
Udara pagi yang sangat segar menyambut senyum tipis Embun yang sesekali terpancar karena menikmati pemandangan Desa yang masih hijau. Rumah Embun masih tergolong di Pedesaan, karena itu masih terdapat beberapa sawah dan aliran sungai bersih didekat rumahnya.
Nobi menggonggong senang, seolah ia memperlihatkan pada Embun jika ia juga menikmati pemandangan didepannya.
"Nobi, kamu juga seneng ya diajak jalan-jalan?"
Untuk menghilangkan rasa sepi, sesekali Embun mengajak Nobi mengobrol. Seingatnya dulu, Nobi masih kecil saat terakhir kali ia pergi ke Jakarta Pusat. Tapi sekarang, anjing lucu itu sudah tumbuh besar dan cantik, dengan bulu lebatnya yang berwarna putih.
"Nobi, kita berhenti di pinggir sungai kecil itu yuk" ajak Embun sembari menunjuk kearah sebuah gubuk kecil yang langsung menghadap kearah sawah dan sungai kecil.
Nobi berlari kecil menuju ke sana dengan Embun yang berjalan dibelakangnya. Gadis itu duduk di gubuk, sembari memperhatikan para petani yang tengah membajak sawahnya.
Akhirnya Embun benar-benar bisa menyegarkan kembali otaknya, namun ia merasa aneh dengan perasaannya sendiri. Seolah ia merasa seperti tengah diawasi, gadis itu menoleh cepat kebelakang, tapi tidak ada siapa-siapa di sana.
"Hm, mungkin cuma perasaan aku aja kali ya. Kebanyakan drama kemarin buat aku jadi banyak halusinasi kayaknya"
Embun berusaha menyakinkan dirinya jika yang dirasakannya hanyalah pemikirannya yang belum bisa melupakan masalah kemarin.
Disaat yang bersamaan, di sebuah warung kecil seseorang tengah menikmati kopinya dengan ditemani pemandangan sawah didepan matanya. Dengan santai seseorang itu mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.
Jepretan pertama ia mengambil gambar pemandangan yang ada didepannya, lalu jepretan yang kedua ia sengaja memperbesar jarak kameranya. Sosok gadis yang tengah duduk sendirian disebuah gubuk, menjadi objek utama yang ia ambil gambarnya untuk dikirimkan ke seseorang yang dikenalnya.
To Be Continued...
Jangan lupa Klik Favorit.
Tinggalkan Like, Komen dan Subscribe ya. Terima kasih ❤️
Salam dari
- Janji Palsu Tuan Muda -