Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?
layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.
Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....
Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Pagi ini, mau tidak mau aku harus tetap berangkat kerja meski sebenarnya rasanya masih capek. Bang Rengga pagi tadi pulang ke rumahnya, setelah semalam dia menginap, aku pun segera bersiap untuk bekerja.
Setelah pamit pada semua keluarga yang masih menginap setelah acara lamaran kemarin, karena mereka memutuskan pulang setelah Gaffi sampai di rumah. Sekalian membantu Ibu menyiapkan syukuran untuk kelahiran Gaffi.
"Budhe, maaf ya. Rani tinggal kerja, tapi tadi Ibu bilang mungkin habis ini pulang. Nyiapin keperluan buat syukuran. Kalau Gaffi kayaknya 3 atau nggak 5 hari lagi baru boleh pulang."
"Iya, nduk. Wes to, kamu kerja ae sing tenang. Ra sah mikir sing neng omah." Jawab Budhe Husna.
"Njeh Budhe. Maturnuwun sanget. Rani berangkat dulu njeh. Assalamu'alaikum," pamitku.
Dengan berat hati, akhirnya aku memaksa berangkat ke kantor, apalagi Hari sabtu kemarin sudah ada instruksi dari Pak Wandi untuk menyiapkan arsip tagihan untuk dua minggu ke depan, karena aku ada jadwal kunjungan ke cabang menemani Cik Melly.
Setelah sampai di kantor, segera saja aku siapkan berkas tagihan yang sebelumnya sudah aku cek. Jadi Pak Wandi tinggal membuatkan BG sesuai jumlah yang sudah tertulis di blangko titipan tagihan.
Satu persatu berusaha aku selesaikan, meski terkadang harus menahan emosi karena padatnya pekerjaan yang harus segera diselesaikan dan juga semua orang minta cepat dan minta di dahulukan.
Bahkan hingga siang menjelang sore, aku belum sempat untuk sekedar istirahat makan siang. Setelah turun sholat dhuhur tadi ada satu customer khusus yang harus kulayani.
Drrrrttt....
Dddrttttttt....
Terdengar getaran ponsel yang sedari tadi tak kusentuh dan kubiarkan tergeletak di atas meja.
"Si Abang, tumben jam segini ngajak ViCall." Ucapku lirih tapi ternyata masih terdengar oleh Nita yang sedang serius menatap layar laptop di meja seberang.
"Hahahaha," Nita tertawa pelan. "Udah kena virus bucin itu Pak Rengga." Ucap Nita.
Aku hanya tersenyum, sambil mengusap icon bulat warna hijau pada layar datar yang ada dalam genggaman tanganku.
"Assalamu'alaikum, Bang." Sapaku setelah tampak wajah calon suamiku di layar pipih yang kini kusandarkan di layar laptop.
" Waalaikumsalam, Sayang coba tebak Abang ada dimana?"
"Emang lagi dimana?" Tanyaku sambil mengamati backgroundnya.
"Nih....Udah tahu kan dimana?"
"Iiih, jahat. Ke tempat Gaffi nggak ajak-ajak." Jawabku sambil cemberut.
"Nih.... Abang bawa pasukan lhoo." Ucapnya sambil mengganti tampilan ke kamera belakang menunjukkan siapa saja yang tadi dia bawa.
"Kok bisa?" Tanyaku.
"Tadi siang Abang ke rumah. Niatnya anterin makanan. Takutnya Ibu masih di rumah sakit. Pas nyampe rumah ternyata banyak banget makanan. Ibu sama Budhe udah selesai masak buat syukuran nya si Gaffi, tinggal di bagiin ke tetangga aja."
"Terus, Abang denger Ibu nyari grab. Pas Abang tanya buat apa, katanya budhe pengen lihat Gaffi. Soalnya mau pulang habis ini. Nih, kamu ngomong langsung sama Budhe ya."
Aku hanya mengangguk sambil menyuap sesendok makanan. "Lhooo, Budhe kok buru-buru pulang?" Tanyaku saat gambar di layar berganti dengan wanita paruh baya berhijab.
"Lha, kasihan Mbakyu mu. Kalau Budhe tinggal lama-lama. Nanti gantian sama Mas juga
Mbak mu yang lain. Mereka juga mau kesini." Jawab Budhe Husna.
"Hem, pasti anak Budhe yang kakinya empat itu udah teriak-teriak nyariin." Jawabku sambil terkekeh.
"Lha iya. Malah ada dua yang mau lahiran itu. Lumayan buat tabungan kan?" Jawab Budhe sambil tersenyum.
"Njeh Budhe. Budhe Tika juga mau wangsul?"
"Iya, Budhe mana tega ninggalin Mbah mu lama?" Jawab Budhe Tika.
"Nggeh sampun kalau begitu. Ngapunten kalau pas di rumah mboten kopen njeh Budhe. Momen nya pas banget sama lahirannya Gaffi."
"Wes to Nduk, rapopo. Gak usah di pikir. Semua nyadari kok." Jawab Budhe Husna.
"Iya, Budhe. Budhe wangsul naik apa? Sampun pesen travel?"
"Tadi, sama bojomu sudah dicarikan mobil."
"Iyakah, Budhe. Si abangnya sekarang mana? Boleh minta tolong budhe?"
"Iya, nih budhe kasih ponsel nya ke Bang Rengga ya."
"Njeh, Budhe. Maturnuwun. Hati-hati di jalan nanti pas pulang."
Budhe mengangguk lalu menyerahkan ponsel Bang Rengga.
"Pakai mobil siapa, Bang?"
"Abang rentalin Hiace ke temen Abang yang punya usaha Travel. Sekalian sama sopir nya. Jadi nanti bisa sekalian jemput kakak yang mau ke Malang sekalian."
"Ya ampun, Si Abang gercep banget ya. Jadi makin sayang kan kalau kayak gini." Ucapku sambil terkekeh.
"Kasih reward dong, jangan cuma bilang sayang aja." Jawabnya lalu tertawa.
"Heeeem. Mulai, deh. Udah ketebak ujungnya ini." Jawabku yang sudah hafal seberapa sengklek gurauannya.
"Cium dikit ya... Ya... Pipi aja nggak papa. Ikhlas kok Abang." Jawabnya berbisik lalu memainkan alisnya.
"Aku yang nggak Ikhlas." Jawabku. Yang disambut tawa Bang Rengga.
"Kamu sudah makan, Yang?"
"Ni dari tadi sambil makan, tinggal dikit. Abang sudah makan?"
"Sudah, tadi makan di rumah. Disiapin sama Ibu pas baru datang tadi."
"Ya udah, nanti telponan lagi ya Bang. Biar cepet selesai. Masih banyak kerjaan aku."
"Yang, tagihan Abang udah siap belum buat besok?"
"Udah aku keluarin, disiapin buat dua minggu soalnya selasa besok aku mau ke cabang sama Cik Melly."
"Heeem.... Kangen dong Abang, tapi pulang kan? Nggak nginep?"
"Nggak tahu juga. Beliau cuma bilang gitu aja."
"Oo... Ya udah. Kamu hubungin kakak kamu. Yang mau ke Malang, nanti sekalian bareng aja sama mobil. Biar siap-siap."
"Iya, habis ini aku bikin pengumuman di grup keluarga. Atau Abang aja yang kirim pesan, kemarin kan udah dimasukin grup sama Mas Zamzam."
"Ya udah, Abang aja. Selamat bekerja sayangku... "
"Iya, Bang. Makasih. Aku matikan ya, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
*****
Sekitar pukul sembilan malam, rombongan kakak sepupuku datang bersama keluarga mereka masing-masing.
Setelah makan dan bersih-bersih merekapun istirahat. Begitu pun denganku, rasa lelah karena gempuran aktivitas yang dari beberapa hari lalu seakan menumpuk dan meminta jatah istirahat lebih banyak daripada biasanya.
Hingga saat alarm ponsel yang selalu kuletakkan di atas nakas terdengar berbunyi bersamaan dengan suara tarhim dari musholla dekat rumah yang mulai berkumandang.
Aku segara bangun, dan bersiap menunaikan dua rakaat wajib. Setelah selesai, aku segera terjun ke dapur. Rupanya di dapur sudah ada kakak-kakak perempuan ku yang kemarin datang.
"Haduh, aku telat nih kayaknya." ucapku saat masuk ke area dapur.
"Halah, baru juga jam berapa. Mbak aja yang nggak bisa tidur. Omahmu uadem e tenanan, Ran." jawab Mbak Zeni.
"Iya, padahal wes pake selimut dobel. Beeh, jian adem e ndak umum." tambah Mbak Dina.
Aku hanya tertawa mendengar celotehan mbak-mbak ku ini.
"Tapi anak-anak aman kan, Mbak? Nggak rewel semalem?" tanyaku.
"Aman. Nyenyak banget mereka semalam." jawab Mbak Zeni.
"Alhamdulillah kalau mereka nggak rewel. Mbak, nanti aku tinggal kerja nggak papa ta? Paling habis ini Ibu juga datang. Hari ini jadwal ku bayar tagihan ke suplier, soalnya minggu depan aku keliling ke cabang sama Tacik."
"Iya, nggak papa. Santai aja, wong semua udah ada. Kalau mau buat makanan juga tinggal olah aja, to?" jawab mbak Ovi. Istri Gus Mus yang ternyata ikut datang.
"Iya, Mbak. Agak sorean aja ya nanti sama-sama ke tempat Gaffi. Kalau memang dia belum boleh pulang. Nanti barengan aja, naik mobil Bang Rengga."
"Iya, mbak ini juga pengen ketemu sama calon suami kamu. Kata e Mas mu, bojomu iku ngguanteng, badan e tinggi, gagah tenan pokok e. Pantesan, kemarin temen e Mas mu lewat. Nggak masuk kriteria ya?" tanya Mbak Dina.
"Ya nggak gitu juga, Mbak. Cuma kesan awal waktu pertama ketemu sama dari cara komunikasi aku kurang nyaman. Jadinya ya mending berteman. Buat aku, nikah itu kan bukan cuma buat sebulan atau dua bulan. Tapi ibadah panjang yang kalau bisa cukup satu kali buat seumur hidup. Rasa nyaman itu penting, karena tiap hari nanti yang bakal kita temui dan kita lihat setiap hari ya satu orang yang sama itu aja."
Mbak Ovi tersenyum mendengar jawabanku.
Karena dikerjakan bersama, tidak butuh waktu lama beberapa menu sarapan sudah siap terhidang di atas tikar yang sengaja di gelar di ruang tengah agar kami bisa makan bersama.
Inilah yang kusuka dari keluarga Ibuku. Kesederhanaan dan juga kebersamaan. Tidak seperti keluarga dari Bapak. Yang datang dengan senyuman saat mereka butuh sesuatu saja. Seperti kemarin, saat Budhe Suli yang tumben tersenyum dan bertutur lembut saat bertemu denganku dirumah sakit saat beliau menjenguk Gaffi. Rupanya, dia meminta tolong supaya aku mencarikan pekerjaan untuk Mas Ardi. Kakakku yang notabene seorang sarjana, tapi sampai saat ini belum bekerja.
Mungkin, karena dia sarjana. Membuatnya pilih-pilih pekerjaan, mencari pekerjaan dengan gaji tinggi dan juga tinggal duduk manis di belakang meja. Hallooooo, kamu itu siapa? Kamu itu cuma rakyat biasa, bukan anak Sultan yang tinggal ongkang-ongkang aja uang di rekening terus bertambah. Kita ini perintis, bukan pewaris. Kalau kamu pilih-pilih, usia berapa kamu bisa mapan.
Kalau saja aku tidak memandang istrinya yang sebentar lagi melahirkan, malas aku membantu mencarikan pekerjaan. Entah apa yang dipikirkan lelaki itu, apa yang dia andalkan ke depan untuk hidupnya. Karena saat Bang Rengga kemarin menawarkan pekerjaan di cafe nya, dia hanya diam tidak menjawab. Hah, terserah lah. Yang penting bukan adikku yang seperti itu. Bisa habis aku jadikan samsak kalau kelakuannya seperti itu.