" Aku menyukai dia sejak pandang pertama, jadi dia harus menjadi pacarku " ucap Arasya menatap penuh damba pria dewasa yang duduk bersandar di sofa restoran masih dengan stelan jas kerjanya .
......
Sean Brisbane menjadi terheran-heran memikirkan gadis yang sudah beberapa hari ini selalu mengejar nya bahkan berusaha mendekati nya tanpa ragu .
" Sangat centil " ucap Sean mengambil lipstik di tangan Ara lalu membuangnya ke lantai agar bodyguard yang lain tidak melihat dia memakai lipstik lagi .
" Kenapa? apa aku terlalu cantik hingga Kakak tidak kuat menatapku memakai lipstik?" tanya Ara memungut lipstik nya yang di jatuhkan Sean .
" Cantik?" ulang Sean dengan tatapan geli nya pada gadis kepedean itu.
" Ayolah Kak jadi pacar Ara aja , Ara suka sama Kak Sean, ganteng !" gemas Ara dengan tampang cegil nya mencuri kesempatan untuk memeluk sebelah lengan Sean yang masih melek mendengar apa yang barusan dia katakan.
next
yuk baca cerita Ara , sicegil Bang Sean
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 Ingin mengenalkan
......
Ting
Tong
"Selamat pagi, Nona!" sapa pelayan rumah Ara pada Melly yang datang.
"Pagi, apa Ara ada?" tanya Melly.
"Ehhhh, Melly, sini, Nak," kata Mommy begitu Melly masuk bersama pelayan.
"Tante udah pulang?" kata Melly yang tidak tahu kalau orang tua Ara sudah pulang dari luar negeri.
"Tante baru pulang semalam," ucap Mommy memeluk teman Ara yang sudah dia anggap seperti anak sendiri.
"Ara mana, Tante?" tanya Melly.
"Itu lagi bikin bolu sama Daddy-nya," ucap Mommy menunjuk Ayah dan anak yang sama-sama sibuk di dapur itu.
"Melly, sini, Nak, cicipi bolu yang Om bikin," kata Daddy menyuapi Melly layaknya anaknya sendiri.
"Enak, Om," senang Melly ikut membantu menghias bolu itu dan mereka menghabiskan waktu bersama.
2 Jam kemudian.
"Dad, Mom, Ara jalan-jalan dulu, ya, sama Melly," izin Ara yang sudah siap dengan baju couple-nya yang dibelikan Mommy.
"Hati-hati, kalian ini bandel banget, malah mau naik motor," kata Daddy ketika kedua anak gadis itu bersalaman.
"Sekarang kan hari Minggu, Om, sekalian jalan-jalan," kata Melly juga menerima uang jajan yang Daddy Ara berikan.
"Tapi kan kalian pakai dress, masa naik motor?" ucap Mommy menatap dress selutut yang mereka kenakan.
"Mommy sih beliin mereka berdua dress, harusnya kan baju Spiderman," tawa Ayah melihat tatapan menyesal istrinya.
"Kan dress-nya nggak terlalu pendek, Mom. Lagian kami keliling dekat-dekat aja," kata Ara lalu mengecup pipi orang tuanya dan segera pergi.
Di perjalanan.
"Mell, kadang Ara merasa kedua orang tua Kak Sean kayak nggak suka Ara, tapi Ibunya lumayan baik sih," kata Ara bercerita pada Melly.
"Mereka nggak jahat sama kamu, kan?" pertanyaan Melly to the point karena dia pun baru pulang dari luar negeri dua hari yang lalu, jadi tidak tahu bagaimana hubungan Ara dengan Sean selama sebulan ini.
"Tidak, saat pertama kali bertemu," Ara menceritakan pertemuan pertamanya dengan orang tua Sean yang memberikan kesan kurang baik.
"Mereka mikir apa, ya, pas lihat Ara agresif sama Kak Sean waktu itu, padahal kan Ara cuma lagi kangen," kata Ara dengan suara kecil.
"Tapi, Ra, dari berita yang aku lihat terbaru, ternyata Kak Sean itu berasal dari keluarga yang punya tata krama mirip aturan keluarga kerajaan," ucap Melly yang kaget pas tahu siapa Sean sebenarnya.
"Iya, bahkan kata Kak Sean jika menjadi istrinya, Ara harus belajar aturan tata krama sebagai nyonya besar juga," kata Ara.
"Kadang Ara insecure juga dengan wanita-wanita yang berada di sekitar Kak Sean yang rata-rata adalah wanita karier, sementara Ara masih kuliah," kata Ara memeluk Melly dan meletakkan dagunya di pundak Melly yang sedang menyetir motor.
"Ngapain insecure? Walaupun kamu masih kuliah, tapi kan kamu juga punya segalanya. Tidak sekurang itu hanya untuk berdiri sejajar dengannya," pendapat Melly.
"Iya juga sih. Aku ada rencana buat mengenalkan Kak Sean sama Daddy," kata Ara.
"Kapan?" tanya Melly.
"Beberapa hari lagi," jawab Ara.
.....
Malam harinya.
Sean menghadiri acara bisnis bersama kedua orang tuanya di hotel pusat kota.
"Ayah, kenapa ada Shania juga?" pertanyaan Sean menatap Shania yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
"Sean, semenjak kamu memutuskan untuk membantunya, maka Shania berada di bawah tangan kita. Apa pun yang disuruh, dia sudah berjanji akan menurut," bisik Ayah.
"Jadi Ayah yang meminta dia datang?" pertanyaan Sean.
"Iya, dia akan menjadi pembicara dari grup Brisbane dan itu memiliki peluang besar untuk kita mendapatkan investor baru," bisik Ayah dengan licik.
"Jadi kau memperalatnya, Ayah?" bisik Sean mengangkat sebelah alisnya.
Shania memang wanita pebisnis yang menguasai beberapa bahasa asing.
"Diam kau," kata Ayah menepuk lengan Sean yang menahan tawa menatap Shania yang baru sampai di dekat mereka.
"Om, maaf aku sedikit terlambat," kata Shania menunduk hormat lalu bersalaman pada Ibu.
"Tidak apa-apa. Ayo kita memasuki ruangan," ucap Ayah.
Mereka berempat memasuki ruangan yang menarik perhatian banyak orang dan tanpa Sean sadari, dua pasang mata menatapku dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.
.....
Keesokan harinya.
"Ayang!" senyum lebar Ara menyapa begitu mobil Sean sampai. Ara sudah menunggu di depan gerbang kampusnya.
"Baby, kenapa menunggu di tempat yang panas? Maafkan aku karena sedikit terlambat," ucap Sean membuka pintu mobilnya dan menyuruh Ara masuk.
"Tidak apa-apa, Ayang, cuma telat 6 menit kok," senyum lebar Ara menatap jam di pergelangan tangannya.
"Tapi kan kamu jadi harus menunggu selama itu," ucap Sean memakaikan sabuk pengaman untuk Ara lalu menjalankan mobilnya.
"Tidak apa-apa, Sayang," senyum lebar Ara yang dijemput Sean saja sudah senang.
"Kita makan dulu, ya," kata Sean yang diangguki Ara karena dia memang belum makan.
Sesampai di restoran, Sean menggandeng Ara masuk ke dalam restoran lalu memesan tempat VIP.
"Kenapa kita tidak makan di meja biasa aja?" tanya Ara yang berjalan dengan sebelah tangan dipegang Sean menuju ruang VIP.
"Aku hanya ingin berdua saja, Baby," ucap Sean langsung mengecup kening Ara begitu masuk ke dalam ruangan VIP itu.
"Duduklah," kata Sean menarik kursi untuk Ara.
"Terima kasih, Sayang," kata Ara duduk dan langsung full senyum begitu Sean memasangkan jepitan rambut yang sepertinya baru dibelikannya untuk Ara.
"Wahhhhhh," kata Ara yang lebih kaget lagi ketika Sean mengeluarkan kotak perhiasan dari saku jasnya.
Sean duduk berhadapan dengan Ara lalu memasangkan cincin di jari manis Ara.
"Untuk pacar kecilku yang paling cantik," ucap Sean mengecup kedua tangan Ara setelah dia memasangkan cincin.
"Mmmmh," Ara tersenyum malu-malu.
"Terima kasih," kata Ara lagi.
"Ucapkan terima kasih dengan cara yang benar," kata Sean menyodorkan pipinya.
Muachhh
"Sebelah kiri," tambah Sean.
Muachhh.
"Pacar kecilku yang manis," ucap Sean mengelus kepala Ara yang sangat disayanginya.
"Daddy Ara udah pulang, Ayang. Jadi, kapan datang ke rumah Ara?" tanya Ara yang ingin mengenalkan Sean pada kedua orang tuanya.
"Tentu saja, Baby. Kapan aku bisa bertemu Daddy dan Mommy?" pertanyaan Sean yang juga ingin lebih dekat dengan orang tua Ara.
"Besok sore," kata Ara yang sudah mengatakan pada orang tuanya.
"Baiklah, Baby," kata Sean menopang wajahnya dengan kedua tangan di atas meja, menatap Ara yang sedang mencicipi es krim.
Ara itu semakin Sean tatap, semakin membuatnya jatuh cinta!
"Ayang, semalam menghadiri acara bisnis di Hotel X pusat kota?" pertanyaan Ara menyebutkan nama hotel.
"Iya," kata Sean tanpa ragu karena dia juga izin pada Ara semalam.
"Lah, berarti sama. Semalam Daddy dan Mommy juga datang ke sana. Kemungkinan besar Ayang pasti udah ketemu mereka," kata Ara dengan wajah excited-nya.
Sean langsung diam seribu bahasa begitu teringat semalam dia menghadiri acara bukan hanya dengan kedua orang tuanya, tapi juga Shania.
Apa yang akan dipikirkan kedua orang tua Ara tentangnya?