REVISI!
Sasha Jessica Tom adalah anak sulung dari keluarga Tom. Terlilit utang dengan mafia besar membuat Sasha harus banting tulang untuk melunasi utang keluarganya.
Hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya dan segala keterpaksaan yang harus ia pertimbangkan, akhirnya Sasha menyerahkan dirinya untuk menjadi seorang selir untuk seorang presdir.
Semua kontrak sudah ia tanda tangani selama ia menjadi seorang selir, namun untuk tidak pernah menaruh perasaan kepada presdir itu sudah tidak bisa Sasha taati.
Sasha mulai mencintai seseorang yang tidak seharusnya ia cintai. Perbedaan kasta membuat Sasha sadar bahwa perasaan ini hanya akan melukai dirinya sendiri.
Note : Buang buruknya dan ambil baiknya (jika ada)
Happy Reading :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MilkyWay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[20] Kedatangan Sasha
Setelah dirawat tiga hari di rumah sakit, akhirnya Sasha kembali ke apartemen. Ibunya sudah menceritakan semua yang terjadi saat ia sakit. Ibu Arion juga beberapa kali berkunjung namun sangat disayangkan Sasha belum bisa berkomunikasi dengannya.
"Jadi hari ini orang tua Arion mengundang kita ke rumahnya?" Tanya Sasha pada Nina.
Sasha masih menggunakan kursi roda karena ia masih sering pusing saat berdiri dan Sasha lebih memilih untuk menggunakan kursi roda agar tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya.
"Iya, ibu sudah membelikan dress baru untukmu. Maaf ibu masih menggunakan uang yang ada di ATM miliki" Ucap Nina menghampiri Sasha.
Sasha menggelengkan kepalanya, ibunya tidak seharusnya meminta maaf pada dirinya, "Ibu pakai saja kalau ibu butuh uang. Masih ada sisa yang banyak kan setelah bayar semua utang?"
Nina mengangguk. Uang yang ada di ATM Sasha masih banyak. Entah berapa banyak Arion memberi Sasha uang hingga Sasha mau melakukan hal seperti itu.
"Setelah ini jangan sakit lagi, kasihan janin yang ada di rahimmu. Ingat kau harus menjaga kesehatanmu" Ujar Nina sembari mengelus pipi Sasha. Sasha pun hanya mengangguk mendengarkan nasihat dari sang ibu. Ia merasa sangat senang masih ada sosok yang selalu mendukungnya walaupun Sasha tau ibunya pasti kecewa saat Sasha mengatakan kebenaran di hari itu.
"Ibu terima kasih. Ibu selalu ada untuk Sasha" Ucap Sasha dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Nina mengangguk dan memeluk sang anak, "Iya sama-sama. Sudah jangan sedih"
...***...
Arion hanya diam tanpa menoleh sedikitpun pada dokumen yang ada di atas mejanya. Iya tidak bisa bekerja dengan pikiran yang bercabang-cabang seperti sekarang.
Dari beberapa hari yang lalu ia belum sempat menjenguk Sasha di rumah sakit. Ia sangat malu walaupun hanya sekedar menampakkan dirinya di depan Sasha.
"Aku mau kau tarik semua suruhan mu yang selalu mengawasi Dania. Aku akan melupakan Dania. Dan akan membuka lembaran baru bersama Sasha sesuai keinginan Mom" Seru Arion pada zico yang sedang bersantai di sofa tamu ruang kerja Arion.
Zico sedikit tersentak kaget dengan permintaan Arion kali ini. Padahal sebelum ini Arion lah yang bersikeras untuk selalu mengawasi Dania kemana pun perempuan itu pergi. Ia rela menghabiskan banyak uang untuk membayar banyak suruhan. Dan sekarang Arion sudah merubah pikirannya.
Ada rasa senang saat Zico tahu bahwa Arion akan bertanggung jawab atas Sasha. Namun juga ada rasa sedih, ia takut Arion akan membuat Sasha kecewa nanti.
"Tiba-tiba? Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu itu?" Tanya Zico menyunggingkan senyumannya pada Arion.
"Entahlah. Tidak ada salahnya mencoba kan" Jawab Arion dengan tatapan tidak sukanya pada Zico. Ia tidak suka diragukan seperti itu.
"Semoga saja kau tidak menyakiti hati yang lain katena keegoisanmu" Lirih Zico.
...***...
Sasha datang ke rumah orang tua Arion bersama ibunya. Sesampainya di rumah itu, Sasha disambut sangat hangat oleh Renata. Wanita itu sangat ramah padanya walau apapun yang sudah terjadi antara Arion dan Sasha.
"Panggil Mommy atau Mom saja seperti Arion" Ucap Renata sembari mengusap pundak Sasha. Sasha hanya mengangguk pada wanita itu, ia masih merasa canggung jika banyak berbicara.
Sasha masih menggunakan kursi rodanya. Ia masih sangat lemah untuk bisa berdiri walaupun Sasha sudah beberapa kali mencobanya. Karena takut jatuh, Sasha tidak mau mencoba lagi.
"Maaf, Sasha tidak bisa ikut membantu" Ucap Sasha pada Renata dan ibunya.
Renata tersenyum, "Kamu duduk saja, biar Mom dan ibumu yang menyiapkan makan malam"
Melihat ramahnya orang tua Arion pada Sasha membuat hati Nina lega. Awalnya ia ragu untuk mempertemukan mereka, ia takut Sasha tidak akan diperlakukan dengan baik. Namun ternyata pemikirannya salah, Sasha sangat diperlakukan dengan sangat baik.
Karena makan malam belum mulai, Sasha minta diantarkan ke taman belakang rumah saja untuk menghirup udara segar. Ia juga merasa bosan saat tidak bisa melakukan apapun di ruang tamu.
"Terima kasih" Ucap Saha pada pelayan yang sudah mengantarkannya.
Pelayan itu pamit pergi meninggalkan Sasha untuk melakukan pekerjaannya. Sasha hanya mengangguk. Dia lebih suka berada disini dibandingkan ruang tamu.
Lama Sasha melamun sembari mengusap perutnya. Sesekali ia tersenyum memikirkan hal yang akan terjadi di masa depan. Dimana ia akan segera punya anak.
"Aku pasti akan sangat bahagia" Lirih Sasha.
Lama Sasha sibuk dengan pikirannya, Sebuah tangan dipundaknya membuat Sasha terlonjak kaget. Ia menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat siapa gerangan yang membuatnya kaget itu.
"Arion" Ucap Sasha pelan.
Arion memamerkan senyumannya pada Sasha. Begitupun Sasha, ia hanya bisa tersenyum pada Arion. Sasha sangat senang bisa bertemu lagi dengan Arion setelah beberapa hari sejak terakhir kali di restoran.
Arion beralih berjalan di depan Sasha, ia berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Sasha yang duduk di kursi roda. ia menatap setiap inci wajah Sasha yang tampak sangat pucat.
"Maaf tidak bisa menjenguk mu saat berada di rumah sakit" Ujar Arion sembari mengelus pipi Sasha.
Sasha tersenyum dengan perlakuan manis Arion, semuanya bagai mimpi saat ini, "Aku senang bisa bertemu denganmu"
Arion memperhatikan Sasha dari atas sampai pandangannya berhenti di perut Sasha yang tampak masih rata. Tanpa aba-aba ia mengusap perut Sasha.
Sasha dibuat merona oleh tindakan Arion. Ia tersenyum malu pada Arion. Ia tidak tau harus bagaimana bersikap sekarang.
"Arion, bisa bantu aku berdiri? Aku ingin memelukmu" Ucap Sasha menatap manik lelaki yang ia cintai.
Arion mengangguk dan mencoba mengangkat tubuh Sasha agar bisa berdiri. Sasha melingkarkan tangannya di leher Arion supaya bisa berdiri. Arion mencoba menahan tubuh Sasha dengan melingkarkan tangannya di pinggang Sasha.
Tubuh Sasha sangat lemah menurut Arion. Jika saja, ia melepaskan pinggang Sasha, mungkin saja Sasha bisa langsung terjatuh ke bawah.
"Apa kau tidak apa? Jika tidak kuat berdiri sebaiknya duduk saja. Aku takut kau akan jatuh" Ucap Arion khawatir pada Sasha.
Sasha merasa sangat beruntung sekali, perhatian Arion membuatnya semakin mencintai lelaki itu, " Aku tidak apa, seperti ini lebih baik. Aku bisa memelukmu sekarang"
Sasha mendongakkan wajahnya menatap wajah Arion. Ia semakin terpesona dengan ciptaan tuhan yang sangat sempurna ini. Keduanya saling melontarkan senyuman terbaik mereka.
Arion terlebih dahulu menggapai bibir Sasha. Bukan ciuman nafsu lagi yang Arion berikan kali ini. Ia berjanji akan memberikan cintanya pada Sasha, mencintai perempuan itu dengan sepenuh hatinya. Walaupun sedang berusaha, namun Arion yakin bahwa suatu saat hatinya akan sepenuhnya untuk Sasha.
Sasha meneteskan air matanya. Ia begitu bahagia saat bisa bertemu dengan Arion lagi. Pertemuan kali ini bukan lagi pertemuan antara budak dan tuannya. Namun hari ini mereka dipertemukan oleh takdir yang menginginkan mereka untuk selalu bersama.
Sasha melepaskan tautan bibir mereka, "Aku mencintaimu" Ucapnya lirih.
Arion tersenyum, "Aku juga mencintaimu"