Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.
Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.
Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DZ~9
Zizan sedang berada dalam fase membaca cepat. Wajahnya berusaha ditampilkan sedamai mungkin, namun matanya bergerak sangat cepat dari kanan ke kiri, menyisir baris demi baris kitab di hadapannya. Begitu melirik jam dinding, jantungnya serasa melompat ke lambung. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Artinya, ia hanya punya sisa waktu lima belas menit sebelum harus berdiri di depan kelas dan mendadak berakting menjadi manusia paling bijaksana sedunia.
Tepat di sebelahnya, Dafa berada dalam kondisi yang sama mengenaskannya. Dengan tatapan kosong yang lurus ke halaman kitab, ia membaca dan mendalami materi dengan kecepatan penuh.
Kamar pengurus pagi itu mendadak hening total, mirip ruang ujian nasional. Keduanya sedang sibuk berperang dengan pikiran masing-masing demi menyelamatkan harga diri mereka di depan para santri nanti.
Di tengah suasana yang penuh dengan tekanan mental tersebut, pintu kamar mendadak terbuka akibat dorongan paksa.
Muncul Ares, sang perusuh abadi yang memutus konsentrasi mereka tanpa rasa bersalah.
"Assalamu’alaikum, calon-calon orang sukses yang mukanya kelihatan makin tegang!" seru Ares dengan cengiran tanpa beban.
Kedua tangan Ares membawa nampan seng berisi dua gelas kopi hitam dan sepiring mendoan hangat yang masih berasap.
Ia sengaja berjalan dengan langkah yang diseret lambat, lalu membungkuk layaknya pelayan restoran mewah yang sedang melayani kaum ningrat.
"Silakan dinikmati dulu fasilitas sarapannya, Bos-Bos sekalian. Biar perut kalian tidak ikut berdemo di tengah pelajaran. Gak lucu kan, lagi serius menerangkan bab penting, tiba-tiba ada suara gemuruh dari dalam perut? Jatuh itu wibawa kalian di depan santri," cerocos Ares penuh percaya diri.
Pertahanan fokus yang tadi dibangun susah payah oleh Zizan dan Dafa langsung runtuh seketika. Mereka hanya bisa mengembus napas pasrah sekaligus menahan tawa melihat tingkah ajaib sahabatnya itu.
Pertahanan fokus yang tadi dibangun susah payah oleh Zizan dan Dafa langsung runtuh seketika. Mereka hanya bisa mengembus napas pasrah sekaligus menahan tawa melihat tingkah ajaib sahabatnya itu.
Bukannya langsung menyambar makanan dalam kondisi panik, jiwa penjaga kitab mereka ternyata tetap nomor satu. Dafa dengan cepat langsung menutup kitab tebalnya terlebih dahulu. Setelah memastikan halaman kitabnya aman, barulah ia menggeser piring mendoan agar lebih dekat ke jangkauannya.
Matanya langsung menyipit, mengamati tumpukan gorengan yang sudah mulai sedikit adem itu dengan sangat jeli. Tangan Dafa mulai memilah-milih, membolak-balik potongan mendoan, mencari mana yang memiliki potongan paling lebar dengan pinggiran tepung paling renyah.
"Ini mendoan aman kan, Res? Bukan hasil rampasan dari dapur?" tanya Dafa yang matanya masih fokus memilih gorengan terbaik.
"Sembarangan! Ini beli pakai modal dompet sendiri ya, lewat jalur yang sah dan resmi!" balas Ares tidak terima sambil melotot.
Melihat Dafa yang sudah mulai mengambil duluan, Zizan tak mau kalah. Supaya halaman belajarnya juga tidak ketularan kotor ataupun terlipat, Zizan buru-buru menyusul dengan menutup kitab tebalnya sendiri hingga terdengar suara plak yang cukup nyaring.
Begitu kedua kitab sukses terselamatkan dari ancaman noda minyak, Zizan langsung mengulurkan tangan dan menyambar potongan mendoan terbesar kedua yang berada tepat di bawah pilihan Dafa.
Kedua pemuda itu mendadak makan dengan kecepatan yang tidak masuk akal, seolah-olah mendoan tersebut akan menghilang jika tidak dikunyah cepat. Ares yang tadinya berniat ikut mengambil satu potong, hanya bisa melongo. Ia menyaksikan tumpukan mendoan di atas piringnya lenyap dalam hitungan detik ke dalam mulut dua sahabatnya yang kalap.
Ares langsung memegang pinggangnya, berusaha menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya. "Nah, makanya bersyukur punya teman yang peka seperti aku. Muka kalian berdua itu sudah layu sekali, mata udah merem-melek mirip lampu senter yang mau habis baterai. Kalau nggak disiram kopi hitam buatan aku, aku jamin pas mengajar nanti kalian malah ketiduran di atas meja kelas."
"Iya, iya, makasih banyak ya, Ares si paling peka sedunia," potong Dafa cepat.
Ia langsung menyambar gelas kopi di dekatnya, meneguknya beberapa kali hingga tersisa setengah, tepat saat kunyahan mendoan terakhirnya habis tertelan. Efek kafein dan minyak gorengan itu bekerja instan membuat matanya langsung melotot segar.
Namun, begitu Dafa tidak sengaja melirik jam tangan kembali, ia langsung kaget seolah baru saja tersengat listrik.
"Astagfirullah! Jadwal kelasku sudah maju lima menit ternyata! Duluan ya, assalamu’alaikum!" Dafa langsung panik setengah mati, menyambar kitabnya, lalu berlari cepat keluar kamar sambil menyeka sudut bibirnya yang berminyak.
"Wa’alaikumussalam," jawab Zizan dan Ares kompak.
Zizan yang juga baru saja menelan kunyahan terakhirnya segera memasukkan kitab yang tadi sudah ditutupnya ke dalam tas dengan cepat. Sebelum bangkit berdiri, ia menyempatkan diri menepuk bahu Ares dengan ekspresi penuh simpati. "Aku juga pamit ke kelas ya, Res. Makasih banyak kopinya, benar-benar menyelamatkan otakku yang sudah korsleting dari semalam."
"Wa’alaikumussalam... Eh, tunggu dulu! Zan, kamu tega ninggalin aku sendirian?!" teriak Ares histeris saat menyadari punggung Zizan sudah lenyap di balik pintu.
Ares akhirnya termenung sendirian di tengah ruangan yang mendadak sepi. Ia menatap ke arah piring seng di hadapannya yang kini benar-benar bersih tanpa menyisakan satu lembar mendoan pun. Di atas piring itu, kini hanya tersisa serpihan-serpihan tepung renyah yang mengering bersama sisa noda minyak yang berkilau. Dengan wajah paling merana abad ini, Ares mencuil serpihan tepung sekecil semut itu menggunakan ujung jarinya, memasukkannya ke dalam mulut, lalu bergumam pasrah.
"Nasib, nasib... yang repot menggoreng aku, yang keluar modal aku, giliran makan malah ditinggal sendirian, gerutu Ares sambil mengambil serpihan sisa mendoan di depannya.
***
Suasana mengajar telah usai. Zia bergegas merapikan kitab-kitabnya, lalu melangkah anggun menuju asrama. Namun di tengah jalan, langkahnya mendadak terhenti.
Dari arah berlawanan, sosok lelaki yang selama ini diam-diam mengisi hatinya berjalan mendekat. Lelaki itu adalah Charis, yang sedang menuju area kegiatan untuk memastikan perintah Abah tadi pagi berjalan sempurna.
Begitu jarak mereka sudah semakin dekat, Zia langsung menundukkan pandangan. Jantungnya berdetak hebat. Charis pun mendadak kaku.
Langkahnya terhenti. Di antara mereka, ada kebahagiaan yang membuncah sekaligus rasa canggung yang manis. Keduanya tersipu dalam keheningan yang manis, membiarkan rindu yang tak tersampaikan mengudara selama beberapa detik yang terasa abadi.
Demi memecah kesunyian yang semakin mendebarkan, Charis memberanikan diri bersuara. "Apa kabar, Zia?" tanya Charis. Pandangannya tetap tertuju ke bawah, menyembunyikan rasa di dalam dadanya yang tak kalah berisik.
"Alhamdulillah, baik, Mas. Eh... terima kasih untuk martabaknya kemarin," gumam Zia amat lirih, hampir tenggelam dalam debar jantungnya sendiri.
"Oh, iya, sama-sama. Kamu suka?" Charis memastikan, ada nada penuh harap dalam suaranya.
Zia gugup. Sebenarnya, ia pernah mengatakan bahwa ia tidak menyukai rasa keju. Namun, justru rasa itulah yang ia terima kemarin. Zia menduga ini adalah bagian dari selera humor Charis yang sengaja ingin memancing tawa atau sekadar mengujinya.
"Eem... suka sekali. Sangat suka," jawab Zia sedikit ragu, namun dipaksakan selembut mungkin. Ia hanya tidak ingin membuat hati Charis kecewa.
"Syukurlah kalau kamu suka," ucap Charis, mengulas senyum tipis yang tak terlihat oleh Zia.
"Iya, Mas. Kalau begitu... saya permisi dulu."
"Iya, silakan." Charis menggeser tubuhnya, membukakan jalan dengan penuh takzim untuk sang calon istri.
Mereka kembali melangkah menjauh, membiarkan rindu yang bertaut kembali tersimpan rapat.
Pertemuan tak sengaja itu sudah lebih dari cukup untuk membasuh dahaga rindu, meski kemarin mereka baru saja berpapasan. Begitulah sepasang insan yang sedang kasmaran, beribu kali bertemu pun, rindu di dada tak akan pernah benar-benar tuntas.
Setelah bayangan Zia menghilang, Charis hendak melanjutkan langkahnya. Namun, ia mendadak teringat sesuatu.
"Eh, Zizan sudah pulang belum, ya?"Lebih baik aku tunggu Zizan di sini saja daripada nanti terlambat," gumamnya dalam hati.
Charis akhirnya memutuskan berdiri di depan asrama putra, menunggu Zizan selesai mengajar demi menyampaikan amanah penting dari Abah.
Waktu berlalu hingga akhirnya sosok Zizan muncul di ujung jalan. Menyadari keberadaan Charis yang berdiri tegak bak pengawal, langkah Zizan seketika terasa berat. Aura di sekitar tempat itu mendadak berubah mencekam.
Zizan tertunduk, mencoba bersikap sewajar mungkin sembari menyapa pelan. "Mas..." Ia mengangguk takzim, lalu mencoba mempercepat langkah untuk menghindar. Namun, suara Charis menghentikannya seketika.
"Eh, Zan. Kamu dipanggil Abah ke ndalem sekarang. Langsung ya, soalnya Abah sebentar lagi ada acara penting," ujar Charis. Kalimatnya singkat, padat, dan sarat akan ketegasan yang tak boleh dibantah.
Dada Zizan berdesir waswas. "Baik, Mas. Saya segera kesana," jawab Zizan penuh hormat, berusaha menyembunyikan getar di suaranya.
"Baik, kalau begitu saya pergi dulu." Charis berbalik, melanjutkan tugasnya berkeliling pondok dengan langkah tegap.
Sementara itu, Zizan melanjutkan langkah menuju kamarnya dengan perasaan yang khawatir. Pikiran buruk langsung berputar-putar di kepalanya.
Di dalam hatinya, badai pertanyaan berkecamuk hebat. "Tentang apa lagi ini? Pasti tentang masalah kemarin! Haduh, waktuku tinggal dua hari lagi. Mana bisa aku menyelesaikannya?" keluh Zizan dalam hati.
Langkahnya terasa semakin berat, seolah semenit lagi ia akan dihadapkan pada sebuah penghakiman besar di ndalem Abah.
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca