Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Setelah memastikan seluruh tamu undangan pulang dengan tertib, suasana di mansion mewah itu berangsur-angsur sepi.
Malam semakin larut. Di area luar, hanya tersisa Willy dan Mario yang berjaga dengan waspada di sekitar gerbang utama dan lorong bawah, memastikan keamanan sang ketua dan ratu baru mereka.
Kenzo melangkah pelan memasuki kamar utama, sengaja meminimalkan suara agar tidak mengusik ketenangan di dalam ruangan.
Begitu pintu tertutup rapat, pandangannya langsung tertuju pada ranjang besar di tengah kamar.
Ia melihat istrinya, Liana, sudah tertidur pulas dengan napas yang teratur.
Sisa-sisa wajah pucatnya akibat diare tadi kini sudah digantikan oleh rona tidur yang damai.
Perlahan, Kenzo melepas jas formalnya dan melonggarkan dasi yang mencekik leher.
Setelah membersihkan diri seadanya, ia menyusul naik ke atas tempat tidur secara hati-hati, takut jika pergerakannya akan mengejutkan Liana.
Kenzo mengikis jarak, berbaring di samping wanita itu lalu berbisik lirih, "Sayang..."
Liana yang setengah terbangun hanya melenguh pelan tanpa membuka matanya.
"Hm... aku mengantuk, Kenzo..." cicitnya dengan suara serak khas orang tidur.
"Boleh aku memelukmu?" tanya Kenzo lagi, meminta izin dengan nada yang teramat lembut.
"Hm..." jawab Liana pasrah, terlalu lelah untuk berdebat atau sekadar membalikkan badan.
Mendapat lampu hijau, Kenzo langsung merapatkan tubuh kekarnya ke punggung Liana.
Ia melingkarkan lengan kokohnya di pinggang sang istri, menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapan hangatnya.
Tidak sampai di situ, telapak tangan Kenzo yang hangat mulai bergerak menggosok-gosok punggung istrinya dengan gerakan memutar yang lembut dan menenangkan, memberikan kenyamanan instan bagi tubuh Liana yang sempat tegang seharian.
Merasakan usapan nyaman itu, Liana secara refleks bergerak mundur, menenggelamkan dirinya lebih dalam ke dalam dada bidang suaminya, mencari posisi ternyaman.
Kenzo yang merasakan respons tersebut tersenyum hangat di kegelapan kamar.
Ia mengecup bahu Liana yang tertutup piyama dengan gemas.
"Manja sekali kamu, Sayang," ucap Kenzo dengan suara bariton yang bergetar rendah, penuh dengan rasa cinta yang kini tak lagi ia sembunyikan.
Pria itu terus menggosok punggung Liana hingga napas wanita itu kembali terdengar berat dan teratur, menyusulnya masuk ke alam mimpi yang indah.
Suasana malam yang sunyi mendadak pecah ketika jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari.
Di balik selimut tebal, terdengar suara isakan kecil yang tertahan, disusul oleh tangisan lirih yang semakin lama semakin menyayat hati.
Kenzo, yang memiliki insting tajam sebagai seorang pimpinan geng sekaligus dokter, langsung terbangun dari tidur nyenyaknya.
Ia menegakkan tubuh, menyalakan lampu tidur di samping ranjang, dan mendapati Liana sedang meringkuk sambil memegangi perutnya.
Air mata sudah membasahi seluruh pipi wanita itu.
"Liana, ada apa?" tanya Kenzo panik, langsung menangkup wajah istrinya yang pucat dan basah oleh keringat dingin.
"Kenapa... kenapa perutku masih sakit banget, Kenzo..." tangis Liana pecah.
Tubuhnya bergetar hebat karena menahan mulas yang tidak kunjung reda.
"Aku capek, bolak-balik ke kamar mandi terus dari tadi..."
Kenzo terkejut. Ia melihat kantung infus di atas ranjang yang ternyata sudah hampir habis, menandakan Liana sudah berkali-kali kehilangan cairan selama ia tertidur.
"Kenapa kamu tidak membangunkan aku, Sayang?" tanya Kenzo dengan nada menyesal sekaligus cemas.
"Kamu capek, Kenzo..." cicit Liana di sela tangisnya, menatap Kenzo dengan mata yang sembap.
"Hari ini urusanmu banyak sekali. Aku... aku tidak tega melihatmu yang tertidur pulas."
Hati Kenzo mencelos mendengar penuturan istrinya.
Rasa bersalah menghantam dadanya, namun ia harus segera mengambil tindakan cepat.
Diare yang berkepanjangan pada ibu hamil yang memiliki riwayat ancaman keguguran sama sekali tidak bisa diremehkan.
"Kita ke rumah sakit ya, Sayang," ucap Kenzo tegas namun lembut.
Ia mengusap air mata di pipi Liana. "Aku tidak mau kamu sampai terkena dehidrasi akut. Itu berbahaya untukmu dan anak kita."
Dalam kondisi lemas dan tidak berdaya, Liana hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah.
Kenzo bergerak secepat kilat. Ia menyambar celana jins dan jaket hitamnya, mengganti pakaian rumahan dengan pakaian luaran dalam hitungan detik.
Tanpa membuang waktu untuk memakaikan baju ganti pada Liana, Kenzo langsung membungkus tubuh istrinya dengan selimut tebal, lalu membopong tubuh mungil yang lemas itu ke dalam pelukan kekarnya.
Kenzo berjalan cepat menuruni anak tangga dengan langkah-langkah lebar.
Begitu pintu utama mansion terbuka, ia mendapati Mario yang sedang berjaga di area teras depan langsung berdiri siaga saat mendengar langkah tergesa-gesa sang bos.
"Mario, ikut aku ke rumah sakit sekarang! Siapkan mobil!" perintah Kenzo dengan suara baritonnya yang menggelegar di keheningan malam, penuh dengan nada panik yang tak bisa disembunyikan.
"Siap, Bos!" jawab Mario tanggap, langsung berlari mendahului untuk membukakan pintu mobil dan bersiap di balik kemudi.
Di dalam mobil yang melaju membelah keheningan malam, Liana terus merintih kecil.
Tubuhnya meringkuk bersandar pada dada bidang Kenzo, mencengkeram jaket suaminya demi menahan rasa melilit yang kian menyiksa di perutnya.
Kenzo yang menyadari hal itu semakin mengeratkan pelukannya, mengusap kepala Liana dengan penuh kepanikan yang berusaha ia sembunyikan.
"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kita sampai. Bertahanlah demi anak kita," bisik Kenzo dengan suara bariton yang bergetar.
Di balik kemudi, Mario menginjak pedal gas lebih dalam, membuat mobil melesat cepat membelah jalanan kota yang sepi hingga akhirnya tiba di pelataran UGD rumah sakit utama milik Kenzo.
Begitu mobil berhenti sempurna, Kenzo langsung bergerak cepat menendang pintu mobil dan keluar sambil membopong tubuh Liana yang terbungkus selimut. Ia berlari menerobos pintu kaca UGD.
Para perawat yang sedang berjaga seketika terperanjat saat melihat Dokter Kenzo—pemilik sekaligus dokter spesialis kandungan ternama di rumah sakit itu—masuk dengan napas terengah-engah sambil membopong sendiri seorang pasien wanita.
Seorang dokter umum yang sedang bertugas malam itu, Dokter Sinta, langsung berlari menghampiri dengan brankar dorong.
"Keluhan apa, Dokter Kenzo?" tanya Dokter Sinta dengan nada profesional namun sigap.
"Pasien ibu hamil. Tadi siang sempat mengalami abortus imminens dan ada flek. Lalu malam ini diare parah setelah nekat makan sate kambing. Saya khawatir dia mengalami dehidrasi akut yang memicu kontraksi susulan," lapor Kenzo dengan cepat, runut, dan penuh akurasi medis.
Dokter Sinta mengangguk, lalu melirik Liana yang lemas sebelum kembali menatap Kenzo.
"Maaf, Dokter Kenzo... hubungan Anda dengan pasien?"
"Dia istriku," jawab Kenzo tegas tanpa ragu sedikit pun.
Mendengar jawaban tersebut, para perawat yang ada di sekitar UGD seketika membelalakkan mata mereka.
Kasak-kusuk kekecewaan langsung menjalar. Hati mereka patah berantakan seketika, menyadari bahwa dokter spesialis kandungan paling tampan, karismatik, dan menjadi idola di rumah sakit ini ternyata sudah resmi melepas masa lajangnya malam ini.
Dokter Sinta sempat tertegun sesaat, namun ia segera menguasai diri.
Ia mengarahkan perawat untuk memindahkan Liana ke atas bed pemeriksaan.
Setelah Liana terbaring, Dokter Sinta menoleh ke arah Kenzo dan memegang pundak rekan sejawatnya itu.
"Dokter Kenzo, saya tahu Anda dokter spesialisnya. Tapi demi objektivitas tindakan medis dan kondisi psikologis Anda yang sedang panik, tolong biarkan kami yang menangani Liana di dalam. Silakan Dokter Kenzo menunggu di luar."
Kenzo menganggukkan kepalanya dengan berat. Sebagai seorang dokter, ia tahu persis bahwa membiarkan emosi personal campur tangan dalam tindakan medis bisa berakibat fatal.
Dengan langkah enggan, ia mundur dan membiarkan tirai pemeriksaan ditutup, meninggalkan istrinya di bawah penanganan tim medis UGD.
Di dalam ruangan, Dokter Sinta langsung bergerak sigap.
Ia mengambil stetoskop dan memeriksa tekanan darah Liana yang ternyata cukup rendah akibat kehilangan banyak cairan.
Setelah itu, ia menyalakan mesin USG dan mengoleskan gel dingin ke perut Liana untuk memeriksa kondisi janin di dalamnya.
"Denyut jantung janin masih terpantau aman, tapi rahimnya sedikit tegang karena efek dehidrasi dan mulas dari usus," ujar Dokter Sinta menganalisis layar monitor.
Ia kemudian menoleh ke arah perawat di sampingnya.
"Berikan obat antidisentri lewat injeksi, pasang cairan infus elektrolit baru dengan tetesan cepat, dan berikan obat penenang agar dia bisa istirahat total tanpa terganggu rasa mulas."
"Baik, Dok," jawab perawat itu patuh, segera menyiapkan spuit dan obat-obatan yang diperintahkan.
Setelah memastikan kondisi Liana mulai stabil di bawah pengaruh obat penenang, Dokter Sinta melangkah keluar dari bilik pemeriksaan, menemui Kenzo yang sejak tadi berjalan bolak-balik di lorong UGD dengan wajah tegang. Mario berdiri tegap tak jauh di belakang bosnya.
Kenzo langsung menghampiri begitu melihat pintu terbuka.
"Dokter Sinta, bagaimana kondisi istri dan anakku?"
Dokter Sinta tersenyum menenangkan, lalu menjelaskan kondisi Liana panjang lebar.
"Tenang, Dokter Kenzo. Kondisi janinnya syukurlah masih aman dan detak jantungnya stabil. Diare parahnya dipicu karena lambung dan ususnya kaget menerima makanan berat dan berlemak seperti daging kambing, terutama dalam kondisi fisiknya yang belum pulih benar dari flek tadi siang. Hal itu memicu dehidrasi ringan, yang kalau dibiarkan bisa memicu kontraksi dinding rahim. Kami sudah memberikan injeksi untuk menghentikan diarenya, infus cairan elektrolit untuk mengganti cairan yang hilang, serta obat penenang dosis aman untuk ibu hamil."
Dokter Sinta menghela napas sejenak sebelum memberikan rekomendasi lanjutan.
"Saran saya, biarkan istrimu rawat inap di sini sampai dua tiga hari ke depan. Kita harus memastikan cairannya benar-benar terpenuhi dan tidak ada flek susulan sebelum dia boleh pulang."
Kenzo mengembuskan napas lega yang amat panjang, pundaknya yang tegap seketika melentur.
"Terima kasih banyak, Dokter Sinta. Aku sangat menghargai bantuanmu malam ini."
Dokter Sinta terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana tegang yang menyelimuti pimpinan rumah sakit tersebut.
"Sama-sama, Dokter Kenzo. Tapi ingat, setelah istrimu sembuh nanti, jangan lupa traktirannya untuk seluruh staf UGD, ya? Kami semua kaget mendengar kabar pernikahan mendadak ini."
Kenzo menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan rekan sejawatnya itu.
"Tenang saja, urusan traktir beres. Lakukan yang terbaik untuk istriku, Sinta."
Tidak lama kemudian, dua orang perawat keluar dari ruang tindakan dengan mendorong brankar roda yang membawa Liana.
Efek obat penenang yang diberikan membuat wanita itu terlelap dalam tidur yang damai dan pulas, bebas dari rasa mulas yang menyiksa.
Perawat segera memindahkan Liana ke ruang rawat VVIP yang terletak di lantai khusus dengan fasilitas paling lengkap dan mewah.
Kenzo dengan setia berjalan di sisi brankar, jemarinya terus menggenggam erat tangan istrinya yang terpasang selang infus, memastikan Liana merasa aman bahkan dalam tidurnya.
Sementara itu, Mario yang melihat kondisi bosnya sudah terkendali dan sang nyonya besar tertidur pulas, melangkah mendekat dengan gestur hormat.
"Bos, kalau semuanya sudah diatasi, saya izin pamit kembali ke markas untuk memantau situasi dan anak-anak di sana," lapor Mario dengan suara tertahan agar tidak mengusik ketenangan pasien.
Kenzo menoleh sekilas, lalu menepuk pundak kepercayaan tangan kanannya itu.
"Silakan, Mario. Terima kasih untuk malam ini. Kabari aku kalau ada perkembangan mencurigakan dari Kania atau urusan lain di luar."
"Siap, Bos!" jawab Mario mantap. Ia lantas berbalik dan melangkah pergi meninggalkan area rumah sakit, kembali ke markas besar geng Black Cobra untuk menjalankan tugasnya.
Kenzo duduk di kursi empuk samping ranjang VVIP, menatap wajah lelap Liana yang kini tampak jauh lebih rileks di bawah pengaruh obat.
Perlahan, gurat ketegangan di wajah sang pimpinan Black Cobra itu memudar, digantikan oleh senyuman tipis yang sarat akan kehangatan.
Ia memandangi perut Liana yang masih rata, lalu beralih ke wajah polos istrinya yang tertidur tanpa dosa setelah membuat kegemparan tengah malam.
"Si kecil atau mamanya, sih, yang mengajak malam pertama di rumah sakit begini?" gumam Kenzo lirih dengan kekehan rendah, menggelengkan kepalanya melihat nasib malam pernikahan mereka yang berakhir di ruang rawat inap.
Meski jauh dari kata romantis, ada rasa syukur yang membuncah di dadanya karena wanita yang dicintainya itu kini berada dalam jangkauan dan pengawasannya.
Rasa kantuk dan lelah yang luar biasa akhirnya mulai menyerang Kenzo.
Mengingat ia tidak ingin meninggalkan sisi Liana barang sekejap pun, Kenzo melipat kedua tangannya di tepi ranjang sebagai bantalan kepala.
Dengan jemari yang tetap menggenggam erat tangan mungil Liana, Kenzo melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda, ikut terlelap di samping ranjang istrinya demi menjaga belahan jiwanya sepanjang sisa malam.
seru ni
up lgi kkak
biasa ny kn CEO perusahaan ,,
tp aq suka ma cerita ny kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak