NovelToon NovelToon
Istri Albino Sang CEO

Istri Albino Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: QueenMardhiah

Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.

----------

Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.


Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.

----------

Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Temukan

Di Halte Bus

"Brrr... Hikss... P-pa-pak..."

Yasmin meringkuk semakin kecil di sudut halte. Tubuhnya gemetar hebat, giginya bergemeletuk tak karuan. Gamis dan kerudungnya basah kuyup, berat dan dingin menusuk sampai ke tulang sumsum. Hujan masih turun dengan derasnya, membuat suasana di sekitarnya semakin gelap dan menyeramkan.

"Di... di mana ya apartemennya...?" cicitnya parau. Matanya merah dan bengkak karena menangis terus menerus.

Ia mencoba mengingat nama gedung tempat ia tinggal bersama Baskara.

"Apa namanya ya... Apartemen... Apartemen... Yang tinggi... warnanya putih dan kaca..."

Pikirannya terasa kacau dan beku. Ia bahkan tidak bisa mengingat nama jalan atau nama gedungnya dengan jelas. Yang ada di kepalanya hanya rasa takut, dingin, dan lapar.

Rasa gengsi dan takut dihakimi membuatnya enggan untuk bertanya pada siapa pun. Beberapa kali ada orang lewat atau menunggu bus di halte itu, tapi Yasmin hanya menunduk, memalingkan wajah, dan memeluk tubuhnya semakin erat. Ia takut tatapan orang asing, takut ditanya ini itu.

Hingga akhirnya halte itu kembali sepi. Tinggal dia sendiri di tengah hujan dan malam yang panjang.

"Pak Baskara... Yaya kedinginan... Yaya capek dan lapar..." rintihnya lirih. Air mata kembali menetes. "Maafkan Yaya... Yaya tidak sengaja... Yaya dikejar Selina... Yaya takut..."

Ia membayangkan wajah suaminya. Pasti marah. Pasti sedang mengomel di rumah. Pasti sudah menghancurkan barang-barang karena kesal menunggunya.

"Pasti Pak Baskara memarahiku sekarang..." isaknya sedih.

Dadanya terasa sesak, batuknya mulai datang lagi, kali ini lebih parah. Tubuhnya terasa panas dingin, kepalanya pusing berputar. Perlahan kelopak matanya terasa berat sekali.

"Mau... tidur sebentar saja..." gumamnya lemah. "Siapa tahu... bangun-bangun sudah di rumah..."

Dengan mata yang semakin sayu, kepalanya menyandar ke tiang besi halte yang dingin, memejamkan mata di tengah guyuran hujan dan rasa takut yang menghantuinya.

*****>>>{}<<<*****

Di Dalam Mobil

Mata Baskara menyipit tajam saat sorot lampu utamanya menerangi sebuah halte bus yang terletak di pinggir jalan yang cukup sepi. Di sudut paling gelap halte itu, terlihat sebuah gumpalan kecil yang diam tak bergerak.

"Hah? Apa itu?" gumamnya pelan, kakinya otomatis menginjak rem perlahan, memperlambat laju mobilnya.

Pandangannya terfokus. Bentuk tubuh itu... mengenakan pakaian longgar, kepalanya tertunduk dalam, seolah sedang meringkuk ketakutan. Meski jarak masih agak jauh dan hujan membuat pandangan sedikit kabur, ada perasaan aneh yang langsung menyambar benaknya.

"Itu... tidak mungkin kan?"

Baskara segera memutar setir, memarkirkan mobilnya agak menjauh namun masih dalam jarak pandang yang jelas. Ia tidak langsung turun, melainkan menatap lekat-lekat melalui kaca depan yang terus disapu wiper.

Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, bukan karena kencan, tapi karena sebuah kepastian yang menakutkan sekaligus melegakan. Sosok itu... postur tubuhnya, cara ia memeluk lututnya... itu sangat mirip. Itu pasti Yasmin! Siapa lagi wanita yang berani duduk sendirian di halte terpencil begini saat hujan badai?

"BRUK!"

Baskara membanting pintu mobilnya dengan keras, tak peduli suara benturan itu terdengar nyaring memecah kesunyian malam. Ia berjalan cepat menyeberang jalan, Hoodie mahal dan sepatunya basah terkena genangan air, tapi ia sama sekali tidak peduli.

Langkah kakinya berat dan tegas. Semakin dekat, semakin jelas terlihat bahwa itu benar-benar istrinya. Yasmin.

Rasa lega yang luar biasa seketika menyergap dadanya, membuatnya ingin menarik napas panjang. "Syukurlah... dia ada di sini..."

Namun rasa lega itu seketika berubah menjadi amarah yang memuncak saat melihat kondisi wanita itu.

Yasmin duduk meringkuk seperti kucing kehujanan. Seluruh tubuhnya basah kuyup, pakaiannya menempel ketat, wajahnya pucat pasi dan tertunduk lesu. Terlihat sangat menyedihkan, tapi bagi Baskara, pemandangan itu justru memicu emosinya meledak-ledak.

"YASMIN!!"

Terikan keras Baskara mengguncang keheningan malam.

Yasmin yang tadinya hampir tertidur karena kelelahan, terlonjak kaget hebat. Kepalanya terangkat cepat, matanya mengerjap-ngerjap bingung dan takut. Di balik butiran air hujan dan kabut dingin, ia melihat sosok tinggi besar yang berdiri tegak di hadapannya. Wajah itu... wajah yang sangat ia kenal.

"Pa... Pak... Baskara...?" bisiknya lirih, suaranya serak dan hampir tak terdengar.

Baskara berdiri tegak memandangi istrinya dari atas ke bawah. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan emosi yang campur aduk antara khawatir, marah, dan kesal.

"Lihat dirimu! Lihat!" bentak Baskara, tangannya menunjuk ke arah tubuh Yasmin yang basah kuyup. "Apa ini?! Apa yang kau lakukan di sini sendirian hah?! Kau pikir sudah hebat?!"

Yasmin gemetar hebat, bukan hanya karena dingin, tapi karena melihat wajah Baskara yang merah padam menahan amarah.

"Sa... Saya..." cicitnya tak mampu berkata apa-apa. Air matanya kembali menetes, bercampur air hujan di pipinya.

"Sudah berapa jam kau hilang?! Hah?! Dari pagi sampai malam! Bahkan hujan begini kau masih betah duduk di sini?! Apa maksudmu?! Ingin membuatku khawatir setengah mati atau kau memang sengaja ingin menghilang?!" serbu Baskara dengan pertanyaan bertubi-tubi.

Ia benar-benar kesal. Sudah berkilo-kilometer ia keliling kota, sudah ribuan umpatan ia keluarkan, dan kini saat menemukannya, wanita itu malah terlihat seperti orang bodoh yang ditinggal perjalanan di halte kumuh ini.

"Ma... Maaf... Pak..." isak Yasmin, tangannya naik menutupi wajahnya yang mulai panas. "Saya... tersesat..."

"TERSESAT?!" Baskara mendengus keras, tertawa sinis. "Jalan ke apotek saja bisa tersesat sampai sejauh ini?! Apa otakmu itu dipakai atau tidak?! Sudah kubilang langsung pulang! Langsung pulang! Kenapa kau malah keluyuran sampai ke tempat sepi begini?!"

Baskara melangkah maju selangkah, membuat Yasmin semakin mundur ketakutan hingga punggungnya menempel pada tiang besi halte.

"Maaf... Saya takut... Saya dikejar..." coba Yasmin menjelaskan dengan terbata-bata.

"Tidak ada alasan! Tidak ada alasan yang bisa membenarkan kelakuan bodohmu ini!" potong Baskara tajam. Meski suaranya menggelegar marah, tangannya yang besar justru bergerak cepat.

Tanpa berkata lagi, ia membuka Hoodie hitam yang dikenakannya, lalu menyelimutkan benda tebal dan hangat itu ke seluruh tubuh Yasmin yang menggigil.

Yasmin terkejut, merasakan kehangatan yang tiba-tiba menyelimutinya. Bau khas parfum mahal dan tubuh suaminya tercium kuat dari Hoodie itu.

"Bangun! Kita pulang sekarang!" perintah Baskara ketus, tapi tangannya dengan sigap menarik lengan Yasmin untuk membantunya berdiri.

Saat tangan mereka bersentuhan, Baskara bisa merasakan betapa dinginnya kulit istrinya. Seperti es batu. Hati pria itu tersentil nyeri, tapi ia segera menutupinya dengan wajah garang.

"Dasar gadis merepotkan! Besar sekali kepalamu untuk isi yang kosong!" umpatnya lagi sambil memapah paksa tubuh lemah Yasmin berjalan menuju mobil. "Lihat nanti kalau kau sampai sakit! Jangan harap aku mau merawatmu! Kau yang tanggung sendiri akibatnya!"

Yasmin hanya bisa menunduk, terisak pelan sambil membiarkan dirinya dituntun. Meski dimarahi habis-habisan, ada perasaan hangat yang aneh menyelinap di hatinya. Pak Baskara mencarinya. Pak Baskara datang menjemputnya.

"Pa... k Baskara..." panggilnya lirih.

"Diam! Jangan banyak bicara! Simpan tenagamu! Nanti kalau mati kedinginan aku tidak mau urus!" bentak Baskara, tapi ia justru semakin mengeratkan pegangannya pada lengan Yasmin, memastikan wanita itu tidak akan terjatuh atau tertinggal lagi darinya.

1
Santy 2a
semoga banyak yang baca semangat kak
QueenMardhiah: aamiin... terimakasih sudah mampir. jangan lupa follow juga ya 🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!