Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.
Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.
Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.
Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?
*
Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Sebelum berbicara dengan kedua tahanan itu, Arina melirik Saiph sekilas.
“Bisakah kau menunggu di ujung sana? Aku ingin berbicara dengan mereka secara pribadi.”
“Baik, Nona.”
Saiph segera berbalik dan berdiri di ujung lorong dengan jarak yang cukup jauh.
Setelah memastikan Saiph tidak memerhatikannya, Arina perlahan mengangkat tangan kanannya. Jemarinya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Sesaat kemudian, ia membuka kembali kepalan itu dan mengarahkan telapak tangannya ke arah kedua tahanan.
Mata mereka membelalak lebar saat melihat sesuatu di telapak tangan Arina.
“Aku tahu kalian bukan iblis, tetapi juga bukan manusia.” Suara Arina terdengar datar dan dingin. “Sekarang katakan, siapa yang menyuruh kalian datang?”
Kedua tahanan yang semula tampak begitu garang sontak melangkah mundur. Wajah mereka seketika memucat, sementara cahaya merah di mata mereka perlahan meredup.
“A-ampun... Kami tidak tahu siapa yang memberi perintah. Dia hanya menyewa kami untuk membakar desa itu. Kami benar-benar tidak tahu apa-apa,” ujar tahanan wanita dengan suara gemetar. Raut wajahnya dipenuhi ketakutan, seolah sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
“Jelaskan!”
“Dia memakai topeng saat menemui kami di Asosiasi. Dari postur tubuhnya, aku yakin dia seorang wanita,” jelas tahanan wanita itu dengan tergesa-gesa.
Arina terdiam sejenak. Keningnya berkerut.
Asosiasi? Jadi, kedua orang ini berasal dari sebuah asosiasi?
“Apa kalian anggota Asosiasi Telaga Hitam?” Arina mengamati keduanya dari ujung kepala hingga kaki. Tak lama kemudian, ia mengangguk pelan seolah telah menemukan jawabannya sendiri. “Ya, kalian pasti anggota Asosiasi Telaga Hitam. Hanya asosiasi itu yang memiliki anggota berdarah setengah manusia.”
Kedua tahanan itu membelalak. Mereka tidak menyangka Arina dapat menebak identitas mereka secepat itu. Selama ini, Asosiasi Telaga Hitam bergerak dalam bayang-bayang. Keberadaan mereka nyaris tidak pernah diketahui orang luar.
“Kalian ingin bebas?” tanya Arina tiba-tiba.
Kedua tahanan itu saling berpandangan, kebingungan dengan pertanyaan tersebut.
“Kau pasti sedang bercanda,” ujar tahanan satunya yang berwujud seperti anak kecil. Untuk pertama kalinya, ia membuka suara sambil menatap Arina dengan penuh keheranan.
“Aku tidak bercanda.” Arina melirik sekilas ke arah Saiph yang masih membelakanginya. “Aku bisa membebaskan kalian, tetapi dengan dua syarat.”
“Apa syaratnya?”
“Jadi, kalian setuju?” Arina tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia balik menekan mereka dengan sebuah pertanyaan.
Keduanya kembali terdiam. Melarikan diri dari Penjara Orion adalah sesuatu yang nyaris mustahil. Karena itu, tawaran Arina terdengar begitu menggiurkan. Namun, bagaimana jika syarat yang diajukan wanita itu tidak masuk akal?
“Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu.” Arina tidak memaksa mereka mengambil keputusan. Ia berbalik dan mulai melangkah meninggalkan sel. “Mungkin besok kalian akan diadili di Aula Hukum Kerajaan.”
“Tunggu!”
Arina menghentikan langkahnya. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. Ia tidak berbalik, hanya menunggu kedua tahanan itu melanjutkan ucapan mereka.
“Baiklah, kami setuju.”
Mereka akhirnya menerima tawaran Arina. Diadili di Aula Hukum Kerajaan adalah nasib yang sebisa mungkin ingin mereka hindari.
“Aku akan datang lagi tengah malam nanti,” ujar Arina. Setelah itu, ia kembali melangkah menghampiri Saiph yang masih menunggunya.
“Aku sudah selesai. Ayo kembali.”
Saiph segera mengikuti Arina dari belakang. Semakin lama mengamati punggung wanita itu, semakin besar pula rasa penasarannya.
Apa yang sebenarnya dia bicarakan dengan kedua tahanan itu? Mengapa dia selalu begitu tenang? Dan kenapa ekspresi wajahnya selalu datar? batin Saiph.
“Kau ingin menanyakan sesuatu?” tanya Arina ketika mereka mulai menaiki tangga.
Saiph terkejut. “Bagaimana Anda tahu?”
“Langkahmu terdengar gelisah, tidak setenang sebelumnya. Jadi, kupikir ada sesuatu yang ingin kau tanyakan atau katakan.”
“Saya hanya penasaran dengan apa yang Anda bicarakan bersama kedua tahanan itu,” jawab Saiph terus terang.
“Hanya interogasi kecil.”
Arina akhirnya keluar dari penjara bawah tanah. Para penjaga yang berjaga di pintu masuk masih memandangnya dengan tatapan tidak bersahabat. Ia memilih mengabaikan mereka dan berniat kembali ke kamarnya secepat mungkin.
Namun, langkahnya mendadak terhenti.
Di belokan lorong tempat ia sempat berbicara dengan Rigel sebelumnya, Orion telah berdiri menunggunya. Rigel berada di sisi pria itu. Wajah Orion tampak garang, sementara tatapannya yang tajam tertuju lurus kepada Arin.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Orion. Tanpa menunggu jawaban, ia mencengkeram pergelangan tangan Arina dengan kasar.
Arina menggigit bibir bawahnya, menahan rasa perih yang menjalar dari pergelangan tangannya. Cengkeraman Orion begitu kuat hingga ia sempat bertanya-tanya apakah pria itu berniat mematahkan lengannya.
“Kau ingin mematahkan tanganku?” tanya Arina dengan nada datar.
Barulah saat itu Orion menyadari bahwa cengkeramannya terlalu kuat. Ia segera melepaskan pergelangan tangan Arina, tetapi amarah di wajahnya belum juga mereda.
“Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu! Dari sekian banyak tempat yang bisa kau datangi, kenapa justru penjara bawah tanah?!” bentak Orion. Kedua tangannya kembali mengepal erat di sisi tubuhnya. Sementara itu, Rigel hanya berdiri diam di belakang, mengamati keduanya.
“Itu hanya penjara, Orion.” Arina menatapnya dengan bingung. Ia benar-benar tidak memahami alasan kemarahan pria itu.
Namun, sesaat kemudian, matanya sedikit berbinar seolah baru saja menyadari sesuatu.
“Jangan-jangan penjara itu juga tempat khususmu bersama Stella? Sama seperti kolam air hangat itu. Hanya kalian berdua yang boleh memasukinya?”
Orion langsung melotot.
“Apa yang sedang kau bicarakan?!”
Arina mengangkat bahu dengan acuh.
“Sebelumnya kau sangat marah karena aku mandi di kolam air hangat. Sekarang kau bahkan lebih marah saat aku masuk ke penjara bawah tanah. Jadi, kupikir kedua tempat itu memang memiliki arti khusus bagi kalian.”
Sudut bibir Rigel berkedut pelan. Di telinganya, dugaan Arina terdengar begitu konyol hingga ia nyaris tertawa.
Namun, saat hendak membuka mulut, Orion dan Arina justru menoleh bersamaan ke arahnya.
Arina menatapnya dengan bingung, sedangkan Orion melemparkan tatapan yang nyaris bisa membunuh.
“Ehem...” Rigel berdeham canggung. “Mungkin... sebaiknya masalah ini dibicarakan baik-baik, Tuan.”
“Diam, Rigel! Pergi dan kerjakan tugasmu. Untuk apa kau terus mengikutiku?” hardik Orion.
“Siap, Tuan.”
Rigel segera memberi hormat, lalu bergegas meninggalkan tempat itu sebelum amarah Tuannya yang terkenal temperamental benar-benar meledak.
...***...
...Like, komen dan vote ...