Tiga tahun Arga hidup sebagai menantu miskin yang dipandang rendah keluarga istrinya. Di meja makan, di pesta keluarga, di setiap tatapan dingin, ia diperlakukan seperti beban yang tidak punya masa depan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria pendiam itu adalah pewaris tersembunyi keluarga Mahendra, pengendali kekaisaran bisnis bernilai triliunan rupiah yang bergerak dari balik layar. Saat penghinaan berubah menjadi batas terakhir, Arga mulai mengambil kembali semua yang dirampas darinya: nama, kekuasaan, harga diri, dan kebenaran di balik kematian orang tuanya.
Di tengah perang bisnis para konglomerat, intrik keluarga elite, aliansi berbahaya, dan musuh yang bersembunyi di balik hukum, Arga harus memilih cara membalas tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sementara itu, pernikahannya dengan Bianca diuji oleh rahasia, luka lama, dan cinta yang ternyata lebih kuat daripada kebohongan.
Ini kisah tentang menantu yang diremehkan, pewaris yang bangkit diam-diam, dan balas dendam yang tidak datang lewat amarah, melainkan lewat kuasa yang tepat sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29 - Pertemuan Mantan Rekan
Bar itu berada di sudut Jalan Kemang Raya dan Kemang Selatan, Kemang. Fasad bata ekspos, papan neon yang mati, meja biliar di bagian belakang. Jenis tempat yang dipilih karena nostalgia, bukan kualitas.
Arga memarkir Corolla dua blok jauhnya. Celana jin, kaus hitam polos, sepatu tanpa merek. Jam tangannya Casio delapan puluh ribu rupiah. Siapa pun yang melihat akan melihat persis apa yang ia ingin mereka lihat: pria biasa yang akan bertemu teman-teman kuliah.
Pak Jaya memarkir Uno abu-abu di sudut seberang. Mesin mati, jendela terbuka tiga jari, mata pada kaca spion. Mereka tidak saling mengirim pesan. Tidak perlu.
Mejanya panjang, tujuh kursi, enam sudah terisi. Arga mengenali wajah sebelum nama. Empat tahun teknik di kampus negeri menciptakan jenis keakraban tertentu, yang bertahan melewati waktu tetapi tidak melewati kedekatan.
"Si menantu datang!" Paul mengangkat gelas birnya. Jenggot lebat, perut lebih besar daripada saat wisuda, senyum orang yang menganggap lelucon berulang sebagai tradisi.
"Sudah belajar masak, Arga?" Feby menyandarkan siku ke meja, geli. "Atau mertua masih kirim bekal?"
Arga menarik kursi dan duduk.
"Sudah. Aku bisa masak nasi sampai Bianca memuji."
"Nasi! Orang ini bisa masak nasi!" Paul memukul meja. "Kampus kita meluluskan insinyur dan tukang masak, teman-teman."
Tawa datang dengan mudah. Arga ikut tersenyum. Bukan senyum orang yang terhibur, melainkan senyum orang yang tahu lelucon itu punya tanggal kedaluwarsa.
Di ujung meja, Marcel Bramantyo tidak tertawa. Gelasnya penuh, mata di ponsel, rahang mengeras. Marcel adalah sosok yang dulu membuat semua orang iri saat wisuda: pertama di angkatan yang membuka perusahaan, pertama membeli apartemen, pertama muncul di majalah SWA. Logistik terpadu, armada sendiri, kontrak dengan tiga jaringan ritel.
Sekarang ia tampak sepuluh tahun lebih tua.
Pada ronde bir kedua, obrolan terpecah. Paul dan Feby membahas anak Feby yang belum lolos ujian masuk universitas. Andra dan Rendra membandingkan gaji multinasional dengan ketelitian getir orang yang tahu tidak satu pun cukup.
Arga bangkit dan pergi ke bar. Marcel muncul di sampingnya tiga puluh detik kemudian.
"Aku harus keluar dari sini," kata Marcel tanpa melihatnya.
"Dari bar?"
"Dari hidup yang kubangun."
Arga memesan dua air soda. Ia mendorong satu gelas ke Marcel.
"Ceritakan."
Marcel menghabiskan setengah gelas sekali teguk. Tangannya sedikit gemetar.
"Perusahaan transportasiku berdarah. Delapan miliar minus. Truk-truk sudah terdepresiasi, kontrak pengiriman disesuaikan di bawah inflasi, dan Bank Mandiri menagih jaminan riil untuk pinjaman. Aku punya tiga bulan. Kalau tidak ada yang berubah, tutup."
"Berapa truk?"
"Tiga puluh dua. Tujuh belas lebih dari lima tahun."
"Kontrak perawatan?"
"Sendiri. Bengkel internal."
"Di situ sebagian masalahnya."
Marcel menatapnya. Ekspresinya seperti orang mendengar mekanik berkata mesin mobilnya jebol.
"Kamu membakar kas untuk mempertahankan aset yang terus menyusut nilainya. Jual armadanya. Semuanya. Buat reverse leasing untuk kendaraan yang masih layak. Kamu mengoperasikan, tidak harus memiliki. Negosiasi ulang dengan kreditur memakai merek dan kontrak aktif sebagai jaminan. Lalu pivot."
"Pivot ke apa?"
"Last-mile. Pengiriman tahap akhir. Ritel sedang pindah ke e-commerce, dan tidak ada yang menyelesaikan pengiriman last-mile di Jakarta dengan efisien. Kamu punya kontrak, punya rute, punya operasi. Tinggal ganti model."
Marcel diam. Jarinya memutar gelas perlahan.
"Kamu bicara seperti mengerti logistik."
"Mungkin aku mengerti."
"Arga, jangan tersinggung, tapi... kamu menantu keluarga Kartawijaya. Tidak bekerja. Semua orang tahu itu."
Arga meneguk air. Tanpa tergesa.
"Semua orang tahu banyak hal, Marcel. Tidak semua yang semua orang tahu itu benar."
Mereka kembali ke meja. Obrolan sudah berubah. Andra, yang bekerja di bagian humas sebuah portal berita, berdiri dengan antusias, menggerakkan gelas sambil bicara.
"Kalian lihat artikel Konsultan Hantu itu? Seri di Kompas?"
Feby memutar mata.
"Satu lagi teori konspirasi korporat."
"Bukan konspirasi. Reporternya punya sumber." Andra menopang kedua tangan di meja. "Aku tahu Prado Investama salah satu perusahaan yang diselamatkan konsultan itu. Perusahaan yang sudah mau bangkrut, tiba-tiba restrukturisasi dan kembali untung dalam empat bulan. Modal muncul entah dari mana. Strategi berubah dalam semalam."
"Lalu?" kata Paul. "Konsultan bagus memang ada."
"Konsultan bagus, iya. Konsultan yang beroperasi dengan modal sendiri di angka miliaran dan tidak ada yang tahu namanya? Itu bukan konsultan. Itu sesuatu yang lain." Andra duduk, tetapi matanya menyala. "Aku akan menyelidikinya. Aku punya kontak di sektor keuangan, bisa mengangkat catatan korporasi Prado."
Arga membawa gelas ke bibir. Ia minum perlahan. Saat meletakkan gelas di meja, tangannya benar-benar stabil.
"Semoga berhasil," katanya dengan suara santai. "Kedengarannya menarik."
Andra tersenyum.
"Kalau aku menemukan siapa dia, aku akan jadi yang pertama menerbitkannya. Catat itu."
Arga bersandar ke kursi. Wajahnya tidak berubah. Tidak satu otot pun. Namun di bawah meja, tangan kirinya mengepal sekali, lalu terbuka lagi.
Di luar, di dalam Uno abu-abu, Pak Jaya mengawasi pintu masuk bar. Tidak ada yang bergerak di jalan. Belum ada yang perlu bergerak.
Belum.