Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.
Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.
Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.
Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pikiran licik
Sejak pertemuan siang itu, Adrian tidak bisa fokus pada hal apapun. Di pikirannya hanya ada Aryan dan Alya. Rindunya sedikit terobati, tetapi tidak dengan rasa sakit dihatinya.
"Andai saja aku nggak membuat kesalahan Al, mungkin kita sudah hidup bahagia," batin Adrian. Dia memandangi foto pernikahannya dengan Alya yang masih tersembunyi di dompetnya tanpa Safira ketahui.
Tidak lama, dia mengeluarkan foto itu dan menyimpannya di dalam laci. Adrian teringat dengan kalimat putranya tadi. Di mana dia tidak boleh mengulang menyakiti siapapun.
"Cetak foto yang saya kirimkan dengan ukurang lebih kecil dan pastikan sudah ada di meja saya besok pagi," ujar Adrian ketika melewati meja asistennya.
Sudah jam pulang, dan ini salah satu keajaiban di mana dia tidak mengulur waktu tiba di rumah. Padahal biasanya Adrian sengaja berdiam diri di kantor agar tidak bertemu Safira.
"Di mana Safira, Ma?" tanya Adrian.
"Di kamar kayaknya."
Adrian mengangguk dan segera menuju kamar. Benar, istrinya ada di sana dan sedang maskeran di dekat jendela. Dia mendekat dan mengecup pucuk kepala wanita itu. Hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Safira.
Sampai-sampai Safira langsung bangun dan menatap suaminya.
"Mas nggak mabuk kan?"
"Maaf."
"Maaf?" Kening Safira mengerut.
"Maaf karena selama bertahun-tahun aku membuatmu menderita akibat penyesalan yang aku perbuat. Aku membencimu karena mengira pernikahanku hancur karenamu, padahal kita berdua melakukannya karena sama-sama suka." Adrian berlutut di sisi sofa, menundukkan kepalanya.
"Mas nggak sedang merencanakan sesuatu kan?" todong Safira. Siapa yang tidak bingung melihat tingkah suami yang dulu sering marah tiba-tiba meminta maaf?
"Nggak Safira. Aku mau kita memperbaiki segalanya."
"Mas seperti ini karena rencana papa ingin merebut putra mas dari Alya kan?"
Adrian memejamkan matanya, bahkan untuk memperbaiki rumah tangganya sendiri dia sudah tidak bisa.
"Mas baik padaku demi Alya lagi seperti enam tahun yang lalu?"
Adrian mengeleng, kali ini dia tidak membenarkan tuduhan Safira. Dulu memang dirinya baik dan memperlakukan Safira dengan manis agar tidak membuka mulut tentang keberadaan Alya. Namun, sekarang dia benar-benar ingin berubah sebelum penyesalan kedua datang pada hidupnya.
***
Dipta menarik selimut hingga pinggang, menghadap pintu menunggu istrinya muncul. Dia tersenyum dan menepuk tempat disampingnya melihat wanitanya membuka pintu kamar.
"Kakak sudah tidur?" tanya Dipta.
Dia bergerak demi memperbaiki posisi tidurnya. Menjadikan tangannya bantal untuk kepala Alya.
"Sudah Mas."
"Hari ini gimana dek?"
"Kok nanya? Kan seharian sama mas."
"Seharian sama mas dan kakak, tapi kamu punya perasaan dan pikiran dek. Mas siap mendengarkan kok, lagian belum tengah malam banget." Tatapan Dipta selalu saja tertuju pada Alya jika berbicara.
"Lega. Lega karena akhirnya Aryan dan Adrian bertemu tanpa direncanakan. Dan terimakasih mas."
"Kok terimakasih sama mas?"
"Mas berhasil membuat Aryan memeluk papanya tanpa harus berbohong dan jujur."
"Sudah kewajiban mas untuk membahagiakan kalian dek. Aryan terlalu kecil tahu semuanya." Dipta mendaratkan kecupan dikening istrinya. "Ada lagi dek?"
"Nggak ada, mau dipeluk mas saja."
Dipta terkekeh, memeluk istrinya erat dan memejamkan mata.
Sungguh, Dipta tidak rela jika air mata Alya terjatuh disebabkan oleh kesedihan. Alyanya hanya boleh bahagia.
***
Sarapan bersama sudah menjadi rutinitas yang tidak pernah terlewatkan di apartemen Dipta. Sesibuk apapun, dia selalu menyempatkan waktunya bersama anak dan istrinya.
"Nanti berangkat sama ibu."
"Kenapa bukan ayah?"
"Soalnya tujuan ibu searah sama kakak. Nanti baru deh dijemput sama ayah." Alya merapikan rambut putranya dan membersihkam sudut bibir Aryan.
"Oke Ibu, kakak mengerti." Aryan menaikkan jempolnya.
Usai sarapan, mereka ke basemen sama-sama. Dipta membukakan pintu mobil untuk Alya, mengecup bibir setelah wanita itu duduk di jok kemudi.
"Hati-hati bawa mobilnya dek. Kalau ada apa-apa langsung telpon mas."
"Iya mas." Alya melirik putranya. "Sayang ayah dulu kakak."
Lantas Aryan berdiri demi mengecup pipi Dipta sebelum mobil benar-benar melaju.
Beberapa bulan setelah pernikahan mereka, Dipta sendiri yang mengajari Alya mengemudi, tentu atas permintaan Alya.
Apa yang menjadi keinginan Alya semuanya terkabul setelah menikahi Pradipta Nugraha sehingga tidak ada ruang penyesalan di hati wanita itu saat nekat menerima lamaran Dipta, padahal tidak ada cinta dihatinya.
"Kenapa ibu senyum-senyum sendiri? Ibu teringat ayah?"
"Iya sayang, ibu teringat ayah. Ayah manis banget kan ya?"
Aryan langsung mengeleng tidak setuju. "Ayah manis sama ibu saja."
"Loh kok bilangnya gitu?"
"Ayah lebih milih gendong ibu dibandingkan kakak kalau lagi jalan. Kakak juga di suruh bawa sepatu ibu."
Sontak, tawa kecil Alya terdengar.
Ternyata Aryan masih saja mengingat momen itu. Momen di mana dia mengeluh kelelahan berjalan dan Dipta mengendongnya, sedangkan Aryan jalan kaki membawa sepatu dan tas sekolah.
"Kan ayah suami ibu."
"Kakak nggak bilang kalau ayah suami kakak."
Sungguh kali ini pipi Alya sampai memerah karena menahan tawa, apalagi wajah cemberut putranya sangat mengemaskan.
Alya ikut keluar mobil setelah tiba di depan sekolah. Kembali mengabsen seragam sekolah putranya, dari ujung kaki hinga kepala.
"Ingat apa kakak?"
"Nggak boleh pelit, nggak boleh jahat sama teman. Kalau bisa dibantu harus dibantu, kalau merasa dirugikan menjauh."
"Pintar banget ya kakak."
Alya tersenyum, memandangi putranya berlari kecil melewati pagar sekolah dan bergabung bersama teman-temannya.
Hari ini Alya tidak punya jadwal merias, mau bagaimana lagi, atasannya adalah suaminya sendiri. Sehingga kadang dalam seminggu dia hanya diberi satu jadwal saja dengan alasan yang lain juga butuh pekerjaan.
Dan tujuan Alya pergi hari ini bertemu adik kesayangannya.
"Alya!"
Alya mengurungkan niatnya membuka pintu mobil. Dia menarik napas panjang sebelum berbalik.
"Sudah enam tahun sejak kita bertemu," ujar Safira.
"Lalu?" tanya Alya.
"Kamu tampak bahagia dengan kehidupan barumu, bukankah jahat jika terus membiarkan aku dan mas Adrian menderita?"
"Kapan kiranya aku membuatmu menderita Safira? Bukankah sudah aku berikan apa yang kamu mau enam tahun yang lalu? Kamu menginginkan suamiku, jadi aku menikahkan kalian."
"Aku juga tidak pernah mendoakan keburukan untukmu," lanjut Alya.
"Tapi kau merebut kebahagian keluarga suamiku Alya! Harusnya kamu nggak egois mempertahankan anak Adrian agar tetap di sisimu. Aku tahu pikiran licikmu."
Alya menelengkan kepalanya, bersandar pada mobil dan menunggu Safira bicara.
"Kau akan memanfaatkannya nanti kan? Kau akan mempergunakannya untuk balas dendam pada keluarga Ardana."
"Pikiranmu terlalu jauh, aku bahkan nggak pernah sampai ke sana." Alya tertawa pelan. "Jangan khawatir, harta suamiku sudah cukup untuk hidup tenang tanpa takut apapun."
Alya kembali membuka pintu mobilnya.
"Sampai bertemu dipengadilan Alya, kita lihat siapa yang akan menang."
.
.
.
Uh maklampir kok bisa tau tempat tinggal Alya sekarang😭
Jangan lupa like, komen dan subscribe. Dukungan kalian semangat author.
klo cinta... tak akn km mnduakn alya