NovelToon NovelToon
Cinta Tulus Sang Penguasa

Cinta Tulus Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nyonya Lin buat masalah

Dua hari setelah kunjungan pertama yang penuh ketegangan, Chensi harus pergi keluar kota untuk urusan bisnis yang sangat mendesak. Ia berpesan panjang lebar pada Li Wei dan semua pengawal agar menjaga Annisa dengan ketat, tidak membiarkan siapa pun masuk tanpa izin, dan segera melapor jika ada hal mencurigakan. Namun, ia tidak menyangka bahwa Nyonya Lin, ibu tirinya, sudah memiliki rencana lain.

Siang itu, saat matahari sedang terik dan sebagian besar pelayan sedang sibuk di bagian belakang rumah, Nyonya Lin kembali datang. Kali ini ia tidak membawa pengawal atau sopir resmi, melainkan dua orang pria kekar yang tampak seperti orang bayaran. Ia berhasil membujuk penjaga gerbang dengan alasan ingin menyerahkan surat penting untuk Chensi, lalu melangkah masuk dengan langkah cepat dan penuh amarah.

Begitu melihat Annisa yang sedang duduk santai di teras sambil meminum air hangat, Nyonya Lin langsung melangkah mendekat dengan wajah merah padam.

“Jadi kau masih berani duduk tenang di sini, wanita asing tak tahu diri!” bentaknya dengan suara melengking.

Annisa terkejut, segera berdiri dan mundur selangkah. “Nyonya Lin… kenapa datang lagi? Tuan Chensi tidak ada di rumah.”

“Justru karena dia tidak ada, aku bisa bicara terus terang tanpa ada yang menghalangi!” sergah Nyonya Lin, lalu melangkah semakin dekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal. “Dengar baik‑baik: pergilah dari sini! Tinggalkan Chensi, bawa janin itu, dan hilanglah dari kota ini selamanya. Jika kau tidak mau, maka jangan salahkan aku jika hal buruk menimpamu.”

Annisa menatapnya dengan hati berdebar kencang, namun berusaha tetap tenang. “Saya sudah ingin pergi sejak lama, Nyonya. Tapi Tuan Chensi yang melarang saya pergi. Saya tidak memiliki dokumen, tidak memiliki kebebasan untuk bergerak. Apa yang bisa saya lakukan?”

“Jangan beralasan!” Nyonya Lin semakin marah. “Kau pasti punya cara untuk memikatnya agar menahanmu. Kau pikir dengan mengandung anaknya, kau bisa menguasai dia dan seluruh harta keluarganya? Mimpi saja!”

Tanpa peringatan lagi, Nyonya Lin mengangkat tangannya dan menampar pipi Annisa dengan keras.

“PLAK!”

Suara tamparan itu terdengar jelas. Annisa terhuyung ke belakang, kepalanya terasa berputar, dan rasa perih serta panas menjalar di pipi kanannya. Ia menahan diri agar tidak jatuh, tangan segera menekan perutnya secara refleks demi melindungi kandungannya.

“Jangan sentuh saya!” teriaknya ketakutan.

Namun Nyonya Lin tidak berhenti. Ia mendorong tubuh Annisa hingga gadis itu terjatuh duduk di lantai teras, lalu menendang kakinya dengan sepatu yang bersol keras.

“Kau ini hama! Kau merusak rencana keluarga kami! Jika kau tidak pergi dengan sukarela, aku akan membuatmu pergi dalam keadaan tidak bisa berjalan lagi! Bahkan aku tidak segan‑segan membuang janin itu agar tidak ada lagi alasan kau bertahan di sini!”

Mendengar ancaman itu, Annisa merasa ketakutan yang luar biasa. Ia berusaha merangkak mundur sambil menangis, memohon belas kasihan. “Tolong… jangan sakiti anak saya… saya akan pergi jika bisa… tolong berhenti…”

Namun Nyonya Lin semakin menjadi‑jadi. Ia membungkuk dan mencengkeram kerudung Annisa dengan kasar, menariknya hingga kepala gadis itu terangkat dengan paksa.

“Kau pikir aku akan percaya omonganmu? Sampai nyawamu terancam, baru kau akan benar‑benar pergi!”

Saat ia hendak mengangkat tangannya lagi untuk memukul bagian perut Annisa, tiba‑tiba suara langkah kaki cepat terdengar mendekat, diikuti teriakan keras.

“Lepaskan dia! Segera!”

Li Wei bersama dua pengawal rumah baru saja kembali dari tugas dan mendengar keributan. Mereka segera berlari menghampiri, menarik paksa tangan Nyonya Lin yang masih mencengkeram rambut Annisa.

“Nyonya Lin, apa yang Nyonya lakukan? Ini tindakan yang tidak dapat dimaafkan!” bentak Li Wei dengan nada tegas, lalu segera menolong Annisa berdiri.

Annisa terlihat sangat lemah, wajahnya pucat pasi, pipinya memerah lebam, dan lututnya tergores hingga berdarah karena terjatuh. Ia masih memegang perutnya erat‑erat, napasnya terengah‑engah sambil menangis ketakutan.

Nyonya Lin tidak merasa bersalah sedikit pun. Ia hanya menatap mereka dengan pandangan angkuh dan mengancam.

“Ingatlah! Jika wanita itu masih ada di rumah ini saat Chensi pulang, maka hal yang lebih buruk akan terjadi lagi! Kalian juga yang akan menanggung akibatnya!”

Setelah melontarkan ancaman itu, Nyonya Lin berbalik pergi ditemani dua orang pengawalnya, meninggalkan suasana yang penuh kekacauan dan ketakutan.

Li Wei segera memanggil dokter pribadi rumah untuk memeriksa kondisi Annisa. Sambil menunggu dokter datang, ia berkata dengan nada khawatir.

“Nyonya Annisa, tolong tenanglah. Saya akan segera menghubungi Tuan Chensi dan melaporkan semuanya. Nyonya Lin tidak akan bisa berbuat semena‑mena lagi begitu Tuan Chensi tahu kejadian ini.”

Namun Annisa hanya duduk bersandar di dinding, tubuhnya gemetar hebat, air matanya terus mengalir. Rasa sakit di tubuhnya terasa, tapi rasa takut akan keselamatan anaknya jauh lebih menyiksa. Ia menyadari bahwa bahaya belum benar‑benar hilang, dan keberadaannya di sini justru membuatnya menjadi sasaran kebencian orang‑orang terdekat Chensi.

Di ruang rapat perusahaan yang megah dan sunyi, Chensi sedang duduk memimpin pembahasan proyek besar. Wajahnya tetap tenang dan tegas, namun hatinya sering kali teringat pada Annisa yang ditinggalkannya di rumah. Tiba-tiba, ponselnya bergetar dengan nada khusus yang hanya digunakan untuk urusan sangat mendesak. Begitu melihat nama Li Wei tertera di layar, ia langsung meminta jeda pada peserta rapat.

“Maaf, kita hentikan dulu sebentar,” ucapnya singkat, lalu melangkah keluar menjawab panggilan itu.

Belum sempat ia menyapa, suara panik Li Wei langsung terdengar dari seberang telepon.

“Tuan Chensi! Segera pulang! Nyonya Lin datang tanpa izin, dia bertindak kasar pada Nyonya Annisa! Dia memukul dan mendorongnya sampai terjatuh!”

Detik itu juga, darah Chensi terasa mendidih. Rahangnya mengeras, dan napasnya terasa tertahan. Tanpa membuang waktu sedikit pun, ia kembali masuk ke ruang rapat dan berkata dengan nada tegas yang tidak bisa dibantah.

“Rapat ditunda sampai pemberitahuan selanjutnya. Ada urusan pribadi yang sangat penting harus saya selesaikan sekarang.”

Tanpa menunggu jawaban siapa pun, ia berjalan cepat keluar, melangkah seolah terbang menuju mobilnya. Di sepanjang perjalanan pulang, ia memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, pikirannya dipenuhi rasa takut dan amarah yang meluap-luap. Ia hanya bisa berdoa dalam hati semoga tidak ada hal buruk yang terjadi pada Annisa dan janin di dalam kandungannya.

Begitu tiba di kediaman, ia langsung melompat keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya terhenti seketika saat tiba di kamar tidur.

Di sana, Annisa terbaring lemah di atas tempat tidur. Wajahnya yang biasanya bersih dan lembut kini terlihat memar di pipi kanan, ada bekas goresan di dahinya, dan lututnya yang terbalut perban terlihat bengkak. Matanya terbuka sedikit, tatapannya terlihat sendu, lelah, dan masih menyimpan rasa takut yang mendalam.

Chensi mendekat dengan langkah hati-hati, takut menimbulkan suara yang mengagetkan. Ia duduk di sisi tempat tidur, lalu perlahan mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi yang memar itu, namun berhenti setengah jalan karena takut menimbulkan rasa sakit.

“Annisa…” panggilnya dengan suara parau, berusaha menahan gejolak emosi yang meledak di dadanya.

Mendengar suaranya, Annisa perlahan menoleh. Matanya berkaca-kaca, dan air mata segera mengalir turun membasahi pipinya. Ia tidak bicara banyak, hanya menatap lelaki itu dengan pandangan yang seolah ingin mengatakan.“Lihatlah, meski di sini, saya tetap tidak aman.”

“Dokter sudah memeriksanya, Tuan,” bisik Li Wei yang berdiri di ambang pintu. “Syukurlah, kandungannya tidak terganggu. Tidak ada pendarahan, dan detak jantung janin masih teratur. Hanya luka memar dan lecet ringan pada tubuhnya, tapi dia sangat terkejut dan lelah sekali.”

Mendengar kabar itu, Chensi menghela napas panjang, namun rasa leganya hanya sebentar. Segera digantikan oleh amarah yang semakin membara. Ia menoleh ke arah Li Wei, matanya menyala penuh kemarahan yang jarang terlihat.

“Di mana dia sekarang? Di mana Nyonya Lin?” tanyanya dengan nada rendah namun sangat menakutkan.

“Dia sudah pergi, Tuan. Dia mengancam akan kembali lagi jika Nyonya Annisa tidak segera pergi,” jawab Li Wei dengan hati-hati.

Chensi mengangguk perlahan, lalu kembali menatap Annisa. Ia menggenggam tangan gadis itu dengan lembut namun erat, berusaha menyalurkan ketenangan.

“Maafkan aku… maafkan aku karena meninggalkanmu sendirian dan membiarkan hal ini terjadi,” ucapnya lirih, suara nya terasa berat. “Aku berjanji, ini adalah kali terakhir. Tidak ada seorang pun—baik ibu tiriku, ayahku, atau siapa pun—yang akan menyentuhmu atau membuatmu merasa takut lagi. Aku akan memastikan itu.”

Annisa hanya membalas genggamannya dengan tangan yang masih gemetar. “Tuan… saya tidak ingin menjadi sumber pertengkaran keluarga Tuan. Jika kehadiran saya hanya membawa masalah dan bahaya, lebih baik saya pergi saja. Saya tidak sanggup melihat anak saya terancam sebelum ia lahir…”

“Tidak boleh,” potong Chensi segera, tegas namun lembut. “Jangan pernah berpikir begitu lagi. Kamu dan anak ini adalah tanggung jawabku. Jika keluargaku tidak bisa menerima kenyataan ini, maka mereka yang harus menjauh, bukan kamu. Aku akan mengurus semuanya sekarang.”

Setelah memastikan Annisa merasa sedikit lebih tenang dan meminum obat penenang yang diberikan dokter, Chensi berdiri dan melangkah keluar kamar. Wajahnya kini kembali dingin, namun di baliknya tersimpan keputusan yang sudah bulat. Ia akan menghadapi keluarganya sekali lagi, dan kali ini batasnya sudah jelas—mereka harus menghormati pilihannya, atau ia akan memutuskan hubungan secara tegas.

1
Kasih Bonda
next Thor semangat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Jalanilah hubungan kalian berdua seperti ini dulu, sambil terus berdoa suatu saat jika Tuhan sudah berkehendak kalian untuk bersatu selamanya.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Chensi saat ini mulai tertarik untuk mempelajarinya, siapa tahu suatu saat nanti atas ijin Yang Maha Kuasa Chensi tidak hanya mempelajari saja namun juga memperdalam ilmunya serta meyakini apa yang sudah ditegaskan di dalam setiap ayat-ayatnya.
Naufal Affiq
semoga chensi mendapat hidayah
Naufal Affiq
bagus chensi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
lanjut kak dewi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
seiring berjalannya waktu semoga hubungan kalian.bisa menemukan jalan yang baik
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
asingkan aliin keluar pulau terpencil biar tidak bisa balik lagi 🙄
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
chensi mana mau dengar wong calon cucu sendiri mau di lenyapkan
Naufal Affiq
bagus chensi,buat mereka jera seumur hidup
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Rukun-rukun ya kalian berdua 🥰👍
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
hukuman yg pantas buat kalian bertiga mk nya mikir sebelum bertindak
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
memang pengawal bodo hrsnya konfirmasi dl sm tuanmu , trima sj hukumnya nya skrg
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Akhirnya Aulin menerima hukuman dari Chensi, semoga saja dia benar-benar tak akan mengganggu kehidupan Annisa di kemudian hari 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
kasiann Annisa semoga dia tidak apa apa dan Chensi cepat datang menolong 😟😟
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
bego banget penjaganya mudah percaya ditambah iming iming uang lagi harusnya konfirmasi sendiri sama Chensi mengenai kedatangan Ailin🤧😤
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
huaa senangnya mendengar pengakuan kalian sekarang jangan galau lagi Annisa nanti Chansi pasti pulang
Naufal Affiq
chensi cepat pulang,annisa di bawa ailin pergi dari rumah mu,alasan kau yang menyuruhnya.tolong annisa vhensi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!