"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 017: Skalpel Melawan Pisau Daging
Tetes darah itu kecil.
Di atas tanah gang, warnanya lebih gelap daripada lumpur.
Arka berjongkok satu detik.
Bentuknya memanjang ke barat.
Tidak jatuh tegak lurus. Ada tarikan gerak.
Joko berlari sambil menahan luka.
"Dok!" suara Dimas terdengar dari kanan. "Bu Adira bilang jangan maju!"
Dari ujung gang lain, Bambang berteriak lagi.
"Berhenti! Polisi!"
Lalu suara benturan.
Satu orang mengaduh.
Arka berdiri.
Ia tidak mengejar sebagai polisi.
Ia mengikuti jejak darah sebagai dokter yang tahu luka bisa berubah menjadi peta.
"Saya tidak masuk garis depan," katanya pada Dimas. "Saya tunjuk arah. Kamu tutup kanan."
Dimas menatap darah di tanah, lalu wajahnya berubah.
"Sial. Oke. Tapi jangan nekat."
Mereka bergerak.
Gang Sawo bercabang terlalu banyak. Dinding seng, jemuran rendah, pot tanaman, motor parkir sembarang. Setiap tikungan bisa menjadi jalan keluar atau tempat pisau menunggu.
Arka mengikuti tetes merah.
Satu di dekat kaki kursi plastik.
Dua di tepi selokan.
Satu lagi menempel pada daun pisang yang tersenggol.
Dari depan, terdengar suara Bambang.
"Jatuhkan pisaunya!"
Pisau.
Arka mempercepat langkah.
Dimas mengikutinya sambil mengangkat HT. "Bu, arah barat. Ada kontak. Pak Bambang ketemu target."
"Posisi?" suara Adira pecah dari HT.
"Gang sempit, dekat warung tutup. Kami masuk."
"Jaga jarak!"
Arka mencapai tikungan terakhir.
Ia berhenti sebelum keluar.
Di depan sana, gang berakhir pada tembok tinggi. Jalan buntu.
Bambang berdiri sekitar enam meter dari Joko Prabowo.
Joko mengenakan jaket hitam. Napasnya kasar. Tangan kirinya menekan lengan kanan yang berdarah. Di tangan kanannya, ia menggenggam pisau daging besar.
Ukurannya lebih besar dari pisau dapur kecil.
Bilahnya lebar, berat, dan cukup untuk mematahkan tulang ayam dengan satu ayunan.
Seorang anggota muda jatuh di samping gerobak, memegangi bahu. Tidak parah, tetapi cukup membuatnya tidak bisa bangun cepat.
Bambang mengangkat pistol, tetapi gang terlalu sempit. Di belakang Joko ada pintu rumah warga yang setengah terbuka. Seorang anak menangis dari dalam.
"Joko Prabowo!" suara Bambang keras. "Letakkan pisau! Kamu sudah terkepung!"
Joko tertawa patah.
"Terkepung? Kalian kira saya takut?"
Matanya merah.
Wajahnya bukan wajah orang tenang.
Label kuning muncul sebentar di pandangan Arka.
[Adrenalin tinggi]
[Agitasi ekstrem]
[Luka superfisial lengan kanan]
Joko tidak pincang.
Tangan kanannya masih bisa mengayun.
Berbahaya.
Dimas mengangkat pistol dari sisi kanan, tetapi ia belum punya sudut bersih.
"Masuk rumah! Tutup pintu!" teriak Adira dari belakang, baru tiba di mulut gang.
Warga panik menutup pintu.
Joko melirik suara itu.
Satu detik.
Cukup untuk Bambang maju setengah langkah.
Joko langsung mengayun pisau ke arah anggota muda yang masih di bawah.
Bambang tidak bisa menembak.
Terlalu dekat dengan anggota sendiri.
"Awas!"
Arka bergerak sebelum otaknya sempat menyusun kalimat.
Ia bukan polisi.
Tapi ia dokter.
Dan di depan matanya, satu pisau sedang turun ke tubuh orang hidup.
Tangannya masuk ke tas forensik.
Pinset tidak cukup.
Senter juga tidak membantu.
Skalpel nomor 23.
Bilah kecil itu terasa dingin di antara jarinya.
Sistem menyala.
[Mode pemindaian diaktifkan.]
[Pemindai Cedera: target hidup]
Garis kuning muncul di lengan Joko.
Tampilannya tetap berupa petunjuk kasar.
Lebih seperti catatan anatomi yang tiba-tiba diletakkan di atas kulit.
[Tendon ekstensor radial pergelangan]
[Arteri radialis: hindari]
[Saraf superfisial: hindari cedera dalam]
Waktu terasa menyempit.
Waktu terasa menajam.
Hanya semua hal yang tidak penting menghilang.
Bau selokan hilang.
Teriakan hilang.
Yang tersisa hanya pergelangan Joko, arah ayunan, jarak bilah besar, dan ruang sempit antara tendon dan arteri.
Arka masuk dari samping.
Tujuannya membuat genggaman gagal.
Menahan pisau dengan tangan kosong adalah cara bodoh untuk mati cepat.
Ia menendang lutut Joko dari arah luar, tidak keras, cukup membuat poros tubuhnya miring.
Pisau daging turun meleset satu jengkal dari anggota muda.
Joko berbalik dengan geraman.
Bilah besar menyapu ke arah Arka.
Arka mundur setengah langkah.
Ujung pisau lewat di depan dadanya.
Jaketnya tersayat tipis.
Dimas berteriak, "Dok!"
Arka tidak melihat Dimas.
Ia melihat pergelangan kanan Joko terbuka.
Satu kesempatan.
Skalpel nomor 23 bergerak pendek.
Tidak panjang.
Tidak liar.
Satu garis cepat di sisi punggung pergelangan.
Joko menjerit.
Pisau daging jatuh dari tangannya, menghantam lantai gang dengan suara keras.
Klang.
Bambang menerjang.
Arka menendang belakang lutut Joko.
Tubuh besar itu jatuh ke depan.
Bambang menindih bahunya, memutar lengan kiri, lalu memasang borgol.
"Joko Prabowo, kamu ditangkap! Jangan bergerak!"
Joko mengumpat, menggeliat, tetapi tangan kanannya tidak bisa menggenggam lagi.
Dimas menendang pisau daging menjauh dan langsung mengamankannya dengan sapu tangan barang bukti sementara.
Adira sampai di samping Arka.
Matanya turun ke jaket Arka yang robek.
"Kamu terluka?"
"Tidak. Kain saja."
"Saya bilang tetap di belakang."
"Dia mau membacok anggota yang jatuh."
Adira menahan napas keras.
Ia melihat anggota muda yang sedang dibantu berdiri, lalu melihat Joko yang sudah diborgol.
Kemarahan di wajahnya tidak hilang.
Tetapi arahnya berubah.
"Panggil ambulans. Dokumentasikan pisau. Dokumentasikan luka tersangka dan luka anggota. Semua pakai berita acara."
"Siap, Bu!"
Bambang masih menekan Joko. Ia menatap tangan kanan Joko, lalu menatap Arka.
"Dok. Apa yang kamu potong?"
"Tendon ekstensor pergelangan. Dangkal. Bukan arteri."
"Dia tidak bisa pegang pisau."
"Itu tujuannya."
Bambang diam dua detik.
Lalu ia berkata pelan, "Saya catat dalam kepala. Jangan pernah bikin Dokter Muda marah saat dia bawa skalpel."
"Saya lebih suka tidak perlu memakainya di luar ruang autopsi."
"Saya juga lebih suka tidak hampir dibacok di gang. Tapi malam ini kita semua dapat pengalaman baru."
Dimas mendekat, wajahnya pucat. "Mas Arka, tadi itu... Anda yakin tidak kena?"
"Yakin."
"Jaketnya bolong."
"Jaket lebih murah dari arteri."
Dimas membuka mulut, lalu menutup lagi.
"Saya tidak tahu harus kagum atau takut."
"Pilih fokus kerja."
"Siap."
Joko masih mengerang di tanah.
"Tangan saya! Tangan saya!"
Arka berjongkok di dekatnya, tetapi tidak terlalu dekat.
"Kalau kamu diam, tanganmu bisa ditangani. Kalau kamu bergerak, lukanya makin buruk."
Joko menatapnya dengan mata penuh benci.
Label merah tipis muncul di sekitar kepala Joko.
Labelnya menunjuk hal lain.
Labelnya berada di luar cedera biasa.
Sistem seperti menimbang sesuatu yang lebih gelap.
[Jumlah korban: 1 orang terkonfirmasi]
[Indikasi: 2 orang atau lebih]
[Status: perlu verifikasi bukti biologis]
Darah Arka terasa dingin.
Satu korban sudah cukup membuat empat belas kantong hitam memenuhi IKF.
Dua atau lebih berarti cold storage itu pernah dipakai sebelumnya.
Joko melihat perubahan kecil di wajah Arka dan tersenyum miring meski kesakitan.
"Kamu dokter, ya?" desisnya. "Dokter kok ikut polisi."
Arka menatapnya.
"Karena orang yang kamu potong tidak bisa bicara sendiri."
Senyum Joko hilang.
Adira mendengar kalimat itu.
Ia tidak menyela.
Ambulans datang sepuluh menit kemudian.
Dokter jaga darurat memeriksa tangan Joko di bawah lampu portabel. Ia mengerutkan kening, lalu menatap Arka.
"Siapa yang membuat sayatan ini?"
Adira menjawab lebih dulu. "Dalam kondisi pembelaan darurat. Tersangka menyerang petugas dengan pisau daging."
Dokter itu mengangguk, tetapi masih menatap luka. "Saya bukan menilai hukumnya, Bu. Saya menilai sayatannya. Ini... rapi sekali. Arteri radialis aman. Kedalaman cukup untuk melemahkan genggaman, tapi tidak menghancurkan jaringan. Selisih sedikit saja bisa jadi perdarahan besar."
Bambang menunjuk Arka dengan dagu. "Pelakunya dokter muda kami."
Dokter darurat menoleh.
"Dokter muda?"
Arka melepas sarung tangan yang terkena noda. "Saya hanya menghindari cedera fatal."
Dokter itu tertawa tidak percaya. "Dengan skalpel di gang gelap?"
Dimas menjawab, "Itu sebabnya kami juga masih memproses, Dok."
Adira mengambil pisau daging yang sudah diamankan dalam kantong bukti sementara. Bilahnya lebar, ada bekas goresan lama, dan noda baru di dekat pegangan.
"Ini senjata penyerangan. Foto, label, kirim lab."
"Siap."
Joko dibawa ke ambulans dengan tangan dibalut sementara, kaki diborgol, dan dua anggota mengawalnya.
Sebelum pintu ambulans ditutup, ia menatap Arka lagi.
Kali ini tidak ada tawa.
Hanya kebencian yang dicampur takut.
Panel sistem masih menggantung di depan mata Arka.
[Indikasi: 2 orang atau lebih]
Adira berdiri di sampingnya. "Dok."
"Ya, Bu."
"Kamu melihat sesuatu lagi?"
Pertanyaan itu pelan.
Tidak seperti perintah.
Lebih seperti orang yang sudah belajar membaca jeda di wajahnya.
Arka menatap ambulans.
Ia tidak bisa berkata soal panel.
Tetapi ia bisa berkata soal bukti.
"Cold storage itu terlalu bersih untuk satu kejadian. Saluran pembuangan, kontainer, dan alatnya harus dicek ulang. Jangan puas dengan satu korban."
Adira tidak bertanya kenapa.
Ia hanya mengangguk.
"Saya paham."
Bambang mendekat sambil memutar bahu. "Bu, tersangka hidup, petugas hidup, warga aman. Untuk gang sesempit ini, hasilnya sudah bagus."
Adira menatap jaket Arka yang robek.
"Hampir tidak bagus."
"Hampir," kata Arka. "Tapi belum."
Adira menghela napas. "Setelah ini kamu ikut ke Mako. Buat keterangan. Dan jaket itu jangan dibuang. Itu barang bukti juga."
Anggota muda yang hampir terkena pisau duduk di kursi plastik warga. Namanya Rizal. Bahunya lecet panjang, darahnya tidak banyak, tetapi wajahnya masih pucat.
Arka mendekat setelah mendapat anggukan Adira.
"Boleh saya lihat?"
Rizal mengangguk cepat. "Siap, Dok."
Arka membuka kain penekan sementara. Luka itu dangkal. Bukan sayatan dalam. Lebih banyak gesekan bilah dan benturan saat jatuh.
Panel kuning muncul singkat.
[Luka superfisial bahu kiri]
[Perdarahan ringan]
[Tidak ada tanda cedera arteri]
Arka menekan kasa bersih. "Kamu beruntung. Bersihkan, tutup, nanti tetap periksa ke IGD. Jangan sok kuat."
Rizal menatap pisau daging yang sudah masuk kantong bukti.
"Kalau Dokter tidak masuk tadi..."
"Kalau kamu lain kali jatuh, kaki dulu yang ditarik. Jangan bahu dibiarkan dekat pelaku."
Rizal berkedip.
Bambang tertawa pendek. "Baru hampir mati sudah dapat kuliah forensik. Selamat, Zal."
Ketegangan di gang turun sedikit.
Adira memanfaatkan detik itu untuk menata ulang lapangan. "Ambil keterangan warga yang melihat. Cari rekaman CCTV rumah. Foto posisi pisau sebelum dipindahkan sudah ada?"
"Ada, Bu," jawab Dimas.
"Bagus. Semua jelas: tersangka menyerang petugas, Dok Arka melakukan tindakan untuk menghentikan ancaman langsung. Jangan ada versi liar keluar duluan."
Arka melihat sobekan di dadanya.
Skalpel nomor 23 sudah kembali di kotak bukti sementara, dicatat sebagai alat yang digunakan dalam pembelaan darurat.
Pisau daging Joko masuk kantong lain.
Dua bilah.
Satu dibuat untuk membelah.
Satu dibuat untuk membuka kebenaran.
Malam itu, di gang sempit belakang kawasan industri, semua orang melihat bedanya.