NovelToon NovelToon
Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Menikahi tentara / Antagonis Jahat
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2

Aku Ikut, Sampai Kapan Pun

Perut Laras berbunyi sebelum keberaniannya sempat surut.

Ia menekan bibir, antara malu dan ingin tertawa. Pemilik tubuh ini tidak makan sejak kemarin. Setelah mengamuk, mengancam cerai, dan menolak semua bujukan keluarga, ia memilih mengunci diri di kamar.

Tidak heran tubuhnya lemas.

Laras membasuh wajah, mengganti gaun tidurnya dengan blus longgar, lalu membuka pintu. Arya berdiri di ujung lorong dekat tangga, sudah mengenakan jam tangan dan sepatu. Seolah sedang memeriksa kardus di lantai, padahal matanya langsung jatuh pada langkah Laras.

Ia menunggunya.

Arya tidak menawarkan tangan. Namun saat Laras mencapai anak tangga pertama, lelaki itu berjalan setengah langkah lebih rendah dan menyesuaikan kecepatannya.

Rumah itu tampak berbeda di bawah cahaya pagi. Dua lukisan sudah diturunkan. Bingkai foto keluarga bersandar pada dinding, dibungkus lembaran busa. Beberapa kardus diberi tulisan pakaian, dokumen, dan perlengkapan dapur. Bekas persegi yang lebih terang tertinggal di dinding, membuat kemewahan rumah itu terasa seperti sesuatu yang sedang dikupas lapis demi lapis.

Di ruang makan yang menyatu dengan ruang keluarga, tiga orang telah duduk mengelilingi meja.

Guntur berada di kursi kepala meja. Punggungnya tetap tegak, tetapi seragam yang biasa ia kenakan telah diganti kemeja polos. Sebuah map berkop instansi terbuka di hadapannya. Rukmini berdiri di dekat panci bubur, sedangkan Sekar menyilangkan tangan dengan mata sembap.

Begitu Laras muncul, sendok di tangan Rukmini berhenti bergerak.

Sekar mendengus. “Akhirnya turun juga. Kukira Mbak Laras masih mau mogok makan.”

“Sekar,” tegur Rukmini.

“Aku cuma bilang yang sebenarnya, Mama.”

Arya menarik kursi untuk Laras. Gerakannya singkat, hampir kasar, seolah ia tidak ingin siapa pun menganggapnya sedang bersikap lembut.

Laras duduk tanpa mengomentari itu.

Rukmini menuangkan bubur hangat ke mangkuk, menambahkan suwiran ayam dan sedikit daun bawang, lalu meletakkannya di depan Laras. Matanya sempat turun ke perut sang menantu sebelum buru-buru berpaling.

“Makan dulu,” katanya. “Perut kosong tidak baik untuk bayinya.”

Jari Laras merapat pada sendok. Dalam ingatan tubuh ini, perempuan yang sama menangis semalam sambil memohon agar cucunya dipertahankan. Namun pagi ini ia tetap memasak untuk menantu yang sudah menepis tangannya.

“Terima kasih, Ibu.”

Rukmini terdiam.

Sekar yang hendak mengambil gelas ikut berhenti. Guntur mengangkat wajah dari dokumen. Bahkan Arya menoleh.

Dua kata sederhana itu rupanya sudah lama tidak keluar dari mulut Larasati.

“Tidak perlu berterima kasih,” jawab Rukmini pelan. “Makanlah sebelum dingin.”

Laras baru menyuap dua sendok ketika Sekar meletakkan gelasnya sedikit terlalu keras.

“Mbak Laras sedang merencanakan apa?”

“Sekar.” Kali ini suara Guntur yang turun, berat dan tegas.

“Papa juga tahu dia berubah terlalu cepat.” Mata Sekar memerah, tetapi dagunya tetap terangkat. “Semalam dia bilang anak itu cuma beban. Sekarang tiba-tiba memanggil Mama dengan baik. Jangan pura-pura baik hanya karena masih ada sesuatu yang ingin Mbak ambil dari rumah ini.”

Rukmini menarik napas. “Cukup.”

Laras meletakkan sendok.

Ia tidak marah. Jika dirinya berada di posisi Sekar, ia mungkin akan mengatakan hal yang lebih buruk. Gadis itu bukan sedang membenci tanpa alasan. Ia sedang menjaga keluarganya dari orang yang sudah pernah menipu kepercayaan mereka.

“Sekar benar untuk curiga,” kata Laras.

Ucapan itu justru membuat Sekar kehilangan jawaban.

Rukmini berjalan ke lemari kecil di sudut ruangan. Ia mengambil kantong beludru dan sebuah amplop tebal, lalu mendorong keduanya ke depan Laras.

“Ini yang semalam tercecer. Ada sedikit uang tunai dan beberapa perhiasan yang belum masuk daftar apa pun.” Jemarinya gemetar di tepi meja. “Simpanlah untuk pemeriksaan kandungan dan persalinan. Apa pun yang terjadi pada kami, bayi itu tidak boleh kekurangan.”

Sekar langsung berdiri. “Mama!”

“Duduk.” Guntur hanya mengucapkan satu kata.

Sekar menggigit bibir, lalu duduk kembali dengan marah.

Laras menatap kantong beludru tersebut. Di cerita lama, benda seperti inilah yang diambil Larasati sebelum meninggalkan keluarga Reksonegoro. Tidak heran Sekar mengira semua perubahan sikapnya hanyalah cara untuk mendapatkan harta terakhir.

Ia mendorong amplop dan kantong itu kembali ke sisi Rukmini.

“Ibu yang pegang.”

“Tapi kebutuhanmu...”

“Kita akan membutuhkannya bersama.”

Kata kita membuat meja kembali sunyi.

Guntur menutup map di hadapannya. “Arya bilang kamu membatalkan permintaan cerai dan tidak akan mengakhiri kehamilan.”

“Benar, Bapak.”

“Apa kamu memahami keadaan keluarga ini?”

Laras menahan napas sebelum menjawab. “Sebagian.”

Guntur menatapnya tanpa berkedip.

Arya yang menjelaskan. “Pemberitahuan awal menyebut Bapak akan dinonaktifkan selama pemeriksaan internal. Keputusan resminya belum turun. Tim inspektorat akan mencocokkan dokumen dan aset yang berkaitan dengan jabatan. Belum ada putusan pembekuan, tapi pengacara meminta kita menyiapkan kemungkinan terburuk.”

“Termasuk meninggalkan rumah ini,” tambah Guntur.

Rukmini menunduk. Sekar memalingkan muka ke jendela.

Di luar pagar, sebuah mobil melambat. Seseorang di kursi penumpang mengangkat ponsel ke arah rumah sebelum kendaraan itu bergerak lagi. Kabar jatuhnya keluarga Reksonegoro rupanya sudah menjadi tontonan.

“Kami belum tahu berapa lama pemeriksaan berlangsung,” lanjut Guntur. “Kami juga tidak akan menahanmu dengan alasan anak. Kalau kamu ingin tinggal bersama keluargamu sendiri selama keadaan belum jelas, kami akan mengaturnya dengan baik.”

Laras tahu itu bukan pengusiran. Lelaki yang semalam dihina menantunya masih berusaha memberi jalan keluar dengan terhormat.

Ia menggeleng.

“Saya tidak akan pulang ke keluarga Wijaya.”

“Lalu kamu mau tinggal di mana?” tanya Sekar tajam.

Laras memandang mereka satu per satu. Wajah Guntur tetap tenang, tetapi garis lelah di sekitar matanya tampak jelas. Rukmini mencengkeram ujung kerudung. Sekar memasang duri di seluruh tubuhnya. Arya berdiri di samping meja, diam dan penuh curiga.

Mereka tidak tahu dua tahun lagi nama Guntur akan dibersihkan.

Mereka tidak tahu semua orang yang kini memotret rumah dari balik kaca mobil akan berlomba mengaku sebagai kawan lama.

Hanya Laras yang tahu.

“Ke mana keluarga ini pergi, aku ikut,” katanya.

Rukmini mengangkat kepala cepat.

Sekar tertawa pendek tanpa rasa lucu. “Mbak Laras bahkan tidak tahu kita akan pergi ke mana.”

“Memang belum.” Laras menjaga suaranya tetap tenang. “Tapi pemeriksaan bukan putusan bersalah. Bapak belum terbukti melakukan apa pun. Aku tidak akan meninggalkan keluarga hanya karena orang di luar sudah lebih dulu menjatuhkan vonis.”

Sorot mata Guntur berubah tipis.

“Kamu sangat yakin saya tidak bersalah,” ujarnya.

Jantung Laras berdetak lebih cepat.

Ia tahu bukan hanya Guntur tidak bersalah. Ia tahu siapa yang menanam bukti palsu, siapa yang kelak goyah dalam pemeriksaan, dan dokumen mana yang akhirnya membalik seluruh perkara. Namun nama Bramasta tidak boleh keluar sekarang. Tanpa bukti, pengetahuan itu justru akan membuat semua orang bertanya dari mana ia mendapatkannya.

“Saya yakin orang yang belum dibuktikan bersalah tidak pantas ditinggalkan,” jawabnya hati-hati.

Guntur tidak membantah. Ia hanya menatap Laras beberapa detik lebih lama, seolah menyimpan jawaban itu untuk diperiksa kembali nanti.

Rukmini menyeka sudut matanya. “Kalau kamu benar-benar ikut, hidupnya mungkin akan sangat sulit.”

“Aku bisa belajar.”

“Semalam saja kamu bilang tidak sanggup kehilangan mobil,” sela Sekar.

“Kalau begitu, mulai hari ini aku belajar berjalan kaki.”

Sekar membuka mulut, tetapi tak menemukan bantahan. Ia membuang muka sambil meraih teko air.

Laras kembali menyentuh sendoknya. “Boleh aku menghabiskan buburnya sekarang? Bayinya lapar.”

Rukmini langsung menarik piring lauk lebih dekat. “Makan. Tambah lagi kalau kurang.”

Gerakannya terlalu cepat. Sekar melirik ibunya, menuangkan air ke gelas kosong, lalu tanpa berkata apa pun menggesernya ke arah Laras.

Hanya sejengkal.

Namun Laras menerimanya tanpa senyum kemenangan. “Terima kasih.”

Setelah sarapan, Arya menahannya di lorong sebelum ia kembali ke kamar. Keluarga lain masih di ruang makan. Suara Rukmini meminta Sekar membungkus dokumen terdengar samar dari belakang.

“Apa yang sebenarnya kamu inginkan?” tanya Arya.

“Aku sudah menjawabnya.”

“Tidak ada orang yang berubah sebanyak ini dalam satu malam.”

Laras menatap wajahnya. “Kalau semuanya runtuh, kamu mau aku pergi ke mana, Arya?”

“Aku bisa mengantarmu kembali ke rumah Wijaya. Atau mencarikan tempat yang aman sampai anak itu lahir.”

“Lalu kamu?”

Arya diam.

“Kamu menyuruhku mempertahankan anak kita, tapi menghadapi semuanya sendirian?” Laras menggeleng. “Tidak. Ke mana pun keluargamu pergi, aku ikut. Bukan hanya sampai anak ini lahir.”

Rahang Arya menegang.

Ia masih tidak percaya. Laras dapat melihatnya dengan jelas.

Namun di balik kecurigaan itu, ada satu pertanyaan yang tak berhasil disembunyikan lelaki tersebut.

Bagaimana jika kali ini Laras benar-benar bersungguh-sungguh?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!