NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Menantu Keluarga Miskin

Transmigrasi Menjadi Menantu Keluarga Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Romansa Fantasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: BabyKucing

Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.

Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.

Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3 Rahasia si Burung Pipit

Lian Yue masih berdiri di halaman belakang rumah keluarga Han. Tatapan matanya terpaku pada seekor burung pipit yang baru saja terbang terbirit-birit hingga menghilang di balik rimbunnya pepohonan.

Angin sore berembus pelan, menggoyangkan dedaunan yang mulai menguning. Halaman kecil itu kembali sunyi, seolah tidak pernah terjadi sesuatu.

Namun jantung Lian Yue masih berdegup lebih cepat dari biasanya.

"...Jadi aku benar-benar tidak salah dengar." Ia mengangkat tangan, memijat pelipisnya perlahan.

Selama bertahun-tahun hidup di dunia yang dipenuhi wabah dan kematian, ia pernah mengalami banyak hal aneh. Orang-orang kehilangan akal karena kelaparan, halusinasi akibat racun, bahkan demam tinggi yang membuat seseorang berbicara sendiri selama berhari-hari.

Karena itu, reaksi pertamanya bukanlah percaya. Ia justru mengira dirinya sedang berhalusinasi.

Namun kini... Burung itu telah berbicara dua kali. Dan kedua kalinya, ia masih bisa memahami setiap kata.

Lian Yue menarik napas panjang. "Kalau begitu...aku harus memastikannya sekali lagi."

Tatapannya perlahan beralih ke kandang ayam yang berada tidak jauh dari sumur tua. Dua ekor ayam kurus sedang sibuk mematuk tanah.

Seekor ayam betina sesekali mengibaskan sayapnya, sementara ayam jantan berjalan mondar-mandir dengan dada membusung, seolah dirinya adalah penguasa halaman kecil itu.

Lian Yue mengambil sepotong ranting kering. Kemudian melemparkannya perlahan ke dekat kandang.

Tok.

Kedua ayam itu langsung menoleh bersamaan. ["Hm?"]

["Ada apa?"] Ayam betina memiringkan kepalanya. ["Makanan?"]

Ayam jantan mendekat beberapa langkah.

["Bukan. Cuma kayu."]

[Manusia memang suka melakukan hal yang tidak penting."]

Mata Lian Yue membelalak. Ia benar-benar bisa mendengar mereka, bukan sekadar suara kokok. Melainkan... percakapan.

Dengan rasa penasaran, ia melangkah mendekati kandang. Melihat itu, ayam betina buru-buru mundur.

[Dia datang."]

Ayam jantan ikut mundur. ["Apa kita akan dimasak?"]

["Aku belum bertelur hari ini."] Seru si ayam betina dengan panik.

["Kalau begitu cepat bertelur."] Timpal si ayam jantan.

["Mana bisa dipaksa!"]

Lian Yue spontan menutup mulutnya, sudut bibirnya bergetar menahan tawa. Selama hidupnya, ia tidak pernah membayangkan bahwa percakapan dua ekor ayam bisa terdengar sebodoh ini.

"Aku tidak akan menyembelih kalian." Kalimat itu meluncur tanpa ia sadari.

Suasana mendadak hening. Kedua ayam itu mematung. Empat mata kecil mereka membelalak hampir bersamaan.

["...Eh?"]

["Dia...menjawab?"] Ayam jantan menatap ayam betina dan ayam betina menatap balik.

Lalu keduanya menoleh ke arah Lian Yue lagi. Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Tiba-tiba...

["Lariii!"]

Ayam jantan mengepakkan sayapnya sekuat tenaga. ["Ada manusia yang bisa mendengar kita!"]

Ayam betina ikut berlari berputar-putar di dalam kandang. ["Cepat sembunyi!"]

["Ini pasti manusia siluman!"]

Lian Yue akhirnya tidak sanggup lagi menahan tawanya. Tawa kecil yang sudah bertahun-tahun tidak pernah keluar dari bibirnya.

Di dunia asalnya dulu, ia bahkan lupa bagaimana rasanya tertawa.

Setelah cukup lama, ia mengusap sudut matanya yang sedikit basah. "Tenang. Aku tidak akan memberitahu siapa pun."

Tentu saja kedua ayam itu sudah lebih dulu bersembunyi di sudut kandang. Mereka sama sekali tidak percaya.

Lian Yue hanya menggeleng pelan. "Sepertinya...lebih baik aku berpura-pura tidak bisa mendengar mereka."

Kalau sampai orang lain melihatnya berbicara dengan ayam, bukan tidak mungkin ia akan dianggap kerasukan. Saat itulah suara langkah kaki terdengar dari depan rumah.

"Lian Yue."

Suara Han Zheng memanggil dengan tenang. "Ayah menyuruh kita makan."

Lian Yue segera menenangkan ekspresinya. "Aku datang."

Begitu memasuki rumah, aroma bubur jagung langsung memenuhi hidungnya. Di atas meja kayu tua telah tersaji makan malam.

Semangkuk bubur jagung yang cukup encer, sepiring kecil sayur liar rebus, sedikit acar lobak. Dan semangkuk air hangat.

Tidak ada lauk. Tidak ada minyak, apalagi daging.

Nyonya Han tersenyum canggung. "Maaf... panen tahun ini buruk. Kami hanya bisa menyiapkan makanan seperti ini."

Lian Yue menggeleng pelan. "Ini sudah lebih dari cukup." Ia mengucapkannya dengan tulus.

Di dunia asalnya, orang-orang bahkan rela saling membunuh hanya demi sepotong roti yang telah berjamur.

Sedangkan di sini... Mereka masih bisa duduk bersama. Makan dalam keadaan hangat. Tanpa rasa takut akan suara ledakan atau serangan monster. Baginya, itu adalah kemewahan.

Han Zheng diam-diam memperhatikan ekspresi istrinya.

Ia sempat khawatir. Gadis yang dibeli keluarganya sebagai menantu itu pasti akan kecewa.

Namun sejak datang, Lian Yue tidak pernah sekalipun mengeluh. Tidak mengernyit melihat rumah reyot. Tidak mencibir makanan sederhana. Bahkan wajahnya terlihat... lega.

Han Zheng tidak mengerti. Bagaimana mungkin seseorang merasa lega hidup di keluarga semiskin mereka?

Usai makan, Tuan Han menghela napas panjang. "Persediaan gandum tinggal cukup untuk beberapa hari. Kalau hujan tidak segera turun...musim ini akan sulit."

Suasana kembali sunyi. Han Zheng berdiri mengambil keranjang bambunya. "Besok pagi aku akan naik gunung. Selain mencari kayu, aku akan memasang beberapa jebakan. Semoga ada kelinci yang lewat."

Lian Yue memperhatikan tangan pria itu. Penuh kapalan. Beberapa luka lama bahkan belum benar-benar sembuh.

Ia tahu tangan seperti itu. Tangan seseorang yang bekerja tanpa mengenal lelah.

Malam semakin larut. Setelah semua orang tertidur, Lian Yue keluar dari rumah.

Udara malam terasa sejuk, langit dipenuhi bintang. Ia mendongak menatap langit cukup lama.

Di dunia asal, langit selalu tertutup asap dan debu. Bahkan cahaya bulan pun hampir tak pernah terlihat. Namun di sini... Bintang-bintang memenuhi langit seperti lautan cahaya.

"Aku hampir lupa...langit ternyata seindah ini."

"Cuit." Suara kecil terdengar dari atas pohon.

Lian Yue menoleh. Burung pipit yang ditemuinya sore tadi kembali datang. Kali ini, burung kecil itu tidak tampak ketakutan.

Ia melompat ke dahan yang lebih rendah sambil memiringkan kepalanya. ["Jadi benar...Kau bisa mendengar bahasa kami."]

Lian Yue mengangguk pelan. "Aku juga baru mengetahuinya hari ini."

Burung itu mengepakkan sayapnya.["Kalau begitu aku akan memberitahumu sesuatu."]

["Di bukit sebelah timur ada mata air. Airnya tidak pernah kering."»

Lian Yue langsung teringat perkataan burung itu sebelumnya. "Tapi tidak ada seorang pun yang menemukannya?"

["Ada."]

["Dulu pernah."]

["Tapi jalan menuju sana tertutup longsor."] Burung itu melanjutkan. ["Yang lebih penting...Di sekitar mata air itu tumbuh rerumputan yang sangat disukai kelinci gunung."]

["Setiap pagi sebelum matahari tinggi, mereka datang mencari makan."]

Lian Yue terdiam. Jika benar... Maka peluang Han Zheng mendapatkan buruan besok akan jauh lebih besar.

Burung pipit itu kembali mengepakkan sayap.

["Aku harus pergi."]

["Selamat malam, manusia aneh."]

Lian Yue terkekeh pelan. "Selamat malam."

Burung itu terbang menghilang di balik cahaya bulan. Lian Yue tetap berdiri di tempatnya, angin malam meniup lembut rambutnya. Sudut bibirnya perlahan terangkat.

Mungkin... Kehidupan keduanya benar-benar baru saja dimulai.

Dan besok pagi. Ia akan mencoba mengubah nasib keluarga Han, dimulai dari satu langkah kecil.

1
tinie
masih rumit dan terlalu rumit untk memahami
di otak saya🤣🤣
tinie
ya kamu harus tau masa lalumu apa hubungmu dgn mereka
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
tinie
tetep semangaat 💪💪💪
tinie
kenapa mengulangi faragraf yg sama
dgn diatas
tinie: ok
semangaaat thor
total 2 replies
tinie
ada dgn mereka
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah
Srie Ncii Herdiansyah
aku baru nemu cerita ini, padahal aku pecinta cerita Time travel kok gk muncul awal2 yah?? semoga rajin up thorr
tinie
makin penasaran🤔🤔
tinie
wah apakah itu batu apa

sehingga para burung dan binantang lainnya sangat ketakutan
tinie
ya kecambah pertumbuhanmu sedikit lamban namun pasti
semoga kau bisa menyelamatkan keluarga han
tinie
yang gak tumbuh
mungkin terlalu tua 💪💪
tinie
meskipun dekat dgn gunung ternyata
disaat kemarau juga sama ya kadang tak kunjung datang hujan
tinie
saking baiknya ya keluarga Han
sampai sampai mendoakan kejayaan untk mereka
tinie
apa kalian tidur dikamar sang sama
saling bertanya
deep talk gitu😁😁🤔
tinie
war biasa
bisa mendengar BHS binatang
tinie
h a d i r 💪 💪 💪
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
luar biasa
Fauziah Daud
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!