NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19: Keheningan Sebelum Badai

Setelah tiga hari menjadi pusat perhatian, Arya menemukan bahwa ketenaran lebih melelahkan daripada kasus penculikan.

Kasus penculikan punya peta, waktu, bukti, dan pelaku. Ketenaran punya siswa yang tiba-tiba ingin duduk dekat dengannya, guru yang memanggil namanya terlalu sopan, orang tua siswa yang mengirim hadiah buah lewat kantor sekolah, dan wartawan lokal yang tidak mengerti kata cukup. Bagi Arya, itu semua jauh lebih sulit diprediksi.

Di kelas, Bu Ratih tidak lagi menegurnya karena menatap jendela. Ia malah bertanya apakah penjelasan materi sudah cukup jelas. Pak Damar, yang dulu marah ketika rumusnya dikoreksi, kini menulis soal tambahan dan berkata, "Arya, kalau ada bagian yang kurang tepat, beri tahu setelah kelas."

Rizky menepuk meja. "Lihat, Put. Dunia sudah miring. Guru minta dikoreksi dengan sukarela."

Putri menutup buku. "Dunia tidak miring. Dunia baru sadar meja lamanya memang pendek sebelah."

Arya mengangkat mata. "Analogi itu terlalu panjang."

"Tapi benar," kata Putri.

"Sayangnya."

Mereka bertiga sudah menjadi sesuatu yang tidak pernah direncanakan sekolah: kelompok kecil yang semua orang amati. Rizky menjadi pintu humor, Putri menjadi pagar tajam, dan Arya menjadi pusat yang seolah tidak peduli tapi selalu tahu siapa yang mendekat. Setelah foto target ditemukan di rumah pompa, mereka tidak lagi pulang sendiri. Aturan itu awalnya dibuat Rizky sebagai lelucon, lalu berubah menjadi kebiasaan.

Hari itu, mereka duduk di bawah pohon beringin di belakang perpustakaan. Tempat itu cukup jauh dari koridor utama sehingga bisik-bisik siswa terdengar seperti dengung. Putri membawa dua buku arsip kota. Buku pelajaran ia tinggalkan. Sampulnya kusam, halamannya diberi tanda kecil.

"Ini tentang Bayangan?" tanya Arya.

Putri mengangguk. "Ayahku dulu bekerja sebagai konsultan arsip untuk pemerintah kota. Ibuku dosen sejarah sosial. Mereka pernah menemukan catatan tentang kelompok yang menyerang sekolah khusus tiga belas tahun lalu. Nama Bayangan tidak muncul, tapi pola bahasanya mirip. Mereka menyebut anak cerdas sebagai bibit bencana."

Rizky langsung berhenti mengunyah keripik. "Kenapa kalimat orang jahat selalu puitis? Kenapa tidak bilang saja mereka iri?"

"Karena kalau disebut iri, mereka terdengar kecil," jawab Arya. "Ideologi membuat rasa rendah diri terdengar seperti tugas suci."

Putri menatapnya. "Kamu bicara seolah sudah sering melihat itu."

Arya tidak menjawab langsung. Di dunia lamanya, orang cerdas tidak selalu dipuja. Kadang dipakai, kadang dikurung, kadang dipaksa memenangkan perang orang lain. Di dunia ini, kebodohan masif membuat kecerdasan tampak seperti mukjizat. Namun mukjizat selalu menarik orang yang ingin memilikinya dan orang yang ingin menghancurkannya.

"Aku hanya mengenali pola," katanya akhirnya.

Putri membuka halaman bertanda. Ada laporan kebakaran laboratorium sekolah, hilangnya dua siswa olimpiade, dan catatan samar tentang organisasi perlindungan anak berbakat yang bekerja tanpa publikasi. Nama organisasinya tidak tertulis lengkap. Hanya tiga huruf dalam catatan pinggir: UNG.

Arya menyentuh huruf itu. "Kamu tahu kepanjangannya?"

"Belum. Ayahku tidak mau menjelaskan. Setiap kali aku tanya, dia bilang beberapa pintu lebih aman kalau tetap tertutup."

"Itu kalimat orang dewasa yang tidak punya argumen bagus," kata Rizky.

"Atau punya pengalaman buruk," balas Putri.

Arya menutup buku. "Untuk sekarang, jangan gali sendiri. Kalau orang tua kamu memang pernah bersentuhan dengan kelompok ini, mencarinya sembarangan bisa membuat mereka ikut terlihat."

Putri tidak suka diperintah, tetapi kali ini ia tidak membantah. "Kamu sendiri akan berhenti mencari?"

"Tidak."

"Jadi aku harus berhenti karena kamu lebih pandai?"

"Tidak. Kamu harus berhenti mencari sendiri karena musuhnya mungkin lebih suka target yang punya hubungan keluarga. Saya akan mencari dengan cara yang membuat mereka melihat saya dulu."

Rizky mengangkat tangan. "Sebagai teman yang foto targetnya juga ada, aku keberatan dengan konsep menjadikan dirimu papan iklan bahaya."

Arya menatapnya. "Keberatan dicatat. Ditolak."

Rizky menghela napas. "Setidaknya administrasinya jelas."

Percakapan mereka terpotong oleh suara speaker sekolah. Semua siswa Kelas Inovasi diminta berkumpul di aula kecil setelah jam pelajaran. Pak Surya menunggu di sana dengan wajah yang terlalu rapi untuk kabar biasa. Di sampingnya ada tumpukan formulir, papan nama sekolah, dan selebaran lomba.

"Kalian semua tahu reputasi sekolah kita sedang berubah," kata Pak Surya. "Orang luar melihat kasus kemarin. Ada yang simpatik, ada yang mencurigai, ada yang menunggu kita jatuh. Kita tidak bisa mengendalikan semua itu. Tapi kita bisa menunjukkan kualitas akademik kita secara terbuka."

Ia mengangkat selebaran. "Bulan depan ada Kompetisi Pengetahuan Provinsi. SMA Garuda Cendekia mendapat undangan khusus. Kelas Inovasi akan menjadi tim utama."

Beberapa siswa langsung berbisik. Kompetisi itu disiarkan kanal pendidikan daerah dan ditonton sekolah-sekolah lain. Biasanya juaranya adalah SMA unggulan dari ibu kota provinsi. Garuda Cendekia jarang masuk tiga besar.

Pak Surya melihat Arya. "Dan tahun ini, kita tidak hanya ikut. Kita datang untuk menang."

Semua mata beralih ke Arya. Ia merasa ketenaran yang baru saja melelahkannya berubah bentuk menjadi beban publik. Namun kali ini bebannya sederhana: soal, jawaban, panggung, lawan.

Jauh lebih mudah daripada manusia.

Arya mengambil selebaran dari meja. Di halaman depan tertulis babak cepat, babak rebutan, babak lintas bidang, dan babak tantangan khusus. Ia membaca sepuluh detik, lalu meletakkannya kembali.

Pak Surya bertanya, "Bagaimana menurutmu?"

Arya menjawab datar, "Kalau soalnya seperti tahun lalu, kita tidak sedang ikut lomba. Kita sedang menghadiri upacara penyerahan piala yang terlalu lama."

Aula kecil sunyi.

Rizky berbisik, "Aku suka versi rendah hati kamu. Sayang belum pernah muncul."

Putri menahan senyum. Pak Surya justru tersenyum penuh untuk pertama kalinya dalam seminggu.

Di luar jendela, seorang pria berjaket abu-abu berdiri di bawah pohon, pura-pura membaca pesan. Ketika Arya menoleh, pria itu sudah berjalan pergi.

Menjelang pulang, Pak Surya memanggil Arya ke kantornya. Di tangannya ada surat dari beberapa orang tua. Lembar disiplin dan formulir kompetisi tidak terlihat. Isinya campuran terima kasih dan ketakutan. Ada yang meminta Arya memberi pengarahan keamanan, ada yang meminta sekolah tidak terlalu menonjolkannya agar tidak memancing pihak di balik Rahman.

Pak Surya mengusap pangkal hidungnya. "Saya kepala sekolah, tapi sekarang keputusan apa pun terasa seperti memilih risiko."

Arya membaca surat itu cepat. "Kalau sekolah menyembunyikan saya, mereka akan mengira saya takut. Kalau sekolah menonjolkan saya tanpa tujuan, itu bodoh. Kompetisi pengetahuan memberi alasan resmi. Saya tampil karena lomba. Tantangan pribadi tidak perlu disebut."

"Dan kalau mereka tetap merasa tertantang?"

"Maka setidaknya kita tahu mereka melihat panggung yang sama. Lebih baik musuh melihat saya di tempat terang daripada mencari saya di gang gelap."

Pak Surya tidak langsung menjawab. Ia semakin sering lupa bahwa yang duduk di depannya masih siswa SMA. Setiap jawaban Arya membuat orang dewasa kehilangan alasan untuk berpura-pura sederhana.

Keheningan memang selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!