NovelToon NovelToon
Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Menikahi tentara / Ibu susu
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.

Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.

Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.

Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.

Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.

Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.

*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13

Sepiring Tempe yang Bikin Heboh

Tiga hari setelah surat dari Girisari datang, Serka Parjo berdiri di depan kamar Laras sambil membawa sebongkah tempe sebesar bata.

Laras baru selesai menepuk Satya hingga bersendawa. Ia menatap tempe, lalu wajah lelaki berusia hampir lima puluh tahun itu.

“Ini hadiah?”

Parjo menggeleng. “Masalah, Bu.”

“Jangan panggil saya Bu. Saya lebih muda.”

“Kalau orang bisa bikin nasi goreng sampai Danyon makan bersih, pantas dipanggil Bu Guru.”

Iwan rupanya bukan satu-satunya mulut bocor di kompleks. Aroma dapur Laras telah beberapa kali sampai ke dapur umum, dan Bu Titin pernah membawa sayur bening hasil petunjuknya ke arisan. Dari sana, cerita tentang tangan Laras mulai beredar.

Parjo menjelaskan dapurnya tiga bulan berturut-turut mendapat nilai terbawah dalam penilaian makan prajurit. Tiga hari lagi ada penilaian bulanan. Bahan utama yang dibagikan hanya tempe, kol, ikan teri, dan kangkung.

“Kalau bulan ini kalah lagi, jatah lauk tambahan bulan depan diberikan ke kompi lain,” katanya. “Anak-anak saya bisa makan tempe setipis kartu.”

Laras mengusap kepala Satya yang mulai mengantuk. “Saya cuma pengasuh.”

“Saya tidak minta Ibu masuk daftar. Cuma lihat bahan, kasih tahu salahnya di mana.”

“Kalau ketahuan?”

“Saya bilang belajar bareng anak buah.”

Laras memikirkan Nala. Gajinya cukup untuk kebutuhan dasar, tetapi tidak cukup cepat untuk membawa anak itu ke kota. Jika ia punya kemampuan yang dihargai orang lain, mungkin jalan lain akan terbuka.

“Saya lihat dapurnya dulu,” katanya.

Dapur umum penuh asap dan suara wajan. Dua prajurit muda sedang memotong tempe tanpa ukuran yang sama. Kangkung dibiarkan terendam air sejak pagi hingga batangnya lemas. Ikan teri langsung digoreng tanpa dicuci cepat, membuat rasa asin menusuk.

Laras tidak menyentuh alat masak. Ia berdiri di sisi Parjo sambil mengamati.

“Tempe jangan setebal ini. Potong korek, goreng sampai pinggirnya kering baru masuk bumbu. Kangkung cuci menjelang dimasak. Teri bilas cepat lalu tiriskan.”

Parjo mencatat di balik bungkus rokok kosong.

“Bumbunya tidak cukup.”

“Bawangnya cukup. Tambah sedikit gula jawa dan cabai hijau. Tidak perlu banyak minyak kalau tempe digoreng bertahap.”

“Terasi?”

“Untuk kangkung. Bakar dulu supaya tidak langu.”

Hari latihan pertama berakhir dengan satu piring oseng tempe cabai hijau, tumis kangkung terasi, dan sambal teri. Biayanya hampir sama dengan menu biasa. Yang berubah hanya urutan api dan keberanian memakai bumbu sampai matang.

Parjo mengambil satu suap tempe, lalu nasi kedua tanpa sadar.

“Kok bisa begini?”

“Karena biasanya Bapak memasukkan semua ke wajan lalu berharap Tuhan yang menyelesaikan.”

Dua prajurit muda tertawa. Parjo menunjuk mereka dengan spatula. “Besok kalian yang potong seragam. Jangan bikin tempe ada yang jadi sandal, ada yang jadi kertas.”

Latihan kedua dimulai sebelum Subuh. Laras datang setelah menyusui Satya dan menitipkan bayi itu kepada Bu Titin di teras dapur. Ia meminta dua prajurit menimbang bahan sebelum memasak, lalu menimbang sisa setelah makan.

“Kenapa sisanya juga?” tanya salah satu prajurit.

“Menu enak bukan cuma yang dipuji. Kalau panci kembali penuh, berarti prajurit tidak mau makan.”

Parjo mengangguk. Selama ini laporan dapur hanya mencatat bahan keluar, bukan makanan yang terbuang.

Batch pertama tempe terlalu manis. Laras meminta gula jawa dikurangi dan cabai hijau dimasukkan terakhir agar aromanya tetap segar. Batch kedua gosong karena api terlalu besar. Pada batch ketiga, bunyi tempe saat masuk wajan berubah menjadi desis kering. Permukaannya kecokelatan, bumbu melekat tanpa membuatnya lembek.

“Ini,” kata Laras. “Kalau bunyinya masih seperti direbus, minyak belum panas.”

Untuk kangkung, ia menyuruh mereka memisahkan batang dan daun. Batang masuk lebih dulu, daun hanya beberapa putaran sebelum api dimatikan. Terasi dibakar di ujung kompor sampai aromanya tajam, membuat prajurit yang lewat menengok ke dalam.

“Dapur atau warung?” teriak seseorang.

“Kalau mau mencicipi, bantu cuci panci!” balas Parjo.

Menjelang siang, panci kembali hampir bersih. Sisa makanan hanya seperempat dari hari biasa. Parjo memegang catatan timbang seperti memegang surat kenaikan pangkat.

“Kalau lauk tambahan turun bulan depan, anak-anak saya tidak akan mengeluh lagi.”

“Jangan puas satu bulan. Ajarkan urutannya, bukan cuma hafalkan resep.”

Parjo menatap Laras dengan kesungguhan baru. “Ibu tidak mau namanya dicatat?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Karena orang lebih mudah menerima perubahan kalau mereka merasa ikut membuatnya. Bapak dan anak buah yang menjalankan. Bilang saja hasil belajar bersama.”

Parjo tidak sepenuhnya setuju, tetapi ia memahami perlindungan yang dibutuhkan seorang pengasuh di tengah banyak mata.

Pada hari penilaian, aroma bawang, terasi, dan cabai hijau sudah menyebar sampai ruang makan sebelum panci dibawa keluar. Beberapa prajurit yang lewat memperlambat langkah.

Laras berada di belakang, menggendong Satya dan berpura-pura hanya menunggu jatah makan. Bu Titin berdiri di dekatnya sebagai wakil keluarga prajurit. Bu Ratna juga hadir dengan papan nilai.

Tiga penilai dari bagian perbekalan mencicipi menu satu per satu. Penilai pertama berhenti pada oseng tempe. Ia mengambil lagi. Penilai kedua mencampur sambal teri dengan nasi dan mengangguk.

“Tempenya tidak lembek,” katanya. “Gurihnya masuk.”

“Kangkung juga masih renyah.”

Parjo berdiri dengan dada tegang. “Hasil latihan anak-anak, Pak.”

“Apa yang diubah?”

“Urutan masak. Bumbu dimatangkan, bahan tidak direndam lama, sama sedikit gula jawa.”

Ia tidak menoleh kepada Laras.

Nilai diumumkan setelah makan siang. Dapur Parjo mendapat peringkat pertama untuk kali pertama tahun itu dan memperoleh alokasi lauk tambahan bulan depan.

Dua prajurit muda bersorak. Parjo menepuk meja sampai mangkuk sambal bergetar.

Bu Titin memeluk bahu Laras. “Katanya cuma pengasuh.”

“Yang dinilai dapur Parjo.”

“Tapi Bu Ratna melihat ke sini seperti tempenya punya wajahmu.”

Di seberang ruang makan, Bu Ratna memang menatap mereka. Bibirnya tersenyum kepada penilai, tetapi jemarinya menekan papan nilai terlalu kuat.

Laras tidak membalas tatapan itu. Ia pulang, mengganti popok Satya, lalu menyusui bayi itu sampai tenang.

Menjelang sore, Parjo muncul lagi di luar pintu. Kali ini ia tidak membawa bahan makanan. Ia berdiri sambil menggaruk kepala, senyumnya lebar dan canggung.

“Bu...”

Laras menghela napas. “Apa lagi?”

“Besok ajarin lagi, ya.”

“Kalau besok datang membawa satu dapur, saya tutup pintu.”

“Cuma bawa catatan, Bu Guru. Sama tempe sedikit.”

“Tempe sebesar bata lagi?”

Parjo tertawa. “Sekarang saya tahu cara membuat bata itu habis dimakan satu kompi.”

Di ujung jalan, Bu Ratna baru keluar dari rumahnya. Tatapannya berpindah dari Parjo ke Laras, lalu kembali ke papan pengumuman yang masih memuat nilai dapur.

Parjo tidak melihatnya. Ia masih tersenyum seperti orang yang baru menemukan jalan keluar dari tiga bulan kegagalan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!