NovelToon NovelToon
Ages Sabiru,Duda Kaya Itu Ayahku

Ages Sabiru,Duda Kaya Itu Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: R²_Chair

Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sean khawatir tapi gengsi

Hujan masih turun ketika mobil Ages memasuki halaman rumah.Kalandra yang duduk di kursi penumpang langsung turun begitu mobil berhenti.Namun, baru saja ia membuka pintu rumah, suara seseorang terdengar dari ruang keluarga.

"NAH! Ini dia orangnya!"

Kalandra langsung berhenti.Sean berdiri dari sofa dengan wajah yang dibuat sangat serius.Di tangannya terdapat secangkir teh milik Arsen.

"Abang?"

Sean berjalan menghampiri Kalandra.

"Jadi lo..."

Kalandra menatapnya bingung. "Gue kenapa?"

"Berani-beraninya lo bikin satu keluarga panik."

Kalandra langsung mengerutkan kening. "Gue cuma telat pulang,bang"

"Lo bilang cuma,dek?"

Sean menunjuk Ages yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan pakaian yang masih sedikit basah karena hujan.

"Om Ages sama papi sampai pergi nyari Lo." Kalandra langsung menoleh kepada ayahnya.

Ages hanya menghela napas.

"Sudah...sudah.."

Namun Sean belum selesai. "Terus ponsel lo juga mati,dek."

Kalandra menunduk. "Bang..."

"Terus cuaca hujan."

"Abang."

"Terus pas ke sekolah udah kosong."

"Bang Sean!"

"Terus—"

"Sean diem!" pekin Kalandra

Sean langsung tertawa. "Nah, masih bisa marah kan lo,dek. Berarti lo baik-baik aja."

Kalandra mengambil bantal sofa dan melemparkannya."Dasar abang kampret!"

Sean berhasil menghindar.

"Diem lo bang!"

"Wih Adek kecil gue marah."

"Gue bukan anak kecil!"

"Kalau bukan anak kecil, kenapa bikin semua orang panik?"

Kalandra terdiam.Sean tersenyum puas."Nah, diem kan."

Ages yang sejak tadi hanya memperhatikan keduanya akhirnya berkata, "Sudah, bang Jangan diganggu."

Sean langsung menoleh."Wah, om gak asik nih."

"Kasian adik mu memang sudah lelah."

"Ya, tapi tetap harus diberi ceramah sama abang dulu,Om."

Kalandra langsung menunjuk Sean."Udah deh abang jangan ikut campur."

"Kenapa?"

"Karena ini urusan gue sama papa."

Sean memegangi dadanya. "Jadi sekarang gue orang luar?"

Kalandra mengangguk.

"Iya."

Sean menatap Arsen yang sedang duduk di sofa."Pi, anak bontotmu sudah berubah..dia tidak mengakui diriku lagi."

Arsen tertawa. "Emangnya kamu siapa?."

"Wanjay,malah balik serang gue semua."

"Mampoos lo bang "

"Cih,diem lo cil."

"Gue bukan bocil,bang."

"Terus?"

"Gue udah mau tujuh belas tahun"

"Ya..ya..ya..tujuh belas tahun yang masih manja dan cengeng."

Kalandra melempar Sean dengan gulungan tisu."Om papi,ini anaknya jahat banget sama adek sih."

Arsen hanya bisa menghela napas."Kalian ini ya...giliran salah satunya gak ada,di cariin.Eh giliran ketemu malah berantem terus."

"Pusing papi jadinya."

Tak lama Tamara keluar dari dapur sambil membawa segelas air hangat."Minum dulu dek."

Kala mengangguk kemudian meminumnya hingga tandas.

Tamara tersenyum kemudian memeluk Kala dengan erat."Lain kali kalau ada apa-apa adek bilang dulu ya.Bukan cuma papa mu yang khawatir,tapi mami,papi dan juga abang juga ikut khawatir."

Kalandra mengangguk,ia semakin merasa bersalah karena sudah membuat semua orang khawatir."Maafin adek ya Tante mami udah bikin khawatir."

"Jangan di ulangi lagi ya dek."

"Iya."

Kalandra pamit,ia kemudian berjalan menuju kamarnya.Namun, baru beberapa langkah, Sean kembali memanggil.

"Dek."

"Apa?"

Sean melemparkan sebuah handuk kepadanya."Lap rambutmu."

Kalandra menangkap handuk tersebut."Kenapa?"

"Basah,nanti adek sakit."

"Kala gak selemah itu bang"

"Iya,abang tau."

Kalandra menatap handuk di tangannya.Lalu berjalan pergi membuat Sean tersenyum kecil.

Arsen yang melihatnya menahan senyumnya. "Katanya tadi mau marahin adek biar gak kaya gini lagi."

"Memang."

"Tapi sekarang malah kasih handuk."

Sean mengangkat bahu. "Gak sengaja"

Ages,Arsen dan Tamara hanya tertawa kecil mendengarnya.Sean selalu saja begitu,terkadang ia selalu gengsi menunjukan rasa sayang dan peduli pada adiknya.

Beberapa menit kemudian, Kalandra keluar dari kamar setelah berganti pakaian.Rambutnya masih sedikit basah.

Sean yang masih duduk di ruang keluarga langsung menatapnya."Dek,rambutnya."

"Kenapa?"

"Kok masih basah."

"Nanti juga kering sendiri bang."

Sean berdiri."Sini."

Kalandra langsung mundur."Mau ngapain?"

"Gak ngapa-ngapain. Gue cuma mau ambil handuk."

"Ambil sendiri." gerutu Kala

Sean menghampirinya lalu tiba-tiba mengacak rambut Kalandra dengan handuk.

"Abang!" teriak Kala.

"Diem,dek!."

"Pelan-pelan kampret!"

"Kalau nggak mau gue gosok, ya keringin sendiri makanya."

Kalandra berusaha melepaskan diri.Namun Sean justru semakin mengacak rambutnya.

"Sean!"

Ages yang baru keluar dari kamar mandi langsung menoleh.

"Kenapa sih dek,teriak-teriak gitu?"

"Abang gangguin aku!"

Sean langsung menunjuk Kalandra."Adej rambutnya masih basah,Om.Abang cuma bantu keringin."

Ages menatap Kalandra."Sudah dibilang, keringkan nanti adek bisa sakit.

Kalandra langsung terdiam membuat Sean tersenyum puas."Nah bener kan."

"Diem lo,bang!" balas Kalandra.

Malam semakin larut, mereka akhirnya duduk bersama di ruang keluarga.Kalandra makan semangkuk sup hangat yang dibuat Tamara dengan Ages yang duduk di sampingnya.

Sean duduk di hadapan mereka.

"Jadi," ucap Sean sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa."Lo latihan karate sampai lupa waktu?"

Kalandra mengangguk.

"Iya."

"Terus lupa ngabarin orang rumah?"

"Iya."

"Terus baterai ponsel lo juga habis?"

"Iya."

"Udah gitu hujan?"

"Iya."

Sean mengangguk pelan. "Hebat."

Kalandra menatapnya bingung."Apanya?"

"Dalam satu hari bisa bikin semua orang panik."

"Gue nggak sengaja,bang."

Sean kemudian menatap Ages."Om, kalau lain kali adek telat lagi, langsung telepon abang."

Ages mengangguk."Mau abang cari?"

Arsen ikut menatap sang anak."Memangnya kamu bisa menemukan dia?"

"Enggak."

"Terus?"

"Biar ikutan fomo panik aja."

Kalandra melotot mendengarnya."Dasar abang kampret."

Ages dan Arsen tiba-tiba tertawa sedangkan Tamara hanya bisa tersenyum geleng kepala dengan ucapan random sang anak.

Sean mungkin sering mengganggu Kalandra.Sering menggodanya.Bahkan hampir selalu membuat adiknya kesal.Namun, ketika Kalandra benar-benar tidak ada kabar Sean juga menjadi salah satu orang pertama yang khawatir.

Karena bagi Sean, Kalandra bukan hanya adik yang menyebalkan.Kalandra adalah adik kecilnya.Dan meskipun mereka hampir selalu bertengkar karena hal-hal sepele namun Sean tidak akan pernah membiarkan sesuatu terjadi pada Kalandra.

"Dek."

"Hm?"

"Lain kali kalau pulang telat..." Sean terdiam sejenak.

"Apa?"

"Kabarin."

Kalandra terdiam sejenak dan kemudian mengangguk. "Iya."

Sean tersenyum. "Nah, gitu dong.Itu baru adek gue."

Kalandra mengambil bantal lalu melemparkannya. "Udah ceramahnya?"

"Belum."

"Kenapa?"

"Karena hari ini gue belum liat lo nangis."

"Sean!" Teriak Kala membuat Sean tertawa.

Rumah itu kembali dipenuhi suara tawa dan teriakan.Malam yang sempat dipenuhi rasa khawatir akhirnya berakhir dengan kehangatan yang sama.

Kalandra akhirnya pulang membuat Ages lega.Dan juga Sean kembali menjadi kakak yang paling menyebalkan sekaligus paling khawatir terhadap adiknya.

Bagi Sabiru,apapun tentang Kalandra itu lebih penting.

1
Puji Hastuti
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Puji Hastuti
kala sabar yaa
Puji Hastuti
ayo kala, bangun.
Nurgusnawati Nunung
seruuuu... ramai... saling menghargai yaaa
Nurgusnawati Nunung
Kalandra.. jadi sedih yaaa
Nurgusnawati Nunung
Ampun... se tengil itu namanya Kalandra. hahaha
Nurgusnawati Nunung
Mamanya Kalandra bakal hadir..
Nurgusnawati Nunung
hadir.. kompak ya papa sama anak..
Puji Hastuti
kala kamu harus kuat
Puji Hastuti
gue kecewa ama lu ages
Puji Hastuti
Nadia, kampret lu
Puji Hastuti
keluarga yang solid
Danny Muliawati
bagus cerita nya
Puji Hastuti
tapi up nya jangan lama lama
Puji Hastuti
sukaaaa AQ ceritanya kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!