Hanya sebuah kisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Jasver Alistair yang akhirnya merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali setelah enam belas tahun hidup di dunia. Di sekolah, Jasver dikenal sebagai playboy kelas kakap. Bukan karena ia gemar mengejar perempuan, melainkan karena setiap gadis yang menyatakan perasaan kepadanya selalu ia terima tanpa banyak berpikir. Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dari sekolah yang sama. Gadis itu menatap Jasver seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, takdir seakan terus mempertemukan mereka. Dan tanpa Jasver sadari, gadis yang selalu memasang wajah dingin itu perlahan menjadi alasan mengapa seorang playboy kelas kakap akhirnya mengenal arti cinta untuk pertama kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Lampu spotlight panggung perlahan redup berganti menjadi sorot lampu jalan biasa ketika penampil nomor urut berikutnya dipanggil. Di luar hall utama, riuh gemuruh penonton masih membekas di telinga.
Satu per satu dari mereka mulai memisahkan diri dari lautan manusia.
Ren yang suaranya sudah hampir habis akibat berteriak seperti suporter sepak bola di tribun kanan berjalan layu sambil memegangi lehernya. "Aduh... tenggorokan gue rasanya kayak disiram minyak tanah," rintihnya pelan saat akhirnya berhasil menemukan Jasver dan Farah yang sedang menunggu di dekat belakang panggung.
"Lagian lo heboh banget pake ngibarin jaket segala, bego!" tawa Jasver sambil menepuk punggung Ren kencang. "Tapi gokil sih, si Bumi tadi bener-bener keren parah!"
"Jasver! Farah! Ren!"
Suara lembut yang sangat familiar memanggil nama mereka. Ketiganya menoleh serempak. Aery berjalan menghampiri mereka dengan payung lipat yang masih agak basah di tangan, menyunggingkan senyum lega yang begitu hangat.
"Aery!" Farah langsung memeluk bahu Aery singkat. "Lo dari mana aja tadi? Kita kerepotan banget nyariin lo pas kedorong-dorong di depan."
"Gue terjebak di tribun samping kiri," jawab Aery sambil terkekeh pelan. "Sinyal hilang total, jadi ngga bisa kirim pesan. Tapi yang penting... kita semua sempet liat Bumi main, kan?"
"Sempet banget, Ry! Pokoknya suara Bumi tadi juara satu di hati gue!" sahut Ren membusungkan dada dengan suara sengau.
Tak lama kemudian, pintu kaca pembatas lorong penampil terbuka. Bumi keluar masih dengan kemeja putih dan vest hitamnya, menyanggul tas gitarnya di bahu. Di belakangnya, teman-teman satu band-nya tampak tersenyum lebar.
Melihat keberadaan empat orang yang berdiri menunggunya di lorong, langkah Bumi mendadak terhenti. Ada jeda beberapa detik sebelum senyum hangat khas seorang Bumi menyungging lebar di wajahnya.
"Kalian... beneran dateng?" suara Bumi terdengar sangat pelan, bergetar oleh rasa haru yang tak mampu ia sembunyikan.
Jasver yang pertama kali maju. Tanpa banyak bicara, cowok itu langsung merangkul leher Bumi kencang-kencang, disusul oleh Ren yang menepuk-nepuk bahunya heboh.
"Gila lo, Bum! Katanya mau biasa aja, tapi vokalnya tadi bikin merinding segedung!" seru Jasver bangga.
"Iya, Bum! Suara lo tadi bening banget kayak air mineral kemasan!" tambah Ren yang disambut tawa renyah dari Farah dan Aery.
Farah melipat tangannya di dada, menatap Bumi dengan bangga. "Perjuangan gue lari-larian habis final voli ngga sia-sia ya, Bum. Penampilan lo bernilai seratus dibanding rasa pegal di kaki gue."
Bumi terkekeh pelan, lalu pandangannya beralih pada Aery yang berdiri di samping Farah. Aery menatapnya lembut, memberikan anggukan kecil penuh rasa hormat dan bangga.
"Makasih ya, guys..." ucap Bumi tulus, menatap sahabat-sahabatnya satu per satu. "Kalian nekat banget. Padahal di luar hujan deras, di tol sempat macet parah kan?"
"Ah, soal macet mah berkat Mbak Sopir kita nih!" potong Jasver cepat sambil menunjuk Aery dengan jempolnya. "Aery nekat lewat celah sempit pas ada truk kecelakaan! Kalau bukan gara-gara manuver F1-nya Aery, kita mungkin masih nongkrong di KM 32!"
Bumi menatap Aery kaget. "Serius, Ry?"
Aery hanya tersenyum tipis, membenahi ikatan kuncir rambutnya. "Yang penting kita semua nyampe tepat waktu dan kamu tampil luar biasa, Bumi."
Pukul 17.00 WIB.
Seluruh peserta dari puluhan sekolah kembali dikumpulkan di dalam hall utama. Suasana berubah menjadi sangat tegang. Lampu panggung kembali diredupkan, menyisakan pendar cahaya keemasan. Papan skor digital raksasa di atas panggung siap menampilkan nama-nama pemenang Lomba Musik Tingkat Nasional.
Trio Curut, Farah, dan Aery duduk berdampingan di barisan kursi penonton tengah. Jasver dan Ren memegangi tangan Bumi di kiri dan kanannya, seolah-olah Bumi yang mau dieksekusi.
"Dan... Juara Pertama Kategori Band Musik Tingkat Nasional... jatuh kepada..."
MC sengaja menggantung kalimatnya selama beberapa detik. Seluruh ruangan menahan napas. Bumi memejamkan matanya rapat-rapat, sementara Aery menautkan kedua tangannya di atas pangkuan, berdoa dalam hati.
"... BAND THE NOVAS DARI SMA ASTRA NOVA!"
BOOM!
Konfeti berwarna emas dan perak menyemprot udara dari pinggir panggung. Suara gemuruh teriakan pecah seketika.
"KERENNNN! JUARA SATU, WOYY!" jerit Ren paling histeris sembari melompat dari kursinya dan mengangkat tubuh Bumi tinggi-tinggi bersama Jasver.
"BUMI! KITA MENANG!" Farah bertepuk tangan kencang sambil tertawa lepas.
Di tengah kehebohan itu, Bumi yang diturunkan oleh Jasver dan Ren, mendadak berbalik dan menatap keempat temannya. Tanpa ragu, Bumi merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Sini guys, kita pelukan!" seru Bumi.
Dalam hitungan detik, kelima remaja itu berpelukan erat dalam lingkaran kecil di bawah hujan konfeti emas yang berguguran dari atap hall. Rasa lelah akibat laga final di sekolah, ketegangan saat di tol, dan perjalanan panjang menerobos hujan deras Jakarta seketika terbayar tuntas oleh rasa bahagia yang membumbung tinggi.
♧♧♧
Pukul 20.30 WIB.
Hujan deras yang sempat mengguyur Jakarta kini telah reda, menyisakan aroma tanah basah dan genangan air yang memantulkan pendar warna-warni lampu kota. Di depan area drop-off Gedung Pusat Kebudayaan Jakarta yang mulai sepi, kelima remaja itu berdiri melingkar.
Bumi tampak memegang piala bersepuh emas berukuran sedang dan sertifikat juara yang dimasukkan ke dalam map merah, sementara tas gitarnya sudah kembali tersampir di bahu.
Kruuuk...
Suara perut keroncongan yang cukup nyaring mendadak memecah keheningan diantara mereka. Semua mata refleks tertuju pada Ren yang langsung memegangi perutnya dengan wajah tanpa dosa.
"Hehehe... sorry, guys," cengir Ren sambil menepuk perutnya. "Terakhir gue makan, kan, roti cokelat pas di mobil Aery tadi siang. Mana tadi teriak-teriak kayak kesurupan pas nonton Bumi. Cacing di perut gue udah pada demo menuntut keadilan nih."
Jasver tertawa pelan, lalu melirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Iya juga sih. Lagian ini udah malam banget. Perjalanan balik lewat tol bisa dua jam lebih. Masa kita jalan dalam kondisi perut kosong?"
"Masalahnya..." Farah menimpali sambil mengamati situasi sekitar jalanan Jakarta Selatan yang masih padat oleh lampu-lampu kendaraan. "Kita mau makan dimana? Terus... kalian sadar ngga sih? Ini udah jam setengah sembilan malam. Kalau kita jalan sekarang, nyampe rumah bisa jam sebelas lewat."
Seketika, hening menyelimuti mereka. Aery, Jasver, Bumi, Farah, dan Ren saling pandang. Kebingungan yang nyata mulai terpancar di wajah masing-masing.
"Bentar-bentar," panggil Jasver, memegang kepalanya seolah baru saja menyadari sesuatu yang sangat krusial. "Bukannya kita tadi izinnya cuma sampai sore ya?!"
"IYA JUGA!" Ren menepuk jidatnya keras-keras. "Gue cuma bilang ke Nyokap mau nonton Bumi sebentar! Kalau nyampe rumah jam sebelas malam, bisa digantung gue di tiang jemuran!"
"Bumi juga kan tadi berangkat naik bis rombongan sekolah," tambah Farah menatap Bumi. "Terus sekarang bis rombongannya udah pulang duluan dari tadi jam lima sore, kan?"
Bumi mengangguk pelan dengan raut canggung. "Iya... tadi Pembina Ekskul sempat nawarin gue balik bareng bis, tapi gue bilang mau balik bareng kalian."
Aery menyunggingkan senyum tipis, menggeleng-gelengkan kepala melihat kepanikan sahabat-sahabatnya. Ia merogoh ponselnya, memeriksa indikator baterai yang tersisa 15 persen.
"Tenang, guys," potong Aery halus namun berhasil menenangkan suasana. "Soal izin rumah, kalian mending chat sekarang bilang kalau kita terjebak macet dan habis selebrasi kemenangan Bumi."
Aery lalu memutar pandangannya menatap jalanan kota Jakarta yang gemerlap di malam hari. "Soal makan dan arah pulang... gimana kalau kita cari tempat makan yang santai dulu di daerah sekitar sini? Tempat yang buka sampai tengah malam, biar kita bisa istirahat, makan kenyang, sekalian bicarain rencana balik atau tempat singgah sebentar?"
Jasver menatap Aery, lalu perlahan cengiran konyolnya kembali terpasang. Rasa paniknya menguap begitu melihat ketenangan sang driver.
"Setuju banget sama Mbak Sopir!" seru Jasver bersemangat, merangkul pundak Bumi dan Ren sekaligus. "Juara Nasional kita yang satu ini harus kita rayain pake makanan enak malam ini! Urusan dimarahin orang tua... itu urusan nanti pas udah nyampe rumah!"
"Yeayy! Makan-makan!" sorak Ren girang.
Bumi terkekeh pelan, menatap piala emas di tangannya, lalu menatap keempat sahabatnya. "Yaudah, malam ini makanannya biar gue yang traktir pake uang dari pembina."
"WAH! BUMI THE BEST!" seru Ren dan Jasver serempak, membuat Farah menggeleng-gelengkan kepala walau bibirnya tak bisa menahan senyum.
♧♧♧
Usai menuntaskan "demo cacing" di sebuah warung kuliner malam daerah Blok M dengan perut kenyang, jam di dasbor HR-V Aery sudah menunjukkan pukul 21.35 WIB.
Di dalam mobil yang merayap pelan di tengah lampu malam Jakarta, keputusan nekat kembali diambil. Daripada memaksakan diri membelah jalan tol dalam kondisi lelah parah dan berisiko bahaya, mereka sepakat untuk mencari penginapan dan baru pulang esok pagi-pagi sekali.
"Aman! Nyokap gue udah izinin pas tau Bumi menang!" seru Ren girang, mengacungkan layar ponselnya.
"Gue juga aman," timpal Farah santai. "Ibu gue malah seneng gue ngga nekat balik malam-malam."
"Oke, sekarang masalahnya... Kita mau tidur dimana?" tanya Jasver sambil memangku ponsel, sibuk mengusap aplikasi pemesanan hotel.
Aery mengarahkan mobil ke area Senopati. "Coba cari hotel low budget terdekat, Ver."
Namun, realita akhir pekan di Jakarta Selatan ternyata sekejam itu.
"Penuh!" seru Jasver frustrasi setelah mematikan panggilan telepon kelima. "Hotel pertama penuh! Hotel kedua ada kamar tapi cuma sisa suite room yang harganya tiga juta semalam! Hotel ketiga penuh gara-gara ada acara nikahan!"
"Gila, hidup di Jakarta keras banget!" keluh Ren, menyandarkan kepalanya ke kaca mobil.
"Yaudah, coba cari villa atau guesthouse kecil di daerah pinggiran Selatan yang muat buat kita berlima," usul Aery tetap tenang.
Setelah memutar-mutar jalanan hampir setengah jam dan bergantian mengecek berbagai aplikasi, sebuah guesthouse berkonsep villa kayu minimalis di daerah Jagakarsa akhirnya menyanggupi. Masih ada satu unit bangunan kecil yang tersisa.
"Ada! Ada satu villa kayu kosong!" jerit Ren kegirangan. "Bisa buat berlima!"
Pukul 22.25 WIB, HR-V hitam Aery terparkir di pelataran villa kayu yang asri dan tenang itu. Penjaga villa yang ramah menyambut mereka di meja resepsionis kecil.
"Totalnya satu juta dua ratus ribu rupiah ya, Mas, untuk satu malam," ucap Mas penjaga villa sambil mengoreksi catatannya.
Bumi langsung maju paling depan, merogoh dompetnya dengan bangga untuk mengeluarkan uang hadiah dari lombanya. "Pakai uang saya aja, Pak. Tadi janji saya yang mau bayar."
Namun, begitu Bumi membuka dompet dan mengecek saldo e-wallet di ponselnya... wajahnya mendadak pucat pasi.
"Bentar..." gumam Bumi, menepuk-nepuk sakunya. "Uang tunainya kan baru ditransfer resmi sama panitia minggu depan... yang di dompet gue cuma ada tiga ratus ribu!"
"Hah?!" Ren terbelalak, lalu cepat-cepat merogoh sakunya sendiri. "Gue... gue cuma punya lima puluh ribu tunai sama saldo e-wallet dua belas ribu!"
"Gue ada empat puluh ribu," tambah Farah memutar matanya, ingin rasanya menoyor kepala Ren dan Bumi sekaligus.
"Aery bawa cash berapa?" tanya Jasver.
Aery meringis halus, menyunggingkan senyum canggung yang jarang sekali terlihat. "Gue... cuma bawa kartu e-Toll sama kartu kredit Dad, tapi Dad wanti-wanti kartu kredit cuma boleh dipakai buat darurat bensin atau rumah sakit."
Suasana resepsionis villa mendadak hening seketika. Masing-masing dari mereka saling pandang dengan raut wajah melas. Sudah hampir jam sebelas malam, tenaga sudah habis, perut kenyang tapi ancaman di dalam mobil kini terbayang di depan mata.
"Gila... kita udah kayak gelandangan bergaya bawa mobil mewah," bisik Ren pasrah, siap-siap mau rebahan di lantai resepsionis.
Penjaga villa menatap kelima remaja itu dengan alis terangkat bingung.
Di tengah kepanikan dan tragedi dompet menipis itu, Jasver mendadak menghembuskan napas panjang. Cowok yang dari tadi hanya menyimak itu menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu terkekeh pelan.
"Duhh, dasar amatir," celetuk Jasver tengil.
Dengan gaya sok keren yang sengaja dibuat-buat, Jasver merogoh saku dalam jaket varsity-nya. Ia mengeluarkan sebuah dompet kulit cokelat yang tampak tebal, lalu menarik selembar kartu debit berwarna hitam mengkilap bersimbol Platinum.
CTAK!
Jasver menepuk kartu debit itu di atas meja resepsionis dengan percaya diri tingkat tinggi.
"Pakai kartu saya aja, Mas. Sekalian tambah sarapan nasi goreng buat lima orang esok pagi," kata Jasver mantap sambil mengedipkan sebelah matanya.
Mata Ren, Farah, Bumi, dan Aery seketika membelalak sempurna.
"JASVER?!" seru Ren dan Farah serempak.
"Ver, lo... lo dapet uang dari mana buset?!" bisik Ren histeris, memegangi pundak Jasver. "Lo ngga habis miara tuyul kan selama classmeeting?!"
Jasver memamerkan cengiran konyolnya yang paling lebar, merangkul pundak Bumi dan Ren sekaligus. "Enak aja! Ini uang tabungan gue dari hasil juara lomba voli bulan lalu plus uang saku yang sengaja gue simpan buat darurat!"
Jasver lalu menoleh menatap Aery dan Farah yang masih melongo tak percaya, lalu membungkuk sedikit bergaya layak seorang pangeran.
"Tenang, para Putri," goda Jasver menyeringai tampan. "Malam ini, Kapten Jasver yang tanggung semuanya. Silahkan masuk dan tidur yang nyenyak!"
"WAAAAAH! SULTAN JASVER!" jerit Ren heboh, langsung memeluk Jasver kencang-kencang sampai Jasver hampir kehabisan napas.
Aery dan Farah tak sanggup menahan tawa melihat tingkah konyol mereka. Bumi pun tersenyum lega sambil menepuk pundak Jasver tulus. Di bawah temaram lampu villa malam itu, tragedi dompet kering resmi ditutup oleh pahlawan yang tak terduga, si Kapten Voli berjaket varsity.